🏆 JUARA FAVORIT PEMBACA LOMBA "PENGKHIANATAN" SEASON 2 🏆
Qiana dan Emir sudah menjalin hubungan selama 12 tahun dan rencana mereka akan menikah tahun depan. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendatangi pernikahan Zeline, sahabat baiknya. Ternyata yang menjadi mempelai laki-laki adalah Emir.
Dunia Qiana terasa hancur saat tahu kalau dirinya sedang hamil anak Emir. Sementara laki-laki itu tidak mau mengakuinya. Akibat kejadian itu sang ibu meninggal karena gagal jantung.
Di tengah keterpurukan itu datang penolong yang selalu memberikan penyemangat, yaitu Keenan seorang office boy. Pemuda ini sering membantu Qinan secara diam-diam. Apalagi saat Emir ingin kembali merebut hati Qiana dan Zeline ingin selalu berusaha menghancurkan kehidupannya.
Siapakah Keenan itu?
Apakah Qiana akan mendapatkan kebahagiaan setelah datang banyak cobaan yang menderanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Qiana Melahirkan
Bab 20
Perut Qiana terasa mulas. Wanita itu mengusap lembut perutnya sambil meringis. Biasanya dengan begitu rasa sakitnya berkurang.
"Aduh, sakit sekali! Apa aku mau melahirkan?" Qiana berusaha menggapai ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.
"Halo, Ken. Kamu sedang di mana?" tanya Qiana sambil mendesis karena menahan sakit.
"Kamu kenapa?" Keenan balik bertanya. Terdengar suaranya panik di seberang sana.
"Sepertinya aku akan melahirkan," jawab Qiana.
"Aku ke apartemen kamu sekarang!"
Tidak sampai 20 menit Keenan datang ke apartemen Qiana. Terlihat perempuan itu sedang berbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya basah oleh keringat.
"Kita ke rumah sakit. Aku sudah menghubungi dokter dan mereka sudah menyiapkan ruangan bersalin," kata Keenan sambil membopong tubuh Qiana.
Terlihat kalau Keenan keberatan membawa tubuh Qiana yang sedang hamil besar. Namun, pemuda itu memaksakan diri membopongnya karena dia tahu Qiana tidak bisa berjalan.
***
"Baru pembukaan lima," sebaiknya Anda berjalan-jalan dulu untuk mempercepat proses pembukaan," kata dokter kandungan.
Keenan menuntun Qiana berjalan-jalan di dalam ruangan itu.
"Terima kasih, ya. Kamu sudah mengantar aku ke sini. Ayah sebentar lagi akan sampai ke sini. Kalau kamu mau kembali ke kantor, pergi saja. Aku tidak mau kalau kamu dipecat karena membolos," ucap Qiana dengan tatapan merasa bersalah karena tadi dia malah menelepon Keenan. Hal itu terpikirkan karena jarak Bara ke apartemen cukup jauh dibandingkan dengan kantor tempat laki-laki itu bekerja.
"Tidak apa, aku sudah izin tadi. Lagian aku sudah berjanji kepadamu akan menemani kamu saat melahirkan.
Bayi di dalam perut Qiana sudah terasa ingin keluar. Lalu, dokter pun kembali memeriksa dan kini sudah pembukaan sepuluh.
Bara belum datang karena terjebak kemacetan karena ada kecelakaan. Jadi, pria paruh baya itu meminta Keenan untuk menemani Qiana dahulu. Takut ada sesuatu yang mengharuskan persetujuan keluarga saat sedang melakukan tindakan.
Keenan menahan sakit saat tangan Qiana mencengkeram lengannya dengan kuat saat mengejan. Melihat kesakitan yang sedang dialami oleh wanita itu membuat dia merasa ketakutan dan sedih. Baru pertama kali pemuda itu melihat proses melahirkan.
"Qiana, kamu itu adalah wanita hebat. Makanya aku suka sama kamu. Berjuanglah untuk bayi kita," ucap Keenan tanpa sadar dengan apa yang sudah dia katakan.
"Ken, sakit. Aku sudah tidak kuat!" Cengkeraman Qiana semakin kuat dan menimbulkan luka goresan di lengan pemuda itu.
"Aku yakin kamu bisa. Ayo, Sayang." Keenan mencium kening Qiana.
Teriakan dari Qiana saat mengejan untuk mengeluarkan bayinya itu membuat tubuh Keenan kaku. Hanya doa dan ucapan penyemangat yang bisa dia lakukan.
"Kepala bayi sudah terlihat. Ayo, dorong yang lebih kuat!" titah sang dokter dan Qiana pun berusaha lebih kuat mendorong agar bayinya bisa segera keluar.
Suara tangisan bayi langsung memenuhi ruang bersalin itu. Qiana terkulai lemas sedangkan Keenan menangis karena terharu dan bahagia saat melihat bayi itu dalam gendongan sang dokter.
"Selamat, Nyonya Qiana. Bayi Anda terlahir dalam keadaan sempurna dan sangat sehat sepertinya dia juga tampan," ucap dokter sambil meletakan bayi itu di dada Qiana untuk disusui.
Air mata bahagia Qiana mengalir saat melihat putranya. Dia akhirnya bisa melihat buah hati miliknya. Meski dengan perjuangan yang cukup berat, tetapi tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa bahagia yang dia rasakan saat ini.
