NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. Siasat Eyang Utari

Ketenangan Unit 402 benar-benar tamat ketika bel pintu berbunyi tepat pukul tujuh malam, saat hujan di luar sedang deras-derasnya. Saga, yang baru saja hendak menyesap teh hijau untuk menenangkan syarafnya pasca insiden "kurir jamu", mendapati Eyang Utari berdiri di depan pintu dengan tiga koper besar dan senyum yang lebih cerah daripada lampu kristal di lobi apartemen.

“Surprise! Eyang kangen masakan Nala, jadi Eyang putuskan menginap seminggu di sini,” cetus Eyang tanpa menunggu undangan. Beliau langsung melenggang masuk, diikuti dua petugas lobi yang kewalahan membawa koper-kopernya.

Malam itu juga, ruang tamu minimalis Saga disulap menjadi markas komando pernikahan. Eyang tidak datang dengan tangan kosong; ia membawa mood board raksasa, gulungan kain batik tulis, hingga katalog perhiasan yang tampak seperti properti syuting film kolosal. Ruangan yang biasanya kosong dan simetris itu kini berubah menjadi labirin beludru dan tumpukan referensi adat yang membuat Saga merasa sesak napas.

Operasi "Pernikahan Kerajaan"

Eyang duduk di tengah sofa, sementara Nala dipaksa duduk bersimpuh di dekatnya. Saga hanya bisa berdiri di kejauhan, bersandar pada pilar beton yang menjadi batas "wilayah kerjanya", memerhatikan dengan ngeri bagaimana rumahnya dijajah oleh rencana-rencana yang tidak pernah ia setujui.

“Nala, dengar Eyang,” suara Eyang Utari terdengar penuh otoritas namun lembut. “Pernikahan keluarga kita itu bukan cuma soal tanda tangan di buku nikah. Itu soal martabat. Eyang sudah siapkan konsep Javanese Royal Wedding untuk kalian.”

Eyang membentangkan sebuah foto besar. “Kamu akan memakai kebaya beludru hitam dengan sulaman benang emas murni. Lihat potongannya, ini akan membuat lehermu jenjang seperti permaisuri.”

Nala melirik Saga yang tampak menegang. “Eyang... tapi kan Saga sukanya yang minimalis. Kayaknya kalau beludru hitam kepanasan deh.”

“Minimalis itu buat kantor, Nala! Buat bangunan! Kalau pernikahan itu harus manglingi,” tukas Eyang. Beliau beralih ke katalog dekorasi. “Eyang sudah bicara dengan vendor. Pelaminannya nanti pakai ukiran kayu jati kuno seberat dua ton, dengan dekorasi bunga melati yang menjuntai sepanjang lima meter. Baunya harus tercium sampai radius satu kilometer!”

Saga memijat pelipisnya. “Eyang, itu bukan pernikahan, itu pameran furnitur jati. Apartemen ini saja tidak akan muat menampung bunga sebanyak itu.”

“Siapa bilang acaranya di sini? Eyang sudah pesan gedung keraton di Solo!” Eyang membalas dengan kilat mata yang tak terbantahkan. “Sekarang, Nala, pilih motif batiknya. Mau Sidomukti supaya kalian mulia, atau Sidoasih supaya kalian saling menyayangi terus? Eyang sarankan Sidoasih, apalagi setelah efek jamu semalam sepertinya kalian butuh banyak kasih sayang.”

Wajah Nala dan Saga memerah serentak. Nala pura-pura sangat sibuk memeriksa tekstur kain batik di depannya agar tidak perlu menatap Saga.

Hujan semakin deras di luar, menciptakan suasana isolasi di dalam Unit 402. Eyang Utari, bacanya tersenyum puas. Siasatnya mulai bekerja.

Malam semakin larut, dan Eyang Utari memberikan pukulan terakhirnya.

“Aduh, pinggang Eyang mendadak encok,” keluh Eyang sambil memegang punggungnya.

