Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEBASAN SANG PENUAI NYAWA
BAB 15: TEBASAN SANG PENUAI NYAWA.
Dari kejauhan, deru angin malam yang pekat mendadak terbelah.
Tiga siluet melesat memotong kabut dari arah benteng perbatasan, membawa tekanan aura yang membuat udara di sekitar ngarai bergetar hebat.
Kapten Gareth, Kael Ardyn, dan Hugo tiba di tepi medan pertempuran persis di detik krusial—tepat saat maut menganga lebar, mengincar nyawa Elena.
Sepasang mata veteran Kapten Gareth langsung menyipit tajam.
Fokusnya mengunci sosok Beast Puncak tingkat menengah berzirah batu yang sedang meluncur deras di udara, siap meremukkan garis pertahanan juniornya.
Hawa maut dan bau amis darah langsung menyergap indra penciuman ketiganya.
Tanpa membuang waktu seperseribu detik pun, Kapten Gareth melontarkan instruksi mutlak yang memotong deru pertempuran.
"Hugo, keluarkan manifestasi Morgrath! Tahan pukulan itu!" jerit Kapten Gareth, kakinya terus memacu kecepatan hingga tanah berpasir di bawahnya retak.
"Kael, ambil celah di sisi kanan! Aku yang akan mengalihkan fokus kepalanya, pastikan kalian tepat waktu!"
Hugo dan Kael tidak perlu berpikir dua kali. Keduanya mengangguk serentak.
"Ya, Kapten!"
Meski otot-otot mereka menjerit kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, adrenalin pertarungan membakar habis rasa lelah itu.
Wush! Wush! Wush!
Ketiganya melesat bagai anak panah, memangkas jarak menuju titik pendaratan Beast raksasa tersebut.
"Morgrath!" raung Hugo dengan urat leher menegang.
Pemuda tambun itu menancapkan kedua kakinya kuat-kuat ke atas tanah berpasir, memicu aliran elemen purba dari dalam dadanya.
BOOOM!
Bumi di depan celah ngarai terbelah hebat.
Lapisan dinding tanah bercampur pendaran ilusi gading purba milik Morgrath mencuat beringas dari bawah permukaan, menjelma menjadi benteng absolut yang langsung beradu frontal dengan sepasang tinju batu sang Beast.
Benturan kolosal itu memicu gelombang kejut yang melemparkan debu dan kerikil tajam bak peluru ke udara!
Di saat yang bersamaan, Kapten Gareth memicu aliran energi Ranah Emas di dalam dadanya secara utuh.
Cahaya keemasan tebal bergolak menyilaukan mata, memanifestasikan Anima Banteng Tanduk Baja berukuran masif yang mendengus ganas tepat di hadapan wajah sang Beast.
"Lihat ke sini, Beast sialan!" teriak sang Kapten, suaranya menggelegar mengalihkan fokus mutlak monster tersebut.
BOOOOOOMMMM!
Tandukan baja berlapis aura Emas pekat menghantam pelindung dada Beast itu dengan telak.
Sentakan dahsyat berskala Emas murni itu memaksa Beast Puncak menengah terdorong mundur dua langkah.
Pijakannya goyah. Zirah batu di sekitar lehernya yang tadinya rapat mendadak merenggang, menciptakan sebuah celah fatal terbuka lebar.
Di sisi kanan yang tidak disadari musuh, Kael meluncur bagai bayangan.
Langkah kakinya nyaris tanpa suara, namun di dalam kesunyian fisiknya, batin Kael bergejolak menembus batas dimensi.
Ia menarik kesadarannya turun ke dalam ranah spiritual, mengetuk pintu kegelapan absolut tempat Morthas berada.
Udara beku Kematian Murni langsung menyengat kesadaran Kael, namun pemuda bermental baja itu sama sekali tidak bergeming.
Morthas... pinjamkan kekuatanmu, panggil Kael singkat, nadanya sedingin es.
Di kedalaman dimensi Void, Sang Penuai Nyawa terduduk angkuh di atas singgasana hampa.
Sepasang mata tak kasat matanya melirik ke arah jiwa Kael. Gejolak ego kelas Anomali memancar kuat.
