NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 20

"Lulusan angkatan pertama," gumam Laras sambil menatap barisan siswa yang kini berdiri tegak di aula. "Mereka tidak akan kembali ke Bumi sebagai tentara. Mereka akan kembali sebagai sistem imun."

Aan melangkah maju, menampilkan peta Bumi yang kini dipenuhi titik-titik cahaya biru yang stabil. "Protokol 'Akar Mawar' sudah siap, Laras. Enam puluh lulusan terbaik, masing-masing membawa unit pemancar Arca portabel yang terintegrasi dengan kesadaran mereka. Mereka akan ditempatkan di enam benua, di titik-titik bekas kegelapan Konsorsium."

Dio mendekati salah satu siswa, seorang pemuda bernama Pandu yang dulu merupakan mekanik jalanan di pinggiran Jakarta. Dio memperbaiki posisi lencana Mawar Hitam di bahu Pandu. "Ingat apa yang kubilang, Ndu. Di bawah sana, orang-orang akan memuja kalian sebagai penyihir atau membenci kalian sebagai orang asing. Jangan biarkan keduanya masuk ke kepala kalian. Tetaplah menjadi mekanik. Perbaiki apa yang rusak, jangan coba-coba menguasai apa yang sudah benar."

Pandu mengangguk mantap. "Siap, Bang Dio. Kami akan menjaga frekuensi tetap bersih."

Laras berjalan di antara barisan siswa tersebut. Ia bisa merasakan denyut energi Arca yang sinkron dari setiap modul yang mereka bawa. "Tugas kalian berat. Konsorsium mungkin sudah runtuh secara politik, tapi sisa-sisa keserakahan mereka masih bersembunyi di bayang-bayang. Mereka akan mencoba menyuap kalian, mengancam kalian, atau menggunakan teknologi kalian untuk tujuan lama. Tugas kalian adalah satu: pastikan energi Arca tetap menjadi milik publik, bukan komoditas."

Sang Arsitek dari Andromeda muncul kembali, kali ini dengan wujud yang lebih kecil, seukuran manusia biasa. "Sebuah eksperimen yang menarik. Mengirimkan kekuatan besar ke tangan mereka yang paling tertindas. Di banyak galaksi lain, ini biasanya berakhir dengan revolusi berdarah. Mengapa kalian yakin ini akan berbeda?"

Laras menoleh ke arah sang Arsitek. "Karena kami tidak mengajarkan mereka cara memegang senjata. Kami mengajarkan mereka cara merasa. Modul Arca ini hanya akan berfungsi jika penggunanya memiliki niat untuk menjaga kehidupan. Jika mereka mencoba menggunakannya untuk menyakiti, frekuensinya akan mati seketika. Itu adalah pengaman yang dipelajari Ayah dari Pustaka Ceres."

Sinta memberikan sebuah kotak berisi benih-benih mawar yang telah diselaraskan kepada Pandu. "Tanam ini di pusat setiap pemukiman. Biarkan mawar ini menjadi pengingat bahwa langit dan bumi kini bicara dalam bahasa yang sama."

Kapal-kapal transportasi kecil—modifikasi dari desain kargo lama Dio—mulai berderet di dermaga. Satu per satu, lulusan angkatan pertama memasuki palka. Tidak ada upacara megah, tidak ada tiupan terompet. Hanya suara langkah kaki yang mantap dan dengungan energi yang tenang.

Saat kapal pertama meluncur menuju atmosfer Bumi, Laras berdiri di jendela besar, memperhatikan titik api kecil yang menghilang di balik awan. "Mereka adalah benih kita, Bu. Jika mereka bisa bertahan di bawah sana, maka seluruh Bumi akan mekar."

"Dan jika mereka gagal?" tanya Dio pelan, matanya tetap menatap langit.

"Maka kita akan turun tangan sendiri," jawab Laras tanpa ragu. "Tapi aku percaya pada mereka. Mereka tahu rasanya lapar, mereka tahu rasanya tidak memiliki harapan. Dan orang yang pernah berada di titik terendah biasanya adalah penjaga yang paling setia bagi cahaya."

Di kejauhan, sebuah riak energi terdeteksi lagi di dekat Mars. Bukan kapal dagang, melainkan sebuah sinyal pengintai yang jauh lebih canggih. Pihak ketiga itu masih mengawasi, namun untuk saat ini, Astra Mawar telah mengirimkan jawaban mereka ke permukaan Bumi.

