NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Setiap Detik, Aku Memikirkannya

"Kamu sedang..." Ia berhenti sebentar, mata gelapnya menahan senyum. "Cemburu pada dirimu sendiri?"

Ning merasa seluruh darahnya naik ke wajah.

"Siapa yang cemburu?" Ia mundur setengah langkah, lalu hampir tersandung karpet koridor. "Aku cuma lewat."

Kevin menahan lengannya dengan satu tangan. Jari-jarinya kuat, tapi sentuhannya hati-hati, seperti ia sedang memegang sesuatu yang mudah pecah.

"Kamu lari dari ruang belajar."

"Aku tidak lari."

"Langkahmu terdengar sampai kamar utama."

Ning menatap kancing kemeja Kevin yang belum tertutup penuh, lalu langsung memalingkan wajah. Ini tidak adil. Ia sedang marah, tapi pria ini berdiri dengan rambut basah, suara rendah, dan aroma sabun yang membuat pikirannya kacau.

"Aku mau kembali ke kamar."

"Kamar yang mana?"

Pertanyaan itu membuat Ning berhenti.

Kevin menatapnya. "Kamu istriku. Kamar utama adalah kamarmu."

"Kita baru menikah kemarin."

"Tetap istriku."

Kalimat itu terlalu tenang, terlalu pasti. Ning seharusnya merasa aman. Tapi luka kecil tentang cincin tadi kembali bergerak.

Ia menggigit bibir, lalu akhirnya menatap tangan kiri Kevin.

Cincin baru itu masih di sana.

"Kamu benar-benar cepat sekali," katanya pelan.

Kevin mengikuti arah pandangnya. "Apa?"

"Melepas cincin itu."

Udara koridor berubah.

Kevin tidak menjawab.

Keheningan itulah yang membuat keberanian Ning naik. Mungkin karena demamnya belum sembuh benar. Mungkin karena lelah menjadi dua orang dalam satu dada. Mungkin karena ia tidak sanggup lagi menelan pertanyaan yang sejak sore menggaruk hatinya.

"Kamu bilang memakainya enam belas tahun." Suaranya mulai bergetar. "Kamu bilang mencintai dia selama itu. Lalu begitu aku memberi cincin baru, kamu langsung melepasnya. Apa begitu mudah?"

Mata Kevin menggelap.

Ning tahu ia sudah melewati batas seorang istri baru. Tidak ada istri baru yang pantas cemburu kepada istri lama yang sudah meninggal, apalagi kalau istri lama itu adalah dirinya sendiri.

Tapi air matanya sudah naik.

"Kamu tidak memikirkannya lagi?"

Kevin mengangkat tangan, tapi tidak langsung menyentuhnya.

"Aku memikirkannya," ucapnya rendah. "Setiap detik."

Ning terdiam.

Kalimat itu tidak keras. Tidak dramatis. Justru karena terlalu tenang, ia terasa seperti sesuatu yang sudah diulang di dalam dada Kevin sampai menjadi napas.

"Saat Kian pertama kali demam, aku memikirkannya karena tidak tahu bagaimana cara menenangkan anak yang menangis mencari pelukan yang tidak pernah ia rasakan." Kevin menatap lantai, suaranya tetap rendah. "Saat Kian pertama masuk sekolah, aku memikirkannya karena dia seharusnya berdiri di gerbang bersamaku. Saat Kian menang lomba gim pertamanya dan pura-pura tidak peduli, aku memikirkannya karena dia pasti akan menangis duluan."

Ning tidak berkedip.

"Di rapat, di mobil, di meja makan, di depan makam, di hari ulang tahun Kian, di malam Natal, di setiap tahun baru." Kevin mengangkat wajah. "Kalau kamu bertanya kapan aku berhenti memikirkannya, jawabannya tidak pernah."

Setiap kata jatuh pelan, tapi Ning merasa seluruh tubuhnya dihantam.

"Kalau begitu kenapa?" Ning bertanya hampir tanpa suara. "Kenapa cincin itu kamu lepas?"

Kevin menatapnya lama.

Lalu ia mengangkat tangan ke kerah kemeja.

Satu kancing terbuka.

