NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004

Untuk beberapa detik, The Grand Ballroom menjadi terlalu sunyi untuk sebuah pesta pernikahan.

Ratusan pasang mata menatap panggung. Kamera ponsel mulai terangkat satu per satu. Vania berdiri dengan gaun pengantin putih, wajahnya pucat seperti bunga yang kehilangan air. Ryan di sampingnya menelan ludah. Hendra mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih.

"Berlutut?" Hendra mengulang, suaranya rendah dan berbahaya. "Kamu menyuruh kami berlutut?"

Keira berdiri di bawah lampu panggung, gaun merahnya terlihat semakin tajam di antara dekorasi putih.

"Aku memberi pilihan."

Siska tertawa kaku. "Pilihan macam apa itu? Kamu pikir uang sedikit bisa membeli martabat keluarga Mulyono?"

"Uang sedikit?" Keira menoleh kepada Rio.

Rio langsung menyambungkan dokumen lain ke layar besar. Grafik saham Mulyono Group muncul. Garis merah menurun tajam selama tiga hari berturut-turut.

Bisik-bisik tamu berubah menjadi suara tertahan.

"Mulyono Group turun lagi?"

"Tiga hari? Ini bukan koreksi biasa."

"Siapa yang menekan?"

Keira menjawab tanpa menunggu pertanyaan itu diucapkan. "SH Corporation."

Hendra seperti ditampar.

Seorang direktur muda yang duduk di meja tamu VIP langsung membuka aplikasi saham di ponselnya. Wajahnya berubah. Dalam hitungan menit, orang-orang lain melakukan hal yang sama. Angka merah Mulyono Group beredar dari layar ke layar, lebih cepat daripada pelayan bisa membagikan minuman.

Nama SH Corporation membuat suasana semakin tegang. Semua orang di ruangan itu pernah mendengar nama tersebut. Grup lintas negara yang muncul terlalu cepat, membeli aset terlalu rapi, dan selalu menutup identitas pemilik utamanya. Jika Keira berhubungan dengan SH Corporation, maka lima tahun menghilangnya bukan jatuh miskin.

Ia sedang naik ke tempat yang tidak bisa mereka lihat.

Selama tiga hari terakhir ia memang menerima laporan buruk dari kantor. Harga saham jatuh. Investor meminta penjelasan. Beberapa bank menunda fasilitas kredit. Ia mengira itu hanya tekanan pasar. Ia tidak pernah membayangkan perempuan yang dulu ia usir dari rumah sedang duduk di balik semua itu.

"Kamu..." Hendra menunjuk Keira. "Kamu yang melakukannya?"

"Aku hanya mengingatkan pasar bahwa Mulyono Group dibangun di atas fondasi yang kotor."

Siska berteriak, "Fitnah!"

Keira menoleh perlahan. "Tante yakin ingin aku menjelaskan semuanya di sini?"

Siska langsung menutup mulut.

Untuk pertama kalinya, perempuan yang dulu berani mencabut kalung dari leher Keira tidak berani menyentuhnya. Jarak mereka hanya beberapa langkah, tetapi Siska merasa seperti berdiri di tepi lubang. Ia tahu beberapa dokumen keluarga tidak bersih. Ia tahu nama Hendra muncul di terlalu banyak rekening. Ia juga tahu Keira bukan lagi gadis yang bisa ditakuti dengan suara keras.

Vania yang sejak tadi menahan amarah tiba-tiba turun dari panggung. Sepatu pengantinnya berbunyi keras.

"Kamu pikir bisa datang begitu saja setelah lima tahun dan menghancurkan pernikahanku?" Ia mendekat dengan mata merah. "Kamu itu sampah yang dibuang keluarga. Jangan sok hebat!"

Keira tidak bergerak ketika Vania mengangkat tangan.

Namun sebelum telapak itu mendarat, Rio sudah melangkah maju. Keira mengangkat satu jari, menyuruhnya berhenti.

Vania membeku.

Keira menatap tangan itu. "Lima tahun lalu, tangan ini menamparku di Rumah Mulyono."

Wajah Vania berubah.

"Aku tidak lupa." Suara Keira tidak tinggi, tetapi membuat orang-orang di barisan depan ikut menahan napas. "Kalau kamu ingin memakai ballroom ini hari ini, tampar wajahmu sendiri. Satu kali. Seperti yang kamu lakukan padaku."

"Kamu mimpi!"

"Kalau begitu keluar."

