PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keabsurdan Berlanjut
Begitu sampai di panggung, Dipa langsung mengatakan lagu apa yang akan dinyanyikan olehnya pada para pengiring. Setelah mengatakan apa yang hendak dinyanyikan, pria itu maju ke depan. Sementara Gilang masih berbicara. Dia akan menyanyikan lagu berbeda dengan pilihan Dipa.
Sengaja Gilang tidak mendekati Dipa yang sudah berada di bagian depan panggung. Pria itu menunggu aksi kakak sepupunya itu. Dipa mulai menyapa pada tamu yang hadir. Cakra bertepuk tangan cukup kencang. Dia yakin sekali kalau cucunya itu akan memperlihatkan kemampuannya bernyanyi, seperti halnya Sam.
“Selamat malam semuanya,” sapa Dipa.
“Selamat malam.”
“Di kesempatan kali ini, ijinkan saya dengan adik sepupu saya mempersembahkan lagu untuk menghibur bapak dan ibu semua.”
Ketika mengatakan itu, mata Dipa tidak lepas melihat pada Aiza. Sambil berbincang dengan Fara, Aiza sesekali melihat ke arah panggung. Sam yang berada di sampingnya tentu saja merasa keki melihat Dipa yang berusaha menarik perhatian gadis yang dicintainya. Andai bisa, ingin rasanya dia menarik turun Dipa dari sana.
Kepala Dipa menengok ke belakang, memberi tanda pada para pengiring. Irama musik pun langsung terdengar. Dipa berjalan-jalan di panggung sambil menepuk-nepuk pelan tangannya. Sebisa mungkin gaya di panggung dibuat se-cool dan se-calm mungkin.
“Jantan, pejantan tangguh, itu yang kuharap, ada padaku. Agar, agar diriku, bisa melumpuhkan tingkah liarmu.”
Ketika menyanyikan bait terakhir, jari Dipa menunjuk pada Aiza. Fara menyenggol bahu sepupunya. Aiza hanya tersenyum saja. Di sisi lain, Sam semakin dibuat kebakaran jenggot. Dipa melanjutkan nyanyiannya, sambil memperlihatkan gaya cool-nya.
“Jangan, jangan siakan, kehadiranku pada mimpimu. Karena, hanya lewat mimpi, kubisa menjamahmu dan juga memilikimu.”
Dipa mengedipkan matanya pada Aiza ketika menyanyikan bait terakhir. Gilang yang memperhatikan dari belakang hanya melongo saja melihat sikap jaim Dipa. Pria itu benar-benar ingin terlihat keren di mata Aiza. Bertolak belakang dengan tingkahnya sehari-hari.
“Di persembunyian aku menari. Di persembunyian aku bernyanyi. Pejantan tangguh.”
Masih dengan gayanya yang dibuat sekalem dan sekeren mungkin, Dipa bergerak mengikuti irama lagu. Kemudian pria itu menoleh ke belakang. Bersiap untuk memanggil sepupunya untuk ikut bergabung.
“Gilang!”
Dengan mic di tangannya, Gilang maju ke depan. Aransemen musik pejantan tangguh mulai berubah ketika Gilang maju ke depan. Refleks Dipa menolehkan kepalanya. Lagu yang akan dibawakan Gilang bukanlah yang diharapkan olehnya. Gilang menepuk pundak Dipa, dia mulai bernyanyi dengan gaya seolah-olah tengah menasehati pria itu.
“Bila ingin melihat ikan, di dalam kolam. Tenangkan dulu airnya, sebening kaca. Bila mata tertuju pada, gadis pendiam. Caranya tak sama menggoda dara lincah. Hei.. sek..”
Gilang berjoged mengikuti irama lagu. Sementara Dipa tetap berusaha menjaga image-nya. Melakukan gerakan seperlunya. Dia mendekati Gilang, kemudian berbicara dengan suara pelan.
“Lo ngapain bawa lagu ini? Hilang wibawa gue, monyong.”
“Ah elah abang, jangan sok jaim. Tunjukkan kepribadian abang yang sebenarnya. Jangan ngikutin gayanya bang Sam. Tunjukkan kesomplakanmu dan buat Aiza berpikir kalau kalian satu frekuensi. Jadilah diri sendiri.”
“Eh benar juga.”
“Jangan, jangan dulu. Janganlah diganggu. Biarkan saja dia duduk dengan tenang,” Gilang melanjutkan nyanyiannya.
“Senyum, senyum dulu, senyum dari jauh. Kalau dia senyum, berarti hatinya mau. Hei,” Dipa menyambung nyanyian Gilang.
Keduanya kemudian berjoged mengikuti irama musik. Gilang sengaja meminta pengiring mengaransemen lagu tersebut dengan gaya remix. Zar dan Arya langsung memberikan semangat pada duo joker di atas panggung.
“Tarik, mang!”
“Goyang terus sampai pagi!”
Mendapat suntikan semangat dari Zar dan Arya. Gilang dan Dipa semakin bersemangat. Gilang menggoyangkan dadanya seperti penari India, sementara Dipa menggoyangkan pinggulnya memperagakan goyang itik. Aiza dan Fara tidak bisa menahan tawanya melihat gaya kedua pria itu. Sementara Sam masih memasang wajah masam.
“Abaaaaang banting dedek, bang. Abaaaang cekik dedek bang,” Gilang menaruh sebelah tangannya di leher seperti tengah mencekik.
“Sudah lamaaaaaa abang ngga banting dedek. Sudah lamaaaa abang ngga cekik adik,” sambung Dipa.
