NovelToon NovelToon
Cinta 'Terkontrak'

Cinta 'Terkontrak'

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Romansa / Slice of Life / Chicklit
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Luckygurl_

Senja Maharani, seorang sekretaris muda yang cerdas, ceroboh, dan penuh warna, di bawah asuhan Sadewa Pangestu, seorang CEO yang dingin dan nyaris tak berperasaan. Hubungan kerja mereka dipenuhi dinamika unik: Maha yang selalu merasa kesal dengan sikap Sadewa yang suka menjahili, dan Sadewa yang diam-diam menikmati melihat Maha kesal.

Di balik sifat dinginnya, Sadewa ternyata memiliki sisi lain—seorang pria yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan dan keberanian Maha. Meski ia sering menunjukkan ketidakpedulian, Sadewa sebenarnya menjadikan Maha sebagai pusat hiburannya di tengah kesibukan dunia bisnis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckygurl_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik fakta, gagal move on.

Beberapa hari terakhir, pikiran Maha terus diselimuti kegelisahan. Sejak kejadian di dapur Sadewa, hatinya merasa terusik. Maha menjadi pendiam dan setiap kali berpapasan dengan Sadewa, ia memilih untuk membuang muka.

Ada kemarahan yang menggelegak di dalam dirinya. Bukan karena ia ingin terlihat suci, tapi karena tindakan Sadewa yang terasa begitu lancang. Mereka bukan sepasang kekasih yang nyata—hubungan mereka hanyalah atas dasar kontrak. Perasaan ditipu perlahan menyelimuti hatinya.

Ponselnya bergetar, memunculkan pesan yang sejenak membuyarkan pikirannya.

From: Mas Danu - Maha, aku tunggu di kantin, ya.

Maha membaca pesan itu dengan hati yang sedikit lebih ringan. Sudah cukup lama ia tidak berbincang santai dengan Danu. Terlebih keberadaan pria itu selalu membawa rasa nyaman, sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini. Tanpa pikir panjang, Maha segera beranjak dari tempatnya, meraih ponsel dan melangkah keluar menuju kantin Angkasa Corporation.

Bertemu dengan Danu membuat jantung Maha berdebar-debar. Setelah sekian lama terbelenggu oleh Sadewa, ia nyaris melupakan kehadiran Danu yang selalu memberi warna dalam hidupnya.

Ditengah keramaian kantin Angkasa Corporation, mata Maha langsung tertuju pada sosok yang akrab itu. Danu, dengan senyum khas dan pesona gigi kelincinya, melambaikan tangan. Isyarat sederhana yang membuat hati Maha sedikit lebih ringan.

“Maaf ya, Mas. Lama nunggu?” Ucap Maha sambil tersenyum tipis, menarik kursi di depannya dan duduk.

“Nggak apa-apa, Maha. Nggak lama, kok,” balas Danu. “Mau pesen apa? Biar aku aja yang pesenin,” tawarnya, penuh antusiasme.

“Apa aja deh, Mas… yang penting minumannya dingin,” jawab Maha, malu-malu. Merasakan kehangatan dalam perhatian Danu.

“Oke, tunggu sebentar ya,” ucap Danu sebelum beranjak ke konter pemesanan.

Maha memperhatikan Danu yang berjalan menjauh, hatinya diliputi rasa syukur. Di tengah badai yang melanda hidupnya, Danu, hadir seperti angin sepoi-sepoi yang menenangkan. Memberinya secercah harapan ditengah kerumitan hidupnya.

Melihat perhatian yang Danu berikan, Maha merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya, membangkitkan rasa nyaman yang jarang ia rasakan. Berbeda jauh dengan perasaan yang hadir setiap kali ia berhadapan dengan Sadewa, yang lebih sering membuatnya merasa terperangkap.

Sesaat kemudian, Danu kembali ke meja membawa tray berisikan makanan dan segelas jus jeruk segar. Sementara Maha, menelan ludahnya saat melihat kesegaran jus yang ditawarkan Danu dengan senyum yang begitu tulus.

“Makasih ya, Mas,” ucap Maha, menatap Danu dengan lembut.

“Sama-sama, Maha.” jawab Danu.

Beberapa saat, keheningan mengisi diantara mereka. Suasana kantin yang ramai terasa seperti menghilang, menyisakan hanya mereka berdua yang menikmati makan siang bersama. Maha, yang terbiasa dengan tata cara makan yang baik, memilih untuk fokus menyantap makanannya terlebih dahulu sebelum memulai percakapan. Sesekali ia juga melirik Danu yang tampak tenang menikmati hidangannya, memberinya rasa damai yang sudah lama ia rindukan.

