Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Permintaan Ashika
Pada saat Ashika sedang mengganti bajunya, tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada notif pesan yang masuk. Itu adalah nomor tidak dikenal tapi Ashika segera membukanya karena penasaran.
"Aku tahu yang tadi angkat telepon dariku itu adalah kamu, sekarang kamu sudah tahu 'kan jika aku sedang mengandung anaknya Rio jadi lebih baik sekarang kamu menyerah dan lepaskan Rio untukku."
Pesan itu sungguh menyakitkan untuk Ashika tapi Ashika tidak boleh lemah karena jika dia terlihat lemah, maka dia akan ditertawakan. Ashika berusaha menahan air matanya supaya tidak keluar. Dia pun dengan cepat merapikan penampilannya dan turun ke bawah tanpa berniat membalas pesan dari Nathalie.
"Biarkan dia berkoar-koar, aku mau lihat sampai di mana dia bisa berkoar-koar seperti ini," batin Ashika.
Rio menoleh saat mendengar suara langkah kaki. Seperti biasa, Ashika dengan penampilan seksinya menuruni anak tangga membuat Rio melongo dan menelan ludahnya sendiri. Dia sudah beberapa hari ini tidak menyentuh Ashika membuat dia sangat rindu dan ingin menerkam Ashika saat itu juga.
Rio teringat akan ucapan Ikbal yang ingin merebut Ashika darinya. "Enak saja, aku tidak akan membiarkan kamu mengambil Ashika dariku karena sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Ashika," batin Rio.
"Ayo berangkat, ngapain malah bengong," ucap Ashika membuat Rio tersentak.
"Ah iya, aku terpesona melihat istriku tampak sangat cantik ingin rasanya aku bawa kamu ke kamar dan tidak jadi pergi," goda Rio.
Ashika hanya tersenyum sinis, mulai hari ini dia merasa muak mendengar gombalan dari Rio. Ashika berjalan mendahului Rio dan segera masuk ke dalam mobil Rio tanpa menunggu Rio membukakan pintunya. Rio sedikit bingung dengan sikap Ashika, tapi dia tidak berpikir macam-macam.
"Kita mau makan siang di mana?" tanya Rio di sela-sela perjalanannya.
"Terserah Mas saja," sahut Ashika.
Selama perjalanan, Ashika tidak henti-hentinya memainkan ponselnya bahkan dia tidak terlalu merespon ucapan Rio membuat Rio sedikit kesal. "Sayang, bisa tidak ponselnya kamu simpan dulu," pinta Rio.
"Memangnya kenapa?" tanya Ashika.
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak suka dicuekin begitu," sahut Rio.
"Baru main ponsel saja kamu sudah marah begitu Mas, bagaimana jika aku main sama pria lain," sindir Ashika dengan santainya.
"Kalau kamu sampai ada main dengan pria lain, aku akan bunuh pria itu," geram Rio.
"Ok. Bagaimana kalau kita buat sebuah perjanjian," ucap Ashika.
"Perjanjian apa?" Rio mengerutkan keningnya.
"Tadi 'kan Mas bilang jika aku ketahuan main sama pria lain maka Mas akan membunuh pria itu, sekarang dibalik jika Mas main sama wanita lain, aku juga boleh dong bunuh wanita itu," sahut Ashika dengan senyumannya.
Seketika Rio menginjak remnya saking kagetnya. "Ya, Allah kamu kenapa Mas berhenti mendadak seperti ini!" pekik Ashika.
"Ah, maaf sayang. Enggak, aku cuma kaget saja kok kamu bisa-bisanya ngomong seperti itu," ucap Rio gugup.
"Memangnya kenapa? 'kan biar adil," sahut Ashika santai.
"A--aku tidak mungkin mengkhianati kamu, sayang," ucap Rio gugup sembari memegang tangan Ashika.
Ashika lagi-lagi hanya tersenyum sinis, sungguh dia tidak percaya jika pria yang selama ini terlihat sempurna nyatanya brengsek juga. Ashika melepaskan tangan Rio secara perlahan. "Aku percaya kok sama kamu, Mas. Ya, sudah sekarang lanjut lagi soalnya aku sudah sangat lapar," ucap Ashika.
