NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Monster di Hutan Suci

Dua Hari Kemudian. Hutan Suci Eldrath.

​Rombongan siswa Akademi tiba di Hutan Suci Eldrath setelah perjalanan setengah hari menggunakan lingkaran teleportasi. Hutan ini adalah tempat paling sakral di wilayah utara. Pohon-pohon raksasa dengan daun perak menjulang ke langit, dan udara di sini dipenuhi oleh Mana Cahaya murni yang sangat padat.

​Bagi murid-murid lain dan para guru, udara ini menyegarkan. Rasanya seperti meminum air mata pegunungan yang dingin. Itu memulihkan tenaga dan menenangkan jiwa.

​Tapi bagi Leon, ini adalah neraka.

​Darah iblis yang telah berinkubasi di dalam tubuhnya selama dua hari bereaksi dengan violent terhadap lingkungan suci ini.

​Setiap napas yang ditarik Leon terasa seperti menghirup serbuk kaca dan asap belerang.

​"Ugh..." Leon berjalan sempoyongan di barisan belakang. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi seragamnya.

​"Kau baik-baik saja, Leon?" tanya Varian, yang berjalan setia di sampingnya.

​"Kepalaku... sakit sekali..." gumam Leon. Penglihatannya kabur.

​Setiap kali dia melihat Pohon Suci, dia tidak melihat cahaya. Dia melihat bayangan hitam yang menggeliat. Bisikan-bisikan jahat memenuhi kepalanya, menyuruhnya untuk mencabik, membunuh, dan menghancurkan.

​"Bertahanlah," bisik Varian, menyodorkan air minum. "Mungkin kau hanya mabuk perjalanan."

​Rombongan itu mendirikan kemah di dekat Sungai Pembaptisan. Malam turun dengan cepat di hutan kuno itu.

​Pemimpin rombongan karyawisata ini adalah High Priest Cassian. Seorang pria tua yang bijaksana dan sangat dihormati. Dia juga merupakan mentor spiritual Leon sejak kecil, sosok yang sudah dianggap Leon sebagai kakeknya sendiri.

​Malam itu, Cassian sedang berdoa sendirian di tepi sungai suci, agak jauh dari tenda murid-murid untuk mencari ketenangan.

​Varian, yang sedang duduk di dekat api unggun, melihat sosok jubah putih Cassian menghilang di balik pepohonan.

​Dia tersenyum tipis. Waktunya panen.

​Varian berdiri, berjalan santai ke arah tenda Leon. Dia memastikan Leon sedang tidur gelisah karena demam. Varian mengambil Tas Tasbih kesayangan Leon yang tergeletak di meja, dan Belati Upacara milik Leon yang berukir nama keluarga Gremory.

​Lalu, Varian menghilang ke dalam bayangan.

​Skill: Shadow Step.

​Dalam sekejap mata, Varian muncul di tepi sungai, tepat di belakang High Priest Cassian yang sedang berlutut berdoa.

​"Dewa Cahaya, lindungilah jiwa Leon yang sedang gundah..." doa Cassian lirih.

​"Dia tidak butuh doa, Pak Tua," suara Varian memecah kesunyian.

​Cassian tersentak dan mulai berbalik. "Siapa—"

​JLEB.

​Varian tidak memberinya kesempatan. Pisau hitam yang terbuat dari mana Void menembus jantung Cassian dari punggung hingga tembus ke dada.

​Cepat. Sunyi. Mematikan.

​Cassian membelalak, mulutnya terbuka tanpa suara karena Varian sudah membekapnya. Kehidupan di mata tua itu memudar dengan cepat.

​Varian membaringkan mayat itu di tanah berumput.

​Sekarang, bagian terpenting: Framing.

​Varian meletakkan Tas Tasbih milik Leon di tangan kanan mayat Cassian, lalu mengepalkan jari-jari mayat itu erat-erat, seolah-olah Cassian sempat menarik tasbih itu dari leher si pembunuh dalam pergulatan terakhir.

​Kemudian, Varian mengambil Belati Upacara milik Leon. Dia menusukkannya ke luka di dada Cassian agar berlumuran darah segar, lalu mencabutnya lagi.

​"Sempurna," bisik Varian.

​Dia kembali menggunakan Shadow Step, masuk ke dalam tenda Leon yang sunyi.

​Leon sedang mengigau, berguling ke sana kemari dalam tidurnya. Varian dengan hati-hati menyelipkan belati berdarah itu di bawah bantal Leon. Lalu, dia mengoleskan sedikit darah Cassian yang tersisa di jari-jari tangan kanan Leon yang sedang tidur.

