Camaraderie berarti rasa saling percaya dan persahabatan diantara orang-orang yang menghabiskan banyak waktu bersama.
Seperti halnya dengan dua anak manusia yang bertemu dan berteman sejak mereka kecil, namun karena tuntutan pekerjaan orang tua, mereka harus terpisah.
Mereka percaya bahwa dikemudian hari mereka akan bertemu dan bersama kembali, entah sebagai teman bermain seperti dulu atau sebagai teman hidup di masa depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami dan Papa Pilihan
"Mas, makan malamnya mau apa?" tanya Ara.
"Yang berkuah, Ra "
"Kalau ibu?"
"Mau yang pedas." jawab Gea.
Ara mengangguk, ia lalu membuka aplikasi pesan makanan pada ponselnya.
"Kakak gak ditanya, ma?" tanya Ale.
"Udah mau makan emang? Perasaan kemarin-kemarin nolak terus."
"Masih pahit." jawab Ale kemudian.
"Jadi selama ini kakak gak ada makan?" tanya Altair dengan nada yang galak.
"Kak, anaknya jangan diomelin. Masih sakit itu" Gea memperingati anaknya.
"Nggak ngomel, bu" ucap Altair.
"Rasain" ejek Ara.
Altair menarik tangan istrinya yang tadi memberikan potongan buah ke Ale. Hal itu lantas membuat Ara ikut duduk di atas bed.
"Ngejek terus. Siapin dirilah. Udah puasa dua pekan ini" bisik Altair.
"Dih, mas. Awas, mau berdiri ini. Mau duduk sama ibu saja. Gak kasihan itu, anaknya sedang makan buah " Ara lalu jalan ke sofa dan duduk di sebelah mertuanya.
"Kalian ini, gemas sekali." Gea menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah anak dan menantunya.
"Ada anak kecil juga" ujar Ara.
Ale yang merasa disindir hanya bisa diam sembari menikmati manisnya buah di depannya.
"Kalian ini beneran jodoh. Gak salah ayah dan papamu bikin perjanjian. Ibu lihat, Altair tidak hanya diperuntukkan menjadi suami kamu, tapi juga papa untuk Ale. Merasa gak sih Ra, kian kesini, wajah Ale tuh ada kemiripan dengan Altair?"
Mata Ara lalu tertuju kepada anak dan suaminya yang duduk berdekatan di atas bed. Mata mereka sama-sama bulat, bulu mata mereka juga lentik. Ale tidak hanya mirip dengannya, tapi ada wajah Altair juga pada wajah anak perempuan mereka. Tapi jika di nalar, itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena Ale bukanlah anak biologis mereka.
"Percaya takdir kan?" tanya Gea.
"Percaya, bu."
"Ibu merasa kalian ini benar-benar satu kesatuan. Ale bukan anak kandung Altair, tapi ikatan mereka lebih kuat jika dibandingkan dengan Al dan Aric. Tuhan sebegitu adilnya, tidak mengikat Ale dan Altair lewat darah, tapi lewat ikatan bathin. Selama ini yang paling sering dapat firasat itu Ale kan?"
Ara mengangguk.
"Iya, bu."
"Kamu hebat, sayang. Bisa mengikat mereka, dan membangun keluarga kecilmu menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ale, Al, Aric, kok yah mirip semua?" Gea terkekeh.
"Terima kasih, bu."
"Untuk apa lagi?"
"Karena ibu sudah melahirkan mas Altair, hingga bisa menjadi suami Ara dan menjadi papanya anak-anak." jawab Ara.
Gea mengangguk.
Sementara di bed pasien, Ale disuapi oleh Altair.
"Jadi awalnya kakak hanya panas dingin?"
"Iya, pa. Malam baru muntah, terus muntahnya ada darah. Tengah malam baru kesini."
"Gak ke KSA?"
"Rencananya, kalau gak ada perubahan sampai pagi, baru deh ke KSA. Tapi ternyata gak seperti rencana, belum juga pagi tapi udah ke KSA, malah langsung kesini " ringis Ale.
"Kakak jangan terlalu aktif dulu, istirahat yang cukup. Maaf yah, waktu kakak kesakitan, papa gak ada."
"Kan sekarang papa sudah di sini." Ale tersenyum.
"Pinter anak papa" Altair merapikan poni anaknya.
Pintu kamar diketuk dari luar, sepertinya kurir yang datang. Ara segera berdiri untuk mengambil pesanannya.
"Mas, makan dulu " panggil Ara.
"Bentar" ujar Altair.
Ara lalu menyiapkan makan malam mereka.
"Mau ikut ke sofa?" tanya Altair kepada anaknya.
"Mau, pa " Ale mengangguk.
Dengan sangat mudah Altair mengangkat anaknya dan juga mendorong tiang infus ke sofa. Ia mendudukkan Ale di sebelah Gea.
