NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 22

Langit Jakarta menyambut mereka dengan badai.

Hujan turun dengan brutal, menghantam badan jet pribadi Gulfstream G650 saat roda pesawat menyentuh landasan pacu VIP di Bandara Halim Perdanakusuma. Suasana di dalam kabin terasa hening dan tegang. Liburan rahasia mereka di Bali telah usai, digantikan oleh realitas kejam ibu kota yang menuntut pertumpahan darah secara politik.

Melalui kaca jendela berlapis, Yvone bisa melihat kilatan cahaya blitz yang menyilaukan di luar pagar pembatas bandara. Berita kepulangan mereka rupanya telah bocor. Puluhan wartawan berseragam jas hujan berkerumun, menembus cuaca buruk demi mendapatkan berita utama tentang skandal 'Istri Miliarder yang Korupsi'.

"Mereka seperti sekumpulan serigala kelaparan," gumam Yvone, tangannya tanpa sadar meremas ujung blazer yang ia kenakan.

Sebuah tangan besar dan hangat menutupi tangannya yang dingin. Dylan mencondongkan tubuhnya, menatap Yvone dengan mata kelam yang memancarkan ketenangan absolut. Pria itu telah kembali mengenakan setelan jas hitam tiga potongnya yang ikonik.

"Mereka bukan serigala. Mereka hanya anjing pelacak yang menyalak karena diberi makan oleh Nadia," ucap Dylan rendah. "Tetap di sisiku. Jangan menunduk, jangan menutupi wajahmu. Tatap lurus ke depan. Tunjukkan pada mereka bahwa seorang ratu tidak gentar oleh gonggongan."

Yvone menarik napas panjang, meresapi setiap kata suaminya. "Aku siap."

Begitu pintu pesawat terbuka, Pak Joko dan enam pengawal berbadan tegap lapis pertama sudah bersiaga membentuk barikade manusia.

Dylan turun lebih dulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya pada Yvone. Begitu kaki Yvone menyentuh aspal yang basah, rentetan pertanyaan dari para wartawan yang ditahan di balik barikade meledak mengalahkan suara hujan.

"Pak Dylan! Apakah Alexander Group akan menceraikan Nyonya Yvone setelah skandal Senopati?!"

"Nyonya Yvone! Benarkah Anda menipu rekan arsitek Anda sendiri demi menguntungkan perusahaan cangkang?!"

"Apakah ini bukti bahwa pernikahan kalian hanyalah rekayasa untuk menutupi kejahatan ayah Anda?!"

Pertanyaan-pertanyaan itu setajam belati. Yvone merasakan denyut nyeri di dadanya. Namun, ia mengingat latihan dan janjinya pada Dylan. Ia tidak menunduk. Ia menegakkan dagunya, menatap para wartawan itu dengan ekspresi datar yang elegan, persis seperti yang selalu dilakukan suaminya.

Dylan, yang tangannya melingkar posesif di pinggang Yvone, tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat sebelum memasuki pintu mobil Rolls-Royce.

Langkah tak terduga itu membuat para pengawal dan wartawan terkejut. Dylan menoleh, menatap lurus ke arah kamera yang menyala. Aura intimidasi dari pria itu begitu pekat hingga kerumunan wartawan itu secara refleks terdiam.

"Dengarkan saya baik-baik, karena saya hanya akan mengatakannya satu kali," suara bariton Dylan menggelegar, dingin dan mematikan. "Istri saya, Yvone Larasati, adalah korban dari konspirasi murahan dan manipulasi data yang pengecut. Alexander Group berdiri sepenuhnya di belakangnya."

Kamera terus memotret setiap detik ekspresi mematikan sang CEO.

"Bagi pihak-pihak yang telah mendalangi fitnah ini... nikmati kemenangan kecil kalian hari ini," Dylan menyeringai, sebuah senyuman kejam yang membuat bulu kuduk siapa pun meremang. "Karena besok, saya akan memastikan kalian kehilangan segala hal yang kalian miliki. Termasuk karir, kebebasan, dan nama baik kalian."

