Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Yang Sia-sia
Kata-kata "pengganti Thana" dan rencana sanatorium di Swiss terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyayat otaknya. Pengkhianatan itu bukan lagi sekadar luka, itu terasa seperti pembedahan jiwa tanpa bius.
Setiap oksigen yang ia hirup di koridor Gemilar Tower terasa beracun. Ia tidak bisa bernapas. Ia harus pergi. Sekarang.
Tapi, karena rasa panik dan kacaunya pikirannya, dia tiba-tiba tersesat di gedung pencakar langit itu. Setelah keluar dari lift tadi, ia tidak kembali ke lantai saat dia datang. Tidak ada pilihan lain, Shabiya berlari menuju lift pribadi yang sering di pakai suaminya, jemarinya yang gemetar menekan tombol berkali-kali seolah-olah kecepatan lift itu adalah penentu antara hidup dan mati.
Begitu pintu lift terbuka di lobi, ia tidak lagi peduli pada penyamaran. Tidak memperdulikan para pengawal yang mungkin akan langsung menyadari karena tindakannya yang mencurigakan. Ia menerjang kerumunan karyawan yang menatapnya dengan bingung, seorang wanita hamil dengan wajah pucat pasi dan mata yang memancarkan rasa sakit yang sangat jelas.
"Nyonya Gemilar?" suara seorang resepsionis terdengar di kejauhan, namun Shabiya sudah berada di luar gedung.
Udara panas Jakarta menghantam wajahnya. Padahal seingat Shabiya, saat ia berangkat tadi cuaca sangat mendung. Suara klakson, deru mesin, dan teriakan pedagang kaki lima menyatu menjadi kebisingan yang mencekam. Shabiya berlari menyusuri trotoar, gaun hitamnya berkibar tertiup angin jalanan. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi, ia hanya tahu ia harus menjauh dari gedung pencakar langit yang baru saja memvonisnya sebagai benda mati.
Sedangkan di lantai teratas, Galen berdiri di dekat jendela, melihat sosok kecil berbaju hitam yang berlari panik di bawah sana. Wajahnya tetap tenang, namun rahangnya mengeras. Elfahreza berdiri di sampingnya, menyesap wiski dengan senyum puas.
"Sepertinya 'wadah'-mu baru saja mendengar terlalu banyak, Galen," ejek Reza.
Galen tidak menjawab. Ia hanya menyentuh earpiece-nya lalu berkata. "Arsen, dia keluar dari gedung. Jangan gunakan kekerasan. Bawa dia kembali ke mansion. Sekarang."
Shabiya sampai di persimpangan jalan yang padat. Ia mencoba menghentikan taksi, namun tangannya bergetar terlalu hebat hingga tak satu pun pengemudi mau berhenti. Ia menoleh ke belakang dan melihat sebuah SUV hitam besar melambat di pinggir jalan. Pintu terbuka, dan tiga pria bersetelan jas turun dengan gerakan yang terlatih.
"Nyonya, tolong ikut kami," suara salah satu pria itu terdengar tegas namun rendah.
Shabiya memutar arah, masuk ke dalam gang sempit yang dipenuhi tumpukan kardus dan bau sampah yang menyengat. Ia berlari sekuat tenaga, tangannya terus mendekap perutnya yang mulai terasa sakit karena guncangan. "Maafkan ibu, Nak... maafkan ibu," isaknya.
Ia sampai di ujung gang yang buntu, terhalang oleh pagar kawat tinggi. Di belakangnya, langkah kaki sepatu bot yang berat semakin mendekat. Shabiya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pagar yang tajam. Ia melihat Arsen berdiri paling depan, wajahnya menunjukkan rasa iba yang segera ia tekan dalam-dalam.
"Sudah cukup, Shabiya. Kau tidak akan bisa pergi jauh," ucap Arsen pelan.
"Jangan mendekat!" teriak Shabiya, mengambil sebuah pecahan botol dari tumpukan sampah. "Katakan pada tuanmu, aku lebih baik mati di sini daripada menjadi rahim pengganti untuk wanita itu!"
Tepat saat itu, sebuah mobil sedan perak berhenti di sisi lain pagar kawat. Rigel turun dari mobil, wajahnya panik. "Shabiya! Lewat sini! Aku punya kuncinya!"