Kapal transportasi yang membawa Pandu mendarat di atap bekas gedung pencakar langit Jakarta yang kini telah diselimuti tanaman merambat. Udara Jakarta masih terasa berat, sisa-sisa polusi dekade lalu yang bercampur dengan uap statis pasca-EMP. Namun, saat Pandu melangkah keluar, ia tidak lagi melihat kota itu sebagai tumpukan beton yang mati. Melalui sensor bionik di matanya, ia melihat arus energi yang tersumbat di bawah aspal jalanan.

"Instalasi dimulai," bisik Pandu ke arah komunikator di bahunya.

Ia meletakkan pemancar Arca portabel—sebuah tabung kristal kecil yang dilindungi cangkang tembaga kasar—di pusat pondasi gedung. Seketika, getaran halus merambat ke seluruh struktur. Lampu-lampu jalanan di bawah sana, yang sudah padam selama berbulan-bulan, mulai berkedip biru lembut. Bukan cahaya neon yang menyakitkan mata, melainkan pendaran yang terasa seperti detak jantung.

"Laras, sinkronisasi Sektor Jakarta berhasil," suara Pandu bergema di ruang kendali Astra Mawar. "Rakyat mulai keluar dari rumah-rumah mereka. Mereka menatap lampu-lampu ini seperti melihat keajaiban."

Di Astra Mawar, Laras memperhatikan data yang mengalir masuk. Namun, perhatiannya teralih oleh peringatan merah yang tiba-tiba muncul dari arah Mars. Sinyal pengintai yang tadinya hanya riak kecil kini memadat, membentuk siluet armada yang tidak menggunakan mesin pendorong konvensional. Mereka meluncur dengan membelah ruang.

"Lar, itu bukan pedagang," Dio masuk ke ruangan dengan terburu-buru, membawa data dari radar jarak jauh. "Itu adalah The Void-Step, kelompok pemulung teknologi dari klaster luar. Mereka mengincar 'Jantung Arca' yang kita aktifkan di Kutub Utara. Bagi mereka, Bumi hanyalah baterai raksasa yang menunggu untuk dikuras."

Sang Arsitek dari Andromeda melayang di samping Laras, cahayanya berubah menjadi keunguan yang waspada. "Mereka adalah kaum yang tidak memiliki planet asal. Mereka hidup dengan cara menghisap frekuensi dari peradaban yang baru mekar. Jika mereka sampai di orbit Bumi, perisai yang baru saja kalian bangun tidak akan cukup."

Aan menatap layar dengan tajam. "Kita butuh lebih dari sekadar perisai. Kita butuh pengalih perhatian. Laras, jika kita membiarkan mereka mendekat, Pandu dan timnya di bawah sana akan menjadi sasaran empuk."

Laras menatap piston tua Aryo yang masih terpasang di konsol. Ia memutar piston itu ke arah kiri, memicu protokol yang selama ini dirahasiakan oleh ayahnya: Protokol Bayangan Mawar.

"Kita tidak akan menunggu mereka di sini," tegas Laras. "Dio, siapkan unit penyerbu. Kita akan menjemput mereka di antara Bumi dan Mars. Kita akan menggunakan 'sabuk asteroid' buatan yang diciptakan dari sisa-sisa satelit Konsorsium yang hancur. Kita akan menjebak frekuensi mereka di sana."

"Kau mau melakukan 'Jebakan Tikus' di ruang angkasa?" Dio menyeringai, memutar kunci pas di tangannya. "Gaya lama Ayah memang yang terbaik."

"Paman Aan, kirim pesan ke Pandu. Katakan padanya untuk memperkuat frekuensi di permukaan. Jangan sampai warga takut. Katakan bahwa cahaya di langit malam ini adalah kembang api kemenangan kita," perintah Laras.

Laras mengenakan helm penerbangnya, menatap bayangan dirinya di kaca jendela. Ia bukan lagi gadis yang hanya bisa memperbaiki motor di bengkel gelap. Ia adalah komandan dari sebuah peradaban yang menolak untuk mati.

"Ibu," Laras menoleh ke Sinta yang berdiri di ambang pintu. "Jaga rumah ini. Jika kami tidak kembali dalam satu siklus, aktifkan protokol pemutusan total. Lindungi Bumi, biarkan Astra Mawar menjadi debu jika perlu."

Sinta mengangguk pelan, matanya penuh kebanggaan yang pedih. "Pergilah, Penjaga. Jadikan langit itu milikmu."

Kapal "Mawar Hitam" meluncur keluar dari dermaga dengan kecepatan yang belum pernah dilihat sebelumnya, meninggalkan jejak cahaya biru yang membelah kegelapan menuju pertempuran pertama mereka sebagai pelindung sejati galaksi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!