Tanpa menunggu balasan, Dylan membimbing Yvone masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup, mengisolasi mereka dari kegilaan ibu kota.

Mobil melaju menembus kemacetan hujan Jakarta. Di dalam kabin, Yvone menghela napas yang sejak tadi ia tahan.

"Kau baru saja menabuh genderang perang secara terbuka dengan Nadia dan Menteri Hadi," bisik Yvone, menoleh menatap suaminya.

"Mereka yang menabuhnya lebih dulu," Dylan melonggarkan dasinya, matanya berkilat berbahaya. "Sekarang, kita hanya perlu menghancurkan pion mereka. Kita akan mulai dari arsitek pengecutmu itu."

Pukul 19.30 WIB. Penthouse Menara Alexander.

Ruang kerja Dylan di lantai dua penthouse telah berubah menjadi pusat komando krisis. Asap tipis dari cangkir kopi yang baru diseduh mengepul di atas meja marmer yang dipenuhi dokumen.

Marco berdiri di seberang meja, mengusap wajahnya yang terlihat kelelahan. "Ini lebih buruk dari perkiraan kita, Bos. Rangga Susilo baru saja menggelar konferensi pers sore tadi."

Yvone yang sedang duduk di sofa ruang kerja seketika membeku. "Apa yang dia katakan?"

Marco menelan ludah, menatap Yvone dengan simpati. "Dia memainkan peran sebagai pemuda idealis yang dikhianati. Dia bilang dia sangat kecewa karena rekan kerjanya yang dia percayai menggunakan akses internal biro untuk memanipulasi draf pengajuan material. Rangga mengklaim dia terpaksa membocorkan 'kebenaran' ini kepada investor demi menyelamatkan integritas proyek Senopati."

"Bajingan licik," geram Dylan rendah, tangannya mengepal di atas meja. "Dia melempar batu lalu menyembunyikan tangannya. Dia menjadikan Yvone kambing hitam agar investor melihatnya sebagai pahlawan yang menyelamatkan proyek mereka."

"Dan berhasil," Marco menghela napas. "Dewan investor Senopati telah membekukan posisi Yvone sebagai desainer utama. Mereka menuntut Yvone mundur secara resmi besok siang, atau mereka akan membawa kasus dugaan penggelapan ini ke polisi dengan membawa bukti log IP Address yang direkayasa itu."

Yvone memejamkan mata. Kepalanya berdenyut keras. Rangga benar-benar menghancurkannya. Pria yang tertawa bersamanya, yang memujinya, kini berdiri di depan kamera dan merobek reputasinya demi tawaran iblis dari Nadia Pramudya.

"Aku tidak akan mundur," suara Yvone terdengar, memecah keheningan yang tegang itu.

Baik Dylan maupun Marco menoleh padanya.

Yvone berdiri dari sofa dan berjalan menghampiri meja kerja. Ia menatap tumpukan log data aktivitas server biro arsitektur yang tadi sore berhasil diretas oleh tim siber Alexander Group. Ia mengingat kembali pelajaran yang Dylan berikan di Bali. Jangan percaya pada dokumen, periksa polanya.

"Marco, tunjukkan padaku data logistik asli dari vendor PT Bina Konstruksi," perintah Yvone.

Marco segera memunculkannya di layar monitor raksasa di dinding. "Ini invoice fiktif yang seolah-olah Anda setujui."

Yvone menyipitkan matanya. Ia menelusuri deretan angka dan spesifikasi material tersebut. Tiba-tiba, ingatannya kembali pada diskusinya dengan Rangga.

"Rangga itu obsesif dengan detail struktur," gumam Yvone, matanya berbinar menemukan celah. "Saat kami membahas fondasi, dia selalu menggunakan hitungan spesifik untuk beban baja. Lihat invoice ini. Angka volume baja di sini dibulatkan menjadi ratusan ton. Rangga tidak pernah membulatkan angka. Ini bukan draf buatannya. Ini draf yang dibuat oleh orang luar yang tidak mengerti desain aslinya."