​"Bangunlah besok sebagai pembunuh, Pahlawan."

​Pagi Harinya.

​"AAAAAA!"

​Jeritan histeris seorang siswi yang pergi mengambil air memecah keheningan hutan yang damai. Burung-burung beterbangan kaget.

​Seluruh perkemahan terbangun.

​"Ada apa?!"

"Mayat! Ada mayat di sungai!"

​Para guru dan murid berlarian ke tepi sungai. Di sana, mengambang di air dangkal yang merah, tubuh kaku High Priest Cassian terombang-ambing. Dan di tangannya yang tergenggam erat, terlihat untaian tasbih kristal biru yang sangat dikenal semua orang.

​"Itu... itu tasbih Leon!" teriak salah satu murid.

"Tidak mungkin..."

"Geledah tendanya! Sekarang!"

​Para guru dan pengawal menyerbu tenda Leon dengan amarah. Mereka menarik Leon yang masih linglung dan sakit keluar dari tidur paksa.

​"Bangun kau pembunuh!"

​Pengawal menggeledah tempat tidur Leon. Saat bantalnya diangkat, belati berlumuran darah kering itu jatuh ke lantai tenda.

​Bukti yang tak terbantahkan.

​Leon diseret keluar, dilempar ke tanah di hadapan seluruh rombongan. Dia berkedip bingung, kepalanya masih sakit luar biasa.

​"KAU MEMBUNUH HIGH PRIEST CASSIAN!" teriak guru pembimbing, menunjuk wajah Leon. "Buktinya ada di tanganmu dan di bantalmu! Teganya kau membunuh mentormu sendiri!"

​Leon melihat tangannya yang ada bercak darah. Dia melihat belati itu. Dia melihat mayat Cassian di kejauhan.

​Ingatannya kabur karena efek darah iblis. Bisikan-bisikan di kepalanya semakin keras.

​Apa aku melakukannya? pikir Leon panik. Apa aku membunuhnya saat aku tidak sadar? Karena aku pembawa sial? Karena aku gila?

​"TIDAK! BUKAN AKU!" Leon berteriak histeris, mundur ketakutan. "AKU TIDAK INGAT! TOLONG!"

​"Tangkap dia! Dia berbahaya!"

​Lima pengawal sihir elit Akademi maju. Mereka merapal mantra penahan tingkat tinggi.

​"Holy Chain (Rantai Suci)!"

​Lima rantai yang terbuat dari cahaya murni melesat, membelit leher, tangan, dan kaki Leon, menekannya ke tanah.

​Zrrrt!

​Saat rantai cahaya suci itu menyentuh kulit Leon, reaksi kimia yang ditunggu Varian akhirnya terjadi. Darah iblis di tubuh Leon, yang sudah "matang" sepenuhnya, bereaksi agresif terhadap elemen suci yang mencoba mengikatnya.

​Itu seperti menuangkan air ke dalam minyak panas.

​"ARGHHHH PANAS! LEPASKAN! PANAAAAAS!"

​Leon menjerit. Tapi itu bukan jeritan manusia lagi. Itu adalah raungan binatang.

​Mata biru Leon tiba-tiba berubah warna. Putih matanya menghitam, dan irisnya menjadi Merah Darah menyala. Pupilnya memanjang vertikal seperti reptil.

​KRAK! KRAK!

​Tulang punggung Leon berbunyi keras, memanjang dan menembus kulit. Otot-ototnya membesar dengan cepat, merobek seragam akademinya hingga hancur. Kulitnya yang halus berubah menjadi sisik abu-abu keras yang menjijikkan. Kuku jarinya memanjang menjadi cakar hitam setajam pisau.

​Transformasi mengerikan terjadi di depan mata ratusan saksi.

​"D-Dia... Dia berubah!"

"DIA MONSTER!"

"Leon adalah Iblis yang menyamar selama ini!"

​Murid-murid berteriak ngeri dan berlarian mundur.

​Varian muncul dari kerumunan dengan wajah yang menunjukkan ekspresi "syok", kecewa berat, dan sakit hati. Akting puncaknya.

​"Leon?!" seru Varian lantang, suaranya penuh pengkhianatan. "Jadi selama ini... kau menggunakan ilmu hitam?! Kau meminum darah iblis?! Kau membunuh Pendeta Cassian untuk ritual iblismu agar menjadi monster?!"

