NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : Tamu dari Seberang Laut dan Rahasia Panci Perunggu

Beberapa minggu setelah kepulangan Pak Broto Ranusastro yang telah bertobat, suasana di Desa Karang Tumpuk benar-benar telah pulih. Warung soto milik Sari yang tadinya beroperasi di bawah tenda darurat kini kembali menempati teras rumah panggung. Garis kuning pelastik yang dulu melingkari tiang-tiang kayu sudah bersih tak berbekas, digantikan oleh pot-pot tanah liat berisi bunga kemuning yang baunya harum semerbak bila tertiup angin sore.

Pagi itu, Karang Tumpuk diselimuti kabut tipis. Suara dentang martil dari bengkel Marno di hulu sungai terdengar samar-samar, menyatu dengan derit timba sumur tua dan celoteh warga yang mulai memadati pasar desa.

Di teras warung, Si Mbah—kera hitam yang kini sudah menganggap dirinya sebagai kepala pelayanan—sedang sibuk menjalankan tugas rutinnya. Dengan kain lap lusuh yang dililitkan di pinggang bagaikan sarung, ia menggosok bangku-bangku kayu dengan amat teliti. Setiap kali menemukan noda minyak yang agak membandel, Si Mbah akan mendesis pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menggosok bagian itu lagi dengan tenaga ekstra sampai permukaannya mengkilap seperti cermin.

Sari keluar dari dapur sambil memikul dua ember air bersih. Ia terkekeh melihat tingkah Si Mbah.

"Sudah, Mbah, meja yang itu sudah bersih dari tadi. Jangan sampai cat kayunya ikut terkelupas kau gosok terus," puji Sari sambil meletakkan ember di dekat bak pencucian.

Si Mbah menoleh, menepuk dada dengan wajah bangga, lalu mengeluarkan suara "Uuk! Uuk!" yang nyaring—seolah mengatakan bahwa standar kebersihan warung ini ada di bawah pengawasannya secara penuh.

Namun, keharmonisan pagi itu mendadak terusik saat suara mesin kapal kelotok dari arah dermaga hulu sungai terdengar meraung keras. Tidak lama kemudian, sebuah dokar tua yang disewa khusus dari pelabuhan kecamatan berhenti tepat di depan gerbang rumah panggung.

Dari atas dokar, turun seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan pakaian kemeja batik bermotif aneh yang tidak biasa dilihat warga lokal. Wajahnya klimis, berkulit pucat, dan matanya kecil berkilat bagaikan mata ular pohon. Di belakangnya, dua orang kuli angkut tampak kewalahan memikul sebuah peti kayu tebal yang diikat tali tambang besar.

Pria gempal itu melangkah masuk ke halaman warung. Matanya menyapu setiap sudut rumah panggung dengan pandangan liar, seolah-olah sedang berburu harta karun yang hilang.

"Permisi..." suara pria itu melengking tipis, bernada agak sengau. "Apa benar ini bekas kediaman almarhumah Nyai Seruni?"

Sari yang sedang mengelap mangkuk menghentikan tangannya. Ia mengamati pria asing itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan rasa waspada yang muncul secara alami.

"Benar, Pak. Saya Sari, keponakan Nyai Seruni. Ada keperluan apa ya?" jawab Sari dingin.

Pria itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang salah satunya dilapisi emas mulia. Ia mengeluarkan selembar kartu nama dari saku kemejanya lalu menyodorkannya pada Sari dengan gerakan yang sangat berlebihan.

"Perkenalkan, nama saya Juragan Maliki dari Selat Seberang. Saya adalah pedagang barang-barang antik dan... pusaka tua," kata Maliki dengan nada mengimbau. "Saya mendengar kabar bahwa sang dukun legendaris dari Karang Tumpuk telah berpulang. Sebagai sesama pengagum benda-benda langka, saya datang jauh-jauh menyeberang laut untuk membeli warisan pusaka milik almarhumah."

Sari menghela napas panjang. Lagi-lagi tentang peninggalan Bibi Seruni, batinnya lelah.