"Keira!" Ryan akhirnya masuk di antara mereka. "Cukup. Ini hari pernikahanku."

Keira menatapnya. "Kamu ingat hari pernikahan?"

Ryan terdiam.

"Keira, jangan bawa masa lalu ke sini."

"Kamu yang mengundang masa lalu begitu mengucapkan janji setia."

"Aku..."

"Kamu menjanjikan kesetiaan kepada perempuan yang kamu temui di hotel saat calon istrimu dibuang dari rumah." Keira memandangnya tanpa amarah yang meledak. Justru ketenangan itulah yang membuat setiap kata terasa seperti pisau. "Bukankah tamu-tamu perlu tahu standar kesetiaan keluarga Salim?"

"Lima tahun lalu, sehari sebelum pernikahan kita, aku dilempar ke luar rumah dalam hujan." Keira melangkah lebih dekat. "Kamu di mana, Ryan?"

Ryan membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

"Kamu bukan di rumah sakit. Bukan di rumahku. Bukan mencari aku." Keira menoleh ke Vania. "Kamu di hotel bersama sepupuku."

Ruangan bergemuruh.

Wajah Nyonya Salim langsung berubah. "Ryan?"

Vania panik. "Itu tidak benar!"

Keira mengangkat dagu. Rio menampilkan satu foto buram dari kamera hotel lima tahun lalu. Ryan dan Vania keluar dari lift dengan pakaian yang tidak pantas untuk dua orang yang mengaku hanya teman keluarga.

Ryan mundur satu langkah.

Nyonya Salim memegang dadanya. Para tamu mulai berbisik lebih keras.

"Jadi dulu Ryan sudah selingkuh?"

"Pantas Keira menghilang."

"Mulyono dan Salim menyembunyikan skandal?"

Hendra menyadari situasi berbalik terlalu cepat. Ia mendekati Keira dan merendahkan suara. "Apa maumu?"

"Sederhana." Keira memberi isyarat kepada Rio. Layar berubah lagi. Kali ini hanya folder dengan beberapa judul: pajak, dana proyek pemerintah, rekening luar negeri.

Wajah Hendra kehilangan warna.

"Pilihan pertama," kata Keira, "kalian keluar dari ballroom ini dengan cara yang sama seperti kalian membuatku keluar dari Rumah Mulyono. Di depan semua orang."

Siska gemetar. "Apa pilihan kedua?"

"Aku kirim dokumen awal ini ke otoritas pajak, kepolisian, dan seluruh media malam ini."

Nyonya Salim berdiri. Harga dirinya sebagai ibu dari Ryan tampak sedang bertarung dengan naluri menyelamatkan keluarga. "Nona Keira, jangan gegabah. Kita bisa bicara."

"Tante Salim," Keira menjawab sopan, "lima tahun lalu tidak ada yang ingin bicara denganku. Hari ini aku juga tidak wajib mendengar siapa pun."

Nyonya Salim menggenggam tas kecilnya. Ia ingin marah, tetapi nama Salim sedang berada di ujung jurang. Jika bukti pajak Mulyono ikut menyeret transaksi perkawinan dan kerja sama keluarga, Salim Corporation akan terkena percikan yang tidak perlu.

"Ryan," katanya dengan suara tertahan, "turuti dulu."

Ryan menatap ibunya seolah tidak percaya. "Ma."

"Sekarang."

Hendra menatap layar, lalu tamu, lalu kamera-kamera ponsel. Ia tahu satu langkah salah bisa menghancurkan lebih dari pesta. Mulyono Group belum siap diperiksa. Banyak angka yang hanya aman selama tidak ada orang kuat yang membongkar.

Vania menangis karena marah. "Papa, jangan!"

Hendra menutup mata sebentar.

Lalu, di depan semua orang, ia berlutut.

Suara napas tertahan terdengar dari seluruh ruangan.

Siska ikut turun dengan lutut gemetar. Vania menolak sampai Hendra menarik pergelangan tangannya. Ryan masih berdiri, wajahnya hancur oleh malu, sampai Nyonya Salim berbisik tajam, "Selamatkan perusahaan dulu."

Akhirnya Ryan juga berlutut.

Keira melihat mereka tanpa berkedip.

Lima tahun lalu, ia jatuh di tangga basah, darah mengalir di wajah, sementara mereka menutup pintu.

Hari ini, lantai ballroom begitu bersih sampai pantulan wajah-wajah kalah itu terlihat jelas.

