NovelToon NovelToon
TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

"Aku akan memantau mu lebih ketat lagi,bahkan saat mandi pun aku akan memantau mu," ujar Lexi tenang.

​Mendengar ancaman Lexi untuk menemaninya mandi, sesuatu dalam diri Laura putus. Bukan lagi rasa takut, melainkan rasa jijik yang mendalam pada dirinya sendiri dan kemarahan yang membuncah pada dominasi Lexi yang tak tertahankan.

​Ia menarik dirinya menjauh dari Lexi, mundur dua langkah, matanya berkilat menahan air mata yang akan tumpah.

​"Cukup!" desis Laura, suaranya serak namun tegas. "Aku muak, Lexi! Aku bukan tawananmu, aku bukan propertimu, dan aku tidak sudi kau atur sampai ke kamar mandi!"

​Lexi menatapnya, sedikit terkejut dengan keberanian yang mendadak itu. Senyum puasnya menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang berbahaya.

​"Oh, kamu berani melawanku, Laura?" Lexi melangkah maju, kembali menipiskan jarak di antara mereka. "Ingat posisimu. Ingat siapa yang tidur nyenyak di atas sana, percaya bahwa istrinya aman, sementara kamu... kamu merangkak ke ruang kerjaku tadi malam."

​"Aku tidak peduli!" Kali ini, Laura benar-benar berteriak, suaranya sedikit pecah. Ia tidak peduli jika Bik Minah mendengarnya, atau bahkan jika Alex tiba-tiba kembali. "Lebih baik aku mengakui segalanya pada Alex dan hancur, daripada hidup seperti ini! Aku akan pergi!"

​Laura berbalik, siap berlari menuju gerbang depan. Ia harus lari, keluar dari rumah mewah yang terasa seperti neraka ini, jauh dari Lexi, jauh dari kebohongan yang membunuhnya perlahan.

​"Aku akan pergi dari sini! Aku akan pergi dari hidup kalian berdua! Aku akan kabur, dan aku tidak akan pernah kembali!" ancam Laura, langkahnya cepat dan tergesa-gesa.

​Lexi bergerak lebih cepat dari yang Laura duga. Dalam sekejap, tangannya mencengkeram lengan Laura dengan kuat, menghentikan langkahnya dengan paksa. Cengkeraman itu terasa menyakitkan.

​"Lepaskan aku, Lexi!" Laura meronta, mencoba melepaskan diri.

​"Dengar, Laura," suara Lexi terdengar rendah, berbahaya, dan mematikan. "Kamu tidak akan pergi ke mana-mana."

​Lexi menarik Laura mendekat, memaksa Laura menatap matanya. "Jika kamu mengambil satu langkah lagi menuju gerbang itu, aku bersumpah, aku tidak hanya akan memberi tahu Alex tentang apa yang terjadi di ruang kerja tadi malam."

​Napas Laura tersengal. "Kamu ingin menghancurkanku? Lakukan! Aku sudah hancur!"

​"Bukan kamu yang akan hancur sepenuhnya, Laura," Lexi tersenyum jahat, senyum yang mengirimkan kengerian. "Aku akan memastikan Alex kehilangan segalanya. Proyeknya akan kutarik, perusahaannya akan kubuat bangkrut. Aku akan membiarkan dia meringkuk di jalanan, menyesali setiap keputusan yang dia ambil, termasuk menikahimu."

​Lexi menekankan cengkeramannya pada lengan Laura. "Dan yang paling penting, aku akan membuat cerita yang sangat meyakinkan bahwa anak yang kamu kandung adalah milikku sejak awal, dan kamu hanya memanfaatkan Alex sebagai perisai."

​Ancaman itu menghantam Laura, tetapi kali ini, bukannya rasa takut, justru nyala amarah yang menyakitkan membakar di dadanya. Cukup! Lexi tidak bisa terus-menerus menggunakan Alex sebagai sandera.

​"Lakukan saja!" tantang Laura, suaranya penuh tekad meskipun bergetar. Ia menatap mata Lexi, tidak gentar sedikit pun. "Hancurkan dia! Aku tidak peduli lagi. Lebih baik Alex tahu kebenarannya dan bangkrut daripada hidup dalam kebohongan menjijikkan ini. Dia akan membenciku, dia akan kehilangan segalanya, tapi setidaknya dia akan bebas darimu! Dan aku..."

​Laura menunjuk perutnya yang membesar. "Anak ini adalah milikku! Darah dagingku! Dan aku akan membesarkannya sendirian. Kamu tidak akan pernah bisa memilikinya, Lexi. Aku akan menghilang dari hidup kalian berdua, dan kamu tidak akan pernah menemukanku atau anakmu!" Tantang Laura.

​Wajah Lexi berubah. Untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar terkejut dan marah. Laura melihat sekilas ketakutan di matanya—ketakutan kehilangan kendali total, ketakutan kehilangan ibu dari anaknya.

​"Kamu tidak akan berani," Lexi mendesis, mencengkeram bahu Laura dengan kedua tangan. "Kamu tidak punya apa-apa tanpaku, Laura. Kamu akan menjadi gelandangan dengan bayi dalam kandunganmu!"