Lalu satu lagi.

Ning langsung panik. "Kevin, aku bukan maksud..."

"Lihat."

Suara Kevin menghentikannya.

Di balik kain putih yang terbuka, sebuah rantai tipis melingkar di leher Kevin. Pada ujungnya, cincin polos yang tadi Ning kira sudah disingkirkan menggantung tepat di depan dadanya.

Tepat di atas jantung.

Ning lupa cara bernapas.

Kevin menggenggam cincin itu dengan dua jari, mengangkatnya sedikit.

"Di tangan, semua orang bisa melihat." Ia menatap Ning, suara makin pelan. "Di sini, hanya dia yang tahu."

Air mata Ning jatuh begitu saja.

Ia tidak sempat menahannya. Tidak sempat merapikan wajah, tidak sempat berpura-pura tersentuh secara wajar. Tangisnya pecah seperti sesuatu yang sudah terlalu lama dikunci.

Kevin bergerak mendekat. "Ning."

"Aku tidak tahu harus sedih untuk siapa," bisik Ning, dadanya naik turun. "Untuk dia? Untuk aku? Aku bahkan tidak tahu kenapa aku marah."

"Tidak apa-apa."

"Ini aneh."

"Tidak apa-apa."

"Aku cemburu pada orang yang sudah meninggal."

"Tidak apa-apa."

"Tapi aku juga kasihan padanya."

Kevin menarik napas, matanya ikut merah. Ia ingin berkata, kamu tidak perlu kasihan pada dirimu sendiri, kamu sudah kembali, aku tahu. Tapi kalimat itu bukan haknya untuk dilepaskan malam ini.

Jadi ia hanya mengangkat tangan dan menghapus air mata di pipi Ning dengan ibu jarinya.

"Kalau kamu ingin marah, marah saja padaku."

"Kamu salah apa?"

"Banyak."

Ning tertawa kecil di tengah tangis, terdengar patah. "Jawaban CEO sekali. Singkat, tidak mau rugi kata."

"Aku bisa membuat daftar kalau perlu."

"Tidak perlu."

Kevin menunduk sedikit, menjaga jarak yang cukup aman untuk membuat Ning bisa mundur kapan saja.

"Cincin baru itu darimu," katanya. "Aku memakainya karena kamu memberikannya kepadaku. Cincin lama tidak hilang. Aku hanya memindahkannya ke tempat yang tidak perlu dijelaskan kepada orang lain."

Ning menatap cincin yang menempel di dada Kevin.

Ada rasa sakit. Ada lega. Ada kehangatan yang begitu besar sampai ia takut tenggelam di dalamnya.

Ia mengangkat tangan, berhenti di udara, lalu ujung jarinya menyentuh cincin itu sangat pelan. Rantai tipis bergerak di kulit Kevin. Di bawah logam kecil itu, detak jantungnya terasa jelas, cepat, hidup, seolah selama ini cincin itu tidak menyimpan masa lalu, melainkan menjaga jalan pulang.

"Dia pasti senang," ucap Ning pelan.

Kevin memandangnya.

"Menurutmu begitu?"

Ning mengangguk, meski air matanya masih turun. "Kalau dia tahu kamu menyimpannya di sana... dia pasti senang."

Kevin menahan napas.

Untuk sesaat, wajah dinginnya retak. Ada kerinduan yang begitu telanjang di matanya sampai Ning tidak sanggup menatap terlalu lama.

"Kalau begitu," kata Kevin, "aku akan percaya padamu."

Tangis Ning kembali pecah, kali ini lebih lembut. Kevin tidak memeluknya penuh. Ia hanya membiarkan Ning menunduk dan menyandarkan dahi sebentar ke dadanya, tepat di dekat cincin itu. Rantai tipis menyentuh pipinya. Logam kecil itu dingin, lalu perlahan hangat oleh air matanya.

Malam semakin larut.

Kevin akhirnya mengantarnya ke kamar utama. Kamar itu luas, rapi, dan terlalu sunyi. Tempat tidur besar dengan seprai putih berada di tengah, lampu tidur menyala hangat di kedua sisi. Di sudut ruangan, ada sofa panjang dan rak buku kecil. Tidak ada tanda bahwa kamar itu pernah benar-benar dipakai bersama orang lain selama enam belas tahun.