​Kalimat Varian memberikan konteks pada situasi itu. Fitnah itu menjadi "kebenaran" di mata semua orang.

​Leon, dalam wujud setengah monster yang mengerikan, menggelengkan kepalanya yang kini bersisik. Air mata darah menetes dari mata merahnya. Dia menatap Varian dengan tatapan hancur.

​"Varian... tolong aku... sakit..." rintih Leon. Suaranya ganda, manusia dan binatang.

​Tapi rasa sakit diserang Rantai Cahaya membuat insting monsternya mengambil alih. Leon meraung dan mengibaskan cakarnya, memutuskan dua rantai cahaya dan melukai pengawal yang memegangnya.

​"Dia lepas kendali! Eksekusi di tempat!" teriak salah satu pengawal, mengangkat tombaknya.

​"Tunggu!" seru Varian, melangkah maju menghalangi tombak itu. "Jangan bunuh dia!"

​"Minggir Varian! Dia monster!"

​"Kita harus membawanya ke Ibu Kota!" teriak Varian dengan nada heroik. "Biarkan Raja dan Rakyat melihat wujud asli 'Pahlawan' mereka! Jika kita membunuhnya di sini, kita tidak akan tahu siapa lagi komplotannya. Biar dia diadili!"

​Varian sebenarnya ingin Leon tetap hidup. Leon yang mati tidak berguna. Tapi Leon yang hidup, hancur, dibenci, dan berubah menjadi monster? Itu adalah senjata.

​Para guru setuju. Mereka menggunakan Sihir Segel Tingkat Tinggi.

​"Grand Seal: Cross of Judgment!"

​Puluhan pasak cahaya raksasa jatuh dari langit, menancap ke tubuh monster Leon, memaku tangan dan kakinya ke tanah.

​"ROAAARRR!"

​Leon menjerit memilukan sebelum akhirnya ambruk, tidak sadarkan diri dalam genangan darahnya sendiri.

​Tubuh Leon yang kini mengerikan diikat dengan rantai segel berlapis-lapis, lalu dimasukkan ke dalam kerangkeng besi sihir yang sempit seperti binatang buas tangkapan.

​Kerangkeng itu ditarik pergi oleh kuda-kuda sihir, menuju penjara bawah tanah Ibu Kota.

​Varian berdiri di kejauhan, menatap kerangkeng itu menjauh. Rencana besarnya berhasil sempurna.

​Pahlawan Cahaya sudah mati secara sosial dan fisik. Yang tersisa hanyalah calon Jenderal Iblis yang penuh dendam.

​Sementara itu, Putri Aeliana yang melihat semuanya dari kejauhan tidak kuat lagi. Dia berlari sempoyongan menjauhi kerumunan, menerobos semak belukar hingga sampai di balik pohon besar yang gelap.

​Dia jatuh berlutut, dan muntah.

​"Hueek!"

​Isi perutnya keluar. Dia memuntahkan segala ketakutan, rasa bersalah, dan rasa jijiknya ke tanah. Tubuhnya gemetar hebat.

​"Hiks... uhuk..."

​"Minumlah."

​Suara itu datang dari atasnya. Tenang dan familiar.

​Aeliana mendongak dengan wajah berantakan.

​Varian berdiri di sana, memegang segelas air bersih. Wajahnya tidak menunjukkan rasa jijik, hanya kelembutan yang aneh.

​"V-Varian..." Aeliana gemetar.

​"Bilas mulutmu," kata Varian lembut, berlutut dan membantu Aeliana minum.

​Setelah Aeliana minum, dia masih gemetar hebat. Rasa takut akan Leon dan rasa bersalahnya bercampur aduk. Tanpa sadar, dia menjatuhkan diri ke pelukan Varian.

​"Aku takut... Leon jadi monster... Aku takut..." tangis Aeliana pecah di dada Varian.

​Varian memeluknya, membelai rambut perak sang Putri.

​"Sstt... tenanglah," bisik Varian. "Monster itu sudah pergi. Kau aman sekarang. Aku ada di sini."

​Di tengah hutan yang gelap, Putri Aeliana menangis dalam pelukan Iblis yang telah merancang semua mimpi buruk ini, menyerahkan jiwa dan kepercayaannya sepenuhnya pada sang penghancur.

​Varian tersenyum di atas kepala Aeliana.

​Satu bidak diamankan. Satu bidak dihancurkan. Raja Iblis menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!