Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Dunia di Balik Sketsa
Salma datang dua puluh menit setelah Keira menutup tab pencarian.
Perempuan itu masuk ke ruang desain D.N dengan langkah cepat, rambut diikat asal, satu tangan memegang kopi susu, tangan lain membawa tote bag penuh kain sample. Begitu melihat Keira sudah duduk rapi di meja, Salma langsung menyipit.
"Kei."
Keira mengangkat wajah dari layar. "Kenapa?"
"Kamu senyum-senyum sendiri."
Jari Keira yang memegang stylus nyaris tergelincir. "Aku sedang kerja."
"Aku juga kerja, tapi mukaku nggak seperti baru ditransfer bonus akhir tahun."
"Sal."
"Apa?" Salma meletakkan kopi di mejanya, lalu mendekat sambil menatap layar Keira. "Mood board? Motif tenun? Atau..."
Keira cepat-cepat mengganti jendela kerja.
Terlambat.
Salma sudah melihat riwayat pencarian kecil di sudut browser yang belum benar-benar tertutup.
Rayhan Harto.
Mulut Salma terbuka. Matanya membulat seolah baru menemukan gosip satu gedung.
"Ya ampun, Kei."
"Jangan keras-keras."
"Aku belum ngomong apa-apa lho." Salma menahan senyum, tetapi gagal total. "Cuma mau bilang, kalau seseorang mulai Googling nama laki-laki pagi-pagi di kantor, itu bukan riset desain."
Pipi Keira menghangat. "Aku hanya penasaran."
"Penasaran yang sehat atau penasaran yang bikin susah tidur?"
"Salma."
"Oke, oke." Salma mengangkat dua tangan, masih tersenyum. "Aku diam. Tapi sebagai sahabat, aku perlu tahu satu hal. Pak Rayhan tadi mengantar kamu lagi?"
Keira menunduk pada tablet gambarnya. Garis yang ia buat mendadak terlalu tebal.
Salma langsung duduk di kursi kosong di samping meja Keira. "Serius?"
"Dia lewat SCBD."
"Jakarta sebesar ini, semua orang kaya mendadak lewat SCBD kalau urusannya kamu, ya?"
Keira tidak bisa menahan senyum kecil. "Kamu ini."
"Aku realistis. Dan aku punya mata." Salma mencondongkan tubuh, suaranya diturunkan. "Dia suka sama kamu?"
Stylus Keira berhenti.
Satu detik.
Dua detik.
Salma yang biasanya cerewet langsung tahu jawabannya dari diam itu.
"Astaga."
"Jangan heboh."
"Aku bahkan belum berdiri."
"Sal."
"Baik, baik." Salma menatapnya lebih lembut. "Kamu gimana?"
Pertanyaan itu tidak lagi bercanda.
Keira menatap sketsa di layar. Pola bunga yang sedang ia gambar tampak belum selesai, kelopaknya terbuka separuh, seolah ragu untuk mekar.
"Aku belum tahu," jawabnya jujur.
"Takut?"
Keira tidak menjawab.
Salma menyesap kopinya, lalu menghela napas. "Kei, aku bukan mau dorong kamu cepat-cepat. Tapi kalau laki-laki itu bikin kamu senyum di kantor jam sembilan pagi, minimal dia nggak sepenuhnya salah."
Keira akhirnya tertawa pelan. Tegangan di dadanya sedikit melonggar.
"Kamu terdengar seperti iklan aplikasi kencan."
"Aku lebih mahal dari itu."
Sebelum Salma bisa melanjutkan, pintu ruang meeting kaca terbuka. Naomi Tan keluar dengan blazer abu-abu muda, rambut bob rapi, tablet di tangan, dan ekspresi orang yang sudah membaca banyak email sebelum sarapan.
"Keira, Salma. Meeting kecil sekarang."
Nada Naomi tidak tinggi, tetapi cukup membuat Salma langsung berdiri.
"Siap, Ci Naomi."
Keira menyimpan file, membawa tablet, lalu mengikuti Naomi ke ruang meeting. Di dalam sudah ada papan presentasi dengan beberapa kain sample, sketsa tas, dan foto inspirasi dari arsip D.N musim lalu. Aroma kopi hitam dan kertas baru memenuhi ruangan.