"Maaf, Juragan Maliki," potong Sari tegas. "Semua peninggalan bibi saya yang berupa kotak keramat, lontar mantra, mau pun minyak-minyak racun sudah dibakar habis. Tidak ada lagi peninggalan ilmu hitam yang tersisa di rumah ini."

Mendengar kata 'dibakar habis', wajah Juragan Maliki mendadak berubah masam. Mata kecilnya menyipit curiga. "Dibakar? Jangan bercanda, Gadis Muda! Barang-barang bernilai ratusan juta rupiah mana mungkin dibakar begitu saja oleh orang desa sepertimu!"

"Saya tidak bercanda," sahut Sari tenang. "Warga desa menjadi saksinya. Abu peninggalannya bahkan sudah larut ditelan tanah."

Maliki terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangannya di atas perutnya yang buncit. "Baiklah, kalau lontar dan kerisnya sudah tidak ada. Tapi saya tahu pasti, Nyai Seruni tidak hanya menyimpan minyak racun. Dulu, tiga puluh tahun lalu, bibimu membeli sebuah Panci Perunggu Berukir Ular Tiga Kepala dari kapal pedagang asing. Panci itu dibuat dari perunggu murni penyerap darah yang digunakan untuk meracik minyak petunduk agar aromanya tidak membusuk. Di mana panci itu?!"

Sari mengerutkan kening. Panci perunggu berukir ular tiga kepala? Ia mengingat-ingat perabot tua di dapur bibinya. Selama bertahun-tahun merawat Seruni, ia memang pernah melihat sebuah panci tua yang sangat berat dan legam di sudut dapur, namun panci itu sudah lama tidak pernah dipakai dan kondisinya sangat kotor berkerak.

Sebelum Sari sempat menjawab, Si Mbah yang sejak tadi menyimak pembicaraan dari atas meja warung mendadak bertindak. Rupanya, kera hitam itu tidak menyukai nada bicara Juragan Maliki yang kasar dan merendahkan Sari.

Si Mbah merangkak perlahan ke atas tiang teras, lalu dengan gerakan tanpa suara, ia menjatuhkan sebutir buah kelapa tua yang baru dicuri dari kebun sebelah tepat di atas peti kayu milik Maliki.

Brakkk!

Peti kayu tebal milik Maliki bergetar hebat. Kuli angkutnya menjerit kaget, sementara Maliki melompat sejauh satu meter sambil mengumpat keras.

"Keparat! Kera kurang ajar!" teriak Maliki sambil menunjuk-nunjuk Si Mbah yang kini duduk santai di atas atap warung sambil menjelmakan lidahnya: "Uuk! Uuk!"

"Jaga sikapmu di warung ini, Juragan!" suara berat menggelegar mendadak terdengar dari arah gerbang.

Marno sang pande besi melangkah masuk ke halaman sambil memikul sebuah batang besi raksasa yang baru selesai ditempa. Di belakang Marno, Pak Karto RT bersama tiga orang warga desa yang memegang alu penumbuk padi ikut bergabung. Kehadiran mereka langsung membuat atmosfer di teras warung berubah tegang.

"Siapa kalian ini?!" serak Maliki, mencoba tetap berlagak gagah meski lututnya agak gemetar melihat postur tubuh Marno yang kekar.

"Kami warga desa Karang Tumpuk!" tegur Pak Karto nyaring. "Sari sudah bilang tidak ada barang keramat yang dijual di sini! Kalau kamu datang hanya untuk berbuat rusuh dan menakut-nakuti Sari, sebaiknya kamu angkat kaki sekarang juga!"

Maliki menggeretakkan giginya yang dilapisi emas. Ia menyadari bahwa memaksakan kehendak secara kasar di tengah pemukiman warga yang solid seperti ini hanya akan membuat dirinya babak belur.

"Bagus... bagus sekali," desis Maliki sambil menebarkan pandangan benci ke arah Sari dan warga desa. "Kalian pikir kalian bisa menyimpan pusaka itu sendirian? Panci perunggu itu adalah kunci dari racun petunduk murni! Jika kamu tidak mau menjualnya padaku dengan harga tinggi, Sari, jangan salahkan aku kalau ada orang lain yang mengambilnya secara paksa di tengah malam!"

