NovelToon NovelToon
MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kerajaan / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 : Umpan di Ngarai Gigi Naga

Fajar yang Berdarah

Langit di atas Frosthelm tidak pernah benar-benar terang, namun pagi itu, semburat warna merah pekat menyeruak di antara gumpalan awan abu-abu—seolah-olah semesta sedang melukis warna darah yang akan segera tumpah. Angin musim dingin bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa serpihan es tajam yang mampu menggores kulit telanjang.

Di ujung ngarai Gigi Naga, sebuah celah sempit yang diapit oleh tebing-tebing batu hitam raksasa berselimut es abadi, berdiri sebuah siluet tunggal.

Aurelia berdiri tegak menantang angin. Sesuai rencana, ia tidak mengenakan zirah perang. Ia mengenakan gaun pengantin sutra putih dan perak yang dipakainya kemarin di altar, membiarkan jubah panjangnya menyapu salju yang membeku. Tiara safir di kepalanya berkilau di bawah temaram fajar, menjadi suar penanda yang sangat kontras di tengah hamparan putih dan hitamnya bebatuan Utara. Tubuhnya menggigil menahan dingin yang menusuk hingga ke tulang, namun rahangnya terkatung rapat. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah ujung ngarai terbuka di mana kabut tebal perlahan mulai tersibak.

Dari balik kabut, terdengar suara bergemuruh yang menggetarkan permukaan es di bawah kakinya. Dentum kaki ribuan kuda, denting zirah besi yang saling beradu, dan kibaran spanduk hitam bersimbol burung pegar Oakhaven yang robek. Pasukan Duke Valerius telah tiba.

Di barisan paling depan, menunggangi seekor kuda perang hitam besar berlapis baja, adalah Duke Valerius sendiri. Wajah paman Aurelia itu terlihat angkuh, dengan senyum kemenangan yang keji terukir di bibirnya saat pandangannya menangkap sosok keponakannya di kejauhan.

"Hentikan pasukan!" seru Duke Valerius, mengangkat tangan kanannya yang dibalut sarung tangan besi. Tiga divisi kavaleri berat di belakangnya langsung berhenti dengan presisi militer yang mengagumkan, menciptakan kepulan uap dari napas ribuan kuda.

Valerius memajukan kudanya beberapa langkah, menatap Aurelia dengan tatapan merendahkan. "Aurelia! Keponakanku yang malang! Apakah pelarianmu ke tanah terkutuk ini hanya berakhir dengan kau yang ditinggalkan sendirian oleh para pengecut Utara sebagai tumbal?" Suara Valerius menggema di sepanjang dinding ngarai.

Aurelia menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya, lalu berteriak balik dengan nada penuh cemoohan yang sengaja diprovokasi. "Aku tidak ditinggalkan, Paman! Aku berdiri di sini sebagai Ratu Valenica! Dan kau... kau hanyalah seorang pengkhianat, seorang pembunuh berdarah dingin yang meracuni saudaramu sendiri demi tahta yang bukan milikmu! Kau tidak akan pernah bisa merebut Oakhaven, dan kau tidak akan pernah bisa membawaku kembali!"

Wajah Duke Valerius seketika berubah merah padam karena murka. Rahasianya dibongkar di hadapan ribuan prajuritnya, dan harga dirinya diinjak-injak oleh seorang gadis yang selama ini ia anggap remeh.

"Gadis bodoh!" raung Valerius, mencabut pedang panjangnya dan mengarahkannya tepat ke posisi Aurelia. "Kavaleri berat! Serbu celah itu! Tangkap Putri Aurelia hidup-hidup, dan bantai siapa pun yang menghalangi! Hari ini, Oakhaven akan memiliki penguasa baru yang mutlak!"

Jebakan yang Runtuh

Gemuruh monster berkaki empat itu kembali meledak. Ribuan kavaleri berat Oakhaven memacu kuda mereka, merangsek masuk ke dalam celah sempit Gigi Naga. Tanah bergetar hebat. Udara dipenuhi oleh teriakan perang.

Aurelia tetap mematung, menghitung jarak dalam hatinya. Seratus langkah... delapan puluh langkah... lima puluh langkah...

Ketika barisan depan kavaleri musuh sudah sangat dekat hingga Aurelia bisa melihat kilat kepuasan di mata para prajurit Oakhaven, sebuah suara siulan melengking memecah udara dari atas tebing. Itu adalah isyarat.

Aurelia berbalik dengan cepat, mengangkat gaun pengantinnya yang berat, dan berlari sekencang mungkin menuju sebuah celah batu aman di balik posisinya, tepat saat Cassian—yang telah bersiap di balik bayangan—melompat keluar dan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan pelindungnya.

"Sekarang, Jenderal! Ledakkan!" teriak Cassian ke arah puncak tebing.

