Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
"Jangan... Jangan... Jangan sentuh!"
Matanya masih terpejam, tapi bibir Sintia terus mengucapkan kata itu, tubuhnya tidak bisa diam. Ia meronta-ronta seakan ada seseorang yang berusaha untuk menyentuh tubuh gadis itu. Arga yang berada disebelahnya mencoba menenangkan. Ia mengusap pelan tangan Sintia kemudian berkata. "Aku disini, kamu aman sekarang."
Gadis itu bangun dengan perasaan kaget dan menepis tangan Arga. Tubuhnya beringsut ke dinding. Ia menatap tajam Arga sembari menyuruh pria itu keluar.
"Jangan sentuh! Pergi! Pergi!" teriaknya.
Para perawat berlarian masuk ke kamar Sintia. Mereka menyuntikkan obat bius ke dalam infus. Arga disuruh menunggu diluar, laki-laki itu menatap sayu Sintia dari kaca jendela. Disana, gadis yang biasa tersenyum ke arahnya sekarang sedang berteriak histeris dan berusaha untuk kabur. Saat obat sudah mulai bekerja, tubuh Sintia lemas dan gadis itu ambruk. Para perawat segera menidurkan kembali Sintia ke ranjang.
Seorang perawat menghampiri Arga, ia menyuruh Arga untuk segera ke ruangan Dokter Mutiara, ada sesuatu yang mau disampaikan.
***
Arga menegakkan tubuh. Matanya yang tajam kini tampak lelah.
"Bagaimana dia, Dok? Kenapa dia tidak mau bicara sama sekali? Kenapa dia menatap saya seolah-olah saya adalah orang asing?"
"Sintia didiagnosa mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) dengan Episode Disosiatif. Trauma akibat pelecehan itu terlalu besar untuk kapasitas mentalnya. Jiwanya... seolah-olah 'pergi' untuk melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit."
Arga terdiam. Kata disosiatif terdengar seperti vonis mati baginya. "Maksud Dokter, dia lupa siapa saya?"
"Bukan lupa, Pak. Dia hanya memutus koneksi dengan dunia luar. Baginya, setiap sentuhan, setiap suara laki-laki—bahkan suara Anda—bisa memicu otaknya untuk kembali ke malam kejadian itu. Dia merasa tubuhnya kotor, dan dia merasa terancam oleh siapa pun yang mendekat."
Mendengar kata 'kotor', Arga mengepalkan tangan di atas lututnya sampai urat-urat di tangannya menonjol. Amarahnya memuncak pada Jefry, tapi rasa sesaknya jauh lebih besar untuk Sintia.
"Berapa lama?" suara Arga bergetar, sesuatu yang jarang terjadi.
"Pemulihan mental tidak punya kalender, Pak Arga. Bisa berbulan-bulan, bisa bertahun-tahun. Yang dia butuhkan sekarang bukan cuma obat, tapi alasan untuk merasa aman lagi. Pak Arga bisa buat dia ingat bapak lagi, tapi harus pelan-pelan supaya Sintia tidak kaget."
Arga menyimak dengan seksama penjelasan dari dokter setidaknya ada harapan Sintia bisa menerima kedatangan ia kembali. "Jadi apa yang harus saya lakukan, dok?" tanyanya.
Dokter Mutiara membetulkan letak kacamata yang ia pakai kemudian menatap Arga sejenak. "Dari hal yang sederhana, Pak. Bapak bisa duduk di ruangan Sintia berada tapi agak jauh jangan terlalu dekat. Dan ingat jangan menyentuh dia. Cukup awasi saja, kalo dia sudah merasa nyaman berarti dia sudah mulai menerima kehadiran Bapak kembali. Saya rasa cukup untuk hari ini. Mari kita bekerjasama agar Sintia kembali pulih seperti biasa."
Arga menyalami Dokter Mutiara, ia keluar dengan perasaan sedikit lega. Ia harus membuat Sintia pulih kembali dan membuat pelaku utama dari kejadian ini mendapatkan balasan setimpal.
"Gimana, Gar?"
"Dia udah bebas. Jadi, gue mesti gimana. Atau lo yang pegang kendali?"
Arga tersenyum misterius, pria itu masuk ke mobil dan menjalankannya menuju tempat yang sudah Sagara kirim tadi.
Buku jari Arga memutih setelah sampai ditempat yang dituju. Jefry sudah dalam posisi terikat ditangan dan kaki. Cowok itu berulang kali mencoba untuk kabur. Namun, ikatan tali yang dibuat Sagara terlalu kencang.
Bugh!
Pukulan keras melayang sempurna di perut Jefry, Arga menatap garang ke arah cowok didepannya. Ia mengangkat dagu Jefry tinggi-tinggi. Setelah itu....
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Wajah, rahang, perut, kaki, tangan Jefry tidak luput dari serangan Arga. Cowok itu tidak punya tenaga lagi untuk mengaduh. Mulutnya sudah keluar darah segar yang menetes dilantai. Arga tidak puas. Saat akan memukul lagi Sagara segera menahan. Ia tidak ingin Arga kebablasan.
"Udah, Ga. Tenangin diri lo. Kalo lo gebukin dia terus, lo tau konsekuensinya kayak gimana. Ini negara hukum."
Peringatan dari Sagara membuat Arga tersadar. Ia menatap tajam Jefry.
"Gue akan bikin perhitungan sama lo karena udah bikin Sintia jadi trauma sama laki-laki termasuk sama gue!"
Jefry sempat-sempatnya tersenyum meledek. "Syukur deh. Itu artinya dia nggak mau ada dideket lo lagi, Om!"
Detik itu juga Arga menonjok Jefry lagi tepat dihidung cowok itu.
****
SINTIA
ARGA
Udah cocok belum, guys visualnya? 😝🤣