Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Ayah yang Canggung
Setelah perayaan ulang tahun Lili, Arvino menunjukkan perubahan sikap yang mencolok. Ia tidak lagi dingin dan menghilang, melainkan menjadi hadir secara berlebihan dan canggung. Ia seperti seorang ayah yang baru pertama kali bertemu putrinya.
Arvino memutuskan untuk secara aktif mengambil alih peran pengasuhan, terutama di pagi hari sebelum ia berangkat ke rumah sakit. Ia ingin membuktikan bahwa ia juga bisa membangun ikatan yang kuat, bahkan lebih kuat, daripada yang telah dibangun Aluna.
Pagi itu, aku sedang mengawasi Sus Rini yang menyiapkan makanan Lili, ketika Arvino muncul, sudah mengenakan kemeja dan celana kerjanya.
"Aku yang akan menyuapi Lili pagi ini," perintah Arvino, nadanya tegas, seolah itu adalah perintah direksi.
Aku tidak membantah. "Baik, Kak. Bubur sereal apel sudah siap. Pastikan suhunya hangat, bukan panas," kataku, mengingatkannya secara profesional.
Arvino mendengus, menggendong Lili dan duduk di kursi makan tingginya. Lili, yang baru bangun, tampak mengantuk namun kooperatif.
Arvino mengambil sesendok bubur, tapi sereal itu masih terlihat terlalu kental. Ia langsung memasukkannya ke mulut Lili.
Lili, yang terkejut dengan tekstur dan kuantitasnya, langsung batuk dan meludahkan bubur itu ke wajah Arvino.
"Ya Tuhan, Lili!" Arvino refleks berteriak kaget, wajahnya belepotan bubur.
Lili, yang kaget karena dibentak, langsung menangis kencang.
Aku menghela napas, berjalan mendekat, dan memberikan handuk kecil pada Arvino.
"Maaf, Kak. Sendoknya terlalu penuh. Lili belum terbiasa dengan tekstur kental. Perlu diencerkan sedikit dan disuapi perlahan," jelasku, tanpa menatap matanya.
Arvino membersihkan wajahnya dengan marah, menyerahkan sendok itu padaku dengan kasar. "Ambil. Kau saja yang suapi. Aku tidak tahu kenapa dia selalu rewel saat bersamaku."
"Lili tidak rewel, Kak. Dia hanya butuh adaptasi," balasku, mengambil sendok itu. Aku mencampurkan sedikit air hangat ke bubur, membuat teksturnya lebih halus. Aku menyuapi Lili perlahan sambil menyenandungkan melodi lembut.
Dalam dua suapan, Lili berhenti menangis dan mulai membuka mulutnya dengan antusias.
Arvino hanya berdiri di sana, mengawasi. Wajahnya menunjukkan campuran rasa iri, frustrasi, dan kekalahan yang menyakitkan.
Malam harinya, setelah pulang dari kantor, Arvino kembali dengan membawa hadiah. Bukan hanya satu, melainkan sekantong penuh mainan mahal.
"Ini dia! Robot-robotan, Sayang! Mainan mobil!" Arvino duduk di lantai kamar Lili, mengeluarkan semua mainan itu dengan semangat yang dipaksakan.
Aku sedang menyelesaikan laundry kecil Lili di sudut kamar.
Lili terkejut melihat banyaknya mainan baru. Dia mencoba memegang robot mahal yang bersuara keras itu, namun suara robot itu membuatnya takut, dan ia kembali merangkak ke pelukanku.
"Tidak, Lili. Jangan ke Tante. Itu kan robot baru dari Papa. Lihat, bagus kan?" Arvino mencoba menariknya kembali.
Lili mencengkeram celanaku erat-erat, menolak Arvino, dan menyembunyikan wajahnya di kakiku.
"Lili," kata Arvino, nadanya mulai menuntut. "Papa membelikanmu ini. Kenapa kamu malah maunya sama Tante?"
"Jangan dipaksa, Kak," aku akhirnya angkat suara. "Lili tidak butuh robot yang mahal. Dia butuh stimulus yang lembut. Dia lebih senang dengan buku cerita dan balok kayu. Mainan yang terlalu keras suaranya justru membuatnya takut."
Arvino berdiri. Wajahnya merah padam. "Kau! Kau yang mengajarinya menolakku!"
Dia menendang robot itu pelan, membuatnya terlempar ke sudut ruangan. "Kau sudah mencuri hati ibunya, dan sekarang kau mencuri hati anakku! Kau adalah parasit di rumah ini!"
"Aku bukan parasit! Aku hanya memberikan apa yang dibutuhkan Lili!" balasku, kini mataku bertemu dengan matanya. "Aku memberikannya konsistensi. Aku memberikannya ketenangan. Apa yang Kakak berikan padanya? Bubur panas dan mainan mahal yang bersuara keras? Anak tidak butuh kompensasi, Kak. Anak butuh kehadiran yang utuh!"
"Kau tidak akan pernah tahu!" Arvino mencengkeram lenganku. "Kau bukan ibunya! Kau bukan Sarah!"
"Dan Kakak bukan Ayah yang baik saat ini!" ujarku, kata-kataku menusuk jantungnya. "Kakak ayah biologisnya, tapi Kakak adalah ayah yang canggung. Kakak tidak sabar, Kakak penuh amarah, dan Kakak tidak pernah mendengarkan kebutuhan anak Kakak! Kakak sibuk melihat Lili sebagai perpanjangan dari dendam Kakak pada orang lain!"
Cengkeraman Arvino terlepas. Ia terhuyung mundur. Matanya membelalak, terkejut mendengar kebenaran pahit yang kuucapkan. Tidak ada seorang pun—bahkan Papa atau Mama—yang pernah berani mengucapkan kebenaran itu padanya.
Dia menatapku lama, pandangan matanya beralih dari amarah menjadi rasa sakit yang mendalam. Kebenciannya terhadapku, kini bercampur dengan rasa sakit karena pengakuan atas kegagalannya sebagai ayah.
"Keluar," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Aku berdiri tegak. "Baik. Aku akan keluar. Tapi ingat, Kak. Lili tahu siapa yang merawatnya. Dan jika Kakak terus begini, bukan aku yang akan kehilangan, tapi Kakak."
Aku berbalik dan meninggalkan kamar itu. Aku mendengar Arvino menjatuhkan dirinya di lantai. Di belakangku, Lili yang ketakutan karena teriakan Papanya, mulai menangis kencang lagi.
Malam itu, Arvino tidak tidur di kamar tamu. Dia tidur di kamar Lili, di lantai, di samping boks bayinya, memeluk robot mahal yang diabaikan. Aku tahu dia sedang berusaha keras untuk menjadi ayah, tapi kebenciannya padaku adalah tembok tebal yang menghalangi dia untuk mencapai cinta murni.
Di kamar utama, aku tidur sendirian di ranjang besar itu. Aku telah melukai perasaannya, tapi aku tahu, itulah satu-satunya cara untuk membangunkannya dari kebutaan dendamnya. Aku harus terus berjuang untuk Lili, meski itu berarti menjadi musuh terbesar pria yang kucintai.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️