Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Langkah kaki Zacheriyya yang tegap menyusuri koridor beton usai keluar dari area kantin mendadak terhenti paksa.
Sebuah cengkeraman tangan yang cukup kuat dan tiba-tiba mendarat di pergelangan tangan kirinya, menarik tubuhnya berbelok ke arah ceruk lorong samping yang agak sepi di dekat fasilitas gudang logistik.
Zacheriyya terperanjat. Insting militernya hampir saja memancing pergerakan takedown otomatis, sebelum matanya menangkap sosok pria berseragam PDH dengan tanda pangkat Kapten di pundaknya.
Kent.
"Kent? Apa yang kau lakukan?!" desis Zacheriyya menepis cengkeraman itu dengan gerakan tegas. Alisnya bertaut rapat, matanya menatap tajam pria dari masa lalu itu.
Kent tidak langsung meminta maaf. Pria dari San Diego itu menatap Zacheriyya dengan binar mata yang dipenuhi oleh kehangatan dan rasa penasaran yang sudah ditahannya selama bertahun-tahun.
"Apa tidak ada kesempatan lagi untukku, Zach?" tanya Kent langsung tanpa basa-basi, suaranya terdengar begitu dalam dan menuntut.
Zacheriyya membeku. "Apa maksudmu, Kent?"
"Dua tahun ini aku menahan diri untuk tidak mendekatimu," lanjut Kent, melangkah satu tindak mendekati Zacheriyya dengan pandangan yang jujur. "Aku mencoba mengerti dan menghargai kesibukanmu di New York dan markas pusat. Tapi aku perhatikan, kau tidak lagi se-terisolasi dan sibuk seperti saat kita berpacaran dulu. Cara bicaramu, caramu bergerak... kau terlihat jauh lebih tenang. Bisakah kau berikan aku kesempatan kedua, Zach? Aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu sejak hari di mana kau memutuskanku tanpa alasan jelas dulu."
DEG!
Jantung Zacheriyya serasa berhenti berdetak seketika. Tubuhnya mematung kaku di bawah remang bayang-bayang lorong. Rasa bersalah dari masa lalu kembali menghantam dadanya bagaikan gelombang dingin.
"Kent... maaf—" suara Zacheriyya bergetar pelan, lidahnya terasa kelat untuk menyusun kalimat penolakan yang paling halus.
"Jangan jawab sekarang, Zacheriyya. Aku tidak siap mendengarnya," potong Kent cepat, mengangkat sebelah tangannya di udara.
Pria itu menghela napas panjang, menatap Zacheriyya dengan pandangan pasrah namun dipenuhi harapan. "Aku hanya ingin menyampaikan apa yang mengganjal di dadaku selama dua tahun ini. Jadi... jika kau mau memberiku kesempatan dan menerima perasaanku, bisakah kita bicara berdua di taman belakang markas malam nanti pukul delapan? Dan... jika kau tidak hadir, aku akan mengerti. Berarti kau kembali menolakku secara mutlak."
Tanpa menunggu balasan lagi dari Zacheriyya, Kent berbalik badan dan melangkah pergi menyusuri lorong dengan langkah cepat.
Zacheriyya tetap mematung di tempatnya. Hawa dingin merayap ke sekujur tubuhnya saat mata Zacheriyya tak sengaja melirik ke arah lorong utama di depannya.
Di sana—hanya berjarak lima langkah dari lokasi Kent menarik tangannya tadi—berdiri sosok Evander Vale-Knight.
Pria Knight itu berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana latihannya. Rambut cokelat gelapnya sedikit terurai di dahi. Wajahnya begitu datar, hampir tanpa ekspresi, namun binar mata cokelatnya menatap lurus ke arah Zacheriyya dengan kedalaman yang teramat pekat.
Pria itu jelas berjalan tepat di depannya saat keluar dari kantin tadi. Dan pria itu... pasti mendengar setiap patah kata yang diucapkan Kent tanpa ada satu pun yang terlewat.
