Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Jatuh Dari Kuda
Tampaknya karena emosi oleh rasa cemburu membuat Lala lupa pada pesan Siswoaji pelatih kudanya, dimana kuda yang batu seminggu dibelinya itu butuh pendekatan. Mala dikasari seperti saat ini yang membuat kudanya berputar-putar.
Lala yang panik semakin memukul-mukul kepala kuda, hingga kuda merah itu berlari dengan kepala menunduk.
"Hee ...!!" Teriak Lala panik, sehingga cara penanggulangan kuda yang berlari murka dua terlupa sudah.
"Oh ...!" Rayi yang tak tahu jika penunggang yang lari dalam posisi tidak benar adalah Lala , gadis yang marah dan cemburu padanya itu, langsung saja melempar botol air mineralnya, dan langsung memerintahkan kuda coklat susunya untuk mengejar kuda yang ditunggangi Lala.
"Rayi ...!" Didit rupanya tak mau ketinggalan dia langsung menuju ke kudanya yang sedang istirahat lalu menaiku punggungnya secara tergesa dan menarik tali kekang kudanya. Setelah kuda berlari dia memberi aba-aba supaya kuda coklatnya itu lebih kencang lagi.
Rayi terus membawa kudanya mengejar kuda yang ditunggangi Lala yang semakin murka tampaknya karena Lala juga tampak panik menjerit-jerit antara takut dan marah.
Rayi terus mengejar dan berusaha untuk mendekat. Begitu juga Didit berusaha mengejar dari belakang.
"Hai tarik kedua tali kekang kudanya, jangan dibiarkan menunduk terus lari kudanya ...!!" Rayi berteriak kencang dari punggung kudanya yang sudah memangkas jarak dengab kuda yang ditunggangi Lala.
Lala bukannya melakukan apa yang diteriakkan Rayi, justru dia menoleh ke belakang kearah Rayi dengan kesal.
"Huh soal banget lho ...!" Ujarnya semakin kesal pada Rayi.
"Kakak punggungmu tarik ke belakang sambil tarik kedua tali kekang kudanya ... tekan tumitmu supaya nggak jatuh ...!!" Teriak Rayi pada Lala."Tarik tali kekang kudanya gerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri supaya kepala kudanya mendongak, Kakak ...!" Rayi semakin khawatir dia tak mau ada anggota club yang terjatuh dari kuda.
Tapi pikiran Lala yang dikuasai rasa cemburu tak mau mendengar teriakan Rayi, dia justru memgambil jalan salah disaat kudanya murka.
"Sok amat sih tuh anak ...." dan.Lala dengan nekat melompat dari kuda yang sedang berlari kencang.
"Kakaaaakkk ...!!" Teriak.Rayi panik memandang pada Lala yang berguling di atas rumpu, sambil menarik kedua tali kekang kudanya sekaligus menekan kedua tumitnya untuk menahan lari kudanya.
"Ada yang jatuh dari kuda ..." seru beberapa orang mendekat.
"Aduuuh ..." Lala mengadu kesakitan badannya terbanting ke atas rumput.
Rayi segera membawa kudanya berputar mendekat kearah Lala yang terjatuh. Lalu langsung melompat turun dan mendekat pada Lala.
"Kakak bagaimana?" Dari sikapnya Rayi sangat perduli dan cemas.
Tapi Lala tampak cuek pada pertanyaan Rayi, dan sebaliknya Rayi yang tak mengerti jika Lala kesel dan cemburu pada dirinya semakin ingin menolong Lala.
"Kak ada yang luka, ayo kita obati di kantor saja, bisa jalan, nggak?" Rayi menatap wajah Lala, dia merasa asing dengan wajah cantik yang sedang meringis di depannya, lalu memeriksa tangan dan lengan Lala.
Didit datang mendekat. Dan begitu tahu gadis yang terjatuh dari kuda itu tak asing lagi baginya, dia terkejut.
"Lala?!"
Lala menatap Didit dengan wajah yang mendadak berubah seratus persen. Jika sebelumnya dia tampak jutek dan kesal pada Rayi, namun saat didekati Didit wajahnya langsung memelas dan mengulurkan kedua tangannya minta tolong.
Didit tampak ragu.
"Kak Didit kenal Kakak ini ayo tolongin dong bawa ke kantor untuk diobati kalau ada lukanya ..." ujar Rayi pada Didit dan dia tak menyadari jika Didit ragu karena Rayi kembali fokus pada Lala karena khawatir jika gadis itu menderita luka yang tak diketahuinya. Sebagai pemilik club dia harus tanggung jawab jika cidera karena berkuda di dalam area latihan berkudanya.