Shabiya merasa ada secercah harapan. Ia berlari menuju Rigel yang sedang berjuang membuka gembok pagar. Namun, saat gembok itu terbuka dan Shabiya hendak melompat ke sisi lain, Rigel justru menahannya. Rigel tidak menariknya masuk ke dalam mobil, melainkan memegang kedua lengannya dengan kuat, menjaganya agar tetap di tempat.
"Maafkan aku, Shabiya," bisik Rigel, matanya berkaca-kaca namun tangannya tidak melepaskan. "Galen memiliki segalanya. Dia mengancam akan membunuh adikku jika aku tidak membantunya 'menjaga' kau. Ini satu-satunya cara."
Dunia Shabiya benar-benar runtuh. Rigel —satu-satunya orang yang ia anggap sebagai pelindung— ternyata juga merupakan bidak dalam permainan Galen. Shabiya lupa akan fakta yang baru saja di dengar olehnya beberapa saat lalu, ia termakan oleh secercah harapan yang dipancarkan oleh mata pria itu.
Tidak ada tempat aman. Tidak ada orang yang bisa dipercaya. Pelariannya bukan hanya sia-sia karena kekuatan Galen, tapi karena setiap jalan keluar yang ia kira ada, sebenarnya telah ditutup oleh Galen sejak awal.
Galen muncul dari kegelapan gang, melangkah perlahan menuju Shabiya yang kini sudah jatuh terduduk di tanah berlumpur. Galen berlutut di depannya, mengabaikan noda lumpur yang mengotori jas mahalnya. Ia meraih wajah Shabiya, ibu jarinya menghapus air mata dan keringat di pipi istrinya.
"Kau lihat, Sayang?" bisik Galen, suaranya terdengar sangat lembut, hampir seperti lagu pengantar tidur yang mengerikan. "Dunia ini terlalu kejam untukmu. Hanya di sisiku kau aman. Hanya di rumah kita kau memiliki arti."
"Aku membencimu," desis Shabiya, suaranya lemah namun penuh racun. "Aku akan membenci setiap napas yang aku ambil di rumahmu."
"Kebencian adalah bentuk gairah yang kuat, Shabiya. Aku bisa hidup dengan itu," Galen mengangkat Shabiya ke dalam gendongannya. Ia menatap Rigel dan Arsen dengan tatapan yang memerintah. "Bawa dia ke mobil. Pastikan dokter menunggunya di rumah. Dia terlalu banyak bergerak hari ini."
Sepanjang perjalanan pulang, Shabiya hanya menatap kosong ke luar jendela. Ia tidak lagi meronta. Ia tidak lagi menangis. Ia merasa seolah-olah jiwanya telah meninggalkan tubuhnya, meninggalkan raga yang kini sepenuhnya menjadi milik Galen.
Pelarian yang ia lakukan hanya kembali membuktikan satu hal, Galen Gemilar bukan hanya membangun sebuah rumah, tapi dia telah membangun sebuah realitas di mana Shabiya tidak punya ruang untuk bernapas sebagai manusia.
Saat mobil memasuki gerbang mansion dan suara besi yang bergeser itu terdengar, Shabiya menyadari bahwa ini adalah akhir dari usahanya untuk lari secara fisik. Di dalam sangkar ini, ia akan dipaksa melahirkan anak yang identitasnya sudah dicuri sebelum lahir.
Namun, di dalam kehancuran total itu, sebuah pemikiran baru muncul. Jika ia tidak bisa lari dari Galen, maka ia harus menghancurkan Galen dari dalam. Jika Galen ingin dia menjadi Thana, ia akan menjadi Thana yang paling mematikan. Thana yang akan membawa sang penguasa ikut terbakar dalam api obsesinya sendiri.
"Selamat datang kembali di rumah, Thana," bisik Galen saat mereka sampai di depan pintu kamar.
Shabiya menoleh, menatap Galen dengan mata yang kini kosong namun tajam. "Aku pulang, Galen. Dan aku harap kau siap dengan apa yang kubawa kembali ke rumah ini."
Ketika malam menyapa, Shabiya tidak tidur. Ia duduk di kegelapan, merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pelarian. Pelarian yang sia-sia itu telah mengajarinya satu pelajaran penting, yaitu untuk mengalahkan seorang monster, ia harus berhenti menjadi korban dan mulai menjadi mimpi buruk sang monster tersebut.
baru mulai... ky'a seru