Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Ungkapan Terima Kasih
Ruang perawatan sebuah rumah sakit siang itu tampak terang, bersih, sekaligus sunyi.
Tamara duduk di sisi ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, sementara dahinya tertutup perban kecil yang masih tampak baru.
Ia menarik napas panjang, sudah tidak sepanik beberapa saat yang lalu, ketika dunia terasa seolah berhenti sejenak.
Ia tidak menangis, walau masih ada rasa sakit yang berdenyut di kepalanya.
Hanya saja, ia baru sadar betapa dekat jaraknya, antara kejadian sepele dan suatu hal yang mungkin saja bisa lebih buruk dari ini.
Potongan kejadian itu, masih membekas dalam ingatannya.
Mobil tersentak kuat, bunyi keras saat ban depan menghantam trotoar, hingga kepalanya terbentur dan berdarah.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka pelan, mengalihkan perhatiannya.
Arvin baru masuk dengan langkah tergesa. Setelan kemejanya masih rapi, tapi napasnya terlihat belum sepenuhnya teratur.
Terlihat jelas kalau ia berusaha datang secepat mungkin, setelah menerima kabar.
Tatapannya langsung melembut, begitu melihat istrinya duduk di ranjang perawatan dalam keadaan sadar, utuh, dan tampak baik-baik saja.
"Apa yang terjadi?" tanya Arvin, terdengar cemas saat menghampirinya.
"Kecelakaan kecil. Hanya luka ringan," jawab Tamara singkat.
Ia mencoba terlihat biasa saja, seolah ini bukan hal besar.
Arvin mendekat. Wajahnya tidak setenang biasanya, saat memperhatikan perban di dahi Tamara.
"Lalu, apa kata dokter?" tanyanya lagi.
"Katanya sih cuma memar ringan, nggak sampai gegar otak," kata Tamara.
Ia lalu menjelaskan dengan santainya, seolah lupa kalau masih sedikit menahan sakit.
"Ada sobekan kecil di kulit area dahi, nggak dalam, dan nggak sampai mengenai tulang. Terus, tadi dapat satu jahitan doang, kok." Nada suaranya tak ubahnya seperti sedang presentasi biasa.
Tangan Arvin terangkat, tapi tertahan di udara, seperti ragu ingin menyentuh bagian dahi Tamara.
"Pasti cukup sakit ya," ujarnya, sambil menurunkan kembali tangannya.
Tamara terdiam lama.
Entah kenapa kehadiran Arvin disini, perlahan membuatnya tak ragu lagi menunjukkan sisi rapuhnya sebagai manusia biasa, bukan seorang Tamara yang selalu terlihat kuat.
Ia mengangguk pelan akhirnya. "Sedikit... tapi aku lebih kaget, sih. Kenapa aku bisa seteledor itu."
Tamara tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh ya, kamu bukannya masih ada kerjaan? Ngawasin mahasiswa praktik, kan?" tanyanya.
Arvin menarik kursi, lalu duduk menghadapnya. "Aman... Aku ada tim. Jadi, aku bisa minta tolong yang lain sementara waktu."
"Oh gitu. Maaf ya kalau ngerepotin," ucap Tamara polos, wajahnya jauh dari kesan tegas seperti biasa.
Arvin tersenyum ke arahnya, sorot matanya sudah lebih tenang dari sebelumnya. "Apa pun itu, kamu tetap lebih penting."
Tamara terdiam lagi.
Untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu, matanya terasa hangat saat menatap suaminya.
Tak berselang lama.
Setelah Arvin mengurus segala administrasi dan konsultasi ke dokter yang menangani istrinya, akhirnya Tamara bisa langsung pulang hari itu juga.
Di rumah, Arvin memintanya untuk tetap istirahat yang cukup sesuai anjuran dokter.
Ia duduk sebentar, menemani Tamara yang duduk bersandar di tempat tidur.
