Seorang abdi negara yang berusia matang, di pertemukan dengan gadis muda yang tingkahnya mirip petasan.
~
"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"
"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.
"Apa?"
"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"
"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."
"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."
"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."
"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.
Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi dan lagi!
Berkali-kali Caca nampak berdehem menahan tawa yang hendak keluar. Ia menoleh ke arah kakaknya yang sedari tadi duduk diam berusaha tenang, namun tersirat semburat malu yang nampak samar di rautnya yang kaku. Setelah tragedi mengejutkan tadi malam, pria itu nampak diam seribu bahasa, sedikitpun enggan berbicara.
Beralih, ke sebelahnya Ranti tertunduk mecucu menyembunyikan rasa takut akibat ulahnya yang lagi-lagi bikin orang elus dada.
Ingat saja semalam ia membuat onar dengan berteriak kencang hingga menarik atensi seisi rumah.
Braja, bahkan pria itu sampai bergerak serampangan menutup mulut gadis itu sambil membenarkan letak sarungnya. Ia hanya tak habis pikir, bagaimana bisa gadis itu tersungkur sambil menarik sarungnya, benar-benar! Beruntung senapannya masih terhalang boxer hitam, kalau saja ia lupa memakai benda itu Bisa-bisa anak itu langsung pingsan begitu melihat ukurannya. Braja sampai mendengus kesal sambil menggebrak pintu kamarnya. Rasa-rasanya kesabaranya sudah di permukaan ubun-ubun menghadapi gadis satu ini.
"Sudah jangan tegang begitu, Aku udah lupa kok tentang kejadian semalam," celetuk Caca sambil mendengus geli, yang secara tidak langsung ia juga mengingatkan perihal kejadian semalam.
Mendengar ucapan Mbak Caca barusan, kontan raut Ranti semakin merah padam. Ia semakin menunduk hingga keningnya menempel di atas meja, ia bahkan tak berani berkutik dan mengacuhkan sarapan paginya. Padahal sayang, si Mbok masak balado terong teri hari ini, kalau tidak mengingat kejadian tadi malam dan keberadaan Braja di hadapannya, ia pasti sudah habis berpiring-piring nasi.
Huhuhu ... Nasib, nasib! Memang pantas kalau dirinya di juluki si ceroboh!
"Diam kamu!" saut Braja dari sebrang meja dengan raut kakunya.
"Lahh kan memang bener kalau kalian jadi gugup begini? Apa lagi tuhh si Ranti, duduknya sampe nekuk kaya kungkang begitu," dalihnya dengan tertawa lebar.
"Lagian bisa-bisanya itu sarung sampe melorot begitu, emang Mas ngapain?" lanjutnya lagi dengan raut menggoda.
"Sudah, sudah. Kalian ini apa-apaan?," cetus Bu Indira melerai. "Caca cepet abisin nasi kamu, ingat kamu masih ada deadline tugas kuliah!"
"Ranti, duduk yang betul. Ayo cepat di makan itu nasinya," lanjutnya kemudian kembali fokus dengan sarapannya.
Samar-samar Bu Indira juga mengulum senyum geli jika teringat Ranti dan Braja tadi malam. Perutnya sampai nyeri karena tertawa terbahak melihat kejadian itu. Jarang-jarang kan ia bisa melihat raut anaknya yang kaku berubah gelagapan dan bersemu merah begitu.
Braja yang ada di sebelahnya tentu menangkap gelagat dari ibunya. Ia lantas berdiri dan melenggang pergi karena teramat malu akan kejadian semalam.
Namun, sebelum itu menoleh sejenak ke arah Mbok Darmi.
"Mbok, rompi yang ada belakang pintu itu, tolong di cuci yaa. Besok mau saya pakai."
Mengerjap lamat. "Rompi? Tanya Mbok Darmi memastikan dengan raut bingung.
"Iya, rompi hitam yang saya gantung di belakang pintu itu," ujarnya sambil menunjuk pintu yang berada di antara ruang tengah dan juga dapur.
Mendengar perihal rompi dan ikut menoleh arah telunjuk yang di tuju Braja. Ranti lantas teringat akan rompi aneh yang ia pakai saat memancing kemarin pagi.
Sejurusnya ia ngacir begitu saja hingga menarik tatapan heran dari semua orang.
Tak perlu waktu lama, ia langsung kembali dan membawa sebuah barang yang di maksud Braja barusan.
"Nihh, maaf kemaren aku pinjam buat mancing di depan sana," cicitnya dengan cengiran lebar yang begitu khas nan melekat pada dirinya.
Braja lantas menerimanya dan meraihnya asal. Jangan di tanya rautnya seperti apa? Sudah pasti ia full mendelik dengan rahang yang mengetat sempurna, persis tokoh kartun angry birds! Hahaha ...
Berbeda dengan Braja yang tampak galak, Caca dan juga Indira seketika tak dapat menahan tawa hingga bulir bening keluar dari sudut netranya.
Sedangkan Ranti hanya meringis takut sekaligus malu tak jauh berbeda dengan Mbok Darmi.
"Ya allah, aku bikin ulah kok terus-terusan begini yaa? Udah mirip angsuran utang aja saking seringnya."
...----------------🍁🍁🍁----------------...
Guys, minta tolong buat yang belum sub cerita ini tolong di subs yaa, jangan lupa juga like nya, bantu aku supaya bisa lulus kontrak teman-teman🙏🤗
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hhuuuuaaaaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
wesss tabok ae Ran....
jan macam² kamu BajaHitam...
s' BajaHitam ini ya...
klo smp rindu beneran ku tabok pake teflon keramat...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🏃🏃
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