Dylan mencondongkan tubuhnya. "Lanjutkan, Yvone."

"Jika Rangga yang membuat fitnah ini, dia pasti menyuruh Pak Yanto untuk membuat draf yang terlihat meyakinkan. Tapi Pak Yanto tidak sepintar itu," Yvone beralih ke log IP Address. "Dan lihat ini. Log ini menunjukkan aku login dari Bali pada pukul 23.00, lalu menyetujui draf itu. Tapi pada jam itu..." Yvone menelan ludah, pipinya sedikit merona mengingat apa yang terjadi semalam di Bali. "...koneksi satelit vila dimatikan untuk maintenance keamanan. Aku sama sekali tidak memegang tabletku."

"Rangga menggunakan VPN yang dialihkan ke server Bali untuk meniru IP Address-mu," simpul Dylan, menyeringai buas. "Trik murahan. Tim siber kita bisa membongkar lapisan VPN itu dan membuktikan bahwa sinyal aslinya berasal dari apartemen Rangga di Jakarta."

"Tepat," Yvone menggebrak meja dengan kedua tangannya, matanya menatap Dylan dengan kobaran semangat. "Besok, kita tidak akan menunggu mereka melaporkanku ke polisi. Kita undang seluruh dewan investor Senopati dan Rangga Susilo ke ruang rapat utama Menara Alexander. Kita panggil mereka ke sarang naga."

Marco tersenyum lebar, tampak sangat bangga pada Nyonya Bos-nya. "Saya akan menyebarkan undangannya malam ini juga. Jika mereka menolak datang, kita ancam akan mencabut dukungan bank konsorsium kita dari proyek mereka."

"Lakukan, Marco. Tinggalkan kami," perintah Dylan.

"Baik, Bos. Selamat malam, Nyonya," Marco menunduk hormat dan segera bergegas keluar dari penthouse.

Keheningan kembali menyelimuti ruang kerja itu. Hujan di luar terus menderas, namun di dalam, udara terasa panas oleh sisa adrenalin.

Yvone masih berdiri di depan meja, napasnya terengah. Ia baru saja menyusun strategi serangan baliknya sendiri. Rasa tidak aman yang dulu selalu menyertainya kini lenyap, digantikan oleh kekuatan yang mengalir di setiap pembuluh darahnya.

Tiba-tiba, sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya dari belakang.

Dylan menarik punggung Yvone hingga membentur dada bidangnya. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Yvone, menghirup aroma leher istrinya dalam-dalam.

"Tadi itu... sangat seksi," bisik Dylan dengan suara serak yang berat, getarannya terasa langsung di kulit Yvone.

Ketegangan di bahu Yvone perlahan mengendur. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Dylan, memutar wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Aku hanya mengaplikasikan apa yang mentorku ajarkan."

"Kau jauh melampaui mentormu," Dylan membalikkan tubuh Yvone di dalam pelukannya, mengangkat wanita itu hingga Yvone harus duduk di tepi meja kerja marmer.

Pria itu berdiri di antara kedua kaki Yvone, mengurung wanita itu dengan kedua tangannya yang bertumpu di tepi meja. Jarak mereka kini tak ada artinya. Tatapan Dylan menyapu wajah Yvone, turun ke leher, dan kembali ke mata wanita itu. Pemujaan dan hasrat membara di sana, tak tertutupi oleh topeng bisnis apa pun.

"Hari ini kau menghadapi ribuan kamera, fitnah, dan pengkhianatan," gumam Dylan, ibu jarinya mengusap lembut garis rahang Yvone. "Tapi kau tidak menangis. Kau bahkan tidak berkedip."

