NovelToon NovelToon
RICH MAN

RICH MAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:10.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mira Indriani

Hidup ini terlalu berat bagi mereka yang selalu mengeluh. Rumit karena sebagian orang lebih mementingkan ego sendiri dibandingkan memikirkan hati orang lain. Tak sedikit yang berakhir dengan penyesalan. Barangkali setiap duka yang terasa adalah sebuah ujian yang sedang menguji perasaan dan kesabaran. Banyak yang memilih mengakhiri dibandingkan memperbaiki, kemudian menyesal dihari kemudian. Berharap sesuatu yang hancur akan kembali lagi. Tidak semua yang hancur semua yang hancur bisa diperbaiki lagi. Akan tetapi sesuatu yang rusak, barangkali bisa diperbaiki meski tidak utuh. Begitupun dengan rumah tangga, banyak lika-liku kehidupan yang akan dilewati.

Ikuti kisahnya di RICH MAN.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LEKAS SEMBUH

Beberapa waktu setelah

tinggal berdua di rumah barunya, Azka dan Nagita semakin dekat dan

hubungan mereka pun semakin membaik meski seringkali terjadi

pertengkaran kecil saat Azka mulai sibuk dengan pekerjaannya. Namun

bagaimanapun juga ia berusaha untuk menyesuaikan waktu bekerjanya dengan

Nagita. sebagai kepala keluarga, ia mengalah dan menuruti keinginan

Nagita. Usia kandungan Nagita yang memasuki sembilan bulan, Azka semakin

berhati-hati sebab perkiraan melahirkan tinggal tiga minggu lagi.

Pagi hari Azka terbangun

dari tidurnya sambil memeluk Nagita yang tengah demam selama dua hari,

selama itu pula ia meninggalkan pekerjaannya demi merawat istrinya

dengan baik. Perempuan itu terus memanggil nama orang tuanya yang

membuat Azka merasa kasihan dan meminta Dimas untuk datang ke rumah baru

mereka.

Melihat keadaan Nagita

yang semakin hari semakin lemas, Azka menjadi tidak tega walau hanya

meninggalkannya sebentar saja. Ia sudah mendatangkan dokter untuk

memeriksa Nagita, tetapi justru istrinya itu semakin sering mengigau.

Pukul sebelas siang, Dimas datang menjenguk Nagita dan langsung

dipersilakan masuk oleh Azka.

"Sejak kapan dia begini?"

"Dua hari yang lalu,"

"Sudah di bawa ke dokter?"

"Sudah, Dim. Cuman dia sering manggil nama orang tua,"

Dimas mengganti kompres

Nagita dan membetulkan selimut adiknya. "Nggak apa-apa. Dia memang

begini kalau sakit, tetap temani. Dia sudah minum obat?"

"Sudah tadi pagi, tinggal siang ini,"

"Thanks ya, udah jagain dia selama ini, Pak,"

"Jangan panggil saya dengan sebutan itu jika di luar. Bagaimanapun juga saya adik ipar kamu, Dimas."

"Adik ipar yang umurnya udah bangkotan,"

"Ck, sialan. Sempat-sempatnya kamu meledek saya," jawabnya dingin.

"Soal traumanya gimana?"

"Sudah berlalu begitu saja, bahkan dia sudah tidak takut berhubung—" Azka menggantungkan kalimatnya karena keceplosan.

"Jangan bilang kalau kalian sudah melakukannya?" selidik Dimas.

"Hehehe, sorry," Azka menyeringai setelah Dimas menangkap basah dirinya.

"Beneran terjadi?"

"Iya, Dim,"

"Dia nggak teriak lagi?"

"Sudah nggak, cuman akhir-akhir ini sering marah kalau saya tinggal kerja hingga larut malam,"

"Jangan buat dia begadang, kasihan lagi hamil malah nungguin kamu kerja,"

"Dia nggak tidur kalau nggak dipeluk. Sedangkan kerjaan saya belum beres,"

"Nanti saya bantu, jangan buat dia merasa sendirian. Tahu kan kalau saya sayang banget sama dia," Dimas mengingatkan Azka.

"Iya saya tahu. Tapi bukannya kamu sibuk?"

"Nggak apa-apa. Setidaknya dia masih bisa ditemani sampai dia melahirkan. Setelah itu pekerjaannya saya balikin lagi ke kamu,"

"Thanks ya,"

"Masih ada saya dan Damar. Jadi jangan pikirkan urusan kantor, fokus aja dulu di rumah,"

"Iya. Ngomong-ngomong Damar gimana di kantor?"