"Mau coba makan? Baksonya enak ini, mercon " tawar Gea.
"Apa gak masalah, bu?" tanya Altair.
"Nggak tahu lah ibu. Kan yang penting anaknya mau makan." jawab Gea dengan sangat polos.
"Sepertinya baksonya enak, nek" ucap Ale. Ia merasa ngiler sekarang ini, apalagi saat melihat kuahnya yang merah merona.
"Kak, jangan ngada ngada deh" omel Ara.
"Neek!"
"Dikit saja yah tapi."
Ale mengangguk.
Altair memilih duduk disebelah istrinya, membiarkan anaknya dimanja oleh Gea.
"Ra!"
"hmm"
"Suap juga dong" pinta Altair.
"Ngada-ngada mas ini" ujar Ara, tapi tetap menyuapi suaminya.
Ale dan Gea terkikik geli melihat papanya disuapi seperti anak kecil.
Baru tiga kali Ale menerima suapan dari Gea, namun ia kembali mual. Tanpa sadar Ale berdiri dan bejalan cepat ke kamar mandi, membuat tali infusnya terbentang dan tangannya berdarah.
Altair kelewat panik dan menyusul anaknya.
"Maaf, Ra " Gea merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf, bu? Kan kakak sendiri yang mau tadi. Ara juga kasihan lihat muka mupeng nya." Ara mengelus lengan mertuanya.
"Ibu lanjut makan dulu yah" ucap Ara lagi. Ia kemudian berdiri dan menyusul anaknya ke kamar mandi.
"Sama mama dulu yah. Papa panggilkan dokter" ujar Altair.
Ale mengangguk. Ia kembali ke bed nya sambil dipapah oleh Ara.
"Maaf, ma."
"Maaf untuk apa nih?"
"Karena udah ganggu makan mama dan nenek, papa juga." ringis Ale.
"Ngawur. Namanya juga percobaan, jadi yah siap-siap saja gagal. Lihat kakak tadi pengen makan, mama senang lihatnya." Ara tersenyum, sembari mengusap kepala anaknya.
Altair kembali bersama dokter muda yang baru tadi pagi merawat Ale. Ia dengan telaten membersihkan tangan Ale yang terdapat darah.
"Infusnya dipindahkan ke tangan sebelah yah?"
"Eh-"
"Gak sakit kok" ucap dokter itu menenangkan.
Pekikan Ale terdengar saat jarum itu menembus vena nya.
"Terima kasih, dok" ucap Ara.
"Sama-sama, bu. Dek Ale jangan berjingkrak-jingkrak dulu yah." pesan dokter tersebut.
"Siap, dok." Ale mengangguk cepat.
Selepas kepergian dokter tadi, Ara dan Altair melanjutkan makan malam mereka. Ale tidak lagi ikut makan, melainkan berbaring sambil menatap langit-langit ruangan.
"Perasaan tanggungan untuk keluarga gak gini, Ra. Bayar selisih berapa?" tanya Altair.
"Free" jawab Ara.
"Kok bisa? Kalau di Mahalaga , bayar jutaan ini." Gea ikut kepo.
"Yang punya kan om Aland. Om Aland itu teman papi. Terus cucunya om Aland, temanan semua tuh sama Ale." jawab Ara.
"Yang kemarin itu?" tanya Gea.
"Iya, bu. Tapi ini rahasia yah. Soalnya beliau memang menutup diri sejak beberapa tahun terakhir." pinta Ara.
"Ow" Gea mengangguk mengerti.
"Gak enak saya ke om Aland." ringis Altair.
"Aku sudah nolak, mas. Tapi diancam papi. Masa' anak aku kau mau di bawa pergi." curhat Ara.
Hueeek
Percakapan ketiganya terhenti saat mendengar Ale mual. Sebagai papa yang siaga, kurang dari tiga detik Altair sudah duduk bersama anaknya di sofa bed.
"Mau muntah?"
"Tolong tissue nya, pa"
Altair mengambil beberapa tissue dan menyusunnya, lalu mendekatkan ke mulut anaknya.
"Udah?"
Ale mengangguk.
Altair membaringkan kembali anaknya dan ikut tidur.
"Istirahat dulu yah. Besok baru ngobrol lagi." Altair mengelus rambut anaknya, sembari menunggu anaknya tertidur.
Semangat.. 😍😍
ditunggu karya berikutnya kak ❤🌹🌸💐🍁
Justru sekarang harus semangat, bangkit masih ada Air dan Alden yg butuh perhatian dan cinta untuk kehidupan masa depan keluarga.. 😍😍
selalu menyempatkan waktu untuk bisa hadir. sesibuk apapun, tak ada yang lebih berharga selain kebersamaan.. dalam suka dan duka saling support dan doa... 😍😍😍
Jangan lama- lama Ale ngambeknya. gak baik nanti kebablasan. 😇😇😄