Cih... pada akhirnya, tetap saja makhluk fana sepertimu harus mengemis kekuatan pada keagungan Anima, geram Morthas rendah, mendengus dingin meremehkan.
Sudut bibir Kael terangkat tipis. Alih-alih terprovokasi, ia membalas tatapan itu dengan senyuman analitis yang tak tergoyahkan.
Bagi Kael, ego Anima hanyalah riak kecil. Yang terpenting di medan perang adalah efisiensi untuk mencabut nyawa lawan secepat mungkin. Bahkan jika aliran Void itu akan merobek pembuluh darahnya, Kael rela membayarnya demi sebuah kemenangan mutlak.
Morthas menatap dalam-dalam binar tanpa takut di mata pemuda itu, lalu berdecak kesal.
Aku benci melihat rasa percaya diri di matamu itu, Bocah, dengus Morthas penuh keangkuhan.
Tapi baiklah... ini sama sekali bukan karena aku menuruti perintah fanamu. Aku hanya butuh pelampiasan untuk menuai nyawa Beast busuk ini!
Wush!
Dalam sekejap mata, kabut hitam pekat yang membawa konsep Kematian melilit lengan kanan Kael.
Rasa dingin yang meremukkan tulang menjalar di urat nadinya, namun Kael mengabaikan rasa sakit itu sepenuhnya.
Wujud raksasa Sang Penuai Nyawa bermaterialisasi tipis dalam wujud bayangan di belakang bahu Kael, menyalurkan gagang bilah sabit merah menyala lurus ke dalam genggaman jemarinya.
Memanfaatkan fraksi detik emas di mana fokus sang Beast sepenuhnya terkunci pada hantaman Kapten Gareth, Kael memutar tubuhnya dengan perhitungan sudut yang teramat presisi.
Waktu seolah melambat di mata pemuda itu.
Srakkkkk!
Bilah sabit merah darah itu membelah udara, meninggalkan jejak hitam kemerahan yang melengkung indah namun mematikan.
Bilah Void itu meluncur mulus menembus celah sempit di zirah leher sang Beast. Konsep pemutus sukma bekerja secara absolut, mengiris tulang dan zirah batu setebal baja layaknya memotong sepotong mentega yang lunak.
Tanpa ada perlawanan berarti, kepala raksasa milik Beast Puncak itu terlepas begitu saja dari pundaknya.
Darah hitam memuncrat deras ke udara, diiringi kepala raksasa yang melayang sejenak sebelum jatuh menghantam pasir dengan dentuman yang menggetarkan tanah.
Elena, Suna, dan Ren yang berada di garis belakang terpaku mematung di tempat mereka berdiri.
Mata merah Elena membelalak tak percaya. Napasnya tercekat melihat bahaya maut yang sedetik lalu siap merenggut nyawanya, kini musnah tak bersisa hanya dengan satu ayunan senjata dari seorang pemula di Ranah Perunggu!
Suna menelan ludah kasar. Ketepatan, ketenangan, dan kekejaman eksekusi Kael barusan benar-benar di luar nalar seorang pemula.
Begitu raga tak berkepala milik Beast itu runtuh perlahan ke tanah, kabut hitam di ujung sabit Kael bergerak seperti tentakel.
Asap Void itu merobek rongga dada sang Beast, melilit inti kristal berwarna keunguan yang ada di dalamnya, lalu menyerapnya langsung ke dalam dimensi jiwa Morthas.
Cih... kualitas kristal cacat ini bahkan tidak sebanding dengan usahaku untuk memanifestasikan Sabit Penuai, oceh Morthas sinis di dalam benak Kael.
Namun Kael memblokir omelan sombong rekannya itu.
Raut wajah Kael tetap sedatar lapisan es. Ia tidak merayakan kemenangan satu detiknya. Sepasang matanya terus menyisir tajam, meneliti pergerakan gerombolan Beast bertanduk tunggal yang merangsek keluar bak air bah dari celah ngarai di depan mereka.
Melihat ketenangan absolut yang ditunjukkan Kael, Kapten Gareth mengangguk pelan dengan rasa kagum yang membuncah di dadanya.
Mental prajurit sejati, puji sang Kapten dalam hati. Untuk seorang remaja yang baru pertama kali terjun ke medan perang berdarah, Kael sama sekali tidak mabuk oleh ilusi kemenangan sesaat.
