Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang tak lagi sama 1
Krekk...
Suara pintu rumah terbuka memecah keheningan siang itu.
Haseena yang sedang menyapu ruang tamu spontan menoleh.
Sapunya berhenti bergerak.
"Bang...?"
Lelaki yang berdiri di ambang pintu itu memang Zafran.
Namun...
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Rambutnya kini sedikit lebih panjang dan berantakan. Di hidung sebelah kirinya terpasang sebuah tindik kecil berwarna hitam. Wajahnya tampak lebih tirus dibanding terakhir kali Haseena melihatnya.
Yang paling berbeda...
Tatapan matanya.
Kosong.
Tidak lagi sehangat dulu.
"Abang..."
Haseena melangkah perlahan mendekatinya.
Zafran hanya melirik sekilas.
"Iya."
Jawabannya singkat.
Ia melepas jaket yang dikenakannya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas kursi ruang tamu.
Saat lengan bajunya terangkat...
Haseena membeku.
Di lengan kanan kakaknya terdapat sebuah tato kecil.
Tidak besar.
Namun cukup membuat napasnya tercekat.
"Astagfirullahaladzim..."
ucap Haseena hampir tak terdengar.
Zafran seolah tidak peduli.
Ia mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Bang..."
Langkah Zafran terhenti.
Haseena menatap punggung kakaknya dengan ragu.
"Itu... tindiknya..."
"Terus tato di tangan Abang..."
"Ada apa sebenarnya?"
Beberapa detik berlalu.
Tak ada jawaban.
Zafran hanya mengembuskan napas pelan tanpa menoleh.
"Haseena..."
"Udah."
"Nggak usah banyak tanya."
Nada suaranya datar.
Tidak keras.
Namun cukup membuat Haseena memilih diam.
Zafran kembali melangkah menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang tertutup.
Haseena masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya tertuju pada pintu kamar mandi yang kini tertutup rapat.
Entah sejak kapan...
Ia merasa semakin sulit mengenali kakaknya sendiri.
---
Tak lama berselang...
Pintu rumah kembali terbuka.
Krekk...
"Assalamu'alaikum."
Suara Rayyan terdengar dari depan rumah.
Di tangannya tergenggam kantong berisi sayuran hasil kebun.
"Wa'alaikumsalam, Bah."
Haseena segera menghampiri dan mengambil kantong itu.
"Capek, Bah?"
"Lumayan."
Rayyan tersenyum tipis.
"Abang pulang."
Langkah Rayyan terhenti.
"Pulang?"
"Iya."
"Lagi mandi."
Sorot mata Rayyan berubah.
Ada rasa lega yang sempat muncul.
Namun rasa itu cepat menghilang, tergantikan oleh kekhawatiran yang belum sempat reda.
"Ya sudah."
"Abah cuci tangan dulu."
"Bah..."
Haseena menahan langkahnya.
"Makan dulu aja."
"Nanti biar Abang istirahat dulu."
Rayyan mengangguk pelan.
Mereka duduk di meja makan.
Haseena mengambilkan nasi untuk ayahnya.
Ia juga menuangkan segelas air putih.
Belum sempat Rayyan mulai makan...
Pintu kamar mandi kembali terbuka.
Zafran keluar sambil mengusap rambutnya dengan handuk.
Ia berjalan melewati ruang makan.
Seolah tidak melihat siapa pun.
"Bang..."
panggil Haseena pelan.
"Itu ada Abah."
Langkah Zafran berhenti.
Namun ia tidak menoleh.
"Terus?"
Ruangan mendadak sunyi.
Rayyan perlahan meletakkan sendok di atas piring.
"Masih ingat rumah?"
tanyanya pelan.
Zafran tertawa hambar.
"Masih."
"Kalau masih ingat..."
"Minimal sapa orang tua."
Tak ada jawaban.
Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka.
"Aku capek, Bah."
"Lagi nggak pengin ngobrol."
Zafran kembali melangkah menuju kamarnya.
Rayyan menarik napas panjang.
Kecewa yang selama ini ia pendam akhirnya lolos menjadi ucapan.
"Kalau setiap pulang cuma bawa sikap seperti itu..."
"...lebih baik nggak usah menghilang berhari-hari."
Zafran berhenti.
Ia membalikkan badan.
Tatapannya datar.
"Oke."
"Kalau itu maunya Abah..."
"...aku pergi lagi."
Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke kamar.
Tak lama kemudian...
Suara resleting tas terdengar dari dalam.
Haseena spontan menoleh ke arah Rayyan.
Wajah ayahnya tampak menegang.
Seolah baru menyadari...
Bahwa kalimat yang keluar beberapa detik lalu mungkin akan menjadi penyesalan berikutnya dalam hidupnya.