"Ah iya, maaf."
Rio segera melajukan kembali mobilnya menuju restoran favorit mereka selama ini. Jantung Rio seakan mau copot kala mendengarkan ucapan Ashika. "Maafkan aku, sayang karena aku sudah membohongimu," batin Rio.
Sesampai di restoran, Rio pun langsung memesan makanan yang disukai Ashika. Setelah makanan datang, mereka makan dengan lahapnya dan lagi-lagi Ashika tidak banyak bicara saat itu.
"Mas, aku mau minta izin mulai besok aku akan mengurus perusahaan Papa Rudi," ucap Ashika.
"Apa! tapi kenapa?" tanya Rio kaget.
"Tidak apa-apa, aku bosan saja diam di rumah jadi lebih baik aku cari kesibukan sendiri," sahut Ashika.
"Susah payah Mas melarang kamu untuk tidak bekerja di kantor karena Mas ingin kamu istirahat total supaya kamu bisa cepat hamil. Tapi sekarang kamu malah ingin mengurus perusahaan Papa kamu, bagaimana Mas tidak kesal," ucap Rio dengan nada sedikit tinggi.
"Mas egois. Hamil atau tidak itu bukan karena kita terlalu sibuk bekerja tapi itu semua takdir Allah. Tinggal kitanya saja mau bersabar menerima takdir Allah atau justru berpaling dan memilih jalan pintas untuk mendapatkan keturunan." Ashika bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Rio.
"Astaga sayang, tunggu!" Rio dengan cepat membayar makanannya dan berlari menyusul Ashika.
"Tunggu sayang, maafkan aku." Rio menahan lengan Ashika.
"Lepaskan aku Mas, aku mau pulang," sahut Ashika dengan mata berkaca-kaca.
"Kita pulang bersama." Rio menarik tubuh Ashika dan mendorong pelan tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil.
Ashika memalingkan wajahnya ke luar jendela. Sesekali dia tampak menghapus air matanya yang mengalir membuat Rio merasa sangat bersalah. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah.
Ashika dengan cepat keluar dari dalam mobil dan pergi ke kamarnya. Rio pun ikut menyusul Ashika. "Sayang maaf Mas, baiklah kamu boleh bekerja di perusahaan Papa kamu," ucap Rio dengan sangat terpaksa.
"Kamu serius 'kan, Mas?" tanya Ashika.
"Iya, Mas serius," sahut Rio.
Seketika Ashika pun menghentikan tangisannya, Rio menghampiri Ashika dan memeluknya. "Maafkan Mas, sayang. Pokoknya mulai saat ini Mas akan menuruti semua keinginan kamu yang penting kamu jangan sampai bekerja terlalu keras dan kamu harus pulang sebelum Mas sampai di rumah," ucap Rio.
"Iya, Mas terima kasih," sahut Ashika.
Untuk saat ini lebih baik Rio harus bermain aman dengan membuat Ashika selalu bahagia supaya Ashika tidak curiga kepadanya. Tangan Rio mulai nakal, dan Ashika tahu dengan kode itu. Awalnya Ashika menolak, tapi setelah dipikir-pikir saat ini mereka masih suami istri dan Ashika akan berdosa jika menolak.
Selama melakukan hubungan intim bersama Rio, Ashika merasakan hatinya begitu sakit karena pada kenyataannya Rio melakukannya tidak hanya dengan dirinya melainkan dengan Nathalie juga dan itu membuat Ashika jijik. "Kenapa kamu mengkhianatimu, Mas?" batin Ashika.
Beberapa setelah melakukan kegiatan panas, Rio terlihat tidur dengan nyenyaknya. Ashika memperhatikan wajah Rio dengan seksama dan lagi-lagi hatinya begitu sakit. Ternyata bau parfum yang kemarin-kemarin Ashika cium yang menempel di baju Rio ternyata parfum milik Nathalie.
"Kamu benar-benar jahat Mas, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dengan pernikahan ini tapi yang jelas aku ingin melihat seberapa gentlenya kamu. Apa kamu mau berterus terang atau kamu mau menyembunyikan perselingkuhan kalian selamanya," batin Ashika dengan meneteskan air matanya.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan