Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — Rahasia yang Mulai Terbuka
Pintu apartemen tertutup pelan setelah Dominic akhirnya pergi. Namun keheningan yang tertinggal justru terasa lebih berat daripada suara ketukan pria itu tadi pagi.
Bella masih berdiri di tempatnya, jemarinya mencengkeram sisi pintu begitu erat hingga ruas-ruasnya memucat. Napasnya belum kembali teratur. Dadanya naik turun cepat, seolah seluruh tenaga yang ia kumpulkan sejak meninggalkan rumah tadi hampir runtuh hanya karena melihat Dominic berdiri di hadapannya.
Ia datang.
Ia benar-benar mencarinya sampai ke Sydney.
Dan yang lebih membuat Bella gelisah adalah cara Dominic memandangnya tadi.
Tatapan penuh curiga saat matanya sempat turun ke arah perut Bella.
Seolah pria itu menangkap sesuatu.
Seolah Dominic mulai menyadari ada rahasia yang sedang ia sembunyikan.
Bella menutup mata, lalu menghembuskan napas panjang.
“Dia curiga,” bisiknya pelan.
Maya yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana mengangguk pelan.
“Aku juga lihat.”
Bella berjalan perlahan ke sofa lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Tangannya langsung berpindah ke perut, seakan sentuhan itu bisa menenangkan gemuruh di dalam dirinya.
“Aku takut dia tahu.”
Suara Bella terdengar lebih rapuh dari sebelumnya.
Maya duduk di sampingnya.
“Cepat atau lambat, dia pasti tahu.”
Kalimat itu membuat Bella memejamkan mata.
Ia tahu.
Ia sangat tahu.
Tidak mungkin ia terus menyembunyikan ini selamanya.
Perutnya akan mulai membesar.
Tubuhnya akan berubah.
Dan Dominic bukan pria bodoh.
Apalagi jika ia terus datang.
Namun saat ini, Bella belum siap.
Ia belum siap jika Dominic tiba-tiba menginginkannya kembali hanya karena bayi ini.
Ia belum siap jika pria itu kembali atas dasar rasa bersalah.
Yang lebih ia takuti…
Ia belum siap jika dirinya sendiri kembali luluh.
—
Di hotel, Dominic berdiri lama di depan jendela kamar yang menghadap jalan raya Sydney.
Gerimis pagi sudah berubah menjadi hujan yang lebih deras.
Titik-titik air mengalir di kaca, memburamkan lampu kota di kejauhan.
Namun bukan pemandangan itu yang memenuhi pikirannya.
Bella.
Wajah pucatnya.
Sikap dinginnya.
Dan satu gerakan kecil yang terus terulang di kepala Dominic.
Tangan Bella yang beberapa kali menyentuh perutnya.
Gerakan refleks.
Gerakan protektif.
Gerakan yang terlalu familiar.
Dominic mengerutkan dahi.
Pikirannya mulai menghubungkan hal-hal yang sebelumnya terlewat.
Bella terlihat lebih pucat.
Wajahnya sedikit lelah.
Dan tadi pagi, ia tampak seperti menahan sesuatu.
Dominic memejamkan mata.
Sebuah kemungkinan yang nyaris mustahil mulai muncul.
Tidak.
Ia membuka mata kembali.
Namun instingnya terus berbicara.
Ada sesuatu yang Bella sembunyikan.
Dan kali ini, Dominic yakin itu bukan sekadar luka hati.
—
Hari berikutnya, Bella memutuskan pergi ke penerbit bersama Maya.
Ia tidak ingin terus berdiam diri di apartemen sambil memikirkan Dominic.
Kesibukan adalah satu-satunya cara agar pikirannya tidak terus kembali pada pria itu.
Gedung penerbit tempat Maya bekerja tidak terlalu besar, namun suasananya hangat dan nyaman. Rak-rak penuh naskah tersusun rapi, aroma kopi bercampur kertas baru memenuhi ruangan.
Bella duduk di salah satu meja sambil memeriksa naskah novel romance yang harus disunting.
Namun fokusnya berulang kali buyar.
Setiap kali pintu lift terbuka, jantungnya berdebar.
Setiap kali ada langkah kaki mendekat, ia refleks menoleh.
Ia takut.
Takut Dominic tiba-tiba muncul lagi.
Dan ketakutannya ternyata tidak sia-sia.
Menjelang sore, saat Bella baru saja keluar dari pantry sambil membawa secangkir susu hangat, tubuhnya langsung membeku.
Di lobby lantai kerja, Dominic berdiri.
Masih dengan jas gelap yang membuatnya tampak terlalu mencolok di antara suasana kantor yang santai.
Tatapan pria itu langsung menemukan Bella.
Jantung Bella langsung berdegup keras.
Dominic berjalan mendekat.
“Aku tahu kamu bakal ke sini.”
Bella mengatupkan rahang.
“Kamu ngikutin aku?”
“Aku cuma ingin bicara.”
Bella menatapnya tajam.
“Berapa kali aku harus bilang? Aku nggak mau bicara.”
Dominic terdiam sesaat.
Tatapannya turun ke gelas susu hangat di tangan Bella.
Alisnya sedikit berkerut.
“Kamu nggak suka susu.”
Bella langsung menegang.
Ia hampir lupa.
Dominic terlalu mengenalnya.