Di atas tebing ngarai, para penyihir es dan ahli mesiu Valenica yang dipimpin oleh Jenderal Boros melepaskan serangan serentak. Sihir api tingkat tinggi menghantam titik-titik krusial tebing es yang sengaja dilemahkan, memicu ledakan beruntun yang menggelegar layaknya guntur.

BOOM! BOOM! BOOM!

Reruntuhan batu raksasa dan gumpalan salju longsor (avalans) setinggi menara runtuh dengan kecepatan mengerikan, langsung menghujam barisan tengah dan belakang pasukan Oakhaven yang terjebak di dalam celah sempit. Pekikan kuda yang ketakutan dan jeritan histeris para prajurit bergaung memekakkan telinga.

Namun, kejutan terbesar belum selesai.

Berat dari ribuan kavaleri besi yang menumpuk ditambah dengan hantaman batu-batu raksasa dari atas membuat permukaan es tebal yang melapisi danau bawah tanah di dalam ngarai berderit keras.

KRAAAKKKK!

Retakan besar menjalar seperti jaring laba-laba di bawah kaki pasukan Oakhaven. Dalam hitungan detik, lapisan es itu jebak dan ambles sepenuhnya. Separuh dari kavaleri berat Duke Valerius terjatuh ke dalam air danau bawah tanah yang bersuhu di bawah nol derajat. Beratnya zirah besi yang mereka banggakan kini berubah menjadi jangkar maut yang menarik mereka dengan cepat ke dasar air yang gelap dan membeku. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk berenang atau menyelamatkan diri.

*•*

*•*

Pertumpahan Darah di Atas Es

Meskipun jebakan tersebut berhasil melumpuhkan lebih dari separuh pasukan musuh, Duke Valerius yang berada di barisan paling depan berhasil lolos dari keruntuhan es bersama dengan sekitar satu divisi kavaleri intinya. Menyadari dirinya dijebak, mata Valerius menyalang penuh amarah setani.

"Majuuuu! Bunuh mereka semua!" teriak Valerius, memacu kudanya melewati sisa-sisa es yang kokoh menuju posisi Cassian dan Aurelia.

"Pasukan Serigala! Angkat pedang kalian! Jangan biarkan satu pun dari tikus Selatan ini kembali hidup-hidup!" perintah Cassian dengan suara yang menggelegar, mencabut pedang besar (greatsword) miliknya yang bermaterikan baja Valenica berwarna kelabu gelap.

Dari balik dinding ngarai dan salju, ratusan prajurit elite Utara yang mengenakan zirah bulu hitam melompat turun. Mereka bergerak dengan kelincahan yang luar biasa di atas medan bersalju, sangat kontras dengan sisa kavaleri Oakhaven yang kesulitan mengendalikan kuda mereka di atas permukaan yang licin dan dipenuhi puing.

Pertempuran jarak dekat yang brutal pun pecah.

Cassian bergerak bagaikan badai. Setiap tebasan pedang besarnya merobek zirah dan memutuskan urat nadi musuh dengan kemudahan yang mengerikan. Darah hangat menyemprot ke udara, menodai salju putih menjadi merah pekat. Dua prajurit Oakhaven mencoba menyerang Cassian dari kedua sisi, namun dengan gerakan berputar yang presisi, Cassian menangkis pedang pertama dan memenggal kepala prajurit kedua dalam satu gerakan halus.

Aurelia, yang berada di bawah perlindungan lingkaran dalam pengawal Cassian, tidak tinggal diam. Ia mengambil sebuah busur panah milik prajurit yang gugur. Tangannya yang biasanya lembut kini menarik tali busur dengan kemantapan seorang putri yang telah berlatih secara rahasia sejak kecil.

Wusss!

Anak panah Aurelia melesat melintasi medan pertempuran, menembus leher seorang perwira Oakhaven yang hendak menusuk punggung salah satu prajurit Valenica dari belakang. Prajurit Utara itu menoleh terkejut, melihat Aurelia yang mengangguk tegas kepadanya, memicu sorak takzim dari pasukan Utara yang melihat keberanian sang Ratu baru.

Duel Para Pemimpin

Di tengah kekacauan, Duke Valerius melihat celah. Ia memacu kudanya langsung ke arah Aurelia dengan pedang terhunus. "Kemari kau, Pelacur Kecil!"

Namun, sebelum kuda Valerius sempat mendekati Aurelia, sebuah bayangan hitam melesat di udara. Cassian melompat dengan dorongan sihir angin, menebas kaki depan kuda Valerius hingga hewan itu terjerembab keras. Valerius terlempar dari pelana, berguling di atas salju yang dingin, namun dengan cepat bangkit berdiri berkat pengalaman tempurnya yang segudang.

"Pangeran Cassian dari Valenica," desis Valerius, meludah ke samping, menatap Cassian yang kini berdiri di hadapannya dengan pedang berlumuran darah. "Kau pikir kau bisa menahan kekuatan penuh Oakhaven hanya dengan trik murahan ini?"

