NovelToon NovelToon
Dear, Husband

Dear, Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Nikahmuda / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Ketika cowok yang ngidam....

Ternyata dugaan Dewi benar kalau yang ngidam itu malah Rio, bukannya Risa. Aneh memang tapi itulah yang terjadi. Sudah beberapa hari ini Rio sering merasa pusing dan muntah pada pagi hari. Selera makannya juga berubah. Dia jadi suka cabai-cabaian yang biasanya dia tidak terlalu suka pedas, dan hal yang paling menjengkelkan pemuda itu sudah dua hari belakangan menghindari Risa, agar tak melihat wajah perempuan itu.

"Lu bayangin aja deh, masa dia muntah setiap kali ngeliat muka gueee!!" Risa sedang bercerita di salah-satu toko bakery kesukaannya bersama dengan Via dan Acha.

"Separah itu?" Tanya Acha sedikit skeptis. Masalahnya dia belum pernah lihat cowok ngidam apalagi sampai ekstrim kayak begitu. Masa lihat muka bini sendiri dia muntah???

"Hahahaha, dia anggap muka lu kayak tong sampah kali, Ris??" Via jangan ditanya, dia udah ketawa dari tadi sambil menepuk-nepuk meja kayu minimalis tempat mereka makan.

"Sialan lu, muka mahal nih!" Omel Risa gak terima muka glowing-nya disamain sama tong sampah. "Gini-gini perawatan muka gue hampir 10 juta tiap bulan!" Dengusnya.

"Tapi, Ris," ucap Acha tiba-tiba memotong pembicaraan. "Setau gue ya, kalau sampe cowoknya yang ngidam, itu tandanya dia sayang banget loh sama Istrinya," sambungnya.

"Kata siapa lu?" Balas Risa setengah gak percaya, dan setengahnya lagi dia malah jadi ge'er.

"Ya, kata orang-orang sih! Tapi katanya itu akurat loh, soalnya tetangga gue ada yang begitu, suaminya yang ngidam dan do'i emang cinta banget sama istrinya. Sampe sekarang udah punya dua anak, dan semuanya malah yang laki yang ngidam, istrinya sih malah santai aja." Acha malah gosipin tetangganya.

"Wah Ris, jangan-jangan Rio beneran sayang sama lu lagi!" Timpal Via menduga-duga.

"Hah? Gak mungkin! Itu gak mungkin banget!" Balas Risa dengan gaya yang lebay. "Gue sama dia itu cuma nikah kontrak!" Akhirnya Risa bongkar perjanjian yang dia lakukan bersama dengan Rio.

"Hah? Nikah kontrak??" Acha sama Via kaget barengan. "Serius??" Ujar keduanya lagi kompak kayak orang lagi paduan suara.

"Hmph, iyalah! Lu kira gue serius mau berumah-tangga sama Rio?" Balas Risa dengan enteng.

"Gila lu, Ris!" Celetuk Via yang enggak habis pikir sama pola pikir sahabatnya itu.

"Jangan bilang lu masih berharap sama Dion?" Timpal Acha yang kayaknya udah gemes banget sama Risa.

"Gue gak tau ah! Lu kira segampang itu lupain Dion? Dia itu cinta pertama gue, Cha, dan kita janji buat nikah...." Risa mendadak menjadi murung. Kenangan manisnya bersama Dion kembali berputar dalam ingatannya seperti rekaman video.

"Tapi dia udah nyakitin elu! Sadar dong, Ris!" Via kayaknya jadi emosi gegara melihat sikap Risa yang enggak bisa tegas terhadap Dion yang jelas-jelas sudah seenaknya mempermainkan hatinya.

"Inget Ris, anak yang di dalam perut lu, anak Rio! Kenapa lu harus cari laki-laki lain kalau Rio itu udah cukup buat lu!" Sambung Via yang lagi berusaha mengembalikan kewarasan sahabatnya itu. Cinta emang bikin buta, ada berlian di depan mata tapi gak dilihat, malah melirik batu hitam jalanan!

Risa pun hanya bisa terdiam saat diceramahi oleh dua orang temannya itu.

Sejujurnya dia memang mulai menyukai Rio. Dia anak baik, tapi hatinya masih gengsi mengakui. Masa sih dia suka sama bocah???? Rasanya dia bakal malu banget kalau sampai hal itu beneran terjadi. Masa dia harus takluk sama pelajar? Malah dia murid di sekolahnya sendiri.

...****************...

Lalu, bagaimana nasib Rio yang masih harus bersekolah di tengah gempuran rasa tak nyaman karena mual dan rasa lemas kayak orang yang lagi kekurangan darah?

Dia tepar selama jam istirahat dan dua hari terakhir pemuda itu bahkan gak makan siang. Hal ini berbanding terbalik dengan Risa yang jadi doyan makan.

"Seriusan deh, lu sakit apaan sih? Udah dua hari lu kayak gini dan ini hari ketiga loh!" Dika sebagai teman sebangku terlihat prihatin.

