NovelToon NovelToon
PENGGANTI 100 HARI

PENGGANTI 100 HARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Pengantin Pengganti / Obsesi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:883
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Kalista putri

Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.

Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.

konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?

Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Licik Harus Di Balas Licik

Sosok di kursi roda itu kini sudah di di dorong dan mendekat, Dia terlihat seperti orang yang beneran kecelakaan dengan kepala di perban dan salah satu kaki nya juga.

"Kakak maafkan Aku, sudah membuat kakak harus repot-repot datang, padahal kakak lagi sakit," ucap Amara yang pertama, sambil berjalan mendekat ke arah sosok di kursi roda, tapi wanita itu hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis.

"Siapa yang menindas Adikku?" Sosok di kursi roda itu berucap, mata tajam nya mengintimidasi semua orang, seperti silet.

"Mereka," sebagian orang yang tidak ikut campur, kini menunjuk ke arah orang-orang yang terlihat ketakutan.

Amara yang duduk di kursi roda langsung melirik ke arah Daren, membuat pria itu menghela nafas panjang, lalu berjalan mendekat.

"Laura dan Wisnu anak dan ibu, kalian berdua tidak di sangka di kasih baik malah ngelunjak, menindas sepupu ku," ucap Daren panjang lebar membuat Wisnu dan Laura terdiam.

"Sebenarnya dua orang ini datang ke perusahaan Yuda Group untuk membeli saham Bintang Group, tapi demi menjatuhkan Glen Dia menggunakan cara kotor dengan menawarkan seorang gadis yang tidak salah apapun, apa ini di sebut manusiawi." lanjut Daren sambil menunjukkan rekaman suara Laura.

"Itu tidak benar," Laura menggeleng cepat merasa tidak terima.

"20 persen saham ini, Aku batalkan, Aku tidak jadi menjualnya, karena ini milik resmi Glen," Daren tidak menggubris perkataan Laura, Dia melempar uang ke arah Laura, membuat Laura menggeram marah.

"Semuanya, Aku Daren Bagas Rishmateho, mengumumkan bahwa Glen Jonson sudah punya 60 persen saham Bintang Group, siapa yang ingin melengserkan posisi nya, maka harus berhadapan dengan diriku dan CEO Yuda Group, sepupu ku," lajut Daren panjang lebar sambil menatap ke arah Amara.

"Semua orang yang tadi menindas adik ku, harus menanggung akibatnya," sambung Amara dengan tegas penuh peringatan.

"Maafkan kami, kami tidak bermaksud, itu semua, ulah Dia," orang-orang menatap Laura dan Wisnu dengan kemarahan.

"kalian tidak bisa menuduh kami, ini pasti hanya kebohongan mereka," Laura dan Wisnu mulai berkilah.

"Laura dan Wisnu Aku belum mengusut tuntas kasus, kecelakaan ku yah? Nanti kalo buktinya sudah keluar, ku pastikan kalian harus menanggung mahal untuk itu, karena kalian, hidup ku hancur, sekarang Aku tidak bisa berjalan dengan normal," ucap Amara panjang lebar yang duduk di kursi roda, membuat Laura dan Wisnu menjadi tegang.

"Kami tidak terlibat dalam rencana itu," Laura langsung menggeleng cepat.

"Lihat saja, bukti yang akan menjawab semua nya," jawab Daren dengan penuh peringatan.

"Semuanya yang tadi terlibat menindas Glen, di pecat dan angkat kaki dari sini," ucap Amara dengan dingin.

"Kami gak terlibat," beberapa orang mulai mengelak.

"Tuan Glen, kami tidak bermaksud untuk itu," Orang-orang kini berlutut memohon kepada Glen membuat Glen jengah.

"Tuan, maafkan, Saya, sudah membuat,Tuan di pojokan, tapi jangan pecat Saya," Revan juga memohon, pria itu tidak tahu malu.

"Cih berhenti bersikap menjijikan, kalian itu sampah, Aku tidak mau mempekerjakan orang bermuka dua seperti kalian," cibir Glen dengan tersulit emosi.

"Keamanan usir mereka dari sini, jangan sampai muncul di manapun," perintah Glen pada para pengawal penjaga, membuat semua orang itu langsung menatap ke arah Laura dan Wisnu.

