Delima Anastasia : Hidup dengan sederhana, dipertemukan dengan CEO di temat ia bekerja. Semenjak bertemu dengan CEO itu, ia sudah mempunyai perasaan kepada bos muda di kantornya, dengan hobinya menulis maka ia salurkan menjadi sebuah cerita didalam novelnya.
Sampai suatu hari ia merasa bahwa CEOnya itu mengawasinya dari jauh dan mulai bersikap tidak wajar, membuat Delima merasa selalu di awasi.
"Aku tidak tau takdir membawaku kemana, yang jelas jangan buat aku menderita Tuhan."
Derel Sean Miller :
"Setelah kau jadikan aku fantasimu membuat sebuah cerita, apakah aku akan membiarkanmu pergi dengan mudahnya?"
Tidak akan Delima, kau akan tetap di sini, di tempat yang seharusnya yaitu di sisi ku, kau adalah milikku dan siapapun tak akan ku biarkan milikku di ganggu ataupun disentuh orang.
Kau akan menjadi milikku, karna dari awal kau memanglah tercipta untukku. Apapun caranya itu pasti akan aku buktikan tidak akan lama lagi Del.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KarismaAd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Mereka semua terdiam dengan kedatangan orang tersebut. Sungguh mereka tak menyangka jam segini dia sudah pulang, biasnya ia bila dipanggil baru datang dan sangatlah sulit untuk menyuruhnya pulang.
"Wah keajaiban apa ini, kok kakakku yang warkaholic ini inget rumah." Resti bicara tanpa dosa sedikitpun.
"Humm.." Memandang Resti dengan tampang datarnya.
"Ya elah, gue punya kakak kok kosakatanya dikit amat. Padahal di sekolah dulu pelajaran kosa katanya cukup banyak. Tapi sekarang yang dia tahu hanya humm dan humm saja. Tak ada yang lain apa." Dumel Resti yang tak terima dengan jawaban dari kakaknya.
"Kalian jangan berantem mulu, Resti nanti kamu ngadu lagi sama mommy karena di tegur kakak kamu dan kamu Abang jangan sering ngomong sama adeknya kanyak gitu." Mommy Ratna berusaha menengahkan mereka berdua, supanya tidak terjadi apa yang ia takutkan.
"Baiklah mommy.."
"Humm, baiklah mommy.."
Ucap mereka dengan serentak dan kompak.
"Gitu dong abang dan adek, itukan bisa akur dan mommy juga senang dengarnya." Mommy Ratna berucap sambil tersenyum dengan lebarnya.
"Abang sini, duduk dekat mommy. Ada sesuatu yang mau mommy bicarakan sama abang." Menyuruh anaknya untuk duduk dengan masih mempertahankan senyumnya tapi tidak selebar tadi, sekarang terkesan lembut.
Derel langsung saja menuju ke sofa panjang yang di mana mommynya duduk, dan duduk di sebelah mommynya.
Ia langsung saja merebahkan tubuhnya dan menaroh kepalanya di paha mommynya. Seakan tau apa maksud sang anak, dia langsung saja meletakkan tangannya di kepala anaknya dan mengusap-usap rambut anaknya itu.
Inilah yang sangat ia nantikan, saat ia pulang dan dimana ia dimanja seperti ini oleh sang mommy. Ia memejamkan matanya, seakan masalahnya juga ikut berkurang dan hilang untuk sementara waktu, digantikan dengan ketenangan.
"Abang ada masalah, gak biasnya abang pulang ke rumah secepat ini, dan wajah Abang sedikit pucat dan mata Abang juga bengkak abang sakit." Khawatir mommy Ratna dan berbicara dengan lembut ke anaknya itu.
"Humm, Abang cuman ingin dimanja sama mommy aja kok, mungkin karena aktifitas abang yang padat, makanya abang kayak gini." Ucapnya dengan lembut, dan menenangkan mommynya supanya tak khawatir yang berlebihan.
"Yaudah, Abang nginap di sinikan. Udah lama juga Abang gak tidur di Mension ini." Bicara dengan wajah lesuny.
Memang sangat jarang ia nginap di Mension kedua orang tuanya. Bahkan sudah berapa bulan ini, ia tak tidur di rumah mommynya itu.
Alasannya karna ia sibuk, apakah memang benar sibuk bekerja, atau sibuk memikirkan sesuatu yang tidak akan pernah terkabul.
Kalian pasti tau orang itu, ia memanglah Derel. Sosok yang paling tegar di luar dan sangat rapuh di dalam bila menyangkut keluarga dan dia.
"Katanya mommy mau bicara sama kak Derel, tapi kok malah gak jadi sih." Ucap Resti yang mengingatkan kembali apa yang mommy ucapkan tadi ke Derel.