"Kael! Tetap ikuti posisiku dari belakang!" seru Kapten Gareth tegas, memutar tubuhnya menghadap lurus ke arah celah labirin yang memuntahkan monster.
"Kita terobos barisan cecunguk ini! Siapkan dirimu untuk meruntuhkan atap tebing batu di atas celah sana!"
"Siap, Kapten!" sahut Kael tanpa ragu.
Kapten Gareth menoleh ke belakang, mengunci pandangan pada Hugo yang masih menyalurkan aura.
"Hugo! Begitu tebing itu hancur, gunakan seluruh elemen tanah Morgrath untuk menyegel reruntuhannya secara permanen!" perintah sang Kapten.
"Serahkan padaku, Kapten!" jawab Hugo mantap, mengacungkan ibu jarinya dengan keringat yang terus menetes.
Tanpa menunda waktu sedetik pun, Kapten Gareth memimpin terobosan frontal di lini depan.
Aura Ranah Emas meledak menyilaukan. Banteng Tanduk Baja milik sang komandan melesat ganas layaknya mesin pembajak bumi kelas berat yang tak terhentikan.
Brak! Bum! Kraakk!
Setiap Beast bertanduk tunggal yang nekat menghalangi jalan langsung hancur berantakan. Tubuh-tubuh monster peringkat rendah itu hancur tergilas, memuncratkan darah hijau, lalu terpental ke udara menghantam tebing ngarai.
Perbedaan kekuatan antara Ranah Emas dan Beast kelas rendah itu bagaikan raksasa yang menyapu tumpukan daun kering. Sapuan bersih itu membuka jalan tol yang luas bagi Kael di belakangnya.
Melihat pembantaian brutal dan dominasi mutlak dari sang Kapten, sepasang mata Ren di barisan belakang langsung membelalak lebar.
Gairah bertarung yang tadinya sempat meredup, kini meledak kembali membakar ubun-ubun pemuda berambut merah itu.
"Wuoooohhhh! Keren gila!" teriak Ren kegirangan melompat-lompat di tempat, mengabaikan fakta bahwa Ranah Jiwanya sedang berada di ambang kekeringan total.
"Aku juga ingin membantai musuh dengan serangan brutal seperti itu!"
Suna hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Gadis berambut pendek itu mengembuskan napas panjang menahan sabar melihat tingkah kawan maniaknya yang nyaris tak punya rasa takut itu.
Sementara Elena, yang egonya telah pulih dari syok, memutar bola matanya dan memberikan tatapan maut pada Ren.
"Tutup mulutmu dan perhatikan formasinya, Bodoh!" omel Elena galak, melayangkan pukulan ringan di udara.
"Jangan membuat gerakan tidak berguna kalau kau belum mau mati!"
Melihat dinamika absurd di tengah medan kematian itu, Hugo hanya terkekeh polos seraya menahan pendaran tameng elemen tanah Morgrath.
"Hahaha... si idiot Ren memang tidak akan pernah berubah," kekeh pemuda tambun itu.
Bummmmm! Duarrr!
Dentuman demi dentuman brutal terus bergaung saat Kapten Gareth dan Kael berlari makin dekat menyentuh bayangan mulut celah labirin.
Setiap ancaman yang muncul tersapu bersih secara instan oleh amukan Banteng Emas sang Kapten.
Namun, jauh dari dalam relung ngarai bawah tanah yang gelap gulita, raungan puluhan Beast peringkat Perak terdengar semakin membahana.
Getarannya merayap melalui dinding ngarai, menandakan bahwa gelombang ancaman baru sedang meluncur deras menuju pintu keluar.
Di bawah bayang-bayang kabut malam, pikiran Kael berpacu cepat melampaui kecepatan langkahnya.
Otaknya mengalkulasi jarak lemparan sabit, kekuatan pantulan, dan sudut keruntuhan tebing secara mendetail.
Pemuda bermanik mata dingin itu sangat yakin, dengan ritme eksekusi saat ini, ia dan Kapten Gareth akan memenangkan pacuan maut ini. Mereka pasti sanggup meruntuhkan atap labirin sebelum gelombang kedua itu sempat melihat langit peradaban!