“Ah, kenyang sekali aku…” seru Danu mengerang sambil mengusap perutnya dengan ekspresi puas.

Melihat itu, Maha tersenyum kecil. “Gimana kerjaan, Mas? Lancar?” Tanyanya, membuka obrolan.

“Lancar, kok. Kamu sendiri gimana? Masih sering di kerjain sama Sadewa?” Jawab Danu santai, meskipun ada kekhawatiran yang terselip di matanya.

“Ya begitulah, Mas. Tapi, aku nggak apa-apa. Kan, bayarannya juga gede,” balas Maha dengan tawa kecil yang terdengar hambar.

Danu memperhatikan wajah Maha dengan seksama, mencari kebenaran dibalik senyum itu. “Kamu baik-baik aja, ‘kan, Maha? Nggak ada sesuatu yang lagi kamu sembunyikan dariku, ‘kan?” Tanyanya, penuh perhatian.

“Nggak, Mas Danu. Emangnya aku kenapa? Aku baik-baik aja, beneran…” jawab Maha menggeleng pelan, meyakinkan Danu meskipun ada rasa cemas yang tertinggal di matanya.

“Soalnya, sejak terakhir kali kita ketemu di ruangan kamu, terus ada Sadewa. Kamu jadi lebih banyak diem dan sering mengabaikan pesan dariku. Apa Sadewa ngelarang kamu untuk tidak berinteraksi dengan ku lagi?” Jelas Danu menebak, sorot matanya penuh rasa ingin tahu.

Mata Maha terbuka lebar, sedikit panik. “N-nggak, kok. Lagian apa hubungannya sama kamu, Mas? Dan untuk apa, Pak Sadewa, ngelarang aku buat nggak boleh interaksi sama kamu? Emangnya aku ini siapa?” Jawabnya dengan suara terbata-bata, mencoba menyangkal mesti hatinya bergetar.

“Ya siapa tahu aja, Maha,” balas Danu. “Padahal aku, tuh, pengen banget ngajak kamu makan, nonton, sama dinner. Tapi, kayaknya kamu sibuk banget. Jadi, akunya sungkan mau ngajak,” lanjutnya terlihat murung sambil memainkan sendok di piring.

Maha menghela nafas, berusaha menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya. “Bahkan aku sendiri aja nggak ada waktu untuk istirahat dengan tenang, Mas. Ada aja kerjaan. Rasanya hari Minggu, tuh, nggak ada di kalender ku,” ujarnya.

Danu menatap Maha dalam-dalam, melihat kelelahan dan kesedihan yang tersirat dibalik senyumnya yang dipaksakan. “Berarti, Sadewa benar-benar memperlakukanmu dengan tidak manusiawi, ya?” tebak Danu prihatin.

“Eh, nggak gitu, Mas!” Maha buru-buru membantah. “Aku, 'kan, sekertaris. Jadi, aku juga ikut jam kerjanya, Pak Sadewa. Kadang, kalau hari Minggu mendadak ada meeting, ya aku ikut. Jadi, itu yang aku maksud, hari Minggu kayak nggak pernah ada di kalender ku.” Jelasnya dengan tergesa-gesa, berharap Danu tidak salah paham.

Aduh, jangan sampai Mas Danu salah paham, batin Maha cemas.

“Oh, gitu. Tapi, kalau kamu capek. Istirahat, ya. Jangan terlalu memforsir tenaga biar nggak sakit, oke?” Danu mengangguk dengan senyum yang menampilkan deretan gigi rapi.

Senyuman Danu seperti sihir yang memikat Maha, seolah menghapus semua kegelisahan dan kelelahan yang membelenggu hatinya. Dalam senyum itu, Maha menemukan secercah ketenangan yang telah ia rindukan. Obrolan hangat dengan Danu di kantin yang ramai, menjadi oase ditengah padang gurun kesibukan dan tekanan yang mendera Maha. Sejenak, ia merasa bisa melupakan segala masalah yang mencengkram hatinya, larut dalam suasana nyaman yang ditawarkan Danu.

...****************...

Asap cerutu melayang-layang di udara, memenuhi ruangan VIP dengan nuansa industrial di kafe Oxuz. Saka, bersama beberapa temannya, meluangkan waktu ditengah padatnya rutinitas mereka. Dibalik kesibukan, momen ini adalah pelarian singkat yang mereka nikmati.

