Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Daster Bunga dan Janji yang Terbalik"
Matahari baru mulai menyingsing ketika Arif kembali datang pulang dengan langkah yang ringan dan wajah yang bersinar kilau. Dia membawa tas plastik berisi makanan pagi—bubur sumsum manis dan kue putu mangga yang dia beli dari pedagang keliling di dekat rumah kontrakan Pak Soleh. Kemarin malam, dia berhasil memenangkan permainan kartu besar dengan para pedagang dari Bulukumba, membawa pulang uang lebih banyak dari yang dia harapkan.
“Aku sudah bisa menepati janjiku sekarang, Dewi,” bisiknya dengan senyum puas saat membuka pintu rumah dengan hati-hati agar tidak mengganggunya. Dia masuk ke kamar dan melihat Dewi yang sudah duduk di sudut kamar seperti biasa, mata menghadap jendela yang sudah mulai terkena sinar matahari. “Hai sayang, bangun aja yuk. Hari ini kita pergi ke pasar ya! Aku dapat bonus besar dari kantor kemarin malam—cukup banyak buat belikan kamu barang-barang yang kamu mau,” ujarnya dengan suara riang, menyimpan tas makanan di meja dan mendekati Dewi dengan tangan yang penuh semangat.
Dewi hanya menoleh perlahan, ekspresinya tetap kosong tanpa sedikit pun perubahan. Dia melihat bagaimana Arif mengeluarkan selembar uang merah yang tebal dari dalam kantong jasnya, wajahnya penuh dengan kebanggaan. Arif telah menyediakan ember air hangat lagi untuknya, serta menyusun pakaian ganti yang lebih bersih di atas kursi kamar. “Kamu mandi dulu ya, nanti kita sarapan bareng sebelum pergi ke pasar. Kali ini aku janji nggak ada urusan kantor lagi yang bisa mengganggu kita,” ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak Dewi dengan lembut.
Setelah Dewi selesai mandi dan berpakaian dengan baju batik lama yang masih ia kenakan, mereka sarapan bersama di meja makan. Arif terus bercerita tentang “bonus kerja” yang katanya diberikan karena dia berhasil menyelesaikan proyek penting untuk perusahaan. Dia menggambarkan bagaimana bosnya sangat puas dan bahkan menawarkan dia kenaikan gaji. “Nanti kita beli banyak ya—daster dengan motif bunga yang kamu suka, mungkin juga blush warna merah muda untuk kamu cantik. Kalau ada yang kamu mau lagi, bilang aja ya. Aku juga mau beli beberapa baju kerja baru untuk diriku sendiri,” ujarnya dengan mata yang bersinar.
Dewi hanya mengangguk dan makan bubur sumsum dengan lambat. Dia tahu bahwa uang yang Arif bawa pulang bukan dari bonus kerja—tapi dia memilih untuk tidak berkata apa-apa. Dia melihat bagaimana tangan Arif terkadang menggigil sedikit ketika membicarakan rencana belanja mereka, seolah-olah masih merasakan getaran dari permainan kartu kemarin malam. Tapi kali ini, dia tidak merasa kecewa atau marah—hanya tenang seperti biasa, menerima semua yang diberikan tanpa harapan apapun.
Setelah selesai sarapan, mereka berangkat ke pasar dengan naik ojek. Arif memilih duduk di belakang Dewi, tangan nya erat menyangga pinggangnya seolah-olah mereka adalah pasangan yang bahagia seperti dulu. Di jalan, dia terus menunjukkan beberapa toko yang akan mereka kunjungi—toko pakaian tradisional yang menjual daster dengan bermotif , toko kosmetik kecil yang menjual produk lokal, dan toko baju pria yang menjual jas dan kemeja dengan harga terjangkau.