"Eh iya mommy lupa sanyang, yaampun untung kamu ingetin mommy, kalau enggak benar-benar lupa ini mah." Ucapan mommynya yang secara tak sengaja mengucapkan terimakasih ke anak gadisnya itu.
"Sayang mommy mau beri tahu kamu, kalau orang yang mommy cari itu udah ketemu, mommy sangat senang banget ketemu sama dia lagi." Bicara sambil tersenyum dan masih melakukan kegiatan tadi, mengusap rambut anaknya.
"Kamu tau kalau ia juga bekerja di perusahaan kita sayang, mommy gak sabar mau ketemu sama dia lagi." Masih dengan mimik wajah yang tadi. Yang tersenyum tiada henti, apalagi bicara tentang gadis itu.
"Maksud mommy dia bekerja di perusahaan kita." Ucap Derel, yang mempertanyakan kebenaran yang di ucapkan oleh mommynya.
Derel sedikit kaget, dengan apa yang ia dengar, ia langsung duduk dari baringannya. Berhadapan dengan wajah mommynya, memasang wajah yang seakan minta penjelasan.
"Mengapa ekspresimu seperti itu sayang, apakah kamu mulai tertarik dengannya." Ucap mommynya dengan senyum seakan menggoda anaknya.
"Aku cuma bertanya mommy, apakah mommy tidak curiga apa. Jika dia bekerja di perusahaan kita, bisa jadi dia menolong mommy cuma ekting dan semuanya sudah di rencanakan." Berusaha menyakinkan mommynya supanya tidak terjebak dengan permainan orang yang ingin memanfaatkan keluarganya saja.
"Kamu gak boleh gomong kanyak gitu Derel, mommy tau kok dia itu tulis nolong mommy. Mommy bisa rasakan kok, bahkan baru bertemu sama dia aja udah buat mommy nyaman dan seakan mommy kenal dia udah lama." Ucapan mommyny Derel panjang lebar. Seakan tidak mau hal buruk sedikitpun keluar dari mulut anak cowoknya itu, tentang dia yang tak lain Delima.
"Yaudah deh, kalau itu keputusan mommy. Tapi kalau dia berniat jahat dan membuat mommy terluka bilang sama aku, ok." Derel berucap dengan pasrah.
Dan tak mungkin untuk melarang mommynya sekarang. Semakin ia melang maka semakin tenguh pendiriannya, apalagi apa yang ia anggap itu benar di matanya.
"Mungkin lebih baik, aku awasi dia. Jika seandainya ia memang berniat untuk melukai mommy maka, aku sendiri yang akan bertindak, dan tak akan aku ampuni dia." Monolognya dalam hati, dengan tekat yang kuat.
"Sayang kamu kenapa, kok malah melamun." Pertanyaan keluar dari mulut mommynya.
"Paling-paling lagi mikirin untuk mengawasi kakak ku itu." Ucap Resti dengan cuek.
"Kakak ku, maksudnya apa dek." Dengan wajah menyelidikinya.
"Kakak ku yang paling pintar ini pasti Taulah apa yang aku maksud. Lagian kak Adel itu baik banget dan gak membedakan orang dan hatinya lembut sangat." Pujian yang di lontarkan oleh Resti untuk Delima.
Walaupun orangnya tidak ada di antara mereka. Karna menurut Resti Delima itu orang yang paling cocok untuk meluluhkan hati kakaknya ini.
Mereka asik membicarakan tentang Delima dan membentuk dua kubu, yaitu kubu pro dan kubu kontra. Kalian pasti tau siapa yang di masing-masing kubu itu kan.
Sedang di tempat lain Delima merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya. Entahlah, sejak kapan tapi yang jelas sudah beberapa hari ini yaitu tepatnya ia di angkat menjadi karyawan tetap di perusahaan ini.
"Gue merasa gak pernah menyakiti hati orang, ataupun mencari masalah sama orang lain. Tapi mengapa firasat gue mengatakan hal yang buruk akan segera terjadi, tapi apa itu dan siapa mereka." Gumamnya dengan pelan dan terus memikirkan keaneha-keanehan yang terjadi akhir-akhir ini.
"Gue harap semuanya akan baik-baik saja dan apa yang gue pikirkan ini gak akan terjadi." Monolognya dalam hati.
Sebesar apapun ia berusaha untuk mengenyahkan dan mengubah untuk berpikiran positif, tetap saja itu tidak bisa membuat kegelisahan dan kegundahannya menghilang begitu saja.
"Lebih baik gue bicarakan ini sama orang yang tepat, dan dia pasti bisa menenangkan gue dalam situasi gue yang kanyak gini." Tekatnya dalam hati.