NovelToon NovelToon
Admiral Of Bismarck: The Second War Rises In Another World

Admiral Of Bismarck: The Second War Rises In Another World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Barat
Popularitas:552
Nilai: 5
Nama Author: Akihisa Arishima

Bismarck telah tenggelam. Pertempuran di Laut Atlantik berakhir dengan kehancuran. Kapal perang kebanggaan Kriegsmarine itu karam, membawa seluruh kru dan sang laksamana ke dasar lautan. Di tengah kegelapan, suara misterius menggema. "Bangunlah… Tebuslah dosamu yang telah merenggut ribuan nyawa. Ini adalah hukumanmu." Ketika kesadarannya kembali, sang laksamana terbangun di tempat asing. Pintu kamar terbuka, dan seorang gadis kecil berdiri terpaku. Barang yang dibawanya terjatuh, lalu ia berlari dan memeluknya erat. "Ana! Ibu kira kau tidak akan bangun lagi!" Saat melihat bayangan di cermin, napasnya tertahan. Yang ia lihat bukan lagi seorang pria gagah yang pernah memimpin armada, melainkan seorang gadis kecil. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya telah bereinkarnasi. Namun kali ini, bukan sebagai seorang laksamana, melainkan sebagai seorang anak kecil di dunia yang sepenuhnya asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akihisa Arishima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Festival Panen

Setelah empat hari perjalanan yang melelahkan, rombongan Heinrich akhirnya tiba di Fischerdorf. Begitu kereta mereka memasuki desa, penduduk menyambut dengan penuh antusias. Senyum merekah di wajah mereka, beberapa anak berlari mendekat, melambaikan tangan ke arah August dan Anastasia. Di sini, manusia dan demi-human hidup berdampingan tanpa diskriminasi, hasil dari perjuangan panjang Heinrich selama lima tahun.

Seorang wanita paruh baya menghampiri dengan wajah penuh kegembiraan. "Tuan Heinrich! Nyonya Seraphina! Akhirnya kalian kembali!"

wanita paruh baya itu adalah tetangga seraphina, ia selalu membantunya ketika seraphina sedang kesusahan. terkadang ia selalu datang mengunjungi seraphina dan membantunya dalam pekerjaan rumah.

Seorang lelaki tua dengan tongkat kayu ikut menyambut. "ah... Nona seraphina, nona anastasia... bagaimana kabar kalian di drachenburg?"

Lelaki tua itu adalah suami dari tetangga wanita paruh baya itu. ia juga sering membantu seraphina dalam urusan kebun. terkadang ia membawakan beberapa sayuran dan buah segar kepada seraphina.

Anak-anak kecil berlarian mengitari August dan Anastasia. "Kak August, Kak Anastasia! Ayo bermain!"

Seraphina tersenyum hangat, menatap wajah-wajah penuh semangat di sekelilingnya. "Kami sangat senang bisa kembali. Bagaimana kabar panen tahun ini?"

Seorang perempuan paruh baya yang tampak seperti petani maju ke depan dengan penuh semangat. "Panen tahun ini sangat melimpah, Nyonya Seraphina! Kami bekerja keras, dan hasilnya lebih dari yang kami harapkan!"

Seorang pria bertubuh besar, yang dikenal sebagai juragan pengepul hasil panen, menimpali dengan bangga. "Mulai dari padi, gandum, kentang, lobak, kubis, hingga buah-buahan dan hasil ternak—semuanya berlimpah. Stok makanan kita cukup untuk mencukupi seluruh wilayah Drachenburg hingga satu tahun ke depan!"

Sorak-sorai dan tepuk tangan meriah terdengar dari para penduduk yang berkumpul. Ada yang membawa sekeranjang apel segar untuk diberikan kepada Heinrich dan rombongannya, sementara beberapa anak kecil menarik tangan August dan Anastasia, mengajak mereka bermain.

Anastasia menoleh ke arah Seraphina, matanya berbinar penuh harap. "Ibu, bolehkah aku bermain sebentar dengan mereka?"

August ikut menyela dengan nada penuh semangat. "Ayah, Ibu, bolehkah aku juga ikut?"

Seraphina tertawa kecil, menatap Liliana dan Heinrich. "Bagaimana? Sepertinya tidak ada salahnya membiarkan mereka bersenang-senang sebentar."

Liliana mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja, tapi jangan sampai terlalu larut, ya?"

Heinrich menoleh ke arah Rosewitha. "Rosewitha, bisakah kau menjaga mereka?"

Rosewitha langsung berdiri tegak dan memberi hormat dengan penuh semangat. "Siap, Tuan! Saya akan menjaga Nona Anastasia dan Tuan August dengan segenap jiwa dan raga saya!"

Heinrich terkekeh dan mengacak rambut August dengan lembut. "Baiklah, tapi tetaplah berhati-hati. Jika ada masalah, segera panggil Rosewitha, mengerti?"

"Siap, Ayah!" seru August, sementara Anastasia hanya tersenyum penuh percaya diri sebelum mereka berlari mengikuti anak-anak desa yang sudah menunggu.

"Terima kasih!" seru Anastasia dan August bersamaan sebelum berlari mengikuti anak-anak desa yang sudah menunggu mereka dengan penuh antusias.