Ketika mereka sampai di pasar, suara keramaian dan aroma berbagai makanan khas langsung menyambut mereka. Arif memegang tangan Dewi dengan erat dan membawanya ke toko pakaian yang sudah ia tuju. “Coba kamu pilih aja daster yang kamu suka ya. Semua bisa kamu ambil,” ujarnya kepada penjaga toko dengan suara yang tegas, menunjukkan bahwa dia mampu membayar semua yang Dewi inginkan.
Dewi berjalan perlahan di antara rak-rak pakaian, jari jemari nya menyentuh kain-kain dengan tekstur lembut. Dia memilih dua buah daster—satu dengan motif bunga melati putih dan satu lagi dengan motif bunga kembang sepatu merah. Kemudian mereka pergi ke toko kosmetik di sebelahnya, di mana Arif memilihkan blush warna merah muda yang katanya akan cocok dengan warna kulit Dewi. “Coba kamu pakai nanti ya, pasti kamu akan lebih cantik,” ujarnya dengan senyum lembut saat membayar barang tersebut.
Untuk dirinya sendiri, Arif memilih dua buah kemeja kerja warna biru tua dan satu jaket coklat muda yang terlihat rapi. Dia mencoba mengenakan nya di depan cermin toko, wajahnya penuh dengan kebanggaan. “Bagus kan? Nanti kalau pergi kerja pakai ini, pasti bos aku akan lebih suka lagi,” ujarnya kepada Dewi, yang hanya mengangguk dan melihatnya dengan ekspresi kosong.
Setelah selesai berbelanja, mereka berjalan-jalan santai di sekitar pasar sambil menikmati es cendol yang mereka beli dari pedagang kaki lima. Arif terus bercerita tentang rencana masa depan mereka—bagaimana dia akan menyimpan uang untuk membeli rumah yang lebih besar, bagaimana mereka bisa pergi berlibur ke daerah Tana Toraja, dan bagaimana mereka bisa hidup bahagia seperti pasangan lain. Dewi hanya mendengarkan diam-diam, tidak memberikan tanggapan apapun.
Saat mereka hendak pulang, Arif melihat seorang wanita tua dengan rambut putih yang rapi dikuncir, mengenakan kebaya hitam dengan renda emas dan kain batik songket merah tua. Wanita tersebut sedang berdiri di depan toko makanan tradisional, sedang memesan beberapa porsi palu basa untuk dibawa pulang. Arif tiba-tiba menjadi tegang, tangannya yang memegang tas belanja mereka mulai menggigil.
“Bu Siti… apa kabarmu?” ujar Arif dengan suara yang sedikit bergetar, mendekati wanita tua tersebut. Wanita itu yang ternyata adalah ibunda Arif, menoleh dengan wajah yang terlihat sangat anggun namun dingin. Di wajahnya terpampang ekspresi yang sulit ditebak—namun mata nya yang tajam langsung tertuju pada Dewi yang berdiri di belakang Arif dengan posisi sedikit menyembunyikan diri.
“Kabar baik saja, Arif. Aku baru saja belanja makanan untuk keluarga,” jawab Bu Siti dengan suara yang tenang namun sangat jelas mengandung jarak. Matanya melirik cepat ke arah Dewi, kemudian kembali fokus pada Arif dengan wajah yang seolah-olah sangat baik dan perhatian. “Wah, kamu lagi jalan-jalan dengan istri mu ya? Baik sekali itu. Kamu harus sering-sering membawa dia keluar agar tidak bosan di rumah saja,” ujarnya dengan senyum yang sangat tipis dan terkesan dibuat-buat.
Bu Siti berdiri dengan postur yang lurus dan tegap, setiap gerakannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita yang terbiasa dengan rasa hormat dan memiliki standar yang tinggi. Wajahnya yang sudah mulai menunjukkan garis-garis usia tetap terawat dengan baik, dan aroma parfum kayu cendana yang ia gunakan sangat terasa jelas di sekitarnya. Dia melihat tas belanja yang dibawa Arif dengan tatapan yang menyelami, seolah-olah bisa menebak dari mana uang untuk membeli barang-barang tersebut berasal.