"Dit ..." seru Lala minta perhatian Didit dan juga kebetulan tepat momennya, walau pun sebenarnya badannya nyilu, namanya juga kepelanting dari atas kuda yang berlari. Walau sengaja melompat juga tetap saja terguling dan badannya sakit.
"Kak Didit bantu Kakak ini ke kantor yuk kita papah berdua," ujar Rayi minta tolong untuk memapah Lala untuk diperiksa dan jika ada yang terluka akan diobati.
"Udah sama Didit ajah nggak usah ngerepoti kamu." agak ketus suara Lala, lagian ngapain sih, maksa nolongi aku, sungutnya dalam hati.
"Atau kita pakai tanda ajah, ya?" Rayi menawari.
Lala menatap sengit pada Rayi, "Apaan, sih pakai mau ditandu segala emangnya aku sekarat apa!"
"Maksudku kalau Kakak nggak kuat kita papah kan praktis kalau pakai tandu, Kak," ujar Rayi ramah dan menatap ibah pada Lala.
"Nggak usah aku kuat, bantu aku, Dit," pinta Lala pada Radit sambil mengulurkan tangannya.
Mau tak mau karena melihat Lala memang butuh bantuan Didit pun membungkuk membantu gadis itu berdiri dan akan memapahnya ke kantor.
"Aduh ..." seru Lala, kali ini dia betul merasakan pergelangan betis kirinya sakit, hingga reflek wajahnya meringis menahan sakit.
Rayi terkejut langsung berjongkok menegang betis Lala yang tertutup celana panjang itu.
"Ada yang luka mungkin, Kak " ujar Rayi penuh perhatian.
"Ih nih cewek cari muka banget, sih di depan Didit?!" Ketusnya tapi hanya di dalam hati saja.
"Kalau lula pasti berdarah buktinya celana panjangku nggak ada noda darahnya!" Sungut Lala tak suka diperhatikan Rayi sambil menjauhkan kakinya dari Rayi, "Oh!" Keluhnya saat menarik kakinya ke belakang dengan kasar supaya tak dipegang Rayi.
Rayi terkejut melihat Lala meringis menahan sakit, "Kak maaf aku periksa dulu, ya, mungkin ada yang bengkak ..." ujar Rayi membujuk.
"Udah deh entar makin bengkak lagi," tolak Lala dengan suara tak ramah.
Didit tak suka pada sikap Lala yang sama sekali tak menunjukkan rasa berterima kasih pada Rayi yang sudah berusaha untuk.berbaik hati dan memberikan perhatian serta pertolongan.
Bukan hanya Didit yang diam-diam protes akan sikap Jutek Lala pada Rayi tiga orang anggota club yang tadi langsung mendekat saat Lala terguling, saling tatap dengan mencibir.
Tapi Rayi tampak tenang tak memasukkan ke hati sikap Lala yang terkesan menolak bantuannya itu. Wajahnya tetap ramah memandang Lala.
Ah gadis ini semakin membuatku suka, hatinya baik walau diketusi oleh Lala, bisik hati Didit.
"Kalau susah berjalan berarti ada yang keseleo dan harus diperiksa supaya tidak bengkak," ujar Rayi, "Boleh aku periksa, Kak?" Rayi masih menunjukkan ingin membantu Lala.
"Udah ah nanti tambah bengkak lagi, jangan sembarangan ..." sengit Lala.
Rayi akhirnya mengalah dan segera pula berdiri, "Kak Didit bagaimana ini kakaknya nggak kuat jalan kita harus bawa ke kantor untuk diperiksa," ujarnya pada Didit.
"Ya ayo biar aku gendong," ujar Didit ingin segera mengakhiri sikap ketus Lala pada Rayi. Rasanya tak tega pada Rayi yang perhatiannya tak dianggap oleh Lala.
Nah begini dong Dit biar sakit badanku, bahkan luka sekali pun aku rela asal berada dalam pelukan dan kamu gendong.
Rayi mengikuti Didit dari belakang, sedangkan tiga anggota club yang tak suka pada sikap seenaknya Lala pada Rayi tak mau mengikuti Lala yang mau diperiksa.
"Udah kita nggak usah perduli orangnya ajah kayaknya sok, sih, mbak Rayi ajah digituin," ujar salah satu dari mereka.
"Ya udah bagus diperhatiin," ujar satunya lagi.
"Kayaknya aku baru lihat deh," ujar satunya lagi.
"Biarin ajah ngapain juga kita mikirin orang sombong kayak gitu ..."
Didit sudah sampai ke kantor dan mendudukkan Lala di kursi dan saat Lala melihat Rayi ingin rasanya dia mengusir sosok yang tak diinginkan keberadaannya diantara dirinya dan Didit.
suka banget alurnya