Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.
Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.
Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.
Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.
Update rutin, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum] Janga ragu Subscribe guys, kalau bisa pencet tombol likenya ya👍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Masih di lokasi yang sama, di dalam ruang kantor kepolisian sub-sektor yang pengap dan diterangi oleh lampu neon yang berkedip tak beraturan. Udara dingin dari pendingin ruangan yang usang berpadu dengan ketegangan yang menggantung tebal di antara ketiga sosok di dalam ruangan tersebut.
Plastik klip berisi secarik kertas puisi masih tergeletak di atas meja besi, memisahkan posisi berdiri Yudi dengan kedua aparat penegak hukum tersebut. Yudi baru saja melontarkan deduksi awalnya, mengaitkan puisi misterius itu dengan sosok sastrawan klasik Omori Ogu dan novel Ningen Shikaku karya Osamu Dazai.
Mendengar pernyataan Yudi, kedua opsir itu—Tenma yang bertubuh gemuk dan Kazuko yang bertubuh kurus—segera mencondongkan tubuh mereka ke depan. Tangan Tenma yang besar menekan permukaan meja, menciptakan bunyi derit logam pelan.
"Kami tahu jika maksudnya seperti yang kamu katakan tentang sastrawan itu!" ucap Tenma. Suaranya berat, serak, dan didorong oleh rasa tidak sabar yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. Urat di lehernya menonjol, dan wajahnya sedikit memerah. "Tapi yang kita butuhkan saat ini adalah petunjuk fisik tentang pelaku! Dan mungkin tempat korban selanjutnya akan direnggut! Apa kau memahami arti puisi itu intinya atau tidak?!"
Di seberang meja, Yudi tidak segera merespon. Pemuda berkaus hitam itu memejamkan matanya selama dua detik penuh. Ia menarik napas panjang melalui hidungnya, membiarkan dadanya mengembang pelan, lalu menghembuskan napas itu dengan gerakan yang sangat terkontrol.
Tangan kanannya terangkat, ibu jari dan jari telunjuknya memijat perlahan pangkal hidungnya. Sebuah gestur yang memperlihatkan kelelahan mental sesaat dalam menghadapi kepanikan manusia, sebelum ia kembali membuka matanya yang memancarkan ketenangan absolut.
Melihat reaksi rekannya yang mulai meninggikan suara, Kazuko segera merentangkan tangan kirinya, menghalangi dada Tenma. Polisi kurus itu memberikan dorongan kecil untuk menahan pergerakan maju rekannya.
"Woi, Tenma, jangan begitu! Bersabarlah sedikit," sergah Kazuko dengan nada lembut namun mendesak. Matanya melirik tajam ke arah Tenma, memberikan isyarat visual. Keringat dingin masih terlihat di dahi Kazuko.
Gestur tubuhnya jelas menunjukkan kehati-hatian; ia tidak ingin membuat Yudi tersinggung, marah, lalu menghilang begitu saja melalui lingkaran sihir tanpa memberikan jawaban yang mereka butuhkan.
Yudi menurunkan tangannya dari pangkal hidung. Pemuda itu kembali melipat tangannya di depan dada. Ujung bibirnya melengkung, membentuk senyuman santai yang sangat kontras dengan kepanikan di hadapannya.
"Terima kasih atas pengertiannya... Paman Lidi," ucap Yudi dengan intonasi riang dan santai, sengaja menekankan dua kata terakhir.
Mata Kazuko melebar seketika. Tubuhnya yang tadinya menegang untuk menahan Tenma kini membeku. Mulutnya terbuka sedikit.
"Eh... Kurus? Lidi?" beo Kazuko, suaranya mencicit pelan. Tangannya yang menahan dada Tenma perlahan merosot turun. Ia menunduk menatap tubuhnya sendiri yang memang jauh dari kata proporsional.
Di sebelahnya, ketegangan di wajah Tenma seketika pecah. Polisi gemuk itu memiringkan kepalanya ke belakang dan mendengus keras, mengeluarkan tawa tertahan dari hidungnya. Sudut matanya berkerut.
"Heh!" ejek Tenma, tangannya bergerak menepuk keras bahu Kazuko hingga pria kurus itu sedikit terhuyung ke depan. "Kau akhirnya dipanggil dengan julukan yang sangat pantas untukmu. Rasakan itu, bersabarlah, Si Ceking!"
Mendengar ejekan dari rekannya sendiri, wajah Kazuko berubah merah padam. Rasa segan terhadap iblis di depannya seketika menguap digantikan oleh harga diri yang terluka. Kazuko memutar tubuhnya menghadap Tenma dengan gerakan patah-patah.
"Teme...! Kau ingin berkelahi, ya?!" seru Kazuko dengan suara melengking.
Tanpa basa-basi, Kazuko menerjang ke depan, kedua tangannya meraih kerah seragam biru Tenma. Ia menarik-narik kerah itu dan mengguncang-guncangkan tubuh besar Tenma dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Suara gemerisik kain seragam yang ditarik paksa terdengar nyaring di ruangan itu.