Dulu pria itu bahkan hafal kebiasaan kecilnya.
Bella memalingkan wajah.
“Orang bisa berubah.”
Namun Dominic justru semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Sebelum pria itu sempat bicara lagi, wajah Bella tiba-tiba memucat.
Rasa mual datang begitu cepat.
Ia buru-buru menutup mulut dan berbalik menuju toilet.
Dominic spontan mengikuti.
“Bella!”
Di dalam toilet, Bella membungkuk di depan wastafel, napasnya memburu setelah rasa mual yang datang mendadak.
Dominic berhenti di ambang pintu.
Wajah pria itu berubah.
Pucat.
Bingung.
Lalu perlahan, seperti kepingan puzzle yang akhirnya menyatu, matanya melebar.
Bella yang sejak tadi beberapa kali menyentuh perut.
Wajah pucat.
Susu hangat.
Dan mual.
Dominic menatap wanita itu lama.
Suara hujan di luar terdengar samar.
Namun detak jantungnya sendiri terasa jauh lebih keras.
“Bella…”
Suara pria itu nyaris berbisik.
Bella menoleh cepat.
Dan saat melihat ekspresi Dominic, tubuhnya langsung membeku.
Pria itu tahu.
Atau setidaknya…
Ia sudah menduga.
Tatapan Dominic perlahan turun ke arah perut Bella.
Lalu kembali naik ke wajahnya.
Mata pria itu dipenuhi keterkejutan yang nyata.
“Kamu…”
Kalimatnya menggantung.
Bella langsung berdiri tegak.
Tatapannya dingin, meski dadanya berdebar kacau.
“Jangan.”
Satu kata itu keluar cepat.
Dominic melangkah mendekat.
“Bella, kamu hamil?”
Pertanyaan itu akhirnya terucap.
Dan dunia Bella terasa berhenti.
Dominic masih berdiri di ambang pintu toilet, tatapannya tidak lepas dari wajah Bella. Ada keterkejutan, kemarahan pada dirinya sendiri, dan sesuatu yang nyaris seperti harapan di mata pria itu.
“Bella, jawab aku.”
Suara Dominic terdengar rendah, namun kali ini jauh lebih menekan.
Bella merasakan tenggorokannya mengering. Jemarinya meremas sisi wastafel kuat-kuat, mencoba mengumpulkan keberanian yang tadi hampir runtuh.
Ia sudah membayangkan momen ini akan datang.
Cepat atau lambat.
Namun tidak pernah terpikir bahwa Dominic akan mengetahuinya seperti ini.
Di tempat yang tidak ia siapkan.
Dalam keadaan dirinya yang begitu lemah.
Bella mengangkat wajah perlahan.
Tatapannya dingin, tapi matanya mulai memerah.
“Kalau aku bilang iya, lalu apa?”
Kalimat itu membuat Dominic membeku.
Untuk beberapa detik, pria itu hanya menatap Bella tanpa berkedip.
Napasnya terdengar berat.
Tatapannya perlahan turun ke arah perut Bella, lalu kembali ke wajah wanita itu.
Ekspresi di wajah Dominic berubah.
Keterkejutan perlahan bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam.
Rasa bersalah.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Pertanyaan itu langsung membuat Bella tertawa kecil.
Tawanya getir.
Sangat getir.
“Bilang?”
Ia menatap Dominic lurus.
“Kapan aku harus bilang, Dom? Saat aku lihat kamu tidur sama perempuan lain?”
Suasana mendadak membeku.
Wajah Dominic langsung menegang.
Bella melanjutkan, suaranya kini bergetar oleh emosi yang selama ini ia tekan.
“Atau waktu kamu datang ke apartemen sambil bilang semuanya bisa diperbaiki?”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku bahkan masih berusaha berdiri sendiri waktu tahu aku hamil.”
Dominic mematung.
Setiap kata Bella terasa seperti tamparan keras di wajahnya.
Bella mengusap air matanya cepat.
“Aku nggak butuh belas kasihan kamu.”
“Bella—”
“Dan aku nggak mau kamu datang cuma karena bayi ini.”
Kalimat itu keluar tegas.
Begitu tegas sampai Dominic tidak bisa langsung menjawab.
Karena jauh di dalam dirinya, pria itu tahu Bella benar-benar takut akan hal itu.
Bahwa ia hanya kembali karena tanggung jawab.
Bahwa ia hanya mengejar karena anak mereka.
Dominic menatap Bella dengan rahang mengeras.
“Jangan pernah bilang aku datang cuma karena itu.”
Nada suaranya rendah.
Sakit.
“Aku datang karena aku kehilangan kamu.”
Bella menatapnya lama.
Dan justru kalimat itu membuat hatinya semakin kacau.
Karena sebagian kecil dari dirinya masih ingin percaya.
Namun luka itu masih terlalu baru.
Terlalu dalam.
Ia menggeleng pelan.
“Aku nggak tahu mana yang lebih sakit, Dom.”
Suara Bella melemah.
“Dikhianati sama pria yang aku cintai… atau melihat dia tiba-tiba peduli setelah tahu ada bayi.”
Kalimat itu membuat Dominic terdiam total.
Bella berbalik perlahan.
“Aku capek.”
Lalu ia melangkah keluar, meninggalkan Dominic yang berdiri membeku dengan wajah yang mulai kehilangan warna.
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