NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20:Mulai Ada Rasa

Satu minggu setelah insiden 'jam malam' di joglo, suasana di pangkalan masih terasa sedikit tegang, setidaknya bagi Cakra. Kesempatan untuk keluar dari rutinitas markas muncul ketika Alisa mengutarakan niatnya untuk mengunjungi pasar tumpah di desa kaki bukit pada Sabtu pagi. Alisa beralasan ingin mencari riset tambahan tentang interaksi sosial masyarakat lokal untuk novel barunya. Satria, yang kebetulan sedang bebas tugas, tentu saja langsung menawarkan diri untuk mengantar menggunakan motor trail dinasnya. Cakra, yang sedang menyeruput kopi di meja makan, hanya bisa memberikan dengusan pendek yang sulit diterjemahkan. Ia ingin melarang, tapi ia tahu Alisa akan protes soal kebebasan dan profesionalisme. Akhirnya, dengan wajah yang dipasang sedingin es, Cakra hanya berkata, "Pulang sebelum jam dua siang. Kalau telat satu menit, Satria akan saya beri jadwal jaga malam di pos paling ujung selama satu bulan."

Setelah Alisa dan Satria berangkat dengan suara knalpot motor yang membelah kesunyian pangkalan, Cakra tidak bisa duduk diam. Ia mondar-mandir di ruang tamu, lalu ke dapur, lalu kembali ke ruang tamu. Radar di kepalanya terus berputar, membayangkan Satria mungkin akan sengaja mengambil jalan memutar atau berhenti di pinggir sungai yang pemandangannya terlalu romantis. Perasaan tidak tenang itu akhirnya mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang sedikit konyol. Ia meraih topi baretnya, namun segera ia ganti dengan topi baseball hitam biasa. Ia melepas seragam lorengnya, menggantinya dengan jaket kain sederhana dan kacamata hitam. Ia memanggil sopir dinasnya, Kopda Anwar, dan memberikan perintah yang membuat prajurit itu bingung. "Siapkan mobil sipil. Kita akan melakukan pemantauan wilayah secara tertutup ke arah pasar desa. Jangan pakai seragam, dan jangan sampai ada yang tahu ini perintah resmi."

Di pasar desa yang ramai dan becek, Alisa tampak sangat menikmati suasana. Ia membawa buku catatan kecilnya, mencatat aroma bumbu dapur yang tajam, suara tawar-menawar yang riuh, hingga warna-warni kain tenun yang digantung di lapak bambu. Satria berjalan di sampingnya dengan sikap yang sangat protektif namun tidak mengekang. Ia sesekali memegang pundak Alisa untuk menghindar dari kerumunan orang atau motor yang lewat, dan dengan sabar membawakan tas belanjaan berisi sayur dan beberapa buku tua yang ditemukan Alisa. Satria bahkan sempat membelikan Alisa segelas es cendol dan mereka duduk di sebuah bangku kayu panjang sambil bercanda. "Lihat, Alisa. Kamu kalau sedang serius mencatat begini, persis seperti Intel yang sedang menyamar," goda Satria sambil tertawa. Alisa hanya membalas dengan cubitan kecil di lengan Satria, membuat pemuda itu semakin lebar tersenyum.

Sementara itu, di pojok sebuah kedai kopi kumuh yang menghadap langsung ke arah bangku kayu tersebut, Cakra duduk dengan gelisah. Ia memegang koran lama yang ia posisikan menutupi sebagian wajahnya, sementara matanya terus mengawasi dari balik kacamata hitam. Ia merasa seperti mata-mata amatir. Kopda Anwar yang duduk di sampingnya hanya bisa menunduk, sibuk menghabiskan gorengannya sambil menahan tawa. "Izin, Mayor, apa kita akan terus di sini? Sepertinya situasi aman terkendali," bisik Anwar pelan. Cakra memberikan tatapan tajam dari balik korannya. "Diam, Anwar. Kamu lihat tangannya Satria tadi? Hampir saja dia menyentuh kepala Alisa. Ini namanya pengawasan preventif. Kita harus memastikan tidak ada pelanggaran norma di wilayah hukum saya." Cakra merasa hatinya makin panas melihat betapa akrabnya Alisa dengan pemuda itu, sesuatu yang jarang ia lihat bahkan saat Alisa bersamanya.