Tentu saja, Tenma tidak tinggal diam. Dengan postur yang jauh lebih besar, Tenma membalas cengkeraman Kazuko. Ia memegang kedua bahu pria kurus itu dan mendorongnya mundur.
Adegan dorong-mendorong fisik terjadi di antara mereka. Sepatu bot kepolisian mereka berdecit keras bergesekan dengan lantai keramik yang kotor. Keduanya saling melemparkan tatapan tajam, gigi-gigi mereka bergemeretak menahan kesal, menciptakan pemandangan layaknya dua anak sekolah menengah yang sedang berkelahi di koridor.
Yudi berdiri mematung di sisi mejanya. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke kiri. Tangan kanannya terangkat, mengusap pelipisnya di mana sebutir keringat imajiner terasa menetes. Matanya berkedip lambat, menyaksikan dua aparat penegak hukum yang beberapa detik lalu berwajah pucat pasi karena ancaman pemecatan, kini saling cekik dengan serunya.
Sebuah tawa kecil meluncur dari celah bibir Yudi. Suara kekehan itu tidak keras, namun cukup untuk menembus suara gesekan sepatu dan hujan di luar.
"Aku benar-benar tidak menyangka... kalian berdua bisa begitu akur di saat-saat seperti ini," ucap Yudi sembari tersenyum lebar, nadanya dipenuhi oleh sarkasme ringan.
Suara Yudi bertindak layaknya saklar pemutus sirkuit. Gerakan saling dorong antara Tenma dan Kazuko terhenti seketika secara sinkron. Keduanya masih dalam posisi saling cengkeram—tangan Kazuko di kerah Tenma, tangan Tenma di bahu Kazuko. Kepala mereka menoleh tajam secara bersamaan ke arah Yudi.
"Hah?!" sergah keduanya serempak.
Dengan gerakan yang sama cepatnya, mereka saling melepaskan cengkeraman masing-masing, mengibaskan tangan seolah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan, dan melangkah mundur menjauh satu sama lain.
"Mana sudi aku akur dengan beruang gempal ini!" teriak Kazuko sambil merapikan kerah seragamnya yang kusut.
"Aku juga tidak sudi berteman dengan tiang listrik berjalan!" balas Tenma tidak mau kalah.
Keduanya melemparkan tatapan intimidasi masing-masing, sebelum akhirnya kembali menata postur mereka menghadap meja besi.
Yudi menarik napas perlahan. Ia mengangkat tangan kanannya, mengepalkan jarinya, dan meletakkannya di depan mulut.
"Ahem," Yudi berdeham cukup keras, mengembalikan otoritas dan memusatkan kembali fokus di dalam ruangan tersebut. Senyum sarkas di wajahnya menghilang, tergantikan oleh garis rahang yang menegang dan sorot mata analitis. "Baiklah. Mari kita kembali pada masalah puisi peninggalan pelaku ini."
Yudi menurunkan tangannya, menopang kedua telapak tangannya di atas meja, tepat di samping plastik barang bukti. Matanya menyusuri bait pertama yang tertulis di kertas kusam tersebut.
"'Kala lonceng tak lagi mengusir senja, mereka yang tidak bernapas menjadi saksi'..." gumam Yudi perlahan. Suaranya bergema rendah, mengulangi susunan kata-kata itu seolah sedang mengecap rasanya.
"Hn..." Yudi memberikan jeda, matanya menatap kosong ke arah dinding di belakang kedua polisi tersebut.
Melihat Yudi kembali masuk ke dalam mode deduksi, Tenma mencondongkan tubuhnya kembali. Napasnya sudah kembali teratur. "Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, kami kesulitan mencari maksud dan arti harfiah dari bait-bait itu. Jadi... kau punya petunjuk logisnya sekarang?"
Yudi menarik tubuhnya kembali tegak. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeansnya, lalu mulai mengambil langkah pelan, mondar-mandir di ruang sempit antara meja dan kursi. Sol sepatu ketsnya menciptakan suara ketukan halus di lantai.
"Tentu, Paman Bulat," respon Yudi tanpa menoleh, langkahnya tetap teratur. "Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, kita harus tahu apa dasar kesukaan dan filosofi dari pelaku ini."
Langkah Yudi terhenti. Ia berbalik, menatap Kazuko yang kini menyilangkan tangannya di dada dengan raut wajah tidak puas.
"Kesukaan pelaku?" potong Kazuko dengan nada membantah. Polisi kurus itu menggelengkan kepalanya. "Memangnya dari sana bisa ditebak apa maksud pasti dari puisi yang menunjukkan lokasi pembunuhan ini?"
Yudi tidak langsung menjawab. Ia mengangkat bahunya sekilas, sebuah gestur yang menyatakan bahwa tidak ada kepastian mutlak. "Tidak menjamin seratus persen juga, Paman Lidi. Tapi setidaknya, dengan membedah isi pikiran penulis aslinya, kita tahu ke arah mana pelaku ini mencoba menunjukkan lokasinya secara samar."