NovelToon NovelToon
Dibeli Sang Mafia

Dibeli Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Dark Romance / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Valéria Bezerra

Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.

Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.

Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 Jam Berikutnya

Seminggu kemudian...

POV Dokter

"Mulai hari ini, jangan berikan lagi obat koma induksinya, ya?"

POV Perawat

"Baik, Dok."

POV Dokter

"Sekar, awasi dia baik-baik sampai besok. Sekecil apa pun reaksinya, segera kabari kami. Dua puluh empat jam ke depan, apa pun bisa terjadi. Mengerti?"

POV Sekar

"Mengerti, Dok. Saya akan menjaganya. Terima kasih!" Dokter itu pun keluar.

"Hendra, kamu sudah boleh bangun, ya? Pokoknya besok aku mau lihat matamu terbuka. Paham?"

POV Beti

"Halo, Sayang. Perlu sesuatu?"

POV Sekar

"Tidak, Bu Beti. Tapi kalau Ibu lagi senggang, tolong temani aku ngobrol sebentar. Aku perlu pengalih pikiran, supaya tidak tegang menunggu dia bangun."

POV Beti

"Tentu, Sayang. Mau bicara soal apa?"

POV Sekar

"Aduh, Bu Beti... hidup itu ironis ya? Lihat aku, hampir seluruh darahku kuberikan demi menyelamatkan laki-laki yang dulu kubenci."

POV Beti

"Dulu? Sekarang sudah tidak benci lagi?"

POV Sekar

"Hidup ini terlalu singkat dan penuh kejutan untuk dihabiskan dengan membenci orang, Bu Beti. Apalagi orang yang sebenarnya tidak pernah menyakiti kita." Kupandangi dia.

POV Beti

"Menurut Ibu begini, Nak. Kamu tidak pernah benar-benar membencinya. Kamu cuma terluka oleh semua yang menimpamu, karena percaya pada orang-orang yang salah dan ditikam dari belakang. Lalu kamu melampiaskannya pada dia, padahal dialah yang menyelamatkanmu dari nasib yang jauh lebih buruk."

POV Sekar

"Iya juga... Sekarang aku ingin berterima kasih padanya, tapi dia malah begini. Lagi pula, jujur saja, dia orangnya susah, dan sering bikin aku kesal setengah mati."

POV Beti

"Ayahnya yang membentuk dia jadi begitu, Nak. Kamu tidak tahu kekejaman apa saja yang sudah dilakukan ayahnya. Baskoro yang kamu kenal sekarang itu ibarat malaikat yang menjelma dari seorang monster. Dia tidak pernah memberi kasih sayang pada anaknya, dan tidak membiarkan sang ibu memberikannya."

POV Sekar

Setetes air mataku jatuh. "Aku takut sekali, Bu Beti."

POV Beti

"Takut apa, Nak?"

POV Sekar

"Takut dia tidak akan pernah bangun lagi, dan aku tidak punya kesempatan melihat matanya yang indah dan terang itu."

POV Beti

"Kamu jatuh cinta, Nak?"

POV Sekar

"TIDAK, BU BETI... Ya, aku belum pernah jatuh cinta, aku tidak tahu apa-apa soal cinta dan hubungan... Tapi satu hal aku tahu, aku tidak bisa lagi membayangkan hidupku tanpa dia, sekalipun kami harus bertengkar terus seperti selama ini." Aku menangis.

POV Beti

"Ya ampun, Nak." Kupeluk dia. "Dia akan bangun, ya? Pasti, dia pasti bangun."

POV Sekar

"Kalau dia mati, aku bersumpah akan membunuhnya, Bu Beti." Aku menangis di dadanya.

POV Beti

"Tentu, Nak, kamu pasti sanggup." Aku tertawa mendengar ucapannya. Bagaimana caranya membunuh orang yang sudah mati? "Tapi tidak akan perlu, Tuan Hendra pasti bangun."

POV Sekar

"Terima kasih sudah selalu mau mendengarku, Bu Beti. Mungkin Tuhan memilih Ibu jadi ibu keduaku... Cuma, semoga anak-anak Ibu tidak membenciku." Aku tertawa kecil.

POV Beti

"Ya tidak mungkin, Sayang. Mereka suka sekali padamu, begitu juga menantu-menantu Ibu." Aku tersenyum. "Kata mereka, kamu manis, cantik, dan baik hati."

POV Sekar

"Seolah mereka sendiri tidak begitu."

Kupeluk Bu Beti sekali lagi dan ia keluar. Aku tetap di sana memandangi Hendra, memikirkan ucapan Bu Beti. Jangan-jangan aku memang jatuh cinta? Atau cuma kasihan melihatnya begini? Atau rasa bersalah? Rindu? Aduh, aku bisa gila kalau terus memikirkannya. Aku cuma ingin dia bangun, sekalipun untuk memanggilku pelacur atau bocah ingusan lagi, lalu kutampar mukanya. Ah, lebih baik kutinju. Aku tersenyum sendiri membayangkannya, mengelus wajahnya, lalu berbaring di sampingnya.

POV Beti

Aduh, Nak, seandainya kamu tahu ruangan ini dipasangi kamera yang merekam suara, dan semua rekamannya Ibu simpan baik-baik untuk diserahkan ke tangan Tuan Hendra. Aku tersenyum puas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!