Zacheriyya menahan napasnya, mencoba membaca ekspresi Kekasihnya. Namun Evander tidak mengamuk. Pria itu tidak menunjukkan reaksi meledak-ledak seperti biasanya. Ia hanya mengangguk tipis ke arah Zacheriyya—sebuah isyarat rahasia yang teramat tenang—lalu kembali berjalan menyusuri koridor seolah tidak terjadi apa-apa.
Ketenangan Evander justru membuat dada Zacheriyya makin berdebar kencang oleh ketidakpastian.
Pukul 20.00 malam.
Taman belakang Markas Komando EOD Pusat Los Angeles diselimuti oleh keheningan malam yang pekat. Lampu-lampu taman berwarna kuning hangat memancarkan pendar redup di antara pepohonan pinus dan kursi-kursi kayu panjang.
Udara malam terasa sangat dingin, menghembuskan angin tipis yang menerpa dedaunan.
Kent berdiri di samping salah satu tiang lampu taman, melipat kedua tangannya di dada. Jarum jam tangan militernya menunjukkan pukul delapan pas.
Pria itu sesekali melirik ke arah jalan setapak, menantikan kehadiran sosok wanita yang dicintainya selama ini.
Suara gesekan sepatu di atas kerikil taman terdengar mendekat.
Kent mendongak dengan senyuman kecil yang mulai terkembang. Namun, senyuman itu membeku seketika dalam kurun waktu satu detik.
Bukan Zacheriyya yang berjalan mendekatinya di bawah pendar lampu taman.
Sosok yang melangkah tegap ke arahnya adalah seorang pria bertubuh raksasa, berpundak lebar, mengenakan kaos polos hitam yang membungkus ketat otot dadanya.
Tatapan matanya tajam, tajam bagaikan elang yang sedang mengunci mangsanya dalam kegelapan.
Evander Vale-Knight.
Kent mengerutkan alisnya dalam-dalam, raut wajahnya mendadak berubah kaku dan tidak bersahabat. "Kau... peserta dari pelatihan warga sipil, kan? Apa yang kau lakukan di taman?"
Evander menghentikan langkah kakinya tepat tiga langkah di hadapan Kent. Postur tubuh Evander yang lebih tinggi dan tegap secara alami menciptakan dominasi fisik yang sangat menekan di udara malam.
"Bisakah kau melupakan istriku?"
Kalimat itu terucap dari bibir Evander dengan nada suara bass yang begitu dingin, datar, dan bergetar halus oleh ketegasan mutlak.
Kent terkekeh sinis, menggelengkan kepalanya melihat "pria halusinasi" yang sempat dibicarakan orang-orang di kantin siang tadi kini berdiri di depannya.
"Kau lagi?" sahut Kent acuh tak acuh, menatap Evander dengan pandangan meremehkan. "Dengar, Peserta Evander... aku tidak tahu trauma atau halusinasi apa yang sedang kau derita di markas ini, tapi aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu soal 'istri'. Aku sedang menunggu seseorang."
"Istriku sedang hamil," potong Evander dingin, matanya sama sekali tidak berkedip.
Kalimat manipulasi emosional yang terlontar dari bibirnya terasa begitu nyata dan meyakinkan. "Dan kau... Kapten Kent dari San Diego, kumohon kau harus tahu diri."
Kent mendesis geram, ketenangannya mulai terganggu oleh kecemasan bahwa Zacheriyya tidak akan datang. "Dengar, Kurang Ajar! Jangan bertingkah gila di depanku! Siapa yang kau maksud istri, huh?! Aku tidak peduli siapa istri halusinasimu itu!"
Evander menarik tangan kanannya dari saku celana. Pria itu tidak menggunakan kekerasan fisik.
Dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, Evander mengeluarkan ponsel pintarnya, memutar layarnya, lalu menyodorkan tampilan layar itu tepat di depan wajah Kent.
"Buka akun ini," bisik Evander dengan senyuman miring yang begitu misterius dan mengintimidasi.
"@ZCander."
Kent menatap layar ponsel itu dengan dahi berkerut bingung. "@ZCander? Apa ini?"