"Setiap hari dia ngumpat, ngata-ngatain kamu karena semua tugas dia yang kerjakan,"

"Sialan itu masih saja sering marah,"

"Bagaimana nggak marah,

kamu di sini enak-enakan sama istri kamu. sedangkan dia di sana harus

bergelut dengan pekerjaan bahkan dia nggak pulang kalau banyak kerjaan,"

"Risiko dia. Saya nggak peduli, setidaknya dia akan mendapatkan imbalan. Damar itu mudah ditebak,"

"Kenapa nggak ke kantor aja sih?"

"Nggak akan, sampai Nagita melahirkan, saya akan jadi suami siaga buat dia,"

"Kenapa bulu kuduk dan saya mual dengarnya, Az? Itu terdengar sangat menjijikkan dari mulut seorang Azka,"

"Apa saya terkenal dengan kebrengsekan saya di kantor?"

"Tentu saja. Orang-orang justru menganggap kamu sedang liburan sama kekasihmu dan menghabiskan malam bersama,"

"Itu dulu, sekarang saya sudah sadar. Saya sebentar lagi punya anak, jadi ayah. Hal yang saya nanti-nantikan,"

"Hah, akhirnya insyaf juga,"

"Itu juga karena calon keponakan kamu yang nyadarin saya,"

"Dia sehat?"

"Sehat, bahkan sangat sehat. Cuman Mommy-nya yang nggak sehat, bikin khawatir aja,"

"PR kamu, Az. Katanya pengin jadi suami siaga, jadi harus benar-benar rawat dia sekarang,"

"Tentu saya rawat. Ada darah daging saya tumbuh di rahimnya,"

"Kalau begitu saya pamit ya, nanti pulang kerja saya datang lagi. Bahkan saya akan menginap untuk gantiin kamu jaga dia,"

"Thanks, Dimas. Saya tunggu."

Dimas berpamitan, Azka

mengantarkan hingga teras depan. Ia pun menelepon mamanya untuk datang

ke rumah. Meski perempuan itu belum siap bertemu dengan mertuanya,

tetapi sudah cukup bagi Azka memendam semuanya. Bagaimanapun juga ia

ingin mengenalkan Nagita kepada mamanya.

Ia segera kembali lagi

ke kamar untuk menjaga Nagita. Azka mematikan AC kamarnya dan membuka

jendela sebagai alternatif. Meski menggunakan AC, Nagita keringatan,

namun kakinya sangat dingin. Opsi kedua adalah ia harus mematikan

pendingin ruangan dan membiarkan udara masuk ke kamarnya.

"Gadis kecil, sembuh

dong! Nggak asyik kalau nggak ada kamu yang buat saya jengkel setiap

harinya, jangan lama-lama sakitnya, saya kangen." Ucapnya sembari

mengganti kompres Nagita. Tubuh itu terus menggigil, namun keringat

terus keluar dari tubuh istrinya.

Beberapa saat kemudian

suara mobil terdengar masuk ke halaman rumahnya yang ia yakini bahwa

itu adalah mamanya yang beberapa waktu lalu ia hubungi untuk

mengunjunginya. Ia langsung turun untuk menemui mamanya. Azka menyambut

mamanya di teras depan, sontak ia terkejut saat melihat adiknya yang

ikut bersama dengan mamanya. Padahal selama ini ia ingin merahasiakan

itu semua dari yang lainnya, kecuali mamanya.

"Ma, kok ajak dia?" sambil memicingkan mata ke arah adiknya.

"Kakak nggak suka aku di sini?"

"Bukan gitu, tapi kenapa datang?"

"Azka, tadi mama sama

adik kamu pergi ke dokter kandungan. Kamu nelpon malah suruh

cepat-cepat. Mau tidak mau mama ajak dia kemari,"

"Dasar, ganggu aja," ketusnya pada adik semata wayangnya.

Ia pun mengajak mamanya

untuk masuk. Sebelum menuju ke kamar ia menjelaskan kepada mamanya

keadaan Nagita saat ini. adiknya yang hanya diam terus mengangguk karena

tidak mengerti dengan pembicaraan tersebut. Azka tak peduli dengan

reaksi adiknya itu.

Mereka bertiga masuk ke kamar dan melihat perempuan kecil yang tengah berbaring di atas ranjang.

"Dia siapa, Ma?" adik Azka mulai angkat bicara.

"Kakak ipar kamu, sayang. Istrinya kakak kamu,"

"Lho, kak Azka kan belum menikah, Ma?"

"Itu yang tidur di sana

siapa coba kalau bukan istri kakakmu? Masa iya mau ajak anak orang

tinggal serumah terus keadaannya lagi hamil besar lagi,"

"Hamil? Papa juga nggak tahu kalau Kak Azka sudah nikah,"

"Jangan beritahu sayang. Mama akan jelaskan nanti, setidaknya ini hanya kamu yang tahu,"

"Kak, itu beneran istri kakak?"

