NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Buku Catatan Ayah

Pagi itu suasana Toko Buku Senja masih lengang. Beberapa pelanggan baru berdatangan, sementara Maya sibuk menata buku-buku baru di rak bagian depan. Di sisi lain, Nadira memilih menghabiskan waktunya di gudang belakang. Sudah beberapa hari gudang itu berantakan karena kiriman buku baru datang hampir setiap minggu.

Ia menarik napas panjang sebelum mulai memindahkan kardus-kardus yang menumpuk di sudut ruangan.

"Nyaris romantis, eh malah Bianca," gumamnya pelan sambil mengangkat sebuah kardus.

Kardus itu diletakkannya di rak paling atas sedikit lebih keras dari seharusnya.

"Kenapa juga aku kepikiran terus sih?"

Ia mendecak pelan. Berkali-kali berusaha mengalihkan pikirannya, tetapi bayangan kejadian semalam di restoran terus muncul begitu saja. Hampir saja ia mengira ada sesuatu yang berubah di antara dirinya dan Arga. Namun, semua buyar ketika nama Bianca muncul di layar ponsel pria itu.

"Huft... dasar."

"Mbak Nad!"

Suara Maya terdengar dari depan gudang.

"Kamu ngapain sendirian? Biar aku bantu."

"Nggak usah. Aku cuma beres-beres sebentar."

"Yakin?"

"Iya. Kamu jaga toko aja."

Maya mengangkat bahu sebelum kembali ke depan.

Setelah Maya pergi, Nadira kembali memindahkan beberapa kardus tua yang sudah lama tidak disentuh. Debu beterbangan ketika ia menggeser sebuah kotak karton berwarna cokelat yang terlihat paling usang.

Di sisi kardus itu masih tertempel tulisan dengan spidol hitam yang sudah mulai pudar.

Dokumen Lama.

"Ini apa, ya?"

Ia membuka penutup kardus perlahan.

Di dalamnya terdapat beberapa map, buku catatan, serta dokumen-dokumen lama yang mulai menguning dimakan usia. Saat mengambil salah satu map, beberapa lembar kertas terjatuh ke lantai.

Nadira berjongkok untuk memungutnya.

Matanya langsung tertuju pada kop surat di bagian atas.

PT Wijaya Group.

Keningnya berkerut.

Ia membaca isi surat itu lebih teliti.

Surat Pengangkatan Karyawan

Nama : Hendra Pramesti

Jabatan : Auditor Internal

Nadira membeku.

"Ayah... pernah kerja di Wijaya Group?"

Dadanya berdebar pelan.

Selama ini ayahnya hanya bercerita pernah bekerja sebagai auditor di sebuah perusahaan besar. Tidak pernah sekali pun menyebut nama Wijaya Group.

Kenapa?

Mengapa ayah menyembunyikan hal itu darinya?

Dengan rasa penasaran yang semakin besar, Nadira kembali membuka isi kardus tersebut.

Di bawah map itu terdapat sebuah buku catatan berwarna hitam dengan sampul yang sudah mulai mengelupas. Sudut-sudut halamannya tampak usang, pertanda buku itu sering dibuka bertahun-tahun lalu.

Perlahan ia membuka halaman pertama.

Bukan cerita harian.

Bukan pula catatan pribadi.

Isinya berupa tanggal, nomor dokumen, nama divisi, hingga angka-angka yang ditulis sangat rapi.

Seperti laporan audit.

Nadira terus membalik halaman demi halaman.

Semakin lama, ia menemukan satu kata yang terus muncul berulang kali.

Aurora.

Di beberapa halaman, kata itu bahkan diberi lingkaran merah oleh ayahnya.

"Aurora?"

Nadira mengernyit.

Nama itu terdengar asing.

Ia kembali membalik beberapa halaman hingga menemukan satu kalimat yang ditulis dengan tinta berbeda.

Kalau laporan ini hilang, berarti mereka sudah lebih dulu bergerak.

Nadira terdiam.

Entah kenapa, bulu kuduknya meremang membaca kalimat itu.

"Ayah sebenarnya sedang mengaudit apa?"

Ia memandang kembali buku catatan itu.

Semakin lama dibaca, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Tentang Wijaya Group. Tentang pekerjaan ayahnya. Dan tentang proyek bernama Aurora yang berkali-kali disebut dalam catatan tersebut.

Menjelang jam operasional berakhir, Toko Buku Senja mulai kembali lengang. Satu per satu pelanggan berpamitan, menyisakan suara bel kecil di atas pintu yang sesekali berdenting setiap kali ada orang keluar. Nadira mematikan komputer kasir, lalu merapikan beberapa buku yang masih berserakan di meja.

Pikirannya masih dipenuhi kejadian semalam.

Entah kenapa, bayangan nama Bianca yang muncul di layar ponsel Arga terus berputar di kepalanya. Padahal, ia sudah berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa hubungan mereka hanyalah pernikahan kontrak. Seharusnya ia tidak berhak merasa kecewa.

"Kenapa jadi kepikiran begini, sih?" gumamnya pelan sambil mengembuskan napas panjang.

"Mbak Nad, udah selesai?" Maya muncul dari balik rak buku sambil membawa tas.

"Iya. Aku juga mau pulang."

"Pak Arga jemput lagi?"