"Aku sudah bilang, aku lelah menangis," Yvone mengangkat tangannya, menyusupkan jari-jarinya ke rambut hitam Dylan yang rapi. "Selama kau ada di belakangku, aku merasa bisa menghancurkan dunia."

Erangan rendah lolos dari tenggorokan Dylan. Kata-kata Yvone adalah racun termanis yang pernah ia cicipi. Sisi dominan dan protektifnya meronta, menuntut pelepasan setelah berjam-jam menahan amarah terhadap pria yang telah menyakiti istrinya.

Dylan menundukkan wajahnya, meraup bibir Yvone dengan ciuman yang memabukkan dan menuntut.

Ciuman itu tidak lembut. Ciuman itu diwarnai oleh keputusasaan, rasa syukur karena mereka kembali dengan selamat, dan ledakan gairah yang tak tertahankan. Yvone membalasnya dengan intensitas yang sama, membuka bibirnya untuk memberikan akses penuh pada lidah suaminya.

Kedua lengan Yvone melingkar erat di leher Dylan, sementara tangan besar pria itu meremas pinggangnya, menariknya semakin rapat. Suara decakan basah dari ciuman mereka memenuhi ruangan yang kedap suara itu.

"Dylan..." desah Yvone saat bibir pria itu turun mengecupi lehernya, meninggalkan jejak kemerahan yang panas di sana.

Tangan Dylan bergerak liar, membuka kancing blazer yang Yvone kenakan dengan tidak sabar. Kemeja sutra di baliknya menjadi sasaran berikutnya. Pria itu mencium setiap jengkal kulit yang berhasil ia ekspos, memberikan sensasi terbakar yang membuat Yvone melengkungkan punggungnya dan mengerang pelan.

"Kau milikku," geram Dylan posesif di antara ciumannya pada tulang selangka Yvone. "Tidak ada satu pun bajingan di luar sana yang bisa menyentuh apa yang menjadi milikku. Aku akan menghancurkan Rangga. Aku akan melenyapkan Nadia."

Yvone menangkup wajah Dylan, memaksa pria itu menatapnya dengan mata yang sayu oleh gairah. "Malam ini... jangan pikirkan mereka. Pikirkan aku. Hanya ada kau dan aku."

Mata kelam Dylan berkilat oleh hasrat yang liar. Tanpa memutuskan kontak mata, pria itu menyapu tumpukan dokumen di atas meja kerja marmer itu hingga jatuh berserakan ke lantai. Brak!

Yvone terkesiap, namun keterkejutannya dengan cepat dibungkam oleh bibir Dylan yang kembali menaklukkannya. Pria itu membaringkan Yvone di atas meja kerja yang dingin, sebuah kontras yang tajam dengan kulit pria itu yang membara.

Dalam kegelapan malam Jakarta yang diguyur badai, di pusat menara kekuasaan tertinggi ibu kota, Dylan Alexander Hartono menanggalkan zirah besinya. Ia mencintai istrinya dengan cara yang paling purba penuh dominasi, pemujaan, dan janji tak terucap bahwa tidak akan ada satu hal pun di dunia ini yang bisa memisahkan mereka.

Setiap sentuhan Dylan membakar keraguan terakhir di hati Yvone, mengukuhkan ikatan mereka yang lahir dari kontrak dingin menjadi api abadi yang tak bisa dipadamkan. Teriakan pelepasan Yvone tenggelam dalam pelukan suaminya, menciptakan simfoni paling intim di tengah badai.

Keesokan Harinya. Pukul 10.00 WIB. Ruang Rapat Eksekutif Menara Alexander.

Ruang rapat di lantai enam puluh lima itu dilapisi kaca kedap suara dengan panorama ibu kota yang sibuk. Di tengah ruangan, meja kayu oak raksasa memanjang.

Empat orang pria paruh baya dengan setelan jas mahal duduk dengan gelisah. Mereka adalah dewan investor konsorsium proyek Senopati. Di ujung meja yang lain, Rangga Susilo duduk dengan wajah kaku. Matanya memerah kurang tidur, dan tangannya saling bertaut erat di atas meja.