"Iya dia istri kakak. Sebentar lagi mau melahirkan, lihat perutnya. Nggak percaya? Lihat cincin pernikahan dijarinya!"

"Kakak gila, nikah nggak

ngundang aku. Tiba-tiba istrinya udah bunting gini, eh ngomong-ngomong

Mama ingat nggak waktu pagi-pagi Kak Azka muntah pagi itu? Hampir setiap

pagi, Ma. ingat nggak?"

Azka mencoba mengingat kejadian itu yang benar terjadi beberapa bulan yang lalu kepada dirinya.

"Ingat, Mama ingat,"

"Berarti waktu itu Kak Azka beneran ngidam kan, Ma? Dia ngalamin morning sickness,"

"Benar juga kamu sayang. Iya juga sayang, Mama baru ingat," jawab Mamanya membenarkan ucapan adiknya.

"Mama!" rengek Nagita. seketika Azka mendekat dan memeluk istrinya.

"Saya di sini, Gita."

"Mama sama Papa jangan tinggalin, Gita!" Azka langsung menatap mama dan juga adiknya memberi kode agar mereka berdua diam.

"Pengin ketemu sama mama, Mas," isaknya.

"Ya udah sekarang kamu bangun, ya! Kita ketemu sama, Mama." Azka membantu Nagita agar bersandar di sandaran ranjang.

"Ma, minta tolong ya!" pinta Azka.

Pelan-pelan Nagita mulai membuka matanya, selama demam Nagita lebih sering menangis jika menyebut nama kedua orang tuanya.

"Ta-tante siapa?"

Mama Azka mendekat dan duduk di samping Nagita menggantikan posisi Azka.

"Ini Mama sayang. Mamanya Azka, Mama mertua kamu. apanya yang sakit, hm?"

Air mata Nagita

berlelehan membasahi pipinya. Mama Azka langsung memeluk menantunya,

"Jangan sedih, sayang. Mama di sini, jangan nangis ya!"

"Ma, maafin Gita ya karena sudah hancurin hidup Mas Azka,"

"Nggak sayang. Kamu

nggak salah, bagaimanapun juga kamu menantu Mama. Jangan berpikiran

seperti itu, sebentar lagi kan punya anak. Mama nunggu lahirnya cucu

Mama,"

"Nagita minta maaf, Ma,"

"Kamu nggak salah

sayang, anak mama yang salah. Mulai sekarang Mama yang akan nemenin kamu

di sini. Jangan cemas, ohya itu adiknya Azka, adik ipar kamu, namanya

Naura. Dia sudah menikah,"

Naura memperkenalkan dirinya kepada Nagita dan dibalas dengan begitu ramah oleh istri Azka.

"Sudah minum obat?"

"Belum, Ma. dia belum minum obat, belum makan siang juga,"

Mama menggelengkan kepalanya, "Mau makan apa sayang? Mama masakin,"

"Nggak usah, Ma,"

"Yang penting menantu sama cucu mama sehat. Ayo sayang mau apa? Bilang sama Mama!"

Azka menganggukkan kepalanya.

"Bubur ketan hitam, Ma,"

"Ya sudah, kamu tunggu di sini. Mama cari bahannya sama Azka. Kamu sama Naura di sini, ya!"

"Maaf ngrepotin, Ma,"

"Kamu kayak orang lain aja,"

"Gadis kecil baik-baik di sini ya. Jangan nangis lagi, saya segera kembali." Azka berpamitan kepada istrinya.

"Kakak kerasukan apa? Tumben-tumbenan manis banget?"

Nagita tersenyum, "Dia memang seperti itu, Kak."

"Kok manggil aku kakak? Umur kamu berapa?"

"Sembilan belas,"

"Se-sembilan belas? Kok bisa-bisanya nikah sama Kak Azka?"

"Maaf. Suatu kejadian yang tak diinginkan terjadi,"

"Kalian nggak pacaran kan terus ngelakuin hal yang salah?"

Nagita menggeleng.

"Terus kok bisa? Bahkan aku nggak tahu Kak Azka sudah nikah,"

"Diperkosa," Nagita menunduk dan menahan air matanya.

Naura terdiam dan

menutup mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi tidak

mungkin perempuan itu berbohong hingga Azka berani bertanggung jawab dan

mau menikahi gadis itu.

"Maaf, ya. Apa Kak Azka berbuat jahat sama kamu sebelumnya?"

"Nggak pernah. Dia bertanggung jawab dan perhatian selama ini,"

"Gita yang sabar, maaf sudah buat kamu ngingat kejadian itu,"

"Nggak apa-apa kak. Terima kasih sudah mau berkunjung ya,"

"Nggak masalah. Aku sering kemari, ya. Boleh nggak?"

