Selena secara tidak terduga masuk ke dalam animasi 3D berjudul Love In Time. Jiwanya masuk ke dalam tubuh tokoh utama bernama Li Shuyi, anak bangsawan miskin Li Chengdu dari Jiangzhou.
Kehidupan Li Shuyi digambarkan begitu berat. Orang yang dicintainya menolak mentah-mentah lamaran keluarga Li, dan rumor tentang Li Shuyi yang beredar sangat buruk.
Selena yang berada dalam tubuh Li Shuyi bertekad untuk pindah ke Beizhou dan memulai hidup yang baru.
Apakah ia bisa melakukannya? Apa yang akan terjadi di Beizhou? Kehidupan Li Shuyi akan berubah atau bertemu cinta sejati? Ikuti kisah Selena menaklukkan kehidupan Li Shuyi yang berat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyana Mentari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paviliun Feng Luan
Malam telah jatuh.
Fajar menyambut bersama dengan suara binatang malam yang mereda.
Udara dingin dan kabut menyelimuti Beizhou, karena letaknya dekat dengan laut. Terkadang angin dari laut menciptakan kelembaban, dan menurunkan suhu udara pada malam hari. Tetapi, udara malam yang dingin itu tidak mampu menyurutkan semangat Li Shuyi untuk menggambar sketsa. Tangannya bergerak lincah, menari dengan gerakan indah di atas kertas mengikuti alur yang hanya dimengerti olehnya.
Li Shuyi menuangkan seluruh isi kepalanya, menggambar semirip mungkin dengan bayangan di otaknya.
Lama tidak melakukannya membuatnya kian rindu dengan pekerjaan lamanya.
Setelah hampir satu minggu mengamati nona dan nyonya di Beizhou, ia jadi tahu bagaimana selera orang-orang Beizhou dan bagaimana perhiasan menunjukkan status sosial dan derajat mereka di pergaulan kelas atas. Perhiasan digunakan untuk memperindah, juga untuk mengintimidasi. Perhiasan tak hanya indah tapi juga bernilai dan memiliki makna.
Orang biasa contohnya, mereka hanya menggunakan perhiasan sederhana dan tidak boleh terlalu mencolok. Tusuk konde logam berbentuk bunga-bunga kecil tanpa makna berlebihan.
Lebih tinggi, nona dari keluarga pengusaha kaya. Mereka suka menggunakan banyak perhiasan yang terbuat dari mutiara dan logam mulia.
Giok alami dan batu permata yang langka, hanya boleh digunakan oleh nona dan nyonya kalangan bangsawan dan memiliki jabatan di pemerintahan. Giok berharga tinggi karena melambangkan kejayaan dan kemakmuran. Hanya mereka dari kalangan atas yang sanggup membelinya.
Tapi, desain Li Shuyi tak akan langsung dengan sombongnya menyasar kalangan atas sebagai target marketing.
Sebagai pemula, ia harus memahami tempatnya dan memulai bisnis perlahan hingga dikenal banyak orang.
Yang paling dekat dengannya.
Kehidupan nona-nona dari kalangan menengah.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah kaki riang menggema di lorong menuju salah satu kamar. Langkahnya ringan seraya membawa baskom berisi air, membuka pintu pelan dan segera masuk.
"Selamat pagi, noo—"
"Astaga!"
"Apa yang terjadi?"
Tong'er memaku di ambang pintu, pelayan wanita itu membulatkan mata melihat kamar sang nona sangat berantakan penuh dengan bola-bola kertas tak ia ketahui maknanya.
Baskom diletakkan di atas meja. Kemarin, dia baru saja memastikan kamar sang nona ini rapi dan bersih, lalu sekarang sudah berantakan.
Tong'er tidak bisa marah, bagaimana pun Li Shuyi adalah nonanya.
"Nona, apa yang anda lakukan?"
Li Shuyi mendongak, dan lingkaran hitam di sekitar matanya menguat. Khas orang yang tidak tidur beberapa hari, padahal baru satu malam Nona Li itu begadang. Li Shuyi berhasil menyelesaikan satu lagi sketsa perhiasan berupa anting.
"Membuat sketsa."
"Apa anda tidak tidur semalaman?"
"Hoooaaaamm!"
Li Shuyi menguap lebar, kedua tangannya merentang guna meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Memilih mengabaikan pertanyaan si pelayan.
Jika Tong'er sudah datang, pasti hari sudah pagi. Untungnya ia sudah menyiapkan beberapa sketsa perhiasan yang akan ia tunjukkan kepada Tuan Muda Xu.
Li Shuyi merebahkan tubuhnya pada dipan kayu beralas kasur tipis dan usang, "Tong'er, saat matahari mencapai tombak, bangunkan aku karena harus bertemu dengan seseorang!"
"Siapa?"
"Nanti kau tahu."
Tong'er diam-diam tertawa kecil.
Dengan kelopak mata masih terpejam, Li Shuyi menghela napas kesal. "Tong'er, hentikan!"
