Stevi memutuskan untuk melupakan cintanya kepada Alex dengan menerima lamaran dari Thomas, yang tidak lain adalah adik Alex.
Tapi di saat Stevi dan Thomas akan menikah, prahara datang. Stevi di fitnah dan itu membuat Thomas pergi dan meninggalkan Stevi.
Orang tua Thomas yang malu akan kelakuan anak bungsunya, meminta Alex untuk menggantikan adiknya menikahi Stevi.
Alex tidak bisa menolak, namun dalam hatinya Alex sangat marah karena saat ini Alex sudah mempunyai kekasih.
Akankah Stevi bertahan dengan pernikahannya ataukah Stevi memilih untuk pergi dan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Kebencian Stevi
Stevi terus saja berontak tapi tenaganya kalah oleh Alex.
"Aku mohon Kak, jangan lakukan itu," lirih Stevi dengan masih berontak.
Alex seakan tuli, dia terus saja berusaha membobol gawang Stevi namun Alex tampak menghentikan kegiatannya dan mengerutkan keningnya. Alex merasa ada yang beda, karena gawang Stevi sangatlah sempit tidak seperti wanita murahan yang sering ia lontarkan kepada Stevi.
Alex menatap wajah Stevi yang saat ini sudah sangat menyedihkan itu bahkan mata Stevi sudah sembab. Tapi hasrat Alex yang masih menggebu menginginkan menuntaskan permainan itu.
"Sakit Kak, aku mohon hentikan," rengek Stevi.
Alex terus saja melakukan aksinya hingga beberapa saat kemudian Alex pun berhasil membobol gawang Stevi, tubuh Alex lemas begitu pun Stevi yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Alex mulai bangkit dari tubuh Stevi, dilihatnya seprei itu berdarah pertanda kalau Stevi masih perawan. Alex kaget, dan sangat merasa bersalah kepada Stevi.
Perlahan Stevi bangkit lalu memungut gaunnya yang berserakan di lantai, Stevi memakai gaun itu di hadapan Alex, dia sudah tidak punya malu lagi karena Alex sudah merenggut semuanya dari Stevi.
Stevi melangkahkan kakinya secara perlahan sungguh seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Alex segera memakai celananya dan menahan lengan Stevi.
"Stev, ma-maafkan a-aku," seru Alex tergagap.
Air mata Stevi terus saja mengalir di pipinya, Stevi menghempaskan tangan Alex dan membalikan tubuhnya menghadap ke arah Alex.
Plakk...
Stevi menampar Alex dengan sangat keras. "Puas kamu sekarang, Kak? apa sekarang Kakak sudah bisa membuktikan kalau aku adalah wanita murahan? jujur, dari zaman kuliah sampai detik tadi aku masih mencintai Kakak tapi mulai sekarang rasa cinta yang selama ini aku pendam untuk Kakak sudah menghilang, mulai detik ini aku sangat membenci Kakak," seru Stevi dengan deraian air matanya.
Stevi keluar dari kamar Alex dan masuk ke dalam kamarnya, tubuh Stevi merosot ke lantai dan Stevi menangis sejadi-jadinya merasakan sakit yang sangat luar biasa.
"Thomas, Maya, dan Kak Alex, aku sangat membenci kalian semua," lirih Stevi dengan mata yang memerah menahan rasa sakit dan amarah yang sudah bercampur jadi satu.
Sementara itu di dalam kamar Alex, Alex menjambak rambutnya sendiri. Dia kembali melihat ke arah seprei yang terdapat bercak darah yang lumayan banyak itu, hatinya tiba-tiba sakit apalagi melihat wajah Stevi yang sangat menyedihkan itu.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan? aku sudah menyakiti hati Stevi, bahkan aku sudah menyangka kalau dia wanita murahan," seru Alex.
***
Keesokan harinya...
Alex sudah bangun pagi-pagi sekali, tetapi Alex tidak melihat Stevi.
"Bi, apa Stevi sudah bangun?" tanya Alex.
"Tidak tahu Tuan, soalnya Non Stevi belum keluar kamar," sahut Bi Wati.
Alex duduk di meja makan. "Bi, tolong buatkan aku kopi dan juga nasi goreng seperti biasa rasanya aku sangat lapar," seru Alex.
Wati terkejut dia tidak tahu harus melakukan apa karena yang selama ini memasak adalah Stevi bukan dirinya. Wati segera membuatkan kopi dan juga membuat nasi goreng, Wati masih ingat dengan bumbu yang sering Stevi gunakan saat membuat nasi goreng.