Tiba-tiba, Damar muncul dari arah belakang kedai dan langsung menepuk pundak Cakra dengan keras, membuat koran yang dipegang Cakra hampir jatuh ke dalam gelas kopi. "Wah, ada intel senior sedang beroperasi di pasar! Sejak kapan seorang Mayor harus turun tangan langsung memantau harga cabai?" Damar tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Cakra yang berantakan dalam penyamarannya. Cakra langsung membetulkan letak kacamatanya dengan gugup. "Aku sedang... ah, aku sedang mengecek stabilitas keamanan lokal, Damar. Jangan keras-keras suaramu." Damar menarik kursi dan duduk di samping Cakra, ikut memandang ke arah Alisa dan Satria. "Halah, kamu itu sedang memantau keponakanku, kan? Akui saja, mereka terlihat serasi. Satria itu pria yang bertanggung jawab, dia tidak akan macam-macam. Kamu hanya tidak siap melihat Alisa mulai punya rahasia sendiri."

Cakra menghela napas panjang, akhirnya menurunkan korannya. Ia melihat Alisa tertawa begitu lepas saat Satria menunjukkan sesuatu di ponselnya. Itu adalah tawa yang tulus, jenis tawa yang dulu jarang ia temukan di rumah dinas yang sepi. Ada rasa perih di hatinya, namun perlahan digantikan oleh kesadaran yang pahit. Alisa memang sudah besar. "Aku hanya ingin dia tetap aman, Damar. Aku sudah gagal menjaga ibunya sampai akhir, aku tidak mau gagal menjaga kebahagiaannya," bisik Cakra pelan, suaranya terdengar sangat manusiawi, jauh dari kesan komandan yang ditakuti. Damar menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. "Kebahagiaannya bukan dengan cara kamu kurung di pangkalan, Cra. Biarkan dia belajar memilih. Kalau Satria sampai berbuat salah, aku sendiri yang akan menyeretnya ke depan meja piketmu."

Sebelum Alisa dan Satria memutuskan untuk kembali ke parkiran motor, Alisa sempat menoleh ke arah kedai kopi tempat Cakra bersembunyi. Untuk sesaat, mata mereka seolah bertemu, dan Alisa tampak sedikit mengernyitkan dahi seperti mengenali jaket yang dikenakan pria di pojok kedai itu. Cakra segera membuang muka dan pura-pura sibuk membaca korannya kembali. Setelah yakin mereka sudah pergi, Cakra segera mengajak Anwar untuk kembali ke mobil. "Ayo cepat, kita harus sampai di pangkalan sebelum mereka. Jangan sampai mereka tahu kita ada di sini," perintah Cakra dengan nada mendesak. Anwar pun dengan sigap memacu mobil kembali melewati jalan pintas hutan agar bisa mendahului motor trail Satria.

Sesampainya di rumah dinas, Cakra langsung mengganti pakaiannya kembali ke seragam loreng, lalu duduk di teras sambil membaca buku taktik militer seolah-olah ia sudah di sana seharian. Tak lama kemudian, Alisa masuk ke halaman rumah dengan wajah berseri-seri. "Ayah, ini aku bawakan kue tradisional dari pasar. Tadi ramai sekali di sana," kata Alisa sambil menyodorkan sebungkus kue. Cakra menerima bungkus itu dengan wajah datar yang dipaksakan. "Oh, ya? Ada kejadian aneh di pasar? Aman?" tanya Cakra pura-pura tidak tahu. Alisa menatap Ayahnya cukup lama, lalu tersenyum penuh arti. "Aman, Yah. Tapi tadi aku lihat ada orang yang mirip sekali dengan Ayah sedang duduk di kedai kopi pakai kacamata hitam. Lucu ya, Ayah punya kembaran di desa." Alisa kemudian masuk ke dalam rumah sambil tertawa kecil, meninggalkan Cakra yang hanya bisa berdehem keras karena malu yang tertahan.

Malam harinya, Cakra duduk di meja kerjanya, melihat foto Shifa yang terpajang di sana. Ia menyadari bahwa memantau Alisa dari kejauhan tidak akan menghentikan waktu yang terus berjalan. Satria mungkin akan tetap ada di sana, dan Alisa akan tetap tumbuh menjadi wanita yang mandiri. Ia membuka bungkus kue pemberian Alisa dan memakannya perlahan. Rasanya manis, sama seperti rasa syukur yang mulai ia rasakan karena melihat putrinya bisa bahagia lagi. Meski ia masih merasa gerah setiap kali Satria muncul, Cakra mulai mengerti bahwa perannya kini bukan lagi sebagai penjaga penjara, melainkan sebagai pangkalan tempat Alisa akan selalu kembali setelah terbang sejauh apa pun. Ia akan tetap menjadi Mayor yang galak di depan Satria, tapi di hadapan Alisa, ia hanya ingin menjadi ayah yang bisa dipercaya.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!