Saka, pria bertubuh jangkung dengan percaya diri yang begitu tinggi, mengklaim dirinya sebagai pria paling tampan sedunia. Ia duduk santai dengan kaki disilangkan, cerutu ditangan, menikmati tiap sedotan perlahan. Jas rapi masih melekat di tubuhnya, mempertegas kesan profesional. Jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya dan sepatu pantofel dari desainer ternama Paris, menambahkan aura kemewahan yang sulit diabaikan.

Senyuman tipis bermain di bibirnya, memancarkan pesona dan kewibawaan yang membuatnya tampak begitu karismatik. Dibawah sorot lampu hangat ruangan itu, Saka memancarkan aura tenang, seolah dunia luar yang penuh hiruk-pikuk tak mampu menyentuhnya.

“Sudah hampir dua Minggu ini, Sadewa tidak pernah ikut berkumpul dengan kita, ya?” Ucap Saka, sembari menghembuskan asap cerutunya dengan santai.

Dani, yang duduk tidak jauh dari Saka, pun terkekeh kecil. Ia meneguk minumannya sebelum merespon. “Kayaknya, Sadewa, lagi sibuk memikirkan strategi buat ngedeketin sekertaris nya itu, deh,”

“Maha, ‘kan, namanya?” Yuda menyahut, penasaran.

“Iya, Senja Maharani,” jawab Saka sembari menghisap cerutunya lagi.

Toni, yang sedari tadi diam, ikut menimpali. “Kenapa harus dia yang jadi objek taruhanmu, Ka? Cewek yang lebih cantik dan mempesona banyak diluar sana,”

Saka menoleh ke arah Toni, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. Matanya menyiratkan sorot tajam, seolah ucapan Toni barusan menyulut sesuatu dalam dirinya.

“Memang. Tapi, Maha, berbeda,” jawab Saka tegas. “Dia punya daya tarik yang tidak dimiliki orang lain. Aku yakin, kalau kalian melihat, Maha, lebih dekat. Kalian juga akan terpesona dengan kecantikannya.”

Ruangan itu pun sejenak sunyi. Teman-teman Saka hanya terdiam, merenungi kata-kata yang baru saja di lontarkan. Saka, yang sadar akan reaksi mereka, pun terkekeh pelan. Dibalik senyumnya, pikirannya kembali melayang pada Maha.

Kenapa objeknya harus, Maha? Batin Saka, sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan, sementara aroma cerutu yang masih melayang di udara memberikan kesan elegan yang melekat di tempat itu.

Dua tahun lalu, kenangan manis itu kembali berputar di benak Saka Dirgantara. Hari yang membuat hatinya melambung tinggi, ketika ia dengan penuh harap melamar Senja Maharani, gadis yang begitu ia puja, di pulau pribadi milik keluarganya. Saka, merasa seakan dunia berada di bawah kakinya.

Hubungan mereka telah terjalin selama dua tahun. Bagi Saka, Maha itu adalah segalanya. Namun, bagi Maha, Saka itu hanyalah teman pria yang baik dan penuh perhatian. Tidak ada ikatan resmi diantara mereka, selain komitmen yang Saka yakini cukup untuk mengikat hati Maha.

Kala itu, dibawah langit yang berwarna jingga keemasan. Saka, berlutut di hadapan Maha. Harga dirinya yang tinggi ia kesampingkan, demi menyatakan keinginannya yang terdalam. Wajahnya memancarkan ketulusan, sementara jantungnya berdegup kencang, menunggu jawaban dari gadis yang telah mencuri hatinya.

“Maha, aku sudah menunggu saat ini sejak lama. Untuk mengucapkan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala kemungkinan. Bermunajat kepada Tuhan untuk memastikan pilihan ini benar. Berkali-kali aku bertanya pada hatiku, apakah ini keputusan yang tepat? Dan berkali-kali pula, jawabannya tetap sama—itu kamu. Will you marry me?”

Wajah Saka memancarkan ketulusan, sementara jantungnya berdegup kencang. Matanya berkaca-kaca serta perasaan gugup dan harap bercampur aduk di dadanya. Saka menatap Maha dengan penuh cinta, menanti jawaban yang bisa mengubah hidupnya selamanya

Sementara Maha, terkejut. Hatinya bergetar mendengar ungkapan penuh cinta itu. Namun, dibalik rasa terkejut, ada keraguan yang menyesak di dadanya. Belum siap, Maha tahu betul dirinya belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Walaupun masa depan cerah telah terbentang di depan matanya, mengingat Saka Dirgantara adalah seorang CEO sukses dibidang ekspor dan impor, hati Maha tetap gamang.