Dengan mengibaskan jubah batiknya, Maliki menyuruh kuli angkutnya memutar balik peti kayu dan bergegas naik kembali ke atas dokar. Dokar itu tancap gas meninggalkan debu kering yang membumbung di udara.

Sore harinya, suasana di dapur rumah panggung terasa sangat hening. Sari, Marno, dan Pak Karto berdiri melingkari sebuah benda tua yang ditempatkan di atas meja dapur.

Benda itu adalah panci perunggu berukuran sedang. Warnanya hitam keabu-abuan dengan lapisan kerak tebal yang menutupi ukirannya. Ketika Marno menyiramkan air panas dan menggosok keraknya dengan sabut besi, terlihatlah ukiran tiga ekor ular yang saling melilit di bagian dinding panci. Logam perunggu itu terasa sangat dingin saat disentuh, seolah-olah menolak kehangatan udara sekitar.

"Jadi ini panci yang dicari pedagang dari seberang laut itu?" bisik Pak Karto sambil menutup hidungnya karena masih tercium aroma logam karat yang aneh dari dalam panci.

"Benar," kata Marno dengan raut wajah serius. Ia mengamati dasar panci tua itu. "Panci ini ditempa dengan campuran tembaga kelabu dan racun alami. Dulu, para pembuat racun petunduk menggunakan wadah seperti ini agar racun yang dimasak tidak menguap dan baunya terserap ke dalam dinding logam. Selama panci ini masih ada, orang-orang berniat jahat seperti Maliki akan terus datang untuk mencarinya."

Sari menatap panci perunggu itu dengan perasaan gelisah. "Lalu kita harus bagaimana, Kang Marno? Jika dijual, barang ini akan dipakai untuk mencelakai orang lain. Tapi jika disimpan di rumah ini, warung saya tidak akan pernah tenang dari jangkauan pedagang-pedagang gelap."

Marno menepuk dada dengan tangan kirinya yang kuat. "Jangan cemas, Sari. Besi tua dan perunggu beracun adalah urusanku. Panci ini diciptakan oleh api, maka kita harus mengembalikannya ke dalam api hingga sifat racunnya musnah!"

Malam harinya, di bawah langit Karang Tumpuk yang gelap tanpa rembulan, bengkel pande besi Marno di hulu sungai beroperasi tidak seperti biasanya. Unggun api di tungku lebur raksasa dinyalakan hingga mencapai puncaknya. Angin dari pompa bambu ditiupkan berulang kali, membuat kobaran api membara merah keemasan dengan hawa panas yang menyengat hingga belasan meter.

Sari, Pak Karto, dan Si Mbah berdiri di luar bengkel, menyaksikan Marno yang bertelanjang dada bekerja di depan tungku peleburan.

Dengan menggunakan jepitan besi bertangkai panjang, Marno mengangkat panci perunggu berukir ular tiga kepala itu lalu memasukkannya tepat ke dalam inti kobaran api tungku yang membara.

Seketika itu juga, reaksi aneh terjadi. Saat perunggu itu mulai memerah terbakar api, asap berwarna keunguan membubung tinggi keluar dari cerobong bengkel. Bau amis karat yang tajam menusuk hidung sempat tercium di udara malam—sisa-sisa racun petunduk yang mengendap di pori-pori logam selama puluhan tahun kini dipaksa keluar dan terbakar menjadi abu.

Si Mbah yang duduk di atas pagar bambu menutup hidungnya rapat-rapat dengan kedua tangannya, sementara Sari memejamkan mata sambil berdoa dalam hati agar segala bekas kejahatan bibinya benar-benar musnah dari muka bumi.

Crrrrssshhh!

Marno memompa angin lebih kuat. Suhu tungku meningkat drastis. Panci perunggu yang tadinya keras dan kokoh perlahan-lahan mulai melunak, meliuk bagaikan lilin tersiram air panas, hingga akhirnya meleleh sepenuhnya menjadi cairan logam merah membara yang tidak lagi bermuka mau pun berukir.