​"Aku lebih memilih itu daripada menjadi tawananmu!" Laura balas membentak, air mata yang ia tahan kini akhirnya tumpah, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan dan keputusasaan yang meluap. "Aku akan lari ke mana pun, bahkan ke ujung dunia. Dan kamu tidak akan pernah menemukan kami!"

​Lexi menatap wajah Laura. Ia melihat keputusasaan yang nyata, tekad untuk mengorbankan segalanya demi melarikan diri. Lexi sadar, ancaman finansial atau moral tidak lagi mempan. Laura sudah mencapai titik terendah.

​Perlahan, Lexi melepaskan cengkeramannya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan dirinya. Jika Laura kabur, rencananya akan gagal total. Ia tidak akan pernah bisa menguasai anak itu.

​"Baiklah," Lexi berucap pelan, suaranya kembali dingin, tetapi mengandung kehati-hatian. "Kamu tidak akan lari. Karena kamu tahu apa yang akan terjadi jika kamu melakukannya."

​Lexi maju selangkah, kini berbicara dengan nada yang lebih menggoda dan manipulatif. "Anak kita membutuhkan kenyamanan ini, Laura. Dia butuh rumah ini, butuh keamanan finansial yang hanya bisa kuberikan. Pikirkan dia. Pikirkan bahwa dia akan hidup dalam kemewahan dan diakui sebagai pewaris."

​"Dia butuh ibu yang waras, Lexi, bukan ibu yang menjadi budak birahimu!" seru Laura.

​"Dan dia akan mendapatkannya," Lexi berbisik, mendekat dan mengusap air mata Laura dengan ibu jarinya, gerakan yang penuh kontradiksi—kejam namun intim. "Aku akan mundur dari rencana mandi itu. Kamu menang. Aku akan membiarkanmu bernapas, asalkan kamu tetap berada di sisiku. Jangan membuatku marah, Laura. Jangan pernah mencoba lari lagi. Atau aku akan pastikan hidupmu menjadi neraka yang jauh lebih buruk daripada yang bisa kau bayangkan."

​Lexi memberinya peringatan terakhir, tatapan matanya seolah berkata bahwa ini hanya gencatan senjata sementara.

Laura tidak berontak.

​"Ayo, Nyonya. Kita lanjutkan jalan sorenya. Tidak ada yang akan lari hari ini," perintah Lexi.

​Laura berdiri di sana, terengah-engah. Ia tahu ia tidak benar-benar menang, ia hanya menunda eksekusinya. Tapi untuk saat ini, ia telah mendapatkan sedikit ruang gerak. Ia mengangguk kaku, menerima kekalahannya yang sementara. Ia harus mencari rencana yang lebih baik, rencana yang tidak mengorbankan Alex.

Laura berhenti melangkah.

Dipegangi kepalanya yang mendadak pusing.

Pandangannya buram dan berkunang kunang.

Tidak berapa detik semua menjadi gelap,dan...

Laura pingsan.

Untung saja Lexi sangat peka,dan gerak cepat menangkap tubuh Laura yang hampir ambruk ke tanah.

"Laura,,Laura,,ada apa denganmu?" Lexi terlihat panik.

Ini kali pertama dia melihat Laura selemah ini.

Apa dia sudah keterlaluan barusan? Sampai sampai wanita tangguh itu pingsan?

Lexi segera membopongnya ke kamar milik Laura dan suaminya.

Lexi menginstruksikan bik Minah untuk menelepon dokter pribadi keluarga.

Tidak berapa lama sang dokter pun datang.

"Cepat periksa." Titahnya mendominasi.

Dokter itu mengangguk patuh.

Tidak berapa lama Laura kembali siuman.

Namun kondisinya sangat lemah.

"Tuan,bisa kita bicara diluar?" Tatap dokter lekat.

Lexi tidak menjawab,namun mengikuti langkah pria berjas putih itu.

"Nyonya Laura sangat stres,,jika kondisi nya berlarut larut,takutnya bayinya juga ikut stress dan menghambat pertumbuhan nya di dalam." Jelas dokter.

Membuat Lexi sedikit khawatir.

"Apa yang harus kulakukan mencegah Laura tidak stress?"

"Jangan membebani pikirannya tuan,apalagi ini trimester kedua nyonya Laura,takutnya bayinya tidak bertahan,kalaupun bertahan akan lahir prematur."

"Ahhh baiklah,aku akan usahakan agar Laura tidak stress,,resepkan obat untuk membuat pikirannya tenang."

Pinta Lexi.

"Resepnya adalah tidak membuatnya stress tuan,itu saja,tidak ada obat yang lebih manjur selain menyemangati nyonya Laura.

Karena hormon ibu hamil jauh lebih sensitif dibanding orang normal,jadi berhati hatilah saat berucap." Tegas dokter itu lagi.

Karena dokter itu sangat paham sifat dan tabiat pria dihadapannya,sangat mendominasi dan suka mengintimidasi.

​Bersambung...

1
Sarinah Quinn
kasian Laura Thor tolong lah Laura dari kebejatan lexi🙏🙏🙏
Sarinah Quinn
lanjut lagi thor 🙏
Fitria Syafei
waduh maju kena mundur kena nih 🙄 KK cantik kereen 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!