NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam panas

Sensasi dingin pelumas itu memang sedikit meredakan gesekan yang terlampau menyiksa, namun ukuran dan desakan tubuh Elio yang kembali menghujam tetap membuat napas Aratala tersenggal di udara.

" hemmm ahhh "

"Bagus, Tala... teruskan," geram Elio rendah, memberikan pujian yang terdengar lebih mirip sebuah perintah mutlak di tengah erangan kesakitan yang lolos dari bibir istrinya.

Dengan jalur yang kini jauh lebih licin, Elio tidak lagi membuang waktu. Pria itu mulai memegang kendali penuh, menaikkan tempo dorongannya secara bertahap. Setiap hantaman terasa semakin dalam.

Cahaya lampu tidur yang temaram merefleksikan bayangan dua tubuh yang terikat dalam satu ritme yang semakin menderu di atas ranjang. Suara napas yang memburu dan erangan tertahan beradu dengan gesekan kain seprei yang kusut akibat cengkeraman tangan Aratala yang berusaha mencari pegangan di tengah badai kepedihan yang melanda.

🌴🌴🌴

Elio sama sekali tidak memberikan jeda. Pria itu menundukkan wajahnya, membiarkan napas panasnya menerpa kulit leher istrinya yang basah oleh keringat, sementara pinggulnya terus menghujam tanpa ampun. Setiap inci pergerakannya dirancang untuk menghapus perlawanan terakhir, memaksa Aratala untuk sepenuhnya tunduk pada realitas malam itu—bahwa tidak ada ruang untuk melarikan diri, dan tidak ada tempat berlindung selain di dalam rengkuhan sang suami yang menuntut kepemilikan mutlak.

Waktu seolah merayap begitu lambat bagi Aratala. Setengah jam berlalu dalam pusaran napas yang tersenggal, isakan yang kian melemah, dan hantaman ritme yang tak pernah kehilangan intensitasnya. Tubuh gadis itu terasaremuk redam, basah oleh keringat dingin yang bercampur dengan air mata yang telah mengering di sudut-sudut matanya.

"Sshh... sempit sekali, Tala..." desis Elio rendah, suaranya berubah serak dan bergetar hebat di dekat telinga gadis itu, mencerminkan puncak gairah liar yang tengah menguasai nalurinya.

Tubuh Aratala sudah terkulai lemas, tak lagi memiliki tenaga untuk melawan ataupun merintih dengan kencang; suaranya kini berubah menjadi isakan lirih dan desah napas tersenggal yang berpadu dengan derit ranjang kayu yang berguncang konstan. Keringat membasahi kulit keduanya, sementara cengkeraman tangan Elio di pinggul Aratala menyisakan kemerahan yang mencolok di atas kulit putih gadis itu—menjadi saksi bisu atas dominasi mutlak yang tak terbantahkan.

Tanpa memberi kesempatan bagi Aratala untuk sekadar menarik napas atau memulihkan tenaganya, Elio mencengkeram kedua pergelangan kaki istrinya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu menempatkannya bertumpu di atas kedua pundaknya.

Posisi itu memaksa tubuh Aratala terlipat sempurna, membuka sepenuhnya bagian paling rentan dari dirinya tanpa ada lagi ruang untuk berkelit. Dengan sudut hantaman yang kini langsung mengarah ke titik-titik terdalam, Elio kembali merangsek maju.

"Ahhh... s-sakit, pa Elio... kumohon...udah" rintih Aratala tertahan, suaranya hampir tak berbentuk di antara isakan putus asa tatkala tubuhnya kembali diempas oleh ritme yang kian menggila.

Elio mendengus berat, napasnya memburu panas di udara kamar yang pengap. Cengkeraman tangannya semakin menguat di paha Aratala, menahan tubuh gadis itu agar tidak bergeser sedikit pun, sementara pinggulnya terus menghujam tanpa ampun, menenggelamkan keduanya dalam puncak dominasi yang kian tak terkendali.

Elio menatap lurus ke bawah, menikmati setiap ekspresi ketidakberdayaan dan rasa sakit yang terpampang di wajah istrinya. Napas pria itu kian memburu, deru napasnya terdengar berat seiring dengan ritme pinggulnya yang semakin dipercepat, menuntut penyerahan mutlak hingga batas akhir kesadaran mereka berdua.

Suara gesekan dan kecap basah yang tercipta dari pertemuan kedua tubuh menggema jelas di kamar yang hening, tersamar oleh isakan lirih Aratala yang masih berjuang menetralisir napasnya yang tersenggal. Tubuhnya terasa begitu ringan sekaligus remuk redam setelah puncak kenikmatan dan kepedihan itu berpadu menjadi satu.

