Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 hunter rank s wanita
Saat vanya pulang sekolah, voltra mengajaknya ke restoran dari ingatannya vanya suka memakan ceker ayam pedas. Dimeja mereka sudah penuh dengan olahan makanan, tentunya vanya menjadi cukup rakus karena melihat makanan kesukaan nya.
"Selera makan mu aneh" ucap voltra menatap jijik ceker ayam.
Vanya mendongak dari piringnya, mulutnya memerah karena bumbu cabai yang membakar, lalu ia tertawa kecil melihat ekspresi kakaknya.
"Aneh apanya? Ini namanya kenikmatan, Kak! Lagipula, tumben sekali kau punya uang? Kau tidak merampok bank, kan?" ucap vanya bertanya heran karena tumben kakaknya punya banyak uang.
Voltra mendengus angkuh, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang reot. Ia harus berhati-hati untuk tidak bersandar secara berlebihan, atau kalau tidak akan terjatuh karena kursi yang sudah cukup tua.
"Merampok itu cara rendahan. Aku hanya... mengambil apa yang menjadi hakku dari beberapa serangga hijau di hutan" jawab voltra santai sambil menyesap teh tawar.
Ia memperhatikan Vanya yang makan dengan lahap. Dalam ingatan aslinya, gadis ini sering melewatkan makan siang demi menghemat uang sekolah. Sebagai entitas yang dulunya hanya peduli pada kehancuran, Voltra merasakan sensasi aneh di dadanya sesuatu yang hangat dan mengganggu.
"Apakah ini yang manusia sebut kasih sayang? Benar-benar kelemahan yang merepotkan" Batin voltra.
"Makanlah yang banyak, Bocah. Tubuhmu kecil sekali, mirip bayi naga yang gagal menetas" ujar Voltra ketus, meski tangannya justru mendorong piring berisi tambahan ceker ke arah adiknya.
"Namaku Vanya, Kak! Dan kau hanya lebih tua dua tahun dariku!" protes Vanya sambil mengerucutkan bibirnya.
Tiba-tiba, suasana di dalam restoran berubah. Suara sirine peringatan dini bergema keras dari pengeras suara kota. Orang-orang di sekitar mereka mulai panik, beberapa berdiri dari kursi hingga menabrak meja.
[PERINGATAN: BREAK GATE TERDETEKSI DI RADIUS 500 METER. RANK ESTIMASI: C. HARAP SEGERA MENUJU KE BUNKER TERDEKAT!]
"Kak! Break Gate!" ucap Vanya pucat pasi, tangannya gemetar menjatuhkan ceker ayamnya. Ingatan tentang kematian orang tua mereka mendadak membayang di matanya. "Kita harus lari, Kak! Cepat!" Lanjutnya ketakutan.
Voltra tidak bergerak. Ia justru memejamkan mata, merasakan getaran di udara. Mana yang liar dan busuk mulai merembes ke jalanan. Di ujung jalan, sebuah retakan dimensi berwarna ungu gelap terbuka, dan dari sana muncul sosok-sosok bayangan yang merangkak keluar.
"Lari?" Tanya Voltra berdiri perlahan. Aura di sekitarnya mendadak memberat, membuat beberapa gelas di meja sebelah pecah berantakan.
"Kak? Kau mau ke mana?!" teriak Vanya ketakutan melihat Voltra justru berjalan menuju pintu keluar.
menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis yang terlihat sangat asing di wajah remaja itu senyum seorang predator yang akhirnya menemukan mangsa.
"Kau selesaikan makananmu, Vanya. Aku benci melihat makanan terbuang sia-sia," ucap Voltra dengan suara yang mendadak berat dan berwibawa. "Aku hanya perlu memberi pelajaran pada tamu tak diundang itu karena telah mengganggu waktu makan malam kita" Lanjutnya kembali fokus.
Voltra melangkah keluar ke jalanan yang kacau. Beberapa monster berbentuk serigala bertaring dua (Twin-fanged Wolf) baru saja menerjang seorang petugas keamanan.