Nadira menggeleng cepat. "Nggak. Aku naik taksi aja."

Maya mengangkat sebelah alis, tetapi memilih tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya btersenyum tipis sebelum berpamitan lebih dulu.

Beberapa menit kemudian, Nadira sudah duduk di kursi belakang sebuah taksi online. Mobil baru melaju beberapa ratus meter meninggalkan toko ketika ponselnya bergetar.

Nama Arga muncul di layar. Nadira sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

"Kamu di mana?"

"Di jalan."

"Jalan ke mana?"

"Pulang."

Arga terdiam sesaat. "Kamu nggak nunggu aku?"

Nadira memandang keluar jendela. Lampu-lampu kendaraan mulai memenuhi jalanan sore itu.

"Aku pikir Mas masih sibuk."

"Aku baru selesai rapat. Sekarang aku lagi ke toko."

"Aku udah keburu naik taksi."

"Kasih ponselnya ke sopir."

Nadira langsung mengernyit. "Buat apa?"

"Kasih saja."

"Nggak usah. Aku udah hampir sampai."

"Kasih." Nada suara Arga tetap tenang, tetapi terdengar tidak memberi ruang untuk ditolak.

Dengan sedikit kesal, Nadira menyerahkan ponselnya kepada sopir.

"Pak ... ini suami saya."

Sang sopir menerima ponsel itu dengan bingung. "Halo?"

Arga memberi banyak penjelasan, kemudian sopir itu berkata lagi. “Oh, begitu. Baik, Pak. Siap!"

Beberapa detik kemudian, sopir mengembalikan ponsel sambil tersenyum kecil. "Suami Mbak nyuruh saya berhenti di depan minimarket. Katanya beliau mau jemput langsung."

Nadira langsung menggeleng. "Nggak usah, Pak. Jalan aja."

Belum sempat sopir menginjak pedal gas lebih dalam, sebuah mobil hitam perlahan menyalip dari sisi kanan lalu berhenti beberapa meter di depan mereka.

Lampu sein kirinya menyala. Nadira mengenali mobil itu dalam sekejap.

"Astaga..."

Pintu mobil terbuka. Arga turun dengan langkah tenang, lalu menghampiri jendela taksi. Sopir hanya terkekeh pelan.

"Suami Mbak gigih juga, ya."

Wajah Nadira langsung memanas. Ia membuka pintu perlahan, lalu turun sambil menatap Arga yang sudah berdiri di sampingnya.

"Aku kan bilang udah hampir sampai." Arga menatapnya datar. "Rumah kita masih dua puluh menit lagi. Naik ke mobilku,” perintahnya.

"Mas..."

"Nadira." Nada suara Arga tidak tinggi, tetapi membuat Nadira tahu bahwa pria itu tidak akan menyerah.

Dengan helaan napas pasrah, Nadira akhirnya berpamitan kepada sopir taksi dan berpindah ke mobil Arga. Begitu pintu mobil tertutup, suasana langsung dipenuhi keheningan.

Arga kembali menjalankan mobil tanpa berkata apa-apa selama beberapa saat. "Aku minta maaf."

Nadira menoleh.

"Untuk semalam." Tangan Arga tetap menggenggam kemudi. "Telepon itu memang penting."

Nadira hanya diam.

"Bianca ingin bertemu." Kalimat itu membuat Nadira tanpa sadar menegakkan punggungnya. "Tapi aku bilang tidak bisa membahasnya lewat telepon. Kalau memang harus bertemu, ada waktunya sendiri."

Ia melirik Nadira sekilas. "Aku nggak berniat menyembunyikan itu."

Nadira menatap jalanan di depan. "Aku nggak nanya juga."

"Aku tahu." Jawaban Arga justru membuat suasana kembali hening.

Meski begitu, entah kenapa, beban kecil di hati Nadira perlahan terasa sedikit lebih ringan. Mobil terus melaju membelah jalanan malam.

Namun, beberapa mobil di belakang mereka, sebuah sedan hitam tampak mempertahankan jaraknya.

Arga sempat melihat ke kaca spion. Sedan itu masih di sana. Ia kembali fokus menyetir. Mungkin hanya kebetulan.

Beberapa menit kemudian, setelah melewati dua persimpangan, mobil yang sama masih mengikuti.

Kening Arga berkerut tipis. Tatapannya kembali mengarah ke kaca spion.

Sedan itu tetap menjaga jarak. Tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak pernah benar-benar menghilang dari pandangannya.

"Nad."

"Hm?"

"Kamu capek?"

"Iya, sedikit."

"Kalau capek, tidur aja."

Nadira mengangguk pelan tanpa menyadari bahwa perhatian Arga kini lebih banyak tertuju ke kaca spion daripada ke jalan di depan. Ia memilih diam.

Belum ada alasan untuk membuat Nadira khawatir. Sementara itu, dari balik kaca gelap sedan hitam, seorang pria menatap mobil Arga yang terus melaju.

Ponselnya terangkat ke telinga. "Target sudah bersama Arga Wijaya."

Suara di seberang terdengar singkat. "Terus awasi mereka."

"Paham."

Sambungan telepon terputus.

Sedan hitam itu kembali menjaga jarak, mengikuti mobil Arga dalam diam, seolah menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!