Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
"Chelsea.. !
"Chelsea.. !
"Tunggu aku dulu, kenapa sekarang sikap mu menjadi seperti ini? Apakah karena aku tak lagi bisa memberikan uang pada mu lagi?" Tanya Dwika sambil menarik tangan Chelsea yang terus melangkah menghindari nya.
Chelsea menghentikan langkahnya lalu melipat tangan nya di dada. "Dwika.. Dwika, aku ini wanita realistis, jika kau saat ini saja tidak mampu untuk membiayai hidup mu sendiri, bagaimana mau mencukupi kebutuhan mu? Aku ini bukan Meisya yang bodoh. Jika kau tak lagi punya uang. Ya berarti kita tak lagi punya hubungan. Ibarat kata ada uang Abang sayang, tak ada uang maka Abang ku buang. Mengerti!!!"
Dwika tersulut emosi, mendengar perkataan Chelsea yang tak pernah ia bayangkan. Dwika nekat mendekat ke arah Chelsea. Tanpa ragu menekan leher Chelsea dengan kuat. Membuat Chelsea kesakitan. Seolah-olah tenggorokan nya terasa akan remuk, nafas nya pun tersendat-sendat. Chelsea berusaha melepas dari cengkeraman Dwika. dia menendang alat vital milik Dwika. Membuat Dwika ke sakitan. Dengan cepat Chelsea langsung berteriak meminta tolong.
"Tolong.. Tolong.. Ada orang yang ingin membunuh ku..!! Tolong... Dia ingin memperkosa ku.. Hu.. Hu..!!!" Teriak Chelsea penuh drama. Membuat warga yang mendengar jeritan Chelsea langsung lari menuju mereka. Melihat leher Chelsea yang merah membiru, akibat bekas cekikan dari Dwika. Warga tanpa ragu, menghajar Dwika hingga babak belur. Tak hanya itu Dwika di seret paksa ke kantor polisi.
Chelsea tersenyum puas melihat Dwika yang menderita. Bagi Chelsea Dwika kini sudah tidak bermanfaat lagi, dan waktu nya untuk dia. Mencari target yang lebih baik. Seperti Brian misalnya. Boss tempat nya bekerja itu sangat tampan, dan yang terpenting dia itu kaya. Apalagi kini Meisya tak ada. Tak ada lagi orang yang akan menghalanginya untuk menjadi istri dari orang kaya raya. Karena Chelsea yakin dengan kecantikan yang ia miliki.
*
*
"Hu.. Hu.. Hu... Dwika, sudah berapa kali ibu bilang, Chelsea itu hanya memanfaatkan mu saja, hu.. Hu.. Lihat lah sekarang, kamu jadi seperti ini. kalau Meisya sampai tau. Dia pasti tak akan mau lagi dengan mu. Lalu kita mau mendapatkan uang dari mana lagi, jika bukan dari dia?" Tangis ibu Dwika di dalam ruang jenguk tahanan.
Sedangkan Dwika mencoba menenangkan ibu nya, tenangkan dirimu ibu, ibu tak perlu hawatir. Gadis bodoh seperti Meisya itu. Mana mungkin bisa meninggalkan aku. Dia terlalu cinta mati pada ku!"
Plak.. Pria bodoh, harus nya, uang mu yang dari Meisya itu, jangan kau berikan pada j*lang rendah itu. Lihat lah, sekarang kau di buang bagian sampah.
"Ibu tentang saja, aku tak mungkin membiarkan j*l*ng busuk itu hidup dengan damai. Begitu Meisya muncul dan membebaskan ku. Aki pasti akan membuat hidup nya seperti di neraka!" Kata Dwika bertekad kuat, untuk membalas dendam pada Chelsea. Siapa yang sangka. Pasangan selingkuh itu akhirnya saling serang. Setelah tidak mendapatkan pasokan uang dari Meisya.
*
*
*
Meisya merasa bingung kenapa mansion begitu sepi, hanya tersisa wanita yang bersudut saja pada nya kemarin. Meisya fikir seharusnya mereka sudah bebas dari hukuman nya.
"Kemana mereka semua. Apakah masih di hukum? Dan siapa nama mu?" tanya Meisya pada satu-satunya maid yang tersisa.