Di sepanjang jalan menuju rumah Seraphina, suasana penuh kehangatan dan kegembiraan. Warga tak henti-hentinya menyampaikan rasa terima kasih mereka. "Terima kasih, Yang Mulia Heinrich! Tanpa perlindungan dan kebijakan Anda, kami tak akan mencapai kemakmuran seperti ini!" ujar seorang lelaki tua dengan penuh rasa hormat.

Heinrich tertawa kecil dan mengangkat tangannya. "Tidak perlu berterima kasih pada kami. Ini semua adalah hasil kerja keras kalian sendiri."

Seraphina menepuk bahu Heinrich sambil tersenyum. "Kau selalu merendah, seperti biasa."

Malam itu, mereka menetap di rumah Seraphina, sebuah rumah sederhana namun luas dengan dua lantai dan empat kamar tidur, cukup untuk menampung seluruh rombongan dengan nyaman. Malam pertama mereka dihabiskan dengan menikmati makan malam sederhana yang hangat, terdiri dari hasil panen desa yang melimpah. Suasana penuh keakraban dan kebahagiaan menyelimuti mereka saat mencicipi hidangan yang disajikan dengan penuh kasih oleh para penduduk.

Keesokan harinya, desa sibuk mempersiapkan festival panen. Heinrich dan beberapa prajurit membantu menata dekorasi di alun-alun, sementara Hana dan Maine bekerja di dapur, menyiapkan makanan khas musim panen. Rosewitha bertugas menjaga Anastasia dan August, yang tampak bersemangat bermain bersama anak-anak desa.

Saat memasang lentera di tengah alun-alun, Liliana melirik ke arah Heinrich yang sibuk membantu penduduk. "Aku tidak pernah melihatmu setenang ini, Heinrich. Biasanya kau selalu tegang dengan urusan politik."

Heinrich terkekeh, menyeka keringat di dahinya. "Di sini aku merasa berbeda. Tidak ada intrik, tidak ada politik, hanya kerja sama dan persaudaraan."

Liliana tersenyum. "Bangsawan atau bukan, dia tetap seorang pria yang peduli pada rakyatnya."

"kau benar liliana. walaupun dia bangsawan, dia tidak pernah merasa dirinya istimewa" ucap seraphina.

Saat malam tiba, festival panen resmi dimulai. Lentera-lentera dinyalakan, menerangi alun-alun dengan cahaya keemasan yang hangat. Aroma makanan memenuhi udara, dan tawa serta musik meramaikan suasana.

Heinrich naik ke panggung utama. Suaranya lantang, penuh kebanggaan. "Hari ini kita merayakan bukan hanya panen yang melimpah, tetapi juga persatuan kita. Kita berbagi kebahagiaan, tanpa memandang asal-usul. Mari kita nikmati malam ini dengan sukacita! BERSULANG!" serunya sambil mengangkat gelas penuh bir.

Sorak-sorai menggema di seluruh alun-alun. Penduduk desa bersulang, tertawa, dan menikmati malam yang penuh kebahagiaan. Anak-anak berlarian di antara stan makanan dan minuman, mata mereka berbinar penuh kegembiraan.

Di sepanjang alun-alun, berbagai stan makanan dan minuman berjejer, menghadirkan aroma menggoda yang memenuhi udara. Anastasia dan August terlihat menikmati suasana festival bersama anak-anak desa. Mereka berjalan dari satu stan ke stan lain, mencicipi aneka makanan khas desa.

"Wah, ini enak sekali!" seru August sambil menggigit sepotong kue madu.

Anastasia tertawa melihat adiknya yang lahap. "Coba yang ini, August. Roti panggangnya renyah dan punya isian keju!"

Seorang anak desa dengan semangat menyodorkan tusuk sate daging asap. "Nona Anastasia, ini juga enak! Kakekku yang membuatnya."

Anastasia menerimanya dengan senyum. "Terima kasih! Aku akan mencobanya."

Malam terus berlanjut dengan gelak tawa dan kebahagiaan, menciptakan kenangan indah yang akan selalu mereka ingat.

Seraphina duduk di salah satu meja, tersenyum melihat pemandangan itu. "Ini mengingatkanku pada masa lalu ketika kita masih seorang petualang."

Liliana yang duduk di sampingnya mengangguk. "Iya, dulu kita juga sering minum-minum, merayakan keberhasilan misi bersama teman-teman."

Heinrich mendekat, membawa gelas birnya dan duduk di samping mereka. "Bedanya, sekarang kita merayakan sesuatu yang lebih besar. Dulu kita bertarung demi kelangsungan hidup, sekarang kita merayakan kehidupan itu sendiri."

Seraphina tertawa kecil. "Tapi kau tetap tidak berubah, selalu membuat pidato yang penuh makna."

Di sisi lain, beberapa prajurit Heinrich bercengkerama dengan penduduk desa, saling berbagi cerita petualangan dan strategi bertarung. Malam itu dipenuhi dengan tawa, kehangatan, dan persaudaraan yang erat.

Festival berlangsung hingga larut malam, diiringi musik dan tarian. Penduduk desa bernyanyi, berdansa, dan merayakan hasil kerja keras mereka sepanjang tahun. Malam itu menjadi kenangan indah bagi semua yang hadir, sebuah bukti bahwa kebahagiaan sejati ada dalam kebersamaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!