“Eyang mau istirahat sekarang. Nala, kamu sudah siapkan kamar tamu untuk Eyang, kan?”

“Sudah, Eyang. Kasurnya sudah Nala kasih sprei baru yang motif bunga-bunga,” jawab Nala sigap.

“Bagus. Dan Saga,” Eyang menatap cucunya dengan tajam.

“Mengingat Eyang akan sering keluar-masuk kamar mandi di malam hari karena faktor usia, Eyang tidak mau kalian berisik di luar. Masuklah ke kamar kalian. Eyang tidak keberatan kalau harus tidur dengan suara hujan, tapi Eyang keberatan kalau melihat kalian masih kerja lembur di jam segini.”

Saga tahu ini jebakan. Di apartemen ini hanya ada dua kamar utama di lantai atas yang posisinya sangat dekat, dan satu kamar tamu di lantai bawah.

Jika Eyang di lantai bawah, maka Saga dan Nala "dipaksa" secara tidak langsung untuk berada di lantai atas bersama-sama dalam waktu yang lama.

“Eyang, saya masih ada kerjaan di meja—”

“Tidak ada tapi-tapi, Saga. Sehat itu perlu. Istirahat itu wajib. Ajak istrimu ke atas sekarang,” perintah Eyang mutlak.

Dengan berat hati, Saga dan Nala menaiki tangga menuju lantai atas. Sesampainya di sana, suasana menjadi sangat canggung. Pintu kamar mereka saling berhadapan. Garis selotip hitam di lantai koridor lantai atas tampak mengejek mereka.

“Mas... soal Eyang... maaf ya. Dia emang suka maksa,” bisik Nala di depan pintu kamarnya.

Saga bersandar pada bingkai pintu, menatap Nala dengan tatapan yang sulit dibaca. “Dia bukan cuma maksa, Nala. Dia sedang membangun narasi yang membuat kita tidak punya jalan keluar.”

“Terus gimana?”

Saga diam sejenak. Ia melihat ke arah tangga, memastikan Eyang sudah masuk ke kamar bawah.

Tiba-tiba, ia melangkah maju, melewati garis pembatas di koridor itu dan berdiri tepat di depan Nala. Ia meletakkan satu tangannya di dinding di samping kepala Nala, mengurung gadis itu dalam ruang yang sangat sempit.

“Garis-garis yang saya buat... kamu terus-menerus melanggarnya,” ucap Saga dengan nada yang tidak lagi ketus, melainkan lebih ke arah pasrah yang intim.

“Sejak kamu datang, sejak jamu itu, sampai kebaya beludru pilihan Eyang tadi... saya merasa arsitektur hidup saya sedang diruntuhkan.”

Nala menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.

“Kadang... bangunan lama memang perlu diruntuhkan untuk membangun sesuatu yang lebih kokoh, kan? Itu kata Mas sendiri di wawancara kemarin.”

Saga menatap bibir Nala, lalu kembali ke matanya. Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Hujan di luar terdengar seperti musik latar yang dramatis. Saga perlahan menundukkan kepalanya, namun tepat sebelum sesuatu terjadi, suara teriakan Eyang dari lantai bawah memecah suasana.

“SAGA! NALA! MATIKAN LAMPU! SILAU SAMPAI KE KAMAR EYANG!”

Keduanya tersentak dan langsung menjaga jarak. Saga berdehem, memalingkan wajah yang kini panas. “Matikan lampunya, Nala. Saya mau tidur.”

Saga segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan sedikit keras. Di dalam kamar, ia bersandar di balik pintu, memegang dadanya yang bergemuruh. Sementara di luar, Nala berdiri mematung sambil memegang pipinya yang memerah.

Malam itu, di bawah atap Unit 402, bukan lagi hanya jamu Sari Rahayu yang membuat suasana panas, melainkan sebuah rencana pernikahan yang mulai terasa nyata dan perasaan yang mulai kehilangan arah dalam labirin beludru ciptaan Eyang Utari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!