"Dari pintu utama," kata Keira.

Hendra mendongak. "Keira, jangan keterlaluan."

"Aku belum mulai keterlaluan."

Tidak ada pilihan. Hendra bergerak pertama, merangkak kaku di antara deretan kursi. Siska menunduk sambil menangis tertahan. Vania menutup wajah, tetapi kamera sudah menangkapnya dari segala sudut. Ryan mengikuti dengan rahang bergetar.

Para tamu minggir. Beberapa pura-pura tidak merekam. Beberapa tidak repot berpura-pura.

Ketika rombongan Mulyono dan Salim keluar dari pintu utama dengan lutut dan telapak tangan menyentuh karpet, ruangan itu tidak lagi berisi pesta pernikahan.

Ruangan itu berisi hukuman.

Vania menangis tersedu, tetapi tidak ada yang datang memapahnya. Gaun pengantinnya tersangkut karpet. Siska beberapa kali hampir jatuh karena lututnya tidak kuat. Hendra memaksa wajah tetap keras, tetapi keringat di pelipisnya merusak semua sisa wibawa.

Ryan merangkak paling belakang. Di depan pintu, ia sempat menoleh ke arah Keira. Matanya merah, bukan hanya malu, tetapi juga sesuatu yang lebih memalukan: penyesalan yang datang setelah melihat perempuan yang dulu ia sia-siakan menjadi terlalu tinggi untuk disentuh.

Keira tidak memberi tatapan balasan.

Itu hukuman lain.

Keira menunggu sampai pintu tertutup. Baru setelah itu ia menurunkan tangan. Lampu ballroom kembali menyala penuh, memperlihatkan sisa bunga, kue pengantin yang belum dipotong, dan kursi kosong yang terasa memalukan.

Rio mendekat. "Video sudah naik, Bos. Tagar #MulyonoSkandal mulai masuk trending."

Keira tidak terlihat puas. Tidak juga lega. Di matanya hanya ada satu lapisan dingin yang belum mencair.

"Biarkan menyebar."

"Ada beberapa akun media gosip meminta konfirmasi."

"Kirim pernyataan pendek. Pesta dihentikan karena penggunaan properti tanpa persetujuan pemilik dan dugaan pelanggaran kontrak."

Rio mengangguk. "Bagian skandal keluarga?"

"Tidak perlu." Keira berjalan melewati rangkaian bunga yang mulai layu diterpa pendingin ruangan. "Mereka akan membicarakannya sendiri."

Benar saja, ponsel para tamu sudah bekerja lebih cepat daripada siaran resmi mana pun. Potongan video Hendra berlutut, wajah Vania yang hancur, dan kalimat Keira tentang hotel lima tahun lalu menyebar ke grup WhatsApp keluarga, akun gosip, sampai forum saham.

Nama Mulyono tidak jatuh.

Nama itu didorong dari tebing.

Ia berjalan keluar dari ballroom melalui pintu samping. Di koridor, suara ponselnya bergetar.

Nama Ethan muncul di layar.

Keira mengangkat. "Eth?"

Suara Ethan di seberang terdengar terlalu serius untuk anak lima tahun.

"Mommy, aku sudah cek. Anak yang di bandara itu namanya Darren Hartono."

Langkah Keira berhenti.

"Dia tinggal di mana?"

Ada jeda singkat. Lalu Ethan menjawab.

"Hartono Estate."

Keira memejamkan mata. Di luar jendela hotel, Jakarta siang itu tampak berkilau seperti kota yang sama sekali tidak tahu berapa banyak rahasia sedang bangun dari tidur panjang.

"Mommy," Ethan berbisik, "aku rasa dia benar-benar Koko kita."

Keira menempelkan ponsel lebih erat ke telinga. Semua kemenangan di ballroom tiba-tiba terasa jauh. Hendra bisa berlutut. Vania bisa dipermalukan. Ryan bisa hancur. Namun satu nama kecil di layar Ethan membuat seluruh tubuhnya kembali menjadi ibu yang kehilangan anak.

"Eth, jangan bertindak sendiri."

"Aku cuma lihat datanya."

"Ethan."

Anak itu diam dua detik. "Baik, Mommy. Tapi kalau dia Koko kita, kita tidak boleh terlambat lagi."

Kalimat itu membuat mata Keira panas.

"Kita tidak akan terlambat," katanya pelan. "Tidak kali ini."

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!