Namun, Elio sama sekali belum berniat menghentikan hukumannya. Pria itu menunduk, menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata dan peluh dengan tatapan penuh tuntutan. Cengkeramannya di paha Aratala semakin mengerat, memastikan posisi kaki di pundaknya tidak bergeser sedikit pun, sebelum ia kembali menghentakkan pinggulnya dengan ritme beringas untuk menyusul pelepasan yang telah di ambang batas.

"Sakit, Pa... udah..." rintih Aratala pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara isakan tertahan dan napasnya yang tersenggal hebat. Tubuhnya benar-benar terkulai lemas, kehilangan sisa-sisa tenaga untuk sekadar mempertahankan posisi.

Melihat kondisi istrinya yang sudah berada di ambang batas kesadaran dan tampak tak lagi sanggup menahan hantaman tersebut, Elio akhirnya menghentikan pergerakannya. Pria itu menarik diri perlahan, menurunkan kedua kaki Aratala dari pundaknya dengan hati-hati namun tetap tanpa kelembutan berlebih.

Elio menatap wajah istrinya yang pucat, basah oleh keringat dan air mata, sebelum melepaskan kungkungannya dan membiarkan tubuh Aratala berbaring longgar di atas ranjang yang kacau. Suasana kamar mendadak sunyi, menyisakan deru napas keduanya yang masih memburu di dalam keheningan malam.

Meski tubuh Aratala sudah gemetar hebat dan seolah kehilangan seluruh tulangnya di atas ranjang, denyut panas di dalam dada Elio sama sekali belum mereda. Pria itu menatap lurus ke arah istrinya yang terpejam rapat dengan napas tersenggal. Di balik ekspresi dingin dan dominannya, ada suatu kegelisahan yang mendesak—sebuah rasa penasaran dan rasa memiliki yang belum sepenuhnya terpuaskan oleh air mata maupun kepasrahan sang istri.

Elio menopang tubuhnya dengan sebelah tangan di samping kepala Aratala, mendekatkan wajahnya hingga napas panasnya kembali menyapu kulit pipi gadis itu.

"Belum, Tala..." bisik Elio parau, suaranya terdengar begitu dekat, rendah, dan penuh tuntutan yang menggetarkan udara malam.

Tanpa menunggu Aratala membuka mata atau memulihkan kesadarannya, tangan pria itu kembali terulur, mencengkeram rahang istrinya dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu untuk menerima tatapannya sebelum ia kembali merengkuh tubuh yang masih terkulai itu ke dalam pusaran dominasinya.

Tanpa memberi ruang bagi penolakan atau permohonan ampun, Elio kembali merapatkan tubuhnya. Tangan pria itu menelusup ke bawah pinggang istrinya, mengangkat dan mengunci tubuh Aratala sekali lagi dalam cengkeraman posesif, memaksa gadis yang sudah lemas itu untuk kembali menerima kehadiran sang suami dan menuntaskan apa yang masih tertunda dalam pusaran hasrat yang belum padam.

"Elio... kumohon, udah..." rintih Aratala putus asa, air matanya kembali meleleh membasahi bantal saat tubuhnya yang belum sempat memulihkan diri kembali dipaksa menerima beban tersebut.

Tanpa memedulikan rintihan lemah itu, Elio menenggelamkan tubuhnya lebih dalam lagi, merangsek maju dengan sudut hantaman yang langsung menyasar titik paling sensitif di dalam sana. Cengkeraman tangan pria itu di pinggang Aratala semakin mengunci, membuat setiap inci pergerakannya terasa begitu mutlak dan tak terelakkan.

Deru napas Elio kian memburu seiring dengan ritme yang kembali ia bangun—lebih lambat namun jauh lebih dalam, menuntut pelepasan yang sejak tadi tertunda di tengah ruangan yang dipenuhi oleh sisa-sisa ketegangan malam.

"ahhhh sak..itt"

Jeritan tertahan itu kembali lolos dari bibir Aratala, tenggelam di balik bantal saat hantaman yang begitu dalam dan tanpa ampun kembali merobek pertahanan tenaganya yang tersisa. Rasa perih yang teramat sangat menjalar di sekujur tubuhnya, membuat jemarinya mencengkeram kain seprei dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

"Sstt... tahan, Tala... sedikit lagi hemn" desis Elio rendah di dekat telinganya, suaranya terdengar serak, sarat akan ketegangan yang kian memuncak.

Alih-alih melunak, ritme pria itu justru semakin konstan dan menuntut. Setiap dorongan terasa semakin dalam, memanfaatkan kepasrahan mutlak sang istri untuk membawa hasratnya sendiri menuju batas akhir, tanpa peduli pada isakan pilu yang terus mengiringi setiap detik malam yang semakin larut.

Napas Elio semakin memburu, derunya terdengar berat dan memecah keheningan malam yang pekat. Cengkeraman tangannya di pinggang Aratala mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, mencerminkan ketegangan puncak yang sudah berada di ambang batas.

"Tala..." desisnya tertahan, menyebut nama itu dengan nada yang sarat akan tuntutan mutlak dan kepemilikan yang membakar.

Dengan satu dorongan terakhir yang beringas dan jauh lebih dalam dari sebelumnya, Elio menghentakkan pinggulnya telak. Seluruh pertahanan dan sisa tenaga tersisa terkunci dalam hantaman penutup tersebut, membiarkan pelepasan yang sejak tadi ia cari akhirnya meledak sempurna di antara deru napas mereka yang berpacu di atas ranjang yang basah oleh keringat.

Sensasi hangat dan pekat itu mengalir memenuhi bagian dalam tubuh Aleta, menjadi penanda tuntasnya gelombang hasrat yang sejak tadi membakar diri Elio

Elio membiarkan tubuhnya merosot menindih istrinya, menyembunyikan wajah di ceruk leher Aratala yang basah oleh keringat. Napas pria itu masih terdengar memburu dan tidak teratur, perlahan-lahan mereda seiring dengan detak jantung keduanya yang berpacu dalam satu irama yang sama di atas ranjang yang kacau dan sunyi.

🌴🌴🌴

Kegelapan malam dan sisa-sisa badai hasrat di atas ranjang perlahan digantikan oleh keheningan yang pekat. Elio masih membenamkan wajahnya di ceruk leher Aratala, merasakan naik turun dada gadis itu yang terengah-engah akibat kelelahan yang luar biasa.

Di dalam dekapan posesif itu, terselip satu keinginan gelap yang berakar jauh di dalam benak sang suami. Tatapan Elio menggelap dalam pekatnya kamar, menatap lurus ke dinding dengan pikiran yang hanya berputar pada satu tujuan mutlak.

Ia ingin benihnya tumbuh di dalam rahim istri kontraknya itu.

Bagi Elio, cincin pernikahan dan ikatan di atas kertas saja tidak pernah cukup untuk mengekang Aratala. Ia sekarang benar benar menginginkan aratala sepenuhnya—dan hanya dengan sebuah ikatan darah dan kehidupan baru yang tumbuh dari penyatuan mereka malam ini. Kehadiran seorang anak akan menjadi rantai tak kasat mata yang memastikan gadis itu tidak akan pernah memiliki celah untuk melarikan diri, selamanya terikat di bawah bayang-bayang kekuasaan dan dominasinya.

🌴🌴🌴

1
Tio Buki
Like iklan plus komen🙏👍
Nalara amora: makasihhh kaaa😭🙏
total 1 replies
Tio Buki
Semangat ya👍👍
Nalara amora: kaka juga semangat 🙏🤌🏻
total 1 replies
Tio Buki
Lanjut Thor 🙏🙏🙏
Nalara amora: iyaa kaaa😭
total 1 replies
Tio Buki
Iya
Tio Buki
Aku memang gila
Tio Buki
🤣🤣🤣🤣🤣
Tio Buki
Bahasa apa itu
Nalara amora: kaaaa😭😭🙏
total 1 replies
Tio Buki
Iya, sebentar
Tio Buki
Siapa panggil aku
Tio Buki
Nah betul kan
Nalara amora: apa ka yg bentuknya nihh🤣
total 1 replies
Tio Buki
Ngintip ya
Tio Buki
Jangan, iya
Nalara amora: kaaa😭
total 1 replies
Tio Buki
Tekan lah
Lasa Hardianti
Hati-hati loh Aratala ntar di hukum sma Elio cma gara-gara telpon nya ga diangkat /Facepalm/
Lasa Hardianti
Posesif amat sih Mas Elio/Facepalm/
Lasa Hardianti
Elio takut Bastian jadi saingannya/Chuckle/
Nalara amora: hehehe😭😭
total 1 replies
Lasa Hardianti
Cailah sa ae lu Elio bikin Aratala salting brutal🤣
Nalara amora: bisaa donk kaa🤭
total 1 replies
OlivéNoir
HUAAAHH PRIA MATANG
Nalara amora: pria matang 😭
total 1 replies
Lasa Hardianti
Loh berarti orang tua kandung Aratala kemana dong? Kok dia malah dibesarin di panti asuhan, ada backstory sedih kayaknya nih 😢
Nalara amora: hheeheh kaa😄
total 5 replies
Lasa Hardianti
Ku kira bakal jadi pacar ternyata langsung gas jadi istrinya, ibunya gercep juga/Chuckle/
Nalara amora: gecep bgt ka ini mahh 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!