Tangannya sempat sibuk memainkan ponsel, sebelum menyimpannya kembali.
"Aku pergi dulu ya. Ngurusin mobil kamu sebentar," kata Arvin, seraya berdiri.
Tamara hanya mengangguk, layaknya istri yang patuh.
"Aku sudah minta Yuli standby, kalau-kalau kamu perlu sesuatu." Arvin menambahkan.
Sudut bibirnya melengkung tipis, membelai singkat puncak kepala Tamara, sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan.
Tamara mematung sebentar. Begitu pintu kamar tertutup kembali, napasnya menghembus pelan.
Setelah semua yang ia alami hari ini, tiba-tiba muncul kesadaran yang baru menghentak egonya.
Bagaimanapun caranya ia menatap Arvin, yang ia temukan justru hanya ketulusan yang tidak menuntut apa-apa.
Dia baik banget sih, batin Tamara.
Tanpa sadar, garis senyumnya terangkat samar.
Baru pertama kalinya, ia merasa benar-benar dimiliki dan dijaga seseorang.
Anehnya, ia tidak keberatan bergantung pada orang itu.
...
Beberapa jam berlalu, malam datang perlahan membawa sisa-sisa cerita hari yang panjang.
Kamar utama rumah itu tenggelam dalam keheningan. Tamara duduk di sisi ranjang, ditemani suara detak jam dan deru pendingin ruangan yang terdengar pelan.
Tangannya membolak balik lembaran isi buku psikologi tebal milik Arvin, yang baru ia pinjam diam-diam.
Baru membaca satu halaman tulisan berbahasa Inggris itu, matanya sudah terasa lelah seperti habis maraton membaca berlembar-lembar.
"Kok dia betah banget baca ini sampai berjam-jam?" gumamnya heran.
Hingga tangannya menutup buku tersebut dengan hati-hati, seolah takut benda itu akan lecet.
Ia mengembalikan ke tempat semula. Akan tetapi, ketika baru meletakkannya di atas nakas, Tamara berhenti sebentar tepat saat ponsel milik Arvin berdering lama.
Ia menolak untuk peduli. Namun, pada akhirnya rasa ingin tahu mendorongnya kuat.
Oke... cuma lihat doang sekilas, batinnya.
Tamara tidak mengambil ponsel itu. Hanya memperhatikan ke arah layar yang menyala.
Matanya membulat melihat satu nama tertera di panggilan: Nelly Staf TU.
Nomor kontak itu mengambang lama, hingga layar ponsel mati sendiri, memunculkan satu notifikasi panggilan tak terjawab.
Tamara kembali ke posisinya, tapi tangan langsung menyilang, sambil menggerutu sendiri dalam hati.
Cewek? Staf TU? Ngapain coba malam begini nelpon suami orang? Kayak nggak ada hari kerja aja.
(TU\= Tata Usaha. Biasanya kalau di fakultas, ada di bagian sekretariat dekanat)
Pikiran Tamara mulai berisik. "Jangan bilang, mau ngasih perhatian... "
Ia sadar selama ini tidak pernah memperhatikan Arvin, juga tidak pernah jadi istri beneran.
Sekarang...
Ia mulai takut, kalau ada yang lebih memperhatikan suaminya.
Lebih parahnya, ia mulai takut kalau Arvin terbiasa menjaga jarak dengannya.
Tak lama setelahnya.
Sorot matanya seketika melembut, begitu pintu kamar mandi terbuka.
Arvin baru keluar dengan kaus rumahan, rambutnya setengah basah, aroma segar langsung menguar dari tubuhnya.
Ia berjalan sebentar mengambil ponsel, jemarinya terlihat sibuk sebentar dengan benda itu.
Tamara memperhatikan jari Arvin yang sepertinya sedang mengetik pesan.
Jangan-jangan ngirim pesan ke nomor tadi? Ngetiknya kok panjang banget... batinnya.
