Namaku Saliya, aku disukai seorang pria bernama Rizal, yang menurutku terlalu sempurna, aku sempat menolak saat ia mengajakku menjalin hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan. Aku justru memilih mantan pacarku, tapi Rizal tidak menyerah hingga akhirnya kami menikah.
namun, kebahagiaan rumah tanggaku ternyata menyedihkan.
Ayo baca kisah ku di sini, ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tulus Untuk Saliya
Tulus Untuk Saliya
“Naria? Kok kamu bisa ada di sini?” Rizal yang mendahului pertanyaan dari benakku.
Aku lihat penampilan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia tidak banyak berubah dari sejak masa kuliah kami dulu, hanya saja sekarang dia lebih modis. Dia tersenyum manis dan seperti terkejut melihat kehadiranku.
Naria justru bertanya padaku.
“Eh, Saliya, ya? Nggak nyangka ya, kita bisa ketemu!” Katanya sambil mengulurkan tangan, aku menerima jabatan tangannya dan membalas senyumannya.
“Iya, aku juga, nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini! Kamu apa kabar?”
“Alhamdulillah!” jawabnya sambil melirik suamiku.
“Oh, ya! Ada apa kamu di sini?” tanya Rizal lagi karena pertanyaannya belum dijawab oleh Naria.
“Jadi, si Alung katanya sakit kemarin terus dia ambil cuti sekalian, terpaksa aku gantiin dia buat melengkapi kelompok kalian!” katanya bicara berdua dengan Rizal, seolah aku tidak ada di antara mereka.
Aku hanya menghela napasku dalam-dalam semoga aku diberi kesabaran. Lalu, aku seolah hanya menjadi nyamuk, saat mereka berbincang tentang pekerjaan. Padahal pintu rumah kontrakan kami, belum juga dibuka.
“Tapi, bukannya tugas kamu di kantor juga katannya gak bisa di ganti?” tanya Rizal sambil mengeluarkan kunci rumah dari dalam tas kecilnya.
“Iya, memang, makanya aku di sini Cuma pekan ini aja, sampai Alung selesai cuti!”
“Terus, kamu mau tinggal di mana? Udah punya tempat kos?”
“Belum, makanya aku dari tadi nungguin kamu di sini, kenapa telepon kamu mati, sih? Dari tadi nggak bisa dihubungi!”
“Oh, maaf, aku lupa habis baterainya!”
Mendengar jawaban Rizal aku heran, sebab setahuku, dia mengisi daya semalaman. Bagaimana bisa habis, padahal baru di cabut sebelum subuh tadi.
Rizal tidak menjawab dan ia membuka pintu karena kuncinya sudah ada di tangannya setelah itu aku pun membawa barang-barangku masuk.
“Ayo masuk dulu!” kataku pada Natia, padahal aku sendiri tidak tahu dia akan duduk di mana. Dalam ruangan itu tidak ada kursi ataupun tikar sebab aku yakin yang ada di sana hanyalah barang-barang cukup untuk Rizal seorang. Seperti tempat tidur, lemari, dan karpet kecil yang dibawa dari rumah saat berangkat. Semua perlengkapan itu, pastinya ada di kamar.
“Oh, tidak usah aku di sini saja!” kata Naria. Entah kenapa aku bersyukur dia menolak tawaranku itu.
“Riz! Bisa, kan? Temani aku cari tempat kos buat seminggu?”
Aku mendengar Naria bertanya lagi dari luar pintu. Ahk, memang perempuan tidak sopan, teriak-teriak di luar rumah orang. Apalagi, ini rumah kontrakan. Banyak tetangga di kiri kanan. Sangat memalukan punya tamu tak tahu diri seperti itu.
Rizal langsung pergi ke kamar mandi begitu masuk rumah tadi, sedangkan koperku sudah dia simpan di kamar.
“Naria, masuklah! Kita bisa bicara di dalam, tapi maaf ... kamu hanya bisa duduk di lantai!” aku berjalan ke depan pintu dan melihat wanita itu tampak gelisah.
“Di luar panas! Ayo masuk! Rizal masih pipis di kamar mandi!” Aku menambahkan dengan serius, aku tidak basa-basi, malu di lihat orang.
“Oh, ya sudah! Aku tunggu di sini saja!” katanya.
Lagi-lagi dia menolak. Aku akhirnya menyerah dan meninggalkannya di luar pintu karena aku mau ke kamar, guna membereskan barang bawaanku. Itu kamar yang memang hanya nyaman kalau ditempati satu atau dua orang, hanya ada kasur busa tebal, satu lari kecil meja kerja lengkap dengan kursi dan satu lagi meja kecil di dekat tempat tidur.
Saat aku mengeluarkan beberapa pakaian, Rizal sudah selesai dari kamar mandi dan langsung mengikuti aktivitasku.
“Heh, Abang mau ngapain? Biarin ini mah, pekerjaanku!” kataku lembut sambil menahan tangannya ikut membereskan pakaiannya yang sudah di cuci di rumah kemarin.
“Ya, mau bantuin kamu-lah, mau ngapain lagi memangnya?” dia bicara sambil tersenyum lebar.
“Naria masih nunggu Abang tuh, di luar!”
“Ais! Kirain dia udah pergi kamu usir tadi?”