Dengan ketangkasannya sebagai pande besi berpengalaman, Marno mengalirkan cairan perunggu panas itu ke dalam cetakan cetek di atas tanah basah.

"Sari! Ambilkan air garam di ember!" teriak Marno di tengah gemuruh suara api.

Sari bergegas menyodorkan ember. Marno menyiramkan air garam ke atas cairan logam yang mulai membeku itu. Suara desisan nyaring bertiup bagai jeritan halus angin malam: PSSSSSSSSHT!

Asap ungu terakhir menguap hilang ditelan angin gunung. Ketika uap panas mereda, yang tersisa di atas tanah bukanlah lagi panci racun berukir ular yang menakutkan, melainkan sebuah lempengan perunggu polos berbentuk bulat tebal yang tidak memiliki fungsi ghaib apa pun selain sebagai ganjalan pintu biasa.

Marno mengusap keringat di dahinya dengan kain lusuh, lalu tersenyum puas menatap lempengan perunggu polos tersebut.

"Selesai," kata Marno penuh lega. "Ular tiga kepalanya sudah mati terbakar api peleburan. Sekarang barang ini tidak lebih dari sekadar logam mati yang tidak berguna bagi para pembuat racun."

Sari melangkah mendekat, menatap lempengan perunggu yang kini terasa hangat biasa. Tidak ada lagi hawa dingin ghaib, tidak ada lagi bau amis karat, dan tidak ada lagi ancaman yang tersisa dari peninggalan masa lalu bibinya.

Sementara itu, di sebuah penginapan kecil dekat pelabuhan kecamatan, Juragan Maliki sedang duduk bersila di kamarnya. Di hadapannya, seorang dukun sewaan sedang membakar kemenyan di atas mangkuk kuningan, mencoba meraba keberadaan Panci Perunggu berukir ular melalui penerawangan ghaib.

Tiba-tiba, mangkuk kuningan milik sang dukun retak dan pecah menjadi dua. TAK!

Dukun itu tersentak kaget, melompat ke belakang dengan wajah pucat pasi. "J-juragan! Jejak ghaib panci itu sudah terputus total! Logamnya sudah dilebur dan disucikan oleh api bumi! Tidak ada lagi pusaka yang tersisa di desa itu!"

Maliki membelalakkan mata, memukul meja kamar hingga cangkir tehnya tumpah. "Apa?! Dilebur?! Dasar orang-orang desa gila!"

Dengan muka merah padam karena marah dan kecewa, Maliki menyadari bahwa perjalanannya menyeberang laut hanya menghasilkan kesia-siaan belaka. Tidak ada pusaka mahal yang bisa ia jual, tidak ada rahasia racun yang bisa ia rebut. Esok harinya, kapal kelotok membawa Juragan Maliki pergi meninggalkan wilayah itu dengan tangan hampa.

Keesokan paginya, matahari menerbitkan cahaya cerah di atas Desa Karang Tumpuk. Di warung makan milik Sari, lempengan perunggu polos bekas leburan panci racun itu kini diletakkan di bawah gerbang pintu masuk—difungsikan secara sederhana sebagai ganjalan pintu agar kayu tidak terbanting saat tertiup angin kencang.

Si Mbah si kera hitam tampak melompat-lompat gembira di atas pagar, membagikan pisang rebus kepada anak-anak desa yang berangkat sekolah. Marno singgah sebentar untuk minum kopi hitam sebelum berangkat ke bengkelnya, sementara Pak Karto duduk santai sambil membaca koran pagi.

Sari berdiri di teras, menyirami pot-pot bunga kemuning yang mekar sempurna. Bau harum bunga menyatu dengan aroma kuah soto hangat yang mengepul dari dapur. Rumah panggung tua itu kini benar-benar telah bersih dari segala bayangan hitam masa lalu—menjadi tempat tinggal yang aman, damai, dan penuh kehangatan bagi siapa saja yang datang berkunjung.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!