Hingga Arvin selesai dan berjalan ke arahnya, Tamara langsung membenarkan posisi duduknya.
Arvin duduk di sisi ranjang, tubuhnya sedikit mendekat di samping Tamara.
"Ini kondisi mobil kamu," ujarnya sambil menunjukkan satu foto dari layar ponsel.
Tamara memperhatikan.
Satu potret dokumentasi kondisi mobil mewahnya—bumper depan pecah, beberapa bagian tergores parah, dan sedikit penyok di sisi kiri.
"Mobil kamu harus dalam perbaikan dulu, terutama di beberapa komponen mekanis bagian bawah." Arvin menjelaskan dengan pelan.
Tamara mengangguk-angguk paham.
Ia tidak masalah soal mobilnya. Hanya saja, ia merasa lega dan bersyukur, masih selamat dari celaka.
Arvin menyimpan kembali ponselnya. "Nanti biar aku yang urus semuanya."
Ia menatap Tamara lagi, lalu memperhatikan ke arah dahi istrinya, perban kecil tadi siang sudah diganti jadi plester tipis.
"Masih sakit? Obat pereda nyerinya sudah diminum, kan?" tanyanya, dengan suara lebih lembut.
Tamara mengangguk. "Nyeri dikit," jawabnya singkat.
"Ya udah, istirahat aja."
Arvin terdiam sebentar, lalu menanyakan satu hal lain. "Oh ya, kamu udah ngabarin Papa?"
Tamara mengiyakan. "Udah. Tadi sempat ngobrol sebentar di telepon, waktu kamu keluar," tuturnya.
Arvin memberi satu mengangguk lagi, lalu terlihat berpikir sejenak.
"Besok, nggak usah masuk kerja dulu ya... " katanya pelan.
Bukan nada perintah, tapi lebih terdengar seperti sebuah permintaan halus dari bentuk perhatian.
Giliran Tamara yang mengangguk, tanda setuju.
Hening kembali jatuh di antara ruang kecil obrolan keduanya, beberapa detik, sebelum Arvin hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Mas... "
Panggilan itu meluncur begitu saja dari mulut Tamara, kedengarannya seperti kata yang keluar spontan untuk menahan suaminya.
Tangannya pun refleks memegang lengan Arvin, sehingga laki-laki itu mengurungkan niatnya.
Ia kembali duduk, tapi kali ini dengan tubuh sedikit condong menghadap istrinya.
Sikapnya tetep tenang. "Iya?" katanya lembut.
"Makasih ya, udah bantuin, dan bikin semuanya jadi terasa ringan," ucap Tamara.
Kalimat itu terdengar tulus, bukan ucapan yang dibuat-buat.
Tamara menarik kembali tangannya, lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
Arvin tersenyum ke arahnya, memberi jawaban singkat. "Memang sudah seharusnya."
Ia terdiam sejenak, kemudian berucap lagi dengan nada ringan. "Ngomong-ngomong, aku suka panggilan itu."
Satu senyuman kecil spontan lolos dari bibir Tamara, tanpa bisa ia kendalikan.
Ia menarik napas pendek, sekadar berusaha menenangkan degup jantung yang mulai tak bisa di ajak kompromi.
"Satu lagi," katanya.
Arvin menatapnya dengan dahi sedikit berkerut, hanya menunggu.
Tamara menegakkan tubuh, sempat merasa ragu sebentar.
Entah karena dorongan rasa aman, atau karena rasa syukur yang mendalam hari itu, ia memberanikan diri untuk mendekat.
Wajahnya sedikit terangkat, satu tangannya membelai sisi wajah Arvin, lalu—
Tanpa aba-aba, bibirnya menyentuh lembut bibir Arvin.
BERSAMBUNG...
yang hamil, mual, nyusuin, selulitan, badannya berubah kan istri. jadi punya anak itu bergantung sama kesediaan istri. izin 🙏