"Trik murahan ini baru saja memusnahkan dua pertiga pasukanmu, Pangeran Tua," balas Cassian, matanya berkilat dingin, tanpa emosi. "Dan sekarang, giliran kepalamu yang akan menghiasi gerbang Frosthelm."

Valerius berteriak, menyerang Cassian dengan tebasan vertikal yang kuat. Cassian menangkis tebasan itu dengan pedangnya, menciptakan dentingan besi yang memekakkan telinga. Adu kekuatan terjadi di antara keduanya. Valerius, meskipun sudah tua, memiliki kekuatan fisik yang besar akibat konsumsi ramuan penguat secara konstan, namun Cassian memiliki kecepatan dan ketahanan khas pria Utara yang dibesarkan di tengah badai.

TANG! TANG! TANG!

Pedang mereka saling beradu berulang kali, menciptakan percikan api di tengah hawa dingin. Cassian sengaja mendesak Valerius mundur ke arah area es yang rapuh. Valerius yang tersulut emosi tidak menyadari posisi kakinya.

Pada tebasan kelima, Cassian sengaja merunduk, menghindari tebasan horizontal Valerius, lalu dengan gagang pedangnya yang berat, ia menghantam rahang Duke Valerius hingga pria tua itu terhuyung ke belakang.

KRAK.

Kaki Valerius menginjak bagian es yang tipis. Ia kehilangan keseimbangan. Pada saat yang sama, Cassian mengayunkan pedang besarnya dengan kekuatan penuh, mengincar leher Valerius. Namun, dengan insting liciknya, Valerius menarik salah satu prajuritnya sendiri untuk dijadikan tameng hidup. Pedang Cassian menebas prajurit malang itu, memberikan waktu bagi Valerius untuk melemparkan sebuah bom asap bubuk peledak kecil ke tanah.

BOOM!

Asap hitam pekat seketika menutupi pandangan. Cassian terbatuk, mengibaskan pedangnya untuk menghalau asap, namun ketika kabut hitam itu menghilang, Duke Valerius sudah tidak ada di sana. Di kejauhan, beberapa sisa pengawal inti Valerius terlihat menarik mundur sang Duke yang terluka, menunggangi kuda-kuda cadangan yang tersisa dan melarikan diri kembali ke arah perbatasan Selatan.

*•*

*•*

Deklarasi Perang Balasan

Sisa-sisa pasukan Oakhaven yang tertinggal di ngarai segera menyerah atau tewas dibantai oleh pasukan Valenica. Pertempuran di Gigi Naga telah berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Utara, meninggalkan lapangan ngarai yang kini dipenuhi oleh mayat dan es yang memerah.

Cassian berjalan menghampiri Aurelia yang masih menggenggam busur panah dengan napas memburu. Ia memeriksa tubuh istrinya dengan cemas, memastikan tidak ada luka sedikit pun. Setelah memastikan Aurelia aman, Cassian menarik kepala Aurelia dan mengecup keningnya lama.

"Dia melarikan diri," ucap Aurelia, suaranya dipenuhi kekecewaan saat menatap ke arah perbatasan.

"Dia melarikan diri sebagai seorang pengecut yang terluka," sahut Cassian, matanya menatap tajam ke arah Selatan. "Dia telah kehilangan sebagian besar pasukan elite kekaisarannya di sini. Kekuatannya di Oakhaven sekarang timpang."

Raja Valerius tua berjalan mendekati mereka, dibantu oleh Jenderal Boros. Sang Raja menatap menantu dan anaknya dengan bangga. "Kemenangan yang gemilang. Tetapi perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Duke Valerius akan kembali ke Selatan untuk memperkuat pertahanan ibu kota Oakhaven."

Aurelia melangkah maju, menjatuhkan busur panahnya ke atas salju yang ternoda darah. Ia menatap ke arah pegunungan perbatasan Selatan yang menjulang di kejauhan. Rasa takut yang dulu menghantuinya kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh api balas dendam yang membakar jiwa.

"Kita tidak akan memberinya waktu untuk bernapas atau membangun kembali pasukannya," ujar Aurelia dengan suara yang dingin namun tegas, bergema di antara para jenderal yang berkumpul. "Dia datang ke Utara untuk menghancurkan pernikahan kita. Sekarang, kita akan membawa seluruh badai Utara ke Selatan untuk menghancurkan tahta haramnya."

Cassian tersenyum mematikan, mengangkat pedang besarnya ke udara. "Persiapkan seluruh legiun! Kita tidak lagi bertahan. Minggu depan, kita berbaris menuju Oakhaven!"

Sorak-sorai kemenangan dari para prajurit Valenica kembali bergemuruh, menandai bahwa Putri yang terusir dari Selatan kini siap kembali sebagai penakluk bersama dengan serigala-serigala Utara di sampingnya.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
Anisa Nur Afifah
haii kak baguss bngett sukaaa ceritanyaaa,

ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!