Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Medan Pertempuran
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari kamar luas dan asri tempat Amanda tertidur lelap semalaman. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Amanda terbangun dengan perasaan yang begitu tenang. Tidak ada lagi rasa curiga, cemas, atau beban sandiwara yang meremas dadanya.
Saat Amanda mendudukkan diri di tepi ranjang sembari merapikan rambutnya, pintu kamar terbuka pelan. Ibunda Arya melangkah masuk membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring nasi goreng yang aromanya menggugah selera.
Amanda yang melihat hal itu segera bangkit dengan rasa tidak enak hati. "Bu... kenapa repot-repot? Nanti aku bisa turun makan sendiri," ucap Amanda santai sembari menghampiri dan berniat mengambil alih nampan tersebut.
Ibunda Arya mengulas senyum lembut, menggeleng pelan lalu meletakkan nampan di atas meja kecil dekat tempat tidur. "Sama sekali tidak repot, Nak. Ibu justru senang melihatmu bisa tidur nyenyak semalaman. Kamu butuh energi banyak untuk menghadapi hari ini."
Ibunda Arya mengusap bahu Amanda penuh kasih sayang. Ia menyadari sepenuhnya betapa berat beban yang dipikul wanita muda di hadapannya ini.
"Arya semalam tidur di sofa ruang tamu karena tidak mau mengganggumu," lanjut ibunda Arya dengan terkekeh pelan. "Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan sekarang sedang sibuk berdiskusi dengan tim hukumnya di teras depan. Santaplah sarapanmu dulu, setelah ini Arya ingin mengajakmu bicara soal berkas gugatan."
Mendengar perhatian tulus dari ibu dan anak itu, dada Amanda kembali dihinggapi rasa hangat yang luar biasa. Ia mengangguk pelan sembari menyunggingkan senyum tulus pertamanya. Hari baru telah tiba, dan dengan dukungan orang-orang baik di sekelilingnya, Amanda siap melangkah menghadapi Zidan dan Zahra di meja hijau.
Usai menyelesaikan sarapannya, Amanda melangkah keluar dari kamar. Di teras depan, Arya terlihat begitu rapi dengan kemeja putih dan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya. Di atas meja kayu terhampar beberapa map tebal berisi dokumen hukum, salinan foto penggerebekan semalam, serta kilat penggerak (flashdisk) berisi rekaman bukti perzinahan Zidan dan Zahra.
Melihat kehadiran Amanda, Arya menghentikan pembicaraannya dengan salah satu staf hukumnya. Ia berdiri dan menatap Amanda dengan sorot mata yang menenangkan namun sarat akan ketegasan.
"Amanda, bersiap-siaplah," ucap Arya dengan nada suara yang mantap. "Pagi ini kita akan langsung menuju ke Pengadilan Agama untuk mendaftarkan gugatan cerai, dilanjutkan ke markas kepolisian untuk melayangkan laporan pidana atas tindakan Zidan dan Zahra."
Arya merapikan dokumen-dokumen itu lalu memasukkannya ke dalam tas kerja kulitnya. "Semua bukti sudah solid dan tidak ada satu pun celah untuk mereka berbelit. Ini saatnya kita menuntut balik seluruh hakmu dan membalas setiap kejahatan mereka secara resmi di mata hukum."
Amanda mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keberanian. Rasa takut dan ragu yang dulu sempat membelenggunya kini telah menguap sepenuhnya.
"Berikan aku waktu sepuluh menit untuk bersiap, Arya," balas Amanda tenang.
Amanda berbalik menuju kamar, mengenakan pakaian terbarunya dengan penuh rasa percaya diri. Tidak ada lagi wanita lemah yang berpura-pura buta di dalam dirinya. Pagi ini, dengan Arya di sisinya dan kebenaran di tangannya, Amanda siap melangkah tegak menjemput keadilan.
Mobil sedan putih milik Amanda meluncur membelah kepadatan lalu lintas kota di bawah kendali Arya. Di dalam ruangan mobil yang sejuk, suasana terasa begitu tenang namun dipenuhi ketegangan profesional. Amanda menatap lurus ke jalan raya, merasakan ketenangan yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidup bersama Zidan.
"Kita ke Gedung Pengadilan Agama terlebih dahulu untuk menyerahkan dokumen gugatan perceraian serta tuntutan pembagian harta gono-gini secara penuh," terang Arya sembari sesekali memantau kaca spion. "Setelah berkas terdaftar dan nomor perkara keluar, kita langsung menuju kantor kepolisian wilayah untuk menyerahkan bukti rekaman live stream dan laporan perzinahan."
Amanda mengangguk mantap. "Lakukan apa pun yang terbaik sesuai hukum, Arya. Aku tidak akan menyisa satu celah pun untuk Zidan mengemis kesempatan kedua."
Sementara itu, di sudut kota lainnya, Zidan terduduk lemas di kantornya dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata. Ia sama sekali tidak bisa tidur semalaman. Ponselnya terus-menerus berdering menampilkan nama Zahra yang mencoba menelponnya puluhan kali, namun Zidan enggan mengangkatnya. Kepalanya berdenyut hebat, dibayangi rasa takut yang amat sangat akan hancurnya nama baik dan kariernya.
Tepat pukul sebelas siang, sebuah mobil polisi dan kendaraan operasional dari tim hukum Arya berhenti tepat di depan gedung kantor Zidan. Beberapa staf kantor memandang heran ketika Arya bersama petugas kepolisian berseragam resmi melangkah masuk menuju lantai manajemen tempat Zidan bekerja.
Pintu ruangan kerja Zidan terdorong terbuka tanpa ketukan mendadak. Zidan tersentak kaget dari kursi kebesarannya saat melihat Arya berdiri di ambang pintu bersama dua anggota kepolisian.
"Saudara Zidan," panggil salah satu petugas kepolisian dengan suara berat dan resmi. "Kami datang membawa surat pemanggilan resmi atas laporan dugaan tindak pidana perzinahan dan pencemaran nama baik yang dilayangkan oleh Saudari Amanda, didukung oleh bukti-bukti autentik yang telah diserahkan ke pihak penyidik."
Wajah Zidan seketika pucat pasi bagai kertas. Seluruh karyawan di luar ruangan mulai berbisik-bisik dan menatapnya dengan pandangan hina. Di balik punggung petugas, Arya menatap Zidan dengan sorot mata dingin yang seolah menegaskan bahwa kehancuran total Zidan baru saja dimulai.