"Makhluk sialan" gumam Voltra. Ia mengepalkan tangannya.
Salah satu serigala melihat Voltra dan melompat dengan mulut terbuka lebar, siap merobek lehernya. Namun, tanpa menoleh, Voltra menangkap rahang bawah serigala itu dengan tangan kirinya. Hanya dengan satu sentakan, rahang monster itu hancur. Voltra menatap kerumunan monster yang mulai membanjiri jalan.
"Dengarkan, anjing-anjing kecil" ucap Voltra, matanya menyala keemasan di kegelapan sore itu. "Kalian berada di wilayah perburuan Raja Naga. Pilihannya hanya dua: tunduk padaku, atau menjadi debu di bawah kakiku" Lanjutnya mengeluarkan tekanan.
Para serigala itu mengeram mundur merasakan aura pekat dari voltra. Tangannya menghancurkan pintu mobil, mengasah nya menggunakan tangan kiri membuat ujungnya sangat tajam, voltra melompati melemparkan pintu mobil itu layaknya shuriken yang berputar kencang.
Suara-suara jeritan kesakitan terdengar, genangan darah tercipta ketika banyak potongan tubuh dari serigala berbulu tebal itu. Alasan dungeon itu simpel mana yang menahan gerbang tidak kuat untuk mengurung para monster, ini terjadi ketika aliran mana begitu banyak didalam gate.
"Lima persen kekuatan ku belum kembali" Batin voltra meremas tangannya. "Sudahlah, pikiran itu nanti" Lanjutnya melompat menghindar.
Cakar tajam membelah mobil dibelakangnya. Bos gate ini selalu muncul di akhir setelah para anak buahnya dikalahkan, voltra menghindari setiap cakaran begitu mudah seolah-olah memiliki mata diseluruh bagian tubuhnya.
"Cobalah hibur aku badut" ucap voltra meninju keras rahang serigala besar itu hingga salah satu gigi taringnya lepas.
Tangannya mengangkat mobil menghantam keras ke wajah serigala besar membuat monster itu mengeram. Voltra muncul didepan kelancaran tendangan keras membuat serigala itu terlempar ke atas, voltra ikutan melompat ke atas udara.
"Aku suka ini, tapi waktu bermain sudah selesai anak anjing" ucap voltra muncul di atas serigala yang terlempar. "Mati" Lanjutnya dengan nada dingin.
Suara dentuman terdengar saat mayat serigala putih raksasa jatuh dengan kondisi terbelah menjadi dua bagian. Voltra meraih kening serigala itu, menarik magic stone yang tertinggal, magic stone rank b akan lebih laku terjual di pasaran.
"Tiga menit, apa aku selemah itu sekarang" ucap voltra setelah membuka ponselnya dan melihat angka pada jam. "Lebih baik aku kembali ke anak itu, seharusnya dia tidak rewel karena aku pergi selama tiga menit" Lanjutnya berjalan pergi.
**********
Suara langkah terdengar dua menit setelah kepergian dari voltra. Wanita berambut hitam melihat pembantaian secara sepihak dari para monster, siapapun pelakunya ia hanya mengambil magic stone dari bos monster namun tidak mengambil dari monster lainnya.
"Periksa rekaman CCTV dimari" ujar alina memerintahkan.
"Baik" Balas para bawahannya.
Alina menunduk ke arah salah satu mayat monster serigala yang tubuhnya hancur setengah. Pertarungannya begitu brutal dan terlebih nampak seperti pembantaian Sepihak, dibandingkan sebuah pertarungan.
"Setidaknya butuh dua hingga tiga rank A untuk mengatasi monster jenis ini" Batin alina kembali berdiri tegak. "Jika pelakunya hanya sendiri, ia dipastikan lebih kuat dibandingkan rank A biasa" Lanjutnya bergumam.
ilustrasi: Alina