Pintu ganda mahoni terbuka lebar.

Dylan Alexander Hartono melangkah masuk, memancarkan aura dewa maut. Pria itu mengenakan setelan navy gelap yang memeluk tubuh atletisnya dengan sempurna. Di sebelahnya, berjalan dengan kepala tegak dan anggun, adalah Yvone. Sang desainer mengenakan setelan celana high-waist dan kemeja sutra putih tulang, dengan lipstik merah bold yang mengesankan kekuatan.

Tidak ada sisa-sisa wanita rentan yang kemarin menangis. Yang ada hanyalah sang Ratu yang siap mengeksekusi pengkhianatnya.

Semua orang di ruangan itu secara refleks berdiri saat Dylan masuk, kecuali Rangga yang tampak membeku di kursinya.

Dylan tidak duduk di kursi pimpinan. Pria itu justru menarik kursi pimpinan tersebut dan mempersilakan Yvone untuk duduk di sana. Sementara dirinya, sang CEO legendaris, memilih untuk berdiri di belakang kursi istrinya, bertindak sebagai bayangan pelindungnya.

Pemandangan itu mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada para investor: Singgung wanita ini, dan kalian berhadapan dengan Alexander Group secara penuh.

"Selamat pagi, Tuan-Tuan," sapa Yvone dingin, suaranya tenang tanpa getaran sedikit pun. Ia menatap lurus ke arah Rangga. Arsitek muda itu tak berani membalas tatapannya dan memilih menunduk menatap meja.

"Bapak Dylan, Nyonya Yvone," salah satu perwakilan investor, seorang pria gempal berkacamata, berdeham canggung. "Kami berterima kasih atas undangannya. Namun posisi kami jelas. Berdasarkan bukti yang diberikan oleh Saudara Rangga, kami harus membekukan keterlibatan Nyonya Yvone dalam proyek ini demi integritas hukum."

Yvone tersenyum miring. Senyum yang sangat mirip dengan senyum mematikan suaminya.

"Bukti," ulang Yvone pelan. Ia menjentikkan jarinya ke arah pintu.

Marco masuk membawa sebuah layar proyektor lipat dan beberapa map.

"Mari kita bicara tentang bukti, Tuan-Tuan," Yvone menyilangkan kakinya. "Tadi malam, tim siber independen bukan dari Alexander Group, melainkan auditor digital internasional yang disewa oleh kepolisian telah menelusuri asal-muasal email anonim tersebut."

Wajah Rangga seketika pucat pasi. Ia mendongak, matanya membelalak panik. "Apa? Kepolisian?"

"Ya, Rangga. Kepolisian," jawab Dylan dari belakang Yvone, suaranya menggelegar dan berat. "Kau pikir aku akan menyelesaikan masalah hukum dengan rapat internal? Kami melaporkan kasus peretasan dan pencemaran nama baik ini ke Bareskrim Polri subuh tadi."

Yvone mengambil sebuah flashdisk dan menyodorkannya ke tengah meja. "Sistem VPN yang digunakan untuk memalsukan IP Address saya ternyata sangat amatir. Sinyal aslinya terlacak ke sebuah router Wi-Fi di lantai dua puluh gedung biro arsitektur milikmu, Rangga. Pada pukul 23.15, dua malam yang lalu."

Para investor saling berpandangan dengan terkejut.

"Dan yang lebih menarik lagi," lanjut Yvone, tanpa ampun menancapkan pisaunya. "Auditor keuangan menemukan aliran dana sebesar dua miliar rupiah masuk ke rekening pribadi mandor proyek kita, Pak Yanto. Dana itu ditransfer dari sebuah perusahaan shell milik PT Pramudya Investama. Perusahaan keluarga Nadia Pramudya."