"Ya Allah, mudah-mudahan rasanya sama dan Tuan Alex tidak marah," batin Bi Wati.
Hingga beberapa saat kemudian, Wati pun selesai membuat nasi goreng.
"Ini Tuan nasi gorengnya," seru Bi Wati dengan menundukkan kepalanya.
Alex yang sudah sangat lapar langsung melahap nasi goreng buatan Wati itu, tapi seketika Alex mengerutkan keningnya saat merasakan kalau rasa nasi goreng itu sangat berbeda dengan nasi goreng biasanya.
"Bi, kok rasa nasi gorengnya berbeda? apa Bibi sedang sakit makanya rasanya beda?" seru Alex.
"Ma-maaf Tuan," sahut Bi Wati gugup.
"Bibi kenapa? kok gugup seperti itu?" tanya Alex.
"Ti-tidak Tuan."
Alex merasa ada yang disembunyikan oleh ARTnya itu.
"Apa ada yang sedang Bibi sembunyikan dariku?" tanya Alex dengan tatapan tajamnya membuat Wati merasa sangat ketakutan.
Bibir Wati begitu sangat kelu, ia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Di satu sisi, Wati sudah berjanji kepada Stevi tidak akan memberitahukan yang sebenarnya kepada Alex tapi di sisi lain, Wati juga merasa sangat takut kepada Alex.
"Cepat jawab, Bi!" bentak Alex sampai-sampai Wati tersentak kaget.
"Se-sebenarnya se-tiap sara-pan dan ma-kan ma-lam itu hasil masakan Non Stevi tapi Non Stevi melarang Bibi untuk mengatakannya kepada Tuan karena takut Tuan tidak mau memakannya," sahut Bi Wati ketakutan.
Prang...
Sendok yang sedang Alex pegang langsung terjatuh ke lantai, Alex benar-benar sudah melakukan kesalahan besar. Selama ini Alex mengira kalau Stevi tidak bisa melakukan apa-apa, apalagi Alex selalu saja menghinanya dengan sangat kejam.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, Alex langsung menoleh. Terlihat sekali mata Stevi sembab, seketika perasaan bersalah mulai menggelayuti hatinya.
Stevi melewati Alex begitu saja, Alex bangkit dari duduknya dan kembali menahan lengan Stevi.
"Tunggu, kamu belum sarapan," seru Alex.
Stevi menghempaskan tangan Alex dengan sangat kasar. "Aku bisa sarapan di kantor," sahut Stevi dingin.
Stevi hendak pergi tapi lagi-lagi Alex menahan lengan Stevi membuat Stevi semakin kesal kepada Alex.
"Jangan sentuh aku!" bentak Stevi.
"Mobil kamu masih ada di hotel Stev, biar aku antar kamu ke kantor," seru Alex.
Stevi mendorong tubuh Alex dengan sangat kasar. "Jangan sok perhatian Kak, aku tidak butuh semua itu. Aku bukan wanita manja jadi aku bisa melakukannya sendiri," seru Stevi dengan tatapan tajamnya.
Stevi pun dengan cepat meninggalkan Alex, dia sudah memesan taksi online dan berniat pergi ke hotel untuk mengambil mobilnya.
Sedangkan Alex mengusap wajahnya dengan kasar, tidak pernah sekali pun dalam hidupnya merasa sangat bersalah kepada seseorang seperti saat ini.
"Maafkan aku, Stevi," batin Alex dengan memperhatikan kepergian Stevi.
Alex pun memutuskan untuk pergi ke kantor, selama dalam perjalanan Alex teringat akan foto yang diberikan oleh Maya.
"Maya, apa motif dia memperlihatkan foto itu? aku harus cari tahu mengenai kebenaran foto itu," gumam Alex.
Alex pun mencari kontak seseorang, hingga Alex menemukan kontak Niko yang tidak lain adalah teman dari Thomas.
"Sepertinya Niko bisa membantu membuktikan kalau foto itu asli apa palsu," seru Alex.
Alex pun segera menghubungi Niko dan menyuruh Niko untuk datang ke kantornya hari ini juga. Niko memang sudah lama bersahabat dengan Thomas, Niko sudah tidak asing lagi di keluarga Brasco karena dia juga sering menginap di rumah jadi Alex pun sangat mengenal Niko.