Aku heran mendengar ucapannya, mana berani aku mengusir teman satu kantor yang sudah jadi istri bos itu, ada-ada saja. Namun, aku juga tahu kalau Rizal mungkin malas, karena baru sampai dan dia menyetir sendiri. Tentu mau istirahat.
Aku hanya mencebikkan bibirku ke arahnya.
“Aku takut kalau aku usir, nanti dia ngamuk!” kelakarku sambil mendorong suamiku itu ke luar kamar. Dia berubah cemberut. Lucu sekali, membuatku geli.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Rizal kemudian karena dia hanya diam, seperti memikirkan sesuatu. Beberapa jenak ia baru keluar tanpa berpamitan padaku.
Dari dalam kamar aku mendengar suara percakapan mereka. Meskipun, tidak seberapa kuat tetapi aku bisa menyimpulkannya dengan baik, apa yang dikatakan keduanya karena jendela kamarku terbuka.
“Zal, aku tungguin kamu!”
“Iya, buat apa nungguin aku? Aku capek!”
“Kan, tadi aku bilang kalau aku belum Nemu tempat kos buat satu pekan ...,” kata Naria, kudengar suaranya sedikit merajuk.
“Terus?” Kali ini suara Rizal yang terdengar kesal.
“Ya, aku mau minta tolong kamu buat Carikan tempat kos, mau ya?”
“Kasihan Saliya sendirian kalau aku tinggal. Lagian, kenapa sih, kamu nggak sama suamimu atau siapa gitu ke sini, sambil nyari tempat kos?”
“Aku pikir, kan, ada kamu buat bantu aku?”
Ucapan Naria membuat aku yang hanya menguping ini kesal.
Enak saja dia itu! Mau manfaatin suami aku? Huh! Untung saja aku ikut sekarang.
Tidak ada keakraban sama sekali di antara mereka, suara yang terlontar dari mereka selalu ketus. Benar-benar beda, tidak seperti mantan kekasih, melainkan mantan musuh saja.
“Bukannya aku nggak mau bantu, tapi aku capek.”
Aku mencoba mengintip keluar jendela dan aku lihat Rizal hampir saja melangkah masuk ketika Naria memegang tangannya. Wanita itu berusaha mencegahnya kemudian suamiku menepiskan tangan itu dengan kasar.
“Riz, tolong bantu aku sekarang, ya? Aku nggak mungkin mau keliling-keliling sendirian di sini ..., aku nggak kenal siapa-siapa kecuali kamu!”
Kulihat Rizal tetap diam dan menunduk serta, tangannya pun mengapal. Kata-kata yang aku simpan jelas dalam otakku adalah ucapannya, 'perasaan aku tulis untuk Saliya’.
Ucapan suamiku benar aku memang mendapatkan ketulusan sebagai istri dari suaminya.
“Ada rumah kontrakan nggak jauh dari sini, dekat kantor kepala desa, kamu bisa ke sana!” kata Rizal, lagi-lagi terdengar ketus, aku merasa wajahku jadi masam melihat mereka berdua.
“Tapi, kan, nggak ada angkutan umum dari sini masa, aku harus bawa koper ke sana?” sahut Naria, wajahnya terlihat masam juga.
“Emang kamu sebelumnya ke sini naik apa?”
“Aku nyewa mobil cuman sampai sini, sekarang udah pergi, aku pikir kamu ada di rumah, apa kamu keberatan karena benar-benar malas atau karena Saliya?”
“Karena dua-duanya, lah!”
“Sebenarnya apa kelebihan perempuan itu, apa kamu benar-benar mencintainya bukan karena kasihan, kan?” Keterlaluan sekali Naria berkata begitu, dia sepertinya sengaja biar aku bisa mendengar ucapannya.
“Kenapa, kok, kamu bisa ngomong kayak gitu? Ria, bukan hak kamu ikut campur urusan perasaanku, aku tulus sama Saliya! Untuk apa membina rumah tangga berdasarkan kasihan? Kalau cuman kasihan kenapa tidak berteman saja? Saliya bukan orang miskin yang harus dikasihani!” Rizal terlihat marah, membuatku tersenyum lega.
“Oh, maaf! Bukannya aku mau mencampuri perasaan kamu, cuma ... menurut aku, kamu terlalu sempurna untuk dia!”
Aku pikir juga sama, Rizal terlalu sempurna untukku. Aku intip lagi reaksi suamiku yang sepertinya luluh juga.
Rizal bergerak ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil lalu keluar lagi. Ia naik mobil itu dan mengeluarkannya dari halaman rumah kontrakan kami. Sekilas kulihat wajahnya cemberut.
Lalu, Naria mengambil kopernya dan masuk mobil.
Setelah kepergian dua orang itu, aku merasakan sedikit sepi ada sesuatu yang hilang, tapi ada juga sesuatu yang datang. Yaitu rasa kelegaan dan keyakinan tentang pendirian suamiku. Tak lama setelah itu aku mencoba memejamkan mata dan tidur.
Aku terbangun saat mendengar suara Rizal berbisik, memanggil namaku lembut di telinga, dan saat mataku terbuka, kulihat dia tersenyum lebar. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku hingga hidung kami bersentuhan.
“Coba tebak, aku bawa apa?” katanya, kulihat tangannya menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.
❤️❤️❤️❤️