"Ini semua salah kalian yah, ibu dan anak, Licik bajingan, pembawa sial, gara-gara kalian berdua, kami jadi kehilangan pekerjaan!" orang-orang itu menyerang Laura dan Wisnu, karena tidak terima, sebelum pengawal penjaga mengusir nya, bahkan para wanita menjambak rambut Laura, membuat Laura terbirit-birit keluar karena menjadi masa orang-orang.

Setelah semua orang pergi, hanya tersisa beberapa orang yang tetep setia, membuat Glen menghela nafas panjang, karena perusahaan Bintang Group seluruhnya penghianat yang tersisa dari orang-orang yang posisinya tinggi cuma bisa di hitung.

"Semuanya bisa melanjutkan pekerjaan dengan baik, dan suruh OB dan OG untuk membersihkan semua kekacauan ini," ucap Glen menginterupsi, membuat orang-orang pergi satu persatu.

Kini yang tersisa hanya dirinya, Amara 1 dan 2 bersama Daren dan juga Wardana.

"Wardana, kau tidak berguna, lebih baik kau istirahat saja di rumah, didik menantu dan cucu mu itu," Ucap Amara yang berada di kursi roda dengan dingin.

"Iya Saya sudah Tua, dan gak semestinya di sini, lebih baik Saya pulang saja," ucap Wardana yang terlihat tertunduk, dia tidak tersinggung sedikitpun.

"Glen, kedepannya Kakek serahkan perusahaan kepada mu, maafkan kakek yang tidak berguna ini," lanjut nya menepuk pundak Glen, membuat Glen hanya mengangguk saja, karena merasa kecewa dengan pria tua itu yang tidak membela nya sama sekali, saat dirinya di rundung oleh orang-orang tadi.

Padahal jika Wardana bersikap tegas, semua orang pasti segan kepada nya, tapi pria tua itu justru malah diam saja, membiarkan Laura dan Wisnu berbuat sesukanya.

Setelah kepergian Wardana, kini mereka berempat pindah ke ruangan Glen, karena ruangan tadi harus di bereskan.

Glen kini menatap Dua Amara berganti, Dia merasa bingung sendiri, tapi Dia yakin bahwa yang duduk di kursi roda itu pasti Amara yang asli, lantas siapa? Yang berdiri di samping nya, yang tadi berusaha melindungi nya, apa kah Amira? Tapi tidak mungkin karena Amira kemarin sangat parah dan tidak memungkinkan untuk sadar, sedangkan wanita itu terlihat sehat.

Pandangan matanya kini tertuju pada kaki wanita itu, yang terlihat tidak memakai high heels, tapi dia tinggi mirip Amira asli.

"Jangan bingung begitu, Bener-Bener kayak orang bodoh banget deh, pantesan di manfaatkan terus," ejek Amara yang langsung berdiri dari kursi roda nya, dan merebahkan tubuhnya di sofa merasa lelah berpura-pura lumpuh.

"Sepupu, tugas ku sudah selesai kan?" Tanya Daren saat merasa tidak ada urusan lagi.

Amara langsung duduk, Dia menatap Daren dengan tatapan tajam.

"Bereskan kekacauan yang kau perbuat, lalu kerja di luar selama seminggu," jawab nya tegas tidak bisa di ganggu gugat.

"Jangan kejam begitu, Aku sudah membantu mu." Daren mulai menunjukkan wajah menyedihkan, berharap sepupunya mau berbelas kasih.

"Lakukan, atau balik ke perusahaan Ayah mu saja," ucap Amara, membuat Daren mau tak mau keluar dengan wajah masam.

Setelah kepergian Daren, Glen duduk di kursi samping Amara dia merasa penasaran, siapa wanita yang mirip dengan Amara itu yang jelas bukan Amira.

Amara tersenyum semrik, Dia langsung menyuruh sosok yang berdiri itu untuk bercerita, sedangkan wanita itu memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak, karena merasa lelah mengurus semuanya tadi.

Perempuan itu bercerita lalu membuka topengnya dan menampilkan, wajah Lisa, membuat Glen terkejut karena tadi sempat tertipu, Lisa juga menunjukkan alat pengubah suara membuat Glen mengerti, Lisa juga menceritakan tentang dirinya dan Amara yang mencoba membujuk Tuan Mahendra untuk menjual 30 persen saham Bintang Group kepada nya dengan imbalan Mahkota permata merah.

"Licik harus di balas licik," sahut Amara setelah Lisa bercerita.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!