"Barang-barangmu bisa dipindahkan besok," kata Kevin. "Malam ini kamu tidur di sini."

Ning langsung menoleh. "Lalu kamu?"

"Sofa."

"Ini kamarmu."

"Ini kamar kita."

Kata itu membuat wajah Ning panas lagi.

Kevin berjalan ke lemari, mengambil selimut tambahan, lalu meletakkannya di sofa. Gerakannya tenang, seperti keputusan itu sudah selesai jauh sebelum Ning sempat panik.

"Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin," katanya.

Ning memegang ujung lengan bajunya. "Aku tidak berpikir begitu."

"Aku ingin kamu tahu."

Kejujuran yang terlalu sederhana itu membuat Ning kehabisan kata. Ia hanya mengangguk.

Obat demam membuat tubuhnya cepat lelah. Setelah berganti piyama yang disiapkan Bi Ruan, Ning berbaring di sisi kanan ranjang. Kevin mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur kecil. Ia duduk di sofa dengan laptop tertutup di pangkuan, tidak bekerja, tidak membaca, hanya berjaga.

Ning memejamkan mata.

Awalnya ia merasa aman.

Lalu mimpi buruk datang.

Suara benturan logam. Bau darah dan hujan. Lampu rumah sakit yang putih. Tangisan bayi dari tempat yang tidak bisa ia jangkau.

Ning merintih pelan.

Di sofa, Kevin langsung membuka mata.

Ia berdiri, mendekat ke sisi ranjang, tapi tidak menyentuh sebelum Ning sendiri bergerak. Perempuan itu menggenggam selimut, napasnya pendek-pendek.

"Kian..." bisiknya dalam tidur. "Jangan ambil dia..."

Rahang Kevin mengeras.

Ning berguling, tangannya mencari sesuatu di udara. Ketika jari-jarinya menyentuh pergelangan Kevin, ia menggenggamnya kuat, seperti orang tenggelam menemukan tepi perahu.

"Jangan pergi," bisiknya.

Kevin tidak tahu apakah kalimat itu untuk dirinya, untuk Kian, atau untuk hidup yang pernah terlepas dari tangan Ning.

Ia hanya tahu dirinya tidak bisa kembali ke sofa.

Dengan gerakan paling hati-hati, Kevin berbaring di sisi kiri ranjang, tetap di atas selimut. Ning, masih setengah tidur, mendekat sendiri. Kepalanya menemukan bahu Kevin, tangannya mencengkeram kain kemeja tidurnya.

Kevin membeku.

Seluruh tubuhnya kaku menahan diri.

Ning menghela napas kecil, lalu perlahan tenang.

Kevin tidak bergerak lagi sepanjang malam.

Lengannya baru melingkar di pinggang Ning setelah ia memastikan perempuan itu benar-benar tertidur dan tidak gelisah. Bahkan itu pun hanya sebatas menjaga agar Ning tidak berguling jatuh, bukan mengambil lebih dari yang diberikan.

Di luar jendela, langit Menteng berubah dari hitam menjadi biru pucat.

Pagi datang pelan.

Ning terbangun oleh cahaya tipis di kelopak mata. Sesaat, ia tidak paham mengapa bantalnya terasa terlalu hangat dan napas seseorang menyentuh rambutnya.

Lalu ia sadar.

Ia berada di ranjang Kevin.

Lebih tepatnya, ia berada di dalam pelukan Kevin.

Wajah Ning langsung terbakar.

Ia mencoba mundur diam-diam, tapi lengan Kevin melingkar di pinggangnya, kuat dan tenang, seolah sejak semalam tubuhnya memutuskan tidak akan melepas apa pun yang akhirnya kembali.

Ning menggigit bibir, tidak berani bergerak.

Ia tidak tahu bahwa Kevin sebenarnya tidak tidur semalaman.

Ia hanya terus menatap wajahnya, seperti seseorang yang berjaga di depan keajaiban yang terlalu rapuh untuk ditinggal sedetik pun.

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!