Mendengar nama Nadia disebut, para investor terkesiap. Mereka tahu reputasi keluarga menteri tersebut.

"Rangga," Yvone menatap arsitek itu dengan sorot mata yang penuh dengan kekecewaan dan penghinaan absolut. "Nadia menyogok Yanto untuk memasukkan vendor bodong, dan ketika aku menggagalkannya, dia mendekatimu. Dia memanipulasi egomu. Kau mengorbankanku untuk menutupi kesalahan di dalam proyekmu sendiri, dan berharap bisa terlihat seperti pahlawan."

Rangga berdiri dari kursinya, tangannya menggebrak meja dengan putus asa. "Yvone, kau tidak mengerti! Aku mencoba membebaskanmu! Nadia bilang kau dipaksa oleh Dylan! Aku melakukannya untuk menyelamatkan karirmu dari pria ini!"

Tawa sinis meluncur dari bibir Yvone. Tawa yang membekukan darah Rangga.

"Menyelamatkanku?" Yvone berdiri perlahan. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Rangga. "Satu-satunya orang yang memenjarakanku adalah kau. Kau mengkhianati profesimu, membohongi investormu, dan mencoba menghancurkan hidup wanita yang kau sebut rekan kerja. Kau bukan kesatria, Rangga. Kau pengecut."

Rangga terdiam seribu bahasa, napasnya tersengal. Realitas kejahatannya akhirnya menghantam kewarasannya. Ia telah dimanipulasi oleh Nadia, dan ia telah kehilangan segalanya.

Dylan melangkah maju, memposisikan dirinya di samping Yvone. Pria itu menatap para investor yang kini berkeringat dingin.

"Tuan-Tuan," ucap Dylan dengan nada bisnis yang mematikan. "Istri saya telah membuktikan bahwa dia tidak bersalah, dan justru menyelamatkan kalian dari vendor palsu yang bisa membuat gedung kalian runtuh. Sekarang, pilihannya ada di tangan kalian."

Dylan menunjuk pintu keluar. "Kalian bisa memecat Rangga Susilo hari ini juga, mencabut perusahaannya dari proyek, dan mengangkat Yvone Larasati beserta tim dari Alexander Group sebagai pengambil alih tunggal desain dan konstruksi proyek ini. Atau..."

Mata kelam Dylan menyipit. "...kalian bisa terus mendukung arsitek penipu ini, dan besok pagi, Alexander Group akan melakukan hostile takeover terhadap saham mayoritas di perusahaan kalian masing-masing, melikuidasi asetnya, dan menghancurkan kalian hingga ke akar-akarnya."

Keheningan yang mencekam memenuhi ruangan. Itu bukanlah negosiasi. Itu adalah eksekusi brutal ala Dylan Alexander Hartono.

Hanya butuh waktu lima detik bagi para investor itu untuk membuat keputusan.

"K-Kami memecat Saudara Rangga Susilo," ucap pria berkacamata itu dengan suara bergetar. "Proyek ini... kami serahkan sepenuhnya di bawah kendali Nyonya Yvone."

Skakmat.

Yvone menatap Rangga yang merosot kembali ke kursinya dengan wajah hancur berkeping-keping. Karir pria itu telah tamat. Ia akan menghadapi penyelidikan polisi atas pemalsuan dokumen dan pencemaran nama baik.

Saat Yvone berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat berdampingan dengan Dylan, ia merasa lebih ringan dari sebelumnya.

Di dalam lift yang meluncur turun, Dylan menarik Yvone dan mencium kening istrinya dengan bangga. "Selamat, Sayang. Kau baru saja memenangkan perang pertamamu."

Yvone mendongak, tersenyum tajam. "Ini baru permulaan, Dylan. Rangga hanyalah anjing suruhan."

Mata Yvone menatap ke arah luar jendela kaca lift yang menampilkan gedung DPR di kejauhan.

"Sekarang," bisik Yvone mematikan, "saatnya kita berburu sang Putri Politik."

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!