Naomi menutup pintu.
"Kita punya masalah dengan proposal capsule collection untuk Henry," katanya langsung. "Konsep dari tim visual terlalu aman. Cantik, tapi tidak punya alasan untuk dibeli sekarang."
Salma duduk sambil membuka catatan. "Target market tetap perempuan urban dua puluh lima sampai tiga puluh lima?"
"Ya. Premium, tapi tidak terlalu formal." Naomi menoleh pada Keira. "Aku lihat sketsamu semalam. Motif yang kamu ambil dari garis lipatan kain itu menarik. Jelaskan."
Keira menyalakan tablet, menampilkan gambar yang tadi ia kerjakan. Di layar, pola bunga tidak dibuat seperti kelopak biasa. Garisnya berlapis, mengikuti bentuk kain yang dilipat lalu dibuka kembali, menciptakan kesan lembut tetapi tidak rapuh.
"Aku ingin koleksi ini terasa seperti perempuan yang tetap bergerak meski pernah kusut," kata Keira. "Bukan motif bunga yang terlalu manis. Lebih seperti bekas lipatan yang berubah jadi bentuk baru."
Naomi diam beberapa detik.
Salma menatap Keira dengan mata berbinar.
"Warnanya?" tanya Naomi.
"Ivory, charcoal, sedikit hijau sage. Untuk aksen, bukan emas terang. Lebih ke champagne supaya tidak terlihat pamer."
"Material?"
"Satin matte untuk scarf, kulit halus untuk mini bag. Kalau dipakai bersama, motifnya terlihat menyambung, tapi masing-masing tetap kuat dijual sendiri."
Naomi mengambil tablet Keira, memperbesar sketsa. "Ini bisa jadi cerita kampanye."
Salma langsung menambahkan, "Judulnya bisa After the Fold. Atau versi Indonesia, Setelah Lipatan. Tapi kalau untuk global, After the Fold lebih bersih."
Keira mengangguk. "Kampanyenya tidak perlu banyak properti. Cukup perempuan di ruang kerja, di lift, di mobil, di rumah. Benda yang dipakai sehari-hari, tapi detailnya membuat dia merasa dirinya diingat."
Naomi menatapnya lebih lama.
"Kamu sadar ini lebih matang dari proposal awal tim senior?"
Keira menahan napas. "Saya hanya mengembangkan dari brief, Ci."
"Jangan terlalu cepat mengecilkan pekerjaanmu sendiri." Naomi mengembalikan tablet itu. "Jam dua siang, kamu ikut aku presentasi ke Henry dan Allen."
Salma hampir berseru, tetapi cepat menutup mulut dengan tangan.
Keira terdiam. "Saya?"
"Ya, kamu. Konsepnya punyamu. Kalau mereka bertanya, kamu yang paling tahu alasan di balik setiap garis."
Ada sesuatu yang hangat menyebar di dada Keira. Bukan karena pujian besar. Naomi bukan tipe orang yang membagi pujian seperti permen. Justru karena itu, kalimatnya terasa nyata.
"Baik, Ci Naomi. Saya siapkan deck-nya."
"Bagus. Salma bantu warna dan sample kain."
"Dengan senang hati." Salma menoleh pada Keira sambil berbisik, "Lihat? Pagi ini bukan cuma cinta yang maju. Karier juga."
Keira menahan tawa, tetapi Naomi mendengarnya.
"Kalau gosip sudah selesai, kerja."
"Siap, Ci."
Ruang desain mendadak hidup. Salma mengambil sample kain dari rak, Keira menyusun ulang slide, sementara Naomi sesekali memberi catatan tajam yang membuat konsep mereka semakin padat. Untuk beberapa jam, Keira lupa pada mobil hitam, suara Rayhan, dan debar yang belum sepenuhnya turun.
Ia hanya menjadi dirinya di depan layar.
Keira yang tahu warna mana harus ditahan.
Keira yang bisa membaca bentuk.
Keira yang tidak perlu meminta izin untuk punya kemampuan.