“Pulang atuh pulang, dedek sudah rindu. Pulang atuh pulang, dedek pingin dibanting.”
“Pulang atuh pulang, dedek sudah rindu. Pulang atuh pulang, dedek pingin dibanting.”
Keduanya terus bergoyang ketika instrument musik terdengar. Gerakannya sudah bermacam-macam. Kadang keduanya menirukan gerakan senam ibu-ibu kompleks. Kenzie menepuk keningnya melihat tingkah kedua keponakannya. Kenan menyembunyikan wajahnya dibalik punggung istrinya. Sementara Irvin berpura-pura mencari barangnya yang terjatuh di lantai.
“Astaga, itu cucu kita, Bi?” tanya Cakra dengan wajah melongo. Pria itu tidak percaya melihat cucunya yang sudah seperti cacing kepanasan.
“Turunan Abi dan Cakra memang luar binasa,” Juna.
“Tiada dua, tiada banding,” Jojo.
“Mirip kaya para dedengkotnya,” Kevin.
“Limited edition itu. Patut dilestarikan,” celetuk Abi membela cucunya.
Sementara Fahri dan Vano tidak bisa berhenti tertawa melihat keabsurdan dua pria di atas panggung. Aiza dan Fara juga terus tertawa. Diam-diam Sam tersenyum melihat tingkah konyol adiknya bersama dengan Dipa. Pantas saja kalau keduanya disebut duo sableng.
Penampilan cetar membahana yang ditampilkan Dipa dan Gilang berakhir sudah. Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar ketika keduanya turun dari panggung. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian penghargaan untuk pegawai teladan.
“Aiz.. ayo kita duet, biar sama kaya mereka,” ajak Fara bersemangat.
“Eh ngga.. ngga.. jangan macam-macam ya kamu.”
Farhan dengan cepat melarang cucunya untuk naik ke atas pentas. Dia tahu benar kelakuan cucunya ini. Jika bergabung dengan Aiza, maka kedua gadis ini akan tampil heboh. Bahkan kehebohannya bisa melebihi trio macan.
“Ah kakek ngga asik. Kan kita juga mau menghibur kek,” protes Fara.
“Emang kamu mau nyanyi apa sih?” tanya Vano.
“Lagu orang yang girang abis buat dosa,” jawab Fara santai.
“Lagu apaan tuh?” tanya Sam bingung.
“Lagu ini nih… kuhamil duluan, sudah tiga bulan. Gara-gara pacaran gelap-gelapan.”
PLETAK
Sebuah sentilan langsung mendarat di kening Fara. Gadis itu memajukan bibirnya beberapa senti sambil mengusap keningnya yang terasa panas setelah terkena sentilan Farhan. Cakra yang sedang minum hampir saja menyemburkan minumannya. Ternyata cucu dari Farhan sama gilanya seperti cucunya.
Perhelatan pesta ulang tahun Metro East usai sudah. Satu per satu tamu yang datang mulai meninggalkan tempat acara. Aiza pun bersiap untuk pulang. Dia akan pulang bersama dengan ayahnya. Sam mengantarkan gadis itu sampai ke dekat mobilnya.
“Neng.. nanti Senin, kita makan siang bareng, mau?” ajak Sam.
“Ehm.. lihat nanti ya, a.”
“Kalau kamu mau, nanti hubungi aa aja.”
“Iya, a.”
Sam membukakan pintu untuk Aiza. Pria itu menganggukkan kepalanya pada Zidan, bakal calon ayah mertuanya. Tak lama kemudian, kendaraan roda empat yang membawa gadis pujaannya melaju.
“Aiz.. kamu kenal Sam di mana?”
“Aku kenal pas presentasi proposal di Das Archipel. Tapi ternyata aku udah ketemu sama dia dua kali sebelumnya.”
“Kamu suka sama Sam?” tanya mama Aiza.
“Ehm… ngga tau, bun.”
“Panggilannya aja udah aa sama neng. Pasti ada sesuatu itu,” goda Ghazi, kakak Aiza.
“Abang jangan fatonah.”
“Hahaha..”
Sementara itu, Gilang yang pulang bersama dengan Abi, mencoba menagih bayaran pada kakeknya. Pria itu yakin sudah menjalankan tugasnya dengan benar.
“Kek.. jangan lupa bayarannya,” ujar Gilang sambil berbisik.
“Iya, tenang aja. Nih kakek bayar cash sekarang,” jawab Abi sambil berbisik juga.
Abi mengambil dompet di saku celananya. Pria itu mengeluarkan selembar seratus ribuan, lalu memberikannya pada Gilang. Pria itu hanya melongo saja melihat uang di tangannya.
“Ngga salah, kek? Kok cuma cepe?”
“Mau ngga?”
“Iya deh, mau dari pada ngga dapet. Nasib-nasib.. udah gual geol sampe v*ntat keringetan, dapetnya cuma cepe.”
“Masih untung kakek kasih cepe. Dari pada kakek kasih seceng.”
“Kakek Abi lebih kejam dari pada emak tere.”
Gilang menyanyi dengan irama lagu ibu tiri. Nina hanya tertawa saja melihat interaksi suami dan cucunya ini. Turunan Kenan memang benar-benar ajaib. Kepribadian Sam dan Gilang benar-benar bertolak belakang. sudah seperti bumi dan langit. Sam yang bertugas sebagai supir, hanya tersenyum saja.
🍄🍄🍄
Besok aku libur ya, udah 20 bab soalnya🤗