Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20
Azka menghampiri Celina yang terlebih dahulu masuk ke kamar, ia menutup pintu kamar secara kasar. Sontak, Celina yang baru saja mengganti pakaiannya terperanjat dan membalikkan badannya.
"Kenapa tadi kau bersikap acuh kepadaku, hah?" raut marah terpancar di wajah Azka. Ia sangat marah karena selama di sana Celina lebih banyak mengobrol dengan Kevin daripada dirinya.
"Aku sudah menemanimu datang dan apa salahnya aku mengobrol dengan temanku? Lagian di sana kamu mengenal banyak orang," ucap Celina beralasan.
"Tapi, aku tidak suka dicuekin!" kata Azka.
"Kau ini kenapa? Bukankah kau sendiri tak terlalu peduli denganku? Mengapa sekarang kau berharap dan menginginkan aku seperti istri-istri yang ada diluar sana?" cecar Celina menatap kesal suaminya.
Azka pun terdiam. Dia juga berpikir akhir-akhir ini sikapnya berlebihan dan terlalu cemburuan.
"Kau sendiri yang mengatakan tak mencintaiku. Lalu apa kita harus terus berpura-pura?"
"Ini semua salahmu, jika kau tidak merayu kedua orang tuaku. Kita tidak akan menikah!!" Azka meninggikan suaranya.
"Ya, aku memang salah. Aku terpaksa melakukan semua ini. Demi menyelamatkanmu dari niat buruknya Elma dan ibunya!" ungkap Celina.
"Jangan pernah memfitnah mereka!!" Azka menegaskan ucapannya.
"Aku bicara fakta, Azka!!"
"Omong kosong!!!"
"Jika kau menikah dengannya, maka dia akan lebih mudah menguasai harta perusahaan orang tuamu. Elma sebenarnya sudah punya kekasih!!" Celina membeberkannya.
"Itu tak mungkin!!" bantah Azka. "Mana buktinya?" tantangnya.
"Sekarang, aku memang tidak memiliki bukti tapi suatu hari nanti kau juga akan mengetahuinya!" kata Celina.
"Halah, itu alasanmu saja. Kau memang sengaja ingin mempermainkan aku!!" Azka memegang kedua lengan istrinya.
"Aku tidak berbohong, aku cuma mau menyelamatkanmu saja!!" kata Celina jujur.
"Apa pun itu aku tetap takkan percaya!! Kau cuma ingin mempermainkan aku dengan mendekati pria lain!!" Azka menarik tengkuk leher istrinya dan memaksa menciumnya. Ia ingin membalas penderitaannya dengan menyakiti Celina agar deritanya sama.
Celina tak menyukai pemaksaan berusaha memberontak, sekuat tenaga ia mendorong tubuh suaminya.
"Aku tidak akan membiarkanmu bersama pria lain!!" Azka terus memaksa meskipun Celina berteriak dan menangis.
Took...tok..tok..
Terdengar suara ketukan pintu membuat Azka menghentikan aksinya, ia lalu melepaskan Celina sehingga wanita itu sedikit terhuyung selangkah ke belakang.
Azka membalikkan badannya dan melangkah membuka pintu, Celina yang telah lepas dari pelukan suaminya tampak bernapas lega.
"Ada apa?" tanya Azka dengan nada datar kepada pelayan wanita yang sudah mengganggu waktunya.
"Orang tuanya Tuan Azka ada di ruang tamu!" jawab si pelayan.
"Orang tuaku?" tanya Azka memastikan.
"Iya, Tuan." Jawab si pelayan lagi.
"Mau apa mereka di sini?" pikir Azka.
"Apa saya bilang kalau Tuan dan Nona sudah tidur?" si pelayan memberikan usulan.
"Aku akan menemuinya!" kata Azka.
Si pelayan kemudian berlalu. Azka menutup pintunya lalu berjalan menghampiri istrinya dan mengancam, "Orang tuaku di sini. Jangan coba-coba mengadu pada mereka!!"
Celina malah tertawa getir.
"Urusan kita belum selesai!" kata Azka.
"Kau sebenarnya menyukaiku, cuma gengsi di dalam hatimu terlalu tinggi!!" sindir Celina seringai.
"Jika aku menderita dalam pernikahan ini, kau juga harus mendapatkannya!!" kata Azka kemudian berlalu.
Azka lebih dahulu menemui kedua orang tuanya, tak lama berselang Celina muncul menghampirinya.
"Apa Mama dan Papa mau menginap di sini?" Azka begitu terkejut ketika mendengar keinginan Andin itu.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Andin heran karena putranya tampak tak suka.
"Mama dan Papa boleh tidur di sini!" jawab Celina.
"Terima kasih, Nak!" Andin tersenyum ke arah menantunya.
"Baiklah, aku akan menyuruh pelayan buat membersihkan kamar tamu!" kata Azka kemudian melangkah memanggil pelayan.
"Maaf, kami datang mendadak begini!" ucap Andin kepada menantunya.
"Kenapa tidak bilang saat acara pesta kalau memang mau menginap di sini, Ma?" tanya Celina.
"Tiba-tiba saja mau menginap di sini, tidak apa-apa, 'kan?" Andin balik bertanya.
"Tak apa-apa, sih. Cuma Mama dan Papa terpaksa menunggu selagi kamar dibersihkan!" jawab Celina.