Presentasi jam dua berlangsung cepat. Henry mendengarkan dengan wajah datar, Allen sesekali mengetuk pulpen ke meja. Ketika Keira selesai menjelaskan motif lipatan yang berubah menjadi bentuk baru, ruangan sempat hening.
Lalu Henry berkata, "Ini yang saya cari."
Allen mengangguk. "Lebih emosional, tapi tetap komersial. Jalankan."
Salma di kursi sebelah hampir menendang kaki Keira karena terlalu senang. Naomi hanya tersenyum tipis, lalu jarinya mengetuk sekali ke arah Keira, tanda puas.
Keira keluar dari ruang meeting dengan napas yang baru terasa lepas.
"Kamu keren," bisik Salma begitu pintu tertutup.
"Kakiku gemetar."
"Nggak kelihatan."
"Syukurlah."
Salma menggandeng lengannya sebentar. "Kei, serius. Kamu pantas ada di ruangan itu."
Kalimat sederhana itu membuat Keira menunduk. Ia hampir menjawab seperti biasa, tidak apa-apa, cuma kebetulan, tapi suara Naomi tadi kembali terdengar di kepalanya.
Jangan terlalu cepat mengecilkan pekerjaanmu sendiri.
Keira menarik napas.
"Terima kasih, Sal."
Ponselnya bergetar sebelum Salma sempat menjawab.
Nama di layar membuat senyum Keira memudar.
Mama.
Salma ikut melihat perubahan wajahnya. "Dari rumah?"
Keira mengangguk.
Ia menjauh ke sudut dekat jendela, lalu menerima panggilan. "Halo, Ma."
Suara Meilan Yanto masuk tanpa salam hangat. "Kamu pulang malam ini."
Keira menatap pantulan dirinya di kaca gedung. "Ada apa, Ma?"
"Kiara butuh kamu lihat beberapa pilihan gaun. Besok dia mau makan malam dengan teman-teman penting. Jangan pulang terlalu malam."
Jari Keira mengencang pada ponsel. "Aku masih ada kerjaan kantor."
"Kerjaanmu bisa menunggu. Kiara tidak bisa dibuat malu hanya karena kamu sibuk dengan sketsa-sketsa kecilmu."
Kalimat itu jatuh dingin, tepat di atas keberhasilan yang baru saja Keira pegang.
Dari jauh, Salma menatapnya khawatir.
Keira menelan pahit di tenggorokan. "Baik, Ma. Aku pulang setelah selesai."
"Jangan lupa beli pita rambut yang pernah Kiara kirim fotonya. Yang asli, jangan cari yang mirip."
Sambungan terputus.
Tidak ada terima kasih. Tidak ada tanya kabar.
Keira menurunkan ponsel perlahan.
Di layar yang menghitam, wajahnya tampak kembali kecil.
Salma mendekat. "Kei?"
Keira memaksa senyum. "Aku harus pulang ke Rumah Yanto malam ini."
Salma tidak langsung bercanda. Ia hanya menyentuh lengan Keira sebentar. "Mau aku temani?"
Keira menggeleng. "Nggak apa-apa. Cuma urusan Kiara."
Namun justru kata cuma itu membuat dadanya terasa berat.
Karena di Rumah Yanto, hampir semua luka Keira selalu dimulai dari sesuatu yang disebut cuma.
Cuma bantu adikmu.
Cuma mengalah sedikit.
Cuma ingat, kamu bukan pemilik rumah ini.
Sore itu, ketika Keira kembali ke mejanya, sketsa lipatan di layar masih tampak indah. Tetapi untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa garis-garis itu seperti mengingatkan pada sesuatu yang belum selesai dibuka.
Dan di Rumah Yanto, Kiara sedang duduk di depan meja riasnya, menatap foto pita rambut yang baru ia kirim kepada Keira.
"Mama," katanya sambil tersenyum manis, "Kak Keira pulang, kan?"
Meilan mengusap rambut putrinya. "Pulang. Dia tahu diri."
Kiara menatap pantulan dirinya di cermin.
Senyumnya tetap cantik.
Tetapi matanya tidak sepolos itu.