Bayi Qiana setelah dibersihkan di simpan di ruangan khusus bayi. Terlihat nama sang ibu dan nama bayinya.
***
Emir berlari di lorong rumah sakit, dia ingin melihat bayi yang sudah dilahirkan oleh Qiana. Tadi dia mendapat kabar Qiana akan melahirkan dari Heni yang kebetulan sedang berada di rumah sakit dan melihat mantan calon menantunya itu dibawa ke ruangan bersalin.
Air mata Emir mengalir saat melihat bayi Qiana lewat dinding kaca. Rasa bahagia, haru, dan bersalah bercampur aduk. Dulu, dia sengaja mengeluarkan benih di dalam saat bercinta dengan Qiana, berharap perempuan itu hamil anaknya dan dikemudian hari mereka bisa bersama karena anak. Sekarang dia snagat berharapan keinginannya itu bisa terwujud.
"Sayang, ini papa," kata Emir sambil melihat ke arah nama Shaka di kertas nama ibu dan bayi di boks.
Handphone milik Emir berdering. Maminya langsung menghubungi dia karena sangat penasaran.
"Emir, apa Qiana sudah melahirkan?"
"Sudah, Mi. Bayinya laki-laki tampan seperti aku."
"Jadi, bener kalau bayi yang dikandung itu anak kamu!"
Mendengar teriakan histeris dari Heni membuat Emir memejamkan mata. Dia yakin pasti papinya akan menghajar dia nanti.
"Iya, Mi. Dulu aku dan Qiana sudah tidur bersama. Aku bukannya memutuskan pertunangan kita, tetapi malah merenggut kehormatannya, karena aku tidak rela kehilangan Qiana." Emir mengaku akan kebohongan dia selama ini.
"Apa? Jadi, sebenarnya kamu dan Qiana dulu belum putus?"
Suara menggelar Heni membuat ketulian sesaat pada telinga Emir. Jika mereka berhadapan langsung, dia yakin ibunya itu akan menghajar dirinya.
"Belum, Mi. Aku tidak mau putus dengan Qiana. Tadinya aku akan diam-diam menjalin hubungan dengan Qiana meski menikah dengan Zeline. Tapi, siapa sangka mereka berdua itu bersahabat baik."
Hal yang diluar dugaan Emir waktu itu. Dia sendiri juga merasa marah karena untuk melindungi orang tuanya, harus mengorbankan cinta dan kebahagiaan dirinya dengan Qiana.
"Jadi, ayah biologis bayi Qiana itu adalah kamu?"
"Ya, tentu saja aku yakin itu. Lihat saja nanti akan aku buktikan dengan tes DNA."
"Benarkah? Coba kirim foto bayi itu!"
Emir memvideo bayi yang dilahirkan oleh Qiana dan mengirimkan kepada ibunya. Pria itu cepat-cepat pergi setelah melihat Keenan dan Bara berjalan ke arah ruangan ini.
***
Keringat di sekujur tubuh Zeline keluar banyak. Wanita itu gugup saat Emir dan ibu mertua dia menatap tajam ke arahnya.
"Jelaskan Zeline, kenapa hasil pemeriksaan dari dua rumah sakit bisa berbeda. Dulu, hasilnya rahim kamu baik-baik saja. Begitu juga dengan rumah sakit yang di datangi bersama kamu hasilnya subur. Tetapi, hasil dari laboratorium yang sengaja aku minta untuk memeriksa secara diam-diam hasilnya rahim kamu tidak subur dan tidak akan bisa mengandung," ucap Emir dengan menahan emosi.
Kedua orang tua Zeline hanya menatap dengan nanar ke arah putri mereka. Mereka menduga kalau sang anak sudah memanipulasi hasil pemeriksaan dengan bekerja sama dengan oknum dari rumah sakit.
Zeline sudah tahu dirinya mandul saat dia memeriksa kesehatan bersama temannya dulu. Dia takut akan mengandung benih dari Raka. Iseng-iseng dia memeriksa kesuburan rahim miliknya, tetapi hasil yang dia dapat sangat membuatnya shock dan kecewa.
Ketakutan dalam dirinya bertambah saat mertua dan kedua orang tuanya untuk melakukan program kehamilan. Dia merencanakan untuk pura-pura hamil dan akan menyewa seorang wanita untuk hamil dan bayinya akan dia beli.
Akan tetapi, semua rencana yang sudah dia buat masak-masak itu berakhir gagal, karena Emir dan ibunya diam-diam melakukan pemeriksaan untuk tes itu kesuburan mereka. Sekarang dia tidak bisa mengelak lagi.
"Sudah, kalian tinggal adopsi anak dari panti asuhan," ucap Baron dan disetujui oleh Marlin.
"Mi, bayi yang dulu dikandung oleh Qiana itu apa anak Emir?" tanya Hari kepada Heni dan itu membuat semua orang yang ada di sana mengerti maksud dari ucapan itu.
***
Akankah Emir dan Zeline merebut bayi yang dilahirkan oleh Qiana? Ikuti terus kisah mereka, ya!
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️
knapa yg musuhin Qiana jd 2 gini?
Qiana, kuat ya...
tggu saja