“Aku baru saja belikan dia beberapa barang, Bu. Daster dan juga kosmetik yang dia suka,” ujar Arif dengan suara yang sedikit gugup, mencoba menunjukkan bahwa dia sedang merawat Dewi dengan baik. Bu Siti hanya mengangguk dengan lambat, kemudian memberikan tatapan singkat lagi kepada Dewi yang masih berdiri diam dengan wajah kosong.
“Baiklah, Arif. Aku harus pulang sekarang agar makanan yang kubeli tidak basi. Jangan lupa datang ke rumah beberapa hari lagi ya. Kakak-kakak mu juga sudah lama tidak melihatmu,” ujar Bu Siti dengan suara yang tetap tenang, kemudian memberikan senyum yang sangat terbatas sebelum berbalik dan pergi meninggalkan mereka dengan langkah yang anggun dan mantap.
Arif berdiri diam dengan wajah yang sedikit pucat, melihat ibunya pergi hingga tidak terlihat lagi. Dewi hanya berdiri di sebelahnya dengan ekspresi yang tidak berubah sedikit pun, seolah-olah tidak menyadari bahwa wanita tua tersebut adalah ibu mertuanya yang tidak pernah menyukainya. Arif kemudian menarik napas dalam-dalam dan memegang tangan Dewi dengan lembut. “Mari kita pulang saja ya, Dewi. Sudah cukup lama kita keluar,” ujarnya dengan suara yang kembali tenang, meskipun di dalam hatinya ia merasakan kekhawatiran yang mendalam akan pertemuan tadi.
Mereka kembali ke rumah dengan naik ojek, jalanan yang sebelumnya terasa hangat dan penuh semangat kini terasa sunyi dan sepi. Arif tidak berbicara banyak selama perjalanan pulang, hanya mencium pelan dahi Dewi setiap kali mereka melalui jalan yang licin. Dewi tetap diam seperti biasa, kepalanya bersandar pada bahu Arif dengan pandangan yang kosong ke arah jalanan yang berlalu.
Ketika mereka sampai di rumah, Arif membantu Dewi menyimpan barang-barang belanjaan mereka. Dia meletakkan daster-daster baru di lemari pakaian Dewi dengan hati-hati, serta menaruh blush yang baru dibeli di atas meja rias yang sudah lama tidak digunakan. “Kamu bisa mencoba pakainya besok ya,” ujarnya dengan suara lembut kepada Dewi, yang hanya mengangguk dan kembali duduk di sudut kamar seperti biasa.
Malam itu, Arif duduk di teras sambil merokok rokok kretek yang ia beli dari warung di depan rumah. Dia memikirkan pertemuan dengan ibunya tadi—betapa jelasnya rasa tidak suka Bu Siti terhadap Dewi, meskipun ia tetap berusaha tampak baik dan sopan. Dia tahu bahwa ibunya selalu menginginkannya untuk menikahi wanita dari keluarga yang lebih baik dan memiliki status sosial yang lebih tinggi. Dia tahu bahwa Dewi tidak pernah diterima oleh keluarga besarnya, bahkan sejak hari pertama mereka menikah.
Di kamar, Dewi sedang melihat daster-daster baru yang dibelikan Arif. Dia menyentuh kainnya dengan lembut, merasakan tekstur yang lembut di antara jari jemari nya. Meskipun hatinya tetap dingin seperti es, dia tidak bisa menyangkal bahwa dia merasa sedikit senang memiliki barang-barang baru yang indah. Dia melihat ke arah jendela, di mana Arif masih duduk di teras dengan wajah yang penuh pikiran. Dia tidak bisa merasakan apa-apa untuknya atau untuk ibu mertuanya yang baru saja mereka temui—hanya rasa tenang yang dalam dan perasaan bahwa hidup akan terus berjalan seperti ini tanpa akhir.