"Boleh, aku juga kesepian di rumah, hanya berdua sama Mas Azka,"

"Memangnya dia nggak kerja?"

"Dia bilang nggak mau kerja sebelum aku melahirkan,"

"Aku boleh pegang perut kamu? kalau dia masih ada, mungkin kita barengan melahirkan, Nagita,"

"Kakak keguguran?"

"Iya, waktu itu aku stress. Nggak mau hamil lagi, tahunya Tuhan berbaik padaku. Aku hamil lagi sekarang,"

"Sudah berapa minggu?"

"Lima minggu, baru aja pulang dari dokter Eva. Ngomong-ngomong dia bilang kak Azka sering bawa kamu ke sana ya?"

"Iya. Bahkan hampir setiap minggu Mas Azka ngajakin ketemu sama dokter Eva,"

"Aku dengar percakapan mama sama dia, aku pikir itu temannya. Tahunya kakak ipar, enak ya hamil, Gita?"

"Nanti kakak juga akan ngerasain,"

"Sudah berapa bulan?"

"Masuk sembilan,"

"Berarti sebentar lagi

keluar. waaah kita harus borong perlengkapan bertiga pokoknya, Gita.

jangan khawatir! Kak Azka pasti ngasih izin,"

Nagita hanya membalas

dengan senyuman. Kepalanya kembali pusing dan tubuhnya terus

mengeluarkan keringat. "Kamu tidur gih. Jangan kelamaan duduk!"

Nagita menuruti apa yang dikatakan oleh Naura dan perempuan itu membantu menaruh kompres di dahinya.

"Cepat sembuh ya! Biar

nanti semangat belanjanya. Kita akan sering ketemu, Nagita." suara Naura

begitu bahagia. Mereka pun menjadi semakin akrab setelah ditinggalkan

oleh Azka dan juga mamanya. Perbincangan mengenai kehamilan adalah topik

menarik bagi mereka berdua. Mengingat bahwa Nagita lebih dulu merasakan

kebahagiaan itu sebab Naura harus merelakan calon buah hatinya yang

keguguran waktu itu.

Ia merasa sangat

bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik seperti adik dan juga mama

Azka yang begitu ramah kepada dirinya. Jauh dari apa yang ia pikirkan

mengenai hal itu, yang ia bayangkan adalah mertuanya galak. Adiknya

mengerikan, tetapi justru berbanding kebalik dengan apa yang ada di

pikirannya selama ini.

 

 

1
Nuri Maulidia
kepraaaaat
Nuri Maulidia
pst krj dtmpt bos ny dulu
elly tedy
ceritanya bagus Thor.....ada pelajaran distiap perbuatan dan ada waktu yg harus kamu lewati krna kesalahannya
Mayora
ih, Azka ga asik banget,,pandai ya dia bersandiwara dengan sangat rapi...rupanya si Azka yang masih labil
Sinar aurora
sumpah aku jadi korban novelmu thor.. aku uda 3 kali baca tapi knap masih mewek aja sihhh.. emnag sekejam itu ya si azkaaa
Tini Patini
Thor c Azka nya di bikin lmpoten ajah.biar kapok deh biar gak bangun lagi walau c deana cantik burungnya lemes gak mau bangun biar tau rasa!
Zuraida Zuraida
durjana banget tu laki, semoga gita cepat tahu akal bulus tu kamprer
Zuraida Zuraida
laki laknat kabur na
pak rt
👍
Tutik Yunia
Reynand yang lebay
Yuniar
ibu & kakak tiri Bintang kemana ya..?
Tutik Yunia
tidur pakai masker apa nggak sesak nafas
Tutik Yunia
mungkin waktu mau ketemu Reynand kecelakaan terus hilang ingatan
Tutik Yunia
ceritanya paling sama dgn Azka. setelah nikah datanglah bintang & Rey selingkuh dengan bintang cinta pertamanya. seperti Azka dgn ibunya shakila.
Yuniar
Ceritanya bagus untuk pendidikan orang tua dan anak-anak
Yuniar
Azka kan pawang cinta
Tutik Yunia
bagaimana keadaan Teddy dgn selingkuhannya. Semoga tidak harmonis
Tutik Yunia
ceritanya bener-bener seperti kehidupan nyata
Tutik Yunia
Tahu kalau cinta Nagita buat Azka, dia jadi besar kepala & mempermainkan Nagita.
Tutik Yunia
ini memang terbaik, cerai saja daripada makan hati. ceritanya bagus Thor sesuai kehidupan dalam rumah tangga. Nggak mungkin laki2 kaya hidup dgn satu wanita saja. Pasti banyak selingkuhannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!