"Gue juga gak tau, lagi males makan aja," jawab Rio yang jelas dia bingung sama kondisi dirinya sendiri.

"Ya elu dikasih minyak kayu putih sama Dhea malah muntah! Lu bilang gak suka sama baunya, di pinjemin balsem dari UKS lu juga langsung mual gak mau pake!"

Tadi pagi Rio memang sempat merasa pusing dan mulai lagi. Makanya Dhea, cewek yang duduknya di seberang mereka memberikan minyak putih. Tapi begitu dioleskan Rio langsung muntah. Untung dia lari ke kamar mandi jadi gak muntah dalam kelas. Dikasih balsem, mukanya langsung pucat dan mulai mual merasa lagi.

"Weh, kenapa nih? Masih sakit, bray?" Beberapa teman sekelas Rio mendatanginya.

"He'eh," balas Rio yang cuma bisa meletakkan kepalanya di atas meja dengan malas.

"Sakit apaan lu? Emang gak ke dokter?" Tanya teman-temannya yang kayaknya mulai beneran peduli. Pasalnya kali ini Rio emang keliatan kayak orang sakit. Letih, lemah, lesu macem orang yang gak berdaya.

"Gak sakit juga sih...." Rio kayaknya lagi bingung untuk menjelaskan apa yang dia rasakan, "gua cuma males sama lemes aja," ucapnya dengan jujur.

Gak berapa lama beberapa kelompok anak perempuan masuk kelas. Masing-masing dari mereka membawa jajanannya ke dalam kelas, dan sepertinya Rio tertarik dengan aroma salah satu jajanan yang dibawa sama temannya Dhea, namanya Wina.

Rio melirik ke arah Wina yang lagi menikmati jajanan buah segar, atau lebih tepatnya rujak pakai sambal gula merah.

"Win, itu lu beli di mana?" Tanya Rio yang matanya gak lepas melihat buah-buahan bercampur sambal kental tersebut.

"Beli di depan sekolah, mumpung si abangnya berhenti di situ, kenapa?"

Tanpa menjawab Rio langsung berdiri dari kursi dan lari keluar kelas membuat semua teman-temannya keheranan.

"Lha? Itu bocah ngapa??"

"Bukannya dia bilang lagi males sama lemes ya?"

Anak-anak cowok saling melempar pandang melihat Rio yang tadi lari keluar dengan kecepatan kilat.

Sementara anak cewek cuma saling lirik dan berusaha menepis, masa si Rio mau beli rujak siang bolong begini?? Kalau iya, dia bakal jadi satu-satunya anak cowok yang doyan rujak.

"Rio..., gak mungkin beli 'kan...?" Tanya Wina sambil melihat ke arah yang lain.

"Ya kagak mungkin lah! Sejak kapan dia doyan rujak? Kayaknya kalau buat anak cowok, rujak itu jadi daftar makanan terakhir deh, kecuali lu lagi ngidam!" Sambar Dika yang memastikan kalau Rio gak bakal beli begituan sambil setengah bercanda.

"Terus dia tadi lari begitu kenapa?" Tanya Wina yang kayaknya lagi cari penjelasan logis atas sikap absurd Rio barusan.

"Kebelet boker kali!" Timpal Nanda asal nyebut.

"Goblok! Omongan lu disaring dulu kali! Kita lagi pada makan ini!" Astrid sewot dan langsung nimpuk Nanda pakai bola kertas.

"Ya, gua cuma jawab doang! Daripada bingung!" Balas Nanda dengan malas.

Begitulah, teman-temannya Rio lagi berdebat mengenai sikap aneh dari Rio yang mendadak lari keluar kelas, sementara orang yang lagi diomongin lagi asik nongkrong di depan sekolah sambil makan rujak sampai jadi perhatian beberapa orang dan guru yang kebetulan juga lagi keluar membeli makanan.

"Rio, kamu gak salah makan itu?" Bu Desi guru ekonomi, meringis saat melihat porsi makan Rio yang banyak plus berkuah cabai.

"Mau, Bu?" Bukannya dijawab, pemuda itu malah menyodorkan piring ke depan Bu Desi dan menawarkannya untuk ikut makan.

"Ih, Ibu aja ngeliat kamu makan itu udah sakit perut!" Wanita berusia kepala tiga lebih itu langsung ngelus-ngelus perutnya sendiri.

"Enak loh Bu! Cobain, mau?" Rio kayaknya udah gak berasa asam dan pedas lagi. Buat dia itu makanan terenak saat ini.

"Enggak ah, kayak ngidam kamu!" Celetuk Bu Desi yang akhirnya ngacir masuk ke dalam sekolah sebelum dipaksa untuk mencoba makanan full cabai begitu.

"Anak sekarang makanannya aneh-aneh." Dia cuma bisa geleng-geleng.

Bagaimana kelanjutan proses ngidamnya Rio? Apa makin menjadi???

.

.

.

BERSAMBUNG....

1
✨♡vane♡✨
Ingin baca lagi!
Harry
Mantap jiwa!
Zamasu
Memukau dari awal hingga akhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!