"Maaf, nona, tapi Tuan Muda Xu——"
"Siapa bilang aku akan bertemu Tuan Muda Xu?!"
"Lalu siapa yang punya janji di Paviliun Feng Luan?"
"Tong'er!"
...****************...
Pagi-pagi melihat Murong Xingxu berpakaian seperti rakyat biasa membuat Ye Jiang mengerutkan keningnya. Sekalipun sang tuan memang biasanya mengenakan pakaian dengan model sederhana, tapi selalu dari serat sutra alami. Bukan pakaian kasar dari kain rami seperti sekarang.
Kediaman di belakang istana utama ini adalah miliknya, bahkan jika ada yang hendak merebutnya, Murong Xingxu tetap bisa mempertahankannya atas nama dekrit kaisar.
Meski hidup tanpa ibu, ayah yang tidak begitu peduli, saudara-saudara yang saling dingin. Tapi Murong Xingxu tetap berstatus pangeran dan tetap mendapatkan apa yang seharusnya diterima oleh pangeran. Termasuk giok, emas, sutra, dan pelayan wanita.
Khusus untuk pelayan wanita, Murong Xingxu hanya menerima beberapa saja untuk mengurus kediaman.
Telunjuk Murong Xingxu mengarah ke meja, "Pakailah!"
"Tuan, tapi aku datang untuk menga——"
"Pakai saja!"
"Memangnya apa yang akan kita lakukan?"
"Pakai!"
Ye Jiang menghela napas dalam-dalam. Laki-laki berwajah tegas itu mengganti pakaiannya tanpa tahu mengapa ia harus mengenakan pakaian seperti ini. Menanggalkan pedang dan semua perlengkapan bertarung di dalam tubuhnya, Ye Jiang tak ubahnya pelayan di rumah-rumah bangsawan yang biasanya mendampingi tuan muda mereka berjalan-jalan di sekitar pasar.
Ye Jiang adalah seorang pelayan, tapi ia pelayan sekaligus orang kepercayaan Pangeran Ketujuh, Murong Xingxu. Statusnya diperhitungkan karena keterampilan berpedang dan bela diri yang tinggi.
Ye Jiang lebih tua tiga tahun dari sang pangeran, namun begitu menghormati Murong Xingxu sebagai tuannya.
Suatu hari,
Pada perayaan musim dingin, saat semua ora bersuka-cita menyambut musim dingin.
Di sudut kota yang sepi, kotor dan tak terjamah.
Seorang anak laki-laki meringkuk di di samping tumpukan jerami, sambil berharap jerami-jerami itu mampu membantu tubuhnya tetap hangat. Anak laki-laki itu menggigil, kedinginan, dan kelaparan. Tubuhnya kurus dan kotor, nyawanya tidak berharga dan tidak memiliki daya untuk bertahan pada dunia yang kejam ini.
"Hei!"
Anak laki-laki itu menoleh, menatap takut pada anak laki-laki lain yang jauh lebih kecil darinya. Tapi memiliki mantel tebal dari sutra dan bulu hewan, yang mana menandakan dia berasal dari kalangan bangsawan.
"J—jangan!"
"A—ak—aku tidak mengganggu." ucapnya takut, sambil terus meringkuk seperti seekor anak burung yang kehilangan induknya.
"Xu'er, ada apa?"
"Ibu, kemarilah!"
Anak bermantel tebal itu memanggil seorang wanita dewasa datang menghampirinya, dan beberapa orang lagi berpakaian prajurit. "Ibu, bisakah kita membawanya?"
"Anak itu?"
"Iya, dia sangat kasihan." si anak laki-laki mengangguk, "Aku ingin dia menjadi pelayanku!"
Wanita dewasa itu adalah ibu dari anak laki-laki yang dipanggil Xu'er, seorang putri kerajaan yang terhormat, tutur kata lembut dan penyayang. Putri Huangning. Yang terpaksa menikah dengan Kaisar Murong kala itu demi janji perdamaian.
Merasa anaknya begitu teguh, sang ibu hanya bisa mengangguk. Dia berbicara kepada para prajurit untuk membawa anak laki-laki sebatang kara itu dan memberinya mantel tebal.
Dan, dari kisah itu dimulailah pengabdian panjang Ye Jiang untuk mengorbankan seluruh jiwa raga demi melindungi Murong Xingxu.
Kembali ke kediaman pangeran ketujuh.
Ye Jiang mengumpulkan dan mengikat rambutnya menjadi satu. "Apakah anda ingin menyelidiki sesuatu hingga harus berpakaian rakyat biasa seperti ini?"
"Katakan padaku, anda tidak perlu melakukannya sendiri, tuan!"
"Tidak!" tolak Murong Xingxu, "Aku tetap harus melakukannya sendiri, lagi pula ini bukan penyelidikan atau apapun, aku hanya ingin berjalan-jalan."
"Kemana?" tanya Ye Jiang.
"Paviliun Feng Luan."
Kening Ye Jiang langsung berkerut, "Memangnya apa yang ada disana?"
"Seseorang menungguku!"