Terlepas dari segala kemewahan yang Saka tawarkan, Maha, tidak mencintai pria itu dalam arti yang diharapkannya. Baginya, Saka, adalah sosok kakak yang peduli, yang selalu ada untuknya. Tapi cinta? Perasaan itu tidak tumbuh seperti yang Saka inginkan.

“Maaf, Mas Saka. Aku tidak bisa menerima lamaranmu.” Jawab Maha bergetar.

Seketika, dunia Saka Dirgantara runtuh. Jawaban Maha bagai petir yang menyambar, menghancurkan semua harapan yang selama ini ia bangun. Harga dirinya terasa tercabik, meski ia berusaha mempertahankan wibawanya. Tanpa bertanya lebih lanjut, tanpa menuntut penjelasan. Saka berdiri dengan gerakan kaku. Tangannya gemetar saat mencengkram kotak cincin berlian itu sebelum ia melemparkan nya ke laut yang tenang. Gelombang kecil seolah menyapu simbol cinta yang kini tak berharga. Saka pergi, meninggalkan Maha Dengan langkah mantap, namun hatinya rapuh.

Penolakan Maha sudah cukup. Saka tidak butuh alasan lebih, tidak ingin mendengar kata-kata yang mungkin akan memperparah luka. Ia bukan pria yang suka bertele-tele, namun untuk Maha, ia rela menunggu dua tahun. Dan kini, semua penantian itu hanya berakhir dengan sebuah penolakan.

Saka yang kini duduk di ruangan VIP kafe, terselubung dalam kenangan pahit dua tahun silam. Asap cerutu melingkari wajahnya, tapi tak mampu menutupi kekecewaan yang tergurat disana. Tangannya meremas kuat, rahangnya mengeras saat ingatan itu kembali menghantam, membawa perih yang belum pernah sepenuhnya hilang.

Dibalik topeng ketenangan, Saka masih berjuang menerima kenyataan. Perasaan yang ia simpan begitu lama, kini hanya tinggal kenangan yang menghantui. Meskipun ruangan itu dipenuhi canda tawa teman-temannya, Saka tetap terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, merasakan sakit yang sama, seolah baru terjadi kemarin.

Sadewa…

Nama itu terlintas di benak Saka, menimbulkan senyum tipis di sudut bibirnya. Aku tidak akan menggunakan tanganku untuk membalas rasa sakit ini, batinnya. Tapi, Sadewa… Saka tersenyum kecil, suaranya rendah yang sarat dengan kegetiran. Dia yang akan melakukannya untukku, batinnya lagi.

Bagi Saka, taruhan itu bukan sekedar permainan biasa. Itu adalah cara halus namun tajam untuk membalas dendam atas penolakan Maha. Baginya, rasa sakit yang Maha berikan tidak boleh berlalu begitu saja. Melalui Sadewa, Saka yakin luka yang ia rasakan akan terbalaskan dengan cara yang lebih mendalam. Sebuah pembalasan yang perlahan namun pasti.

Saka bisa membayangkan bagaimana Maha akan beraksi saat bertemu dengannya nanti. Ada rasa puas yang menjalari setiap sudut hatinya, meski dibalik itu, masih tersimpan kekecewaan yang belum terhapus.

Saka menyesap cerutunya sekali lagi, menatap ke arah luar jendela, membiarkan asapnya mengepul perlahan. Di dalam ruangan itu, Saka merasa dirinya telah mengendalikan kembali permainan.

1
Bunda Mimi
thor bab 21 dan 22 nya kok sudah tidak ada ya
Bunda Mimi: ok siap thor
Lucky ᯓ★: terimakasih atas dukungannya kak, dan mohon maaf jika nanti update ulang dengan isi yang sama. aku revisi karena biar lebih nyaman untuk dibaca, juga ini saran dari editor saya
total 4 replies
Wayan Sucani
Luar biasa
Wayan Sucani
Rasanya berat bgt
catalina trujillo
Bikin ketawa sampe perut sakit.
Lửa
Ngakak sampai sakit perut 😂
Kiyo Takamine and Zatch Bell
Asiknya baca cerita ini bisa buat aku lupa waktu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!