"Itu nama akun sosial media milik Zacheriyya," jawab Evander santai, menyandarkan satu tangannya di saku celana.
"Nama akun rahasia yang dibuat gabungan dari namaku dan namanya sejak delapan tahun lalu. Akun yang tidak pernah diketahui oleh rekan kerja atau perwira mana pun di markas ini."
Jantung Kent berdesir aneh. Rasa penasaran bercampur firasat buruk memaksa jemarinya menyentuh layar ponsel tersebut.
Akun dengan nama panggung @ZCnder itu terbuka secara utuh.
Sebuah akun privat yang tidak menggunakan nama asli Zacheriyya, namun di dalamnya... terpampang sebuah dunia yang sama sekali tak pernah dibayangkan oleh Kent.
Foto profil akun itu adalah gambar siluet dua orang yang sedang berciuman di atas kap mobil balap di bawah sinar bulan.
Dan ketika Kent menggeser galeri foto di akun tersebut, matanya membelalak lebar dalam horor ketidakpercayaan yang menyayat hati!
DUARRRR!
Dunia di sekitar Kent seolah-olah meledak menjadi serpihan kecil.
Di dalam galeri akun yang masih sangat aktif hingga hari ini—akun yang tak pernah dihapus satu pun foto di dalamnya oleh Zacheriyya—terpampang ribuan koleksi foto kebucinan dan keintiman tingkat tinggi selama delapan tahun terakhir!
Di sana ada foto Zacheriyya—wanita yang selama ini dikenal sangat dingin, tertutup, dan kaku—sedang tertawa lepas digendong di punggung Evander di tepi pantai Malibu.
Ada foto Zacheriyya sedang mencium pipi Evander di dalam kokpit mobil balap dengan kemeja balap yang terbuka setengah.
Ada foto mereka berdua berpelukan mesra di dalam kamar dengan cincin couple yang melingkar manis di jari manis Zacheriyya.
Bahkan foto-foto terbaru dalam dua tahun terakhir—foto saat Zacheriyya tertidur lelap di dada telanjang Evander—masih tersimpan rapi dengan caption-caption romantis penuh cinta dari masa lalu yang tak pernah pudar.
Ratusan, bahkan ribuan koleksi foto kebucinan melimpah ruah di sana.
Bukti otentik dan tak terbantahkan bahwa Zacheriyya tidak pernah bisa berpaling atau melupakan pria di hadapannya ini—bahkan saat wanita itu dalam keadaan paling marah atau kecewa sekalipun.
Tangannya gemetar hebat memegang ponsel itu. Napas Kent memburu, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.
"Ini... ini tidak mungkin..." rintih Kent parau, matanya menatap foto-foto itu dan wajah Evander secara bergantian. "Cherry... Cherry tidak pernah cerita kalau dia punya kekasih... Dia selalu tertutup..."
Evander mengambil kembali ponselnya dari genggaman Kent yang lemas. Pria Knight itu menyunggingkan senyuman dominan—senyuman dari seorang pemenang sejati yang hak mutlaknya tak akan pernah bisa diganggu gugat.
"Kau hanya persinggahan singkat satu bulan saat kami sedang bertengkar dulu, Kapten Kent," bisik Evander dengan suara rendah yang menusuk tepat di pusat kesadaran Kent.
"Zacheriyya tidak pernah menjadi milikmu. Hatinya, jiwanya, dan seluruh hidupnya... dari delapan tahun lalu hingga hari ini... sepenuhnya adalah milikku."
Kent terpaku mematung, dadanya dihantam oleh rasa hancur dan malu yang teramat sangat.
Seluruh harapan dan lamarannya malam ini runtuh seketika di hadapan kenyataan pahit bahwa ia hanyalah bayang-bayang semu dalam sejarah cinta abadi dua insan tersebut.
Evander berbalik badan, merapikan kaos hitamnya, lalu melangkah pergi meninggalkan Kent sendirian dalam kegelapan taman—membawa kembali kemenangan mutlak atas wanitanya.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua