Menjadi kaki tangan mafia, tidak menyurutkan peran ganda Mark Robert kali ini.
Duda memiliki anak satu, cantik dan cerdas itu. Tiba-tiba mengejar cinta seorang sekretarisnya. Setelah kegagalan perasaan cintanya atau hanya sekedar tanggung jawab dulu. Apakah Mark akan benar-benar jatuh cinta dan di cintai? Mengingat latar belakang hitam dirinya bukan menyurutkan wanita tidak menyukainya, malah mereka berharap dapat di sentuh pria beranak satu itu.
Selamat membaca kisah tuan Mark Robert sahabatnya Rendi Anggara ya Kak.
Salam hangat dari Herti Bilkis😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herti Bilkis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Apa
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak. Oh iya gabung group chat aku Kak ya, Emot senyum.
Mark menggelengkan kepalanya, ia menatap kearah Alea yang kini terdiam menyesali, apa yang ia lakukan ketika dirinya sangat bahagia tadi pagi, membeli banyak barang keperluannya bahkan hingga pakaian-pakaian bermerek ia beli di sana. Dan tidak memikirkan konsekuensinya jika ia membelinya menggunakan uang perusahaan terutama bosnya yang ada dihadapannya itu.
Setelah melihat Mark yang selesai makan dan pergi ke meja kerjanya, Alea terdiam masih belum memahami apa saja yang harus ia kerjakan.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Ah, saya Tuan? Emm saya ...."
"Kemari!" seru Mark dengan tatapan tajamnya.
Alea tertegun ketika mendengar suara Mark yang terdengar dingin dan menggema. Ia berjalan dengan perlahan, meski sesekali ia berjalan gontai karena heel yang sedikit mengganggunya. Namun ia berusaha berjalan dengan stabil. Kini dia berdiri tepat di hadapan Mark.
"Kamu tahu apa saja yang harus di lakukan sekertaris pribadi?" tanya Mark tanpa mengalihkan padangannya dari dokumennya.
"Eemm, saya ...."
"Jangan bilang kamu tidak tahu!" sela Mark.
"Saya memang gak tahu Tuan," jawab Alea pelan.
"Hmmm,"
"Apa! Tidak tahu?" teriak Mark.
'Astaga teriakannya menggema di telingaku,' batin Alea.
"Iya Tuan," Alea mencoba menjawab Mark.
"Bagus!"
"Hah! Tuan?" Alea tertegun.
"Mulai saat ini juga kamu bekerja di ruangan ini dan jangan melakukan apapun jika bukan perintahku!" jelas Mark.
"Eeh, apa Tuan?"
"Sana duduk! Nanti aku akan beritahu kamu apa saja yang harus kamu lakukan," tegas Mark.
"Eeh Tuan maksud anda ...."
"Duduk!" tegas Mark.
Alea tertegun mendengar perintah Mark dan ia berjalan menuju sofa dan duduk sesuai apa yang di perintahkan bosnya itu.
Cukup lama Alea terdiam di ruangan bosnya itu tanpa melakukan hal apapun. Namun dia semakin kesal ketika melihat bingkisan belnajaannya.
'Seumur hidup kayanya aku kerja buat bayar kalian doank!' batin Alea.
Mark duduk di meja kerjanya tanpa menghiraukan Alea, namun dia membuka resum milik sekertarisnya itu da mengerutkan dahinya ketika membaca formulir Alea.
"Kenapa makanan favoritmu itu?"
Mark bertanya membuyarkan lamunan Alea yang sedari tadi memikirkan cara dia membayar belanjaannya yang ada di hadapannya itu.
"Ah, iya Tuan," tanya Alea ragu-ragu.
"Kemari!" tegas Mark.
Alea terkejut mendengar suara Mark, meski ragu namun Alea betdiri dan berjalan menghampiri bosnya itu hingga berdiri tepat di samping Mark.
"Iya Tuan?"
"Ini!" Mark menunjukan resum Alea yang bertulisan makanan favorit Alea.
Alea tertegun, mendapati pertanyaan tuannya yang terlihat konyol menanyakan hal seperti itu padanya. Alea tersenyum tertahan namun ia tidak berani menertawakan bosnya yang terkenal dingin itu. Mark berbalik melihat Alea yang berjarak tidak jauh dimana dia berdiri tepat di sampingnya hingga terlihat jelas wajah keduanya satu sama lain.
"Eemm maaf Tuan," Alea menjadi salah tingkah.
"Kenapa?"
"Apanya Tuan?" tanya Alea.
"Ini!"
"Eeh, itu makanan favorit saya Tuan," jelas Alea.
"Kenapa itu?" tanya Mark.
"Yang mana maksud anda Tuan?" balas Alea.
"Eeh, itu tuan makanan khas Indonesia sangat saya sukai Tuan," jelas Alea.
"Aku gak nanya!" ucap Mark datar.
'Eh, diakan tadi nanya itu!' batin Alea.
"Ini!" tambah Mark.
"Iya itu makanan khas Indonesia Tuan dan saya lebih menyukainya," jelas alea.
Mark terdiam ketika mendengar penuturan Alea yang menjelaskan tentang makanan kesukaannya membuat tersenyum tipis. Mark merasa lucu ketika melihat tingkah Alea yang terlihat polos namun mudah kesal itu. Lalu ia membiarkan Alea melihat resumnya sendiri.
"Memang apa yang salah dengan ini Tuan?" tanya Alea mengerutkan dahinya.
"Yang salah itu kamu! Ngapain kamu disini?" tegas Mark.
Alea terkejut dan ia melihat kearah Mark yang menatapnya dengan tajam.
"Bukannya dia yang meminta aku untuk menghampirinya ya? Aneh deh nih si dingin ini! Dasar kutub utara!' batin Alea.
"Duduk!" tegas Mark.
Alea mengangguk dan berjalan meninggalkan Mark dan duduk di sofa.
'Apa dia sedang mengerjaiku, gara-gara aku pakai kartu tanpa batasnya?Siapa suruh ngasih kartu gak ada warningnya! Ya aku kebablasanlah!' batin Alea.
Tidak ada percakapan di antara keduanya, begitupun dengan Alea yang masih setia duduk di sofa ruangan Mark. Hingga jam istirahat Alea masih berada di sana, menunggu di perintah oleh bosnya itu.
"Kamu bisa buat kopi?" tanya Mark tidak mengalihkan pandangannya dari dokumennya.
"Eh, saya Tuan?" tanya Alea.
"Kau pikir aku bicara sama siapa?" balas Mark dingin menatap Alea.
'Habisnya kamu bicara tanpa memandang aku!' batin Alea.
"Saya bisa Tuan!" jawab Alea.
"Kopi hitam sedikit manis!" ucap Mark.
"Baik Tuan," balas Alea.
Alea berjalan keluar dari ruangan Mark, ia menghela nafas kasar ketika menutup pintu direktur itu.
"Akhirnya aku bisa keluar dari suangan pengap suara ini juga! Meski hanya membuat kopi saja, hihi aku kerja gara-gara apa coba? Karena dia bete sepertinya padaku!" gerutu Alea berjalan menghampiri tempat membuat kopi di perusahaan.
Alea berbicara sendiri dengan gelas kopi di tangannya, ia berjalan hingga tidak menyadari jika ada sesrorang yang menghampirinya.
"Apa kabar Nona Alea," sapa Aldi dari arah belakang Alea.
"Ah, iya hallo Pak, apa kabar juga?" jawab Alea tersenyum.
"Selamat bekerja disini bu Alea," ucap Aldi ramah..
"Bu? Ah iya makasih Pak Aldi," balas Alea ragu.
Alea merasakan ragu ketika berpapasan dengan Aldi, seorang pria yang mengajaknya untuk bekerja di perusahaan saat ini. Namun karena rasa terima kasihnya kepada Aldi. Alea berbincang dengan Aldi cukup lama, namun saat ia mengingat apa yang ia lupakan, Alea segera berpamitan kepada Aldi lalu membuat ulang kopinya yang sudah dingin.
"Ya ampun aku pakai salah lagi, bisa-bisa marah pria dingin itu karena aku membuat kopi saja lama sekali sama!" gerutu Alea.
Ia segera membuat kopi yang baru setelah membuat kopi yang baru lagi, Alea bergegas untuk berjalan ke ruangan direktur lagi dan masuk dengan perlahan, namun ia melihat Mark masih dengan dokumennya, ia tanpa menghiraukan Alea.
"Silakan kopinya Tuan," ucap Alea perlahan sembari menyimpan gelas kopi.
Mark sama sekali tidak menghiraukan Alea, namun dia segera mengambil kopinya tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumennya. Setelah itu kembali ke pekerjaanya memeriksa dokumen-dokumenya yang memang sudah lama ia Periksa. Setelah kembali dari Indonesia beberapa hari yang lalu.
Meski Alea tidak tahu pekerjaan seperti apa yang akan didapat. Namun untuk kali ini ia akan menuruti apapun jadi ucapkan oleh tuanya itu. Alea hanya duduk di sofa sesuai apa yang diperintahkan oleh tuannya. Pria dingin yang menurut Alea bahkan pria Kutub Utara yang sangat dingin, kini terlihat tampan ketika tengah bekerja sangat serius tanpa menghiraukannya.