"Mereka.. Mereka di pecat semua nona, karena tidak patuh pada nona, dan sudah bersikap kurang ajar pada nona Meisya. Nama saya Qing-Qing nona."
"Nama yang indah. Kalau begitu Qing-Qing bisa bantu saya memasak?" tanya Meisya ramah. Qing-Qing sampai bengong dengan sikap ramah Meisya. Padahal kemarin sikap Meisya saat baru datang terlihat sombong dan angkuh, apalagi saat di taman waktu itu. Jangan-jangan Daiyu duluan yang mencari gara-gara pada Meisya. Apalagi sikap Daiyu yang sering Curi-curi pandang ke arah Elang. Mungkin saja Daiyu menaruh rasa pada majikan mereka. Dan marah karena Elang membawa Meisya ke mansion baru ini.
"Loh, kok malah bengong. Kalau kamu capek, gak papa, aku bisa kok mengerjakan nya sendiri." kata Meisya, menyentuh pundak Qing-Qing dengan lembut.
Barulah Qing-Qing tersadar dari lamunannya. "Jangan nona, memang sudah tugas saya untuk melayani nona. biar saya saja yang memasak. Saya bisa memasak beberapa jenis masakan. Nona ingin makan apa?"
Meisya tertawa pelan. "Wah itu hal yang luar biasa, seperti nya, kapan-kapan aku bisa belajar dari mu. Tapi aku ingin memasak sendiri, tolong bantu aku untuk menyiapkan bahan-bahan nya saja.
Mereka pun memasak dengan di selingi canda tawa. Meisya sangat suka dengan kepribadian Qing-Qing ini. Dia bisa di jadikan teman selama dia terkurung di mansion ini. Sampai dia bisa keluar dari penjara ber-sangkar Emas milik Elang ini.
*
*
Elang yang baru pulang tertegun, ketika mencium bau masakan yang sangat familiar baginya itu, masakan yang biasa ia makan saat masih berada di kota Yogyakarta. Ia sangat yakin, bahwa yang memasak di dapur adalah wanita nya.
Elang melangkah pelan menuju dapur. Dia hanya mengintip dari balik pintu, masih takut dengan penolakan yang Meisya lakukan. Dari celah pintu itu, Elang bisa mendengar canda tawa Meisya bersama maid yang tersisa. Rasanya lama sekali Elang tidak mendengar Meisya tertawa sebahagia ini. Tapi Elang juga enggan melepaskan Meisya. Apalagi jika sudah bersangkutan dengan Dwika. Hasil otopsi juga belum keluar. Elang tak mau Meisya kembali di kelabui oleh Dwika.
Tanpa sengaja saat Meisya menoleh ke arah pintu, Meisya dapat melihat siluet elang yang bersembunyi, namun bagian tubuh dan rambutnya masih terlihat. Meisya menghela nafas, mencoba menekan rasa marahnya pada Elang. Karena Meisya tau, jika dia terus memberontak yang ada Elang akan semakin nekat.
"Elang.. Kenapa tidak masuk, masuk lah sini. Aku sudah memasak sayur brongkos kesukaan mu. Kesini lah!" Ajak Meisya pada Elang yang bersembunyi di balik pintu.
Perlahan Elang muncul dari persembunyiannya dan masuk ke dapur dengan pelan. Gerakan nya agar kaku, karena sudah ketahuan mengintip Meisya memasak. Tapi yang mengejutkan bagi Elang adalah, sikap Meisya yang tak lagi berontak. Dan kembali bersikap hangat pada nya.
Untuk setelah dialog ada dialog tag, itu pakai huruf kecil ya. Akhiran dialog itu pakai koma, jika bukan tanda tanya atau tanda seru, kecuali selanjutnya adalah aksi setelah dialog jika pakai titik.
Pliss namanya aestheticc bgt lhoo🫣
Contoh:
Dadanya bergedup kencang dan wajahnya peluh oleh keringat dingin yang membasahinya.
Ini contoh sederhana yang masih bisa disempurnakan.
→ Dengan hasutan...
→ Karena hasutan...
Tanpa menyebut lagi pun ini sudah menjelaskan.