Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Ruang perawatan intensif itu kini diliputi keheningan yang begitu sunyi. Bunyi teratur dari bedside monitor yang memantau detak jantung Leo menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan sepertiga malam.
Di atas ranjang, bocah kecil itu telah tertidur pulas dengan napas yang stabil, wajahnya tidak lagi sepucat beberapa jam yang lalu berkat darah segar yang baru mengalir ke dalam tubuhnya.
Di sisi ranjang, Alana duduk di kursi dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Kepalanya terkulai di tepi kasur, tepat di samping lengan kecil Leo.
Wanita itu tertidur karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa setelah berjam-jam dihantam kepanikan yang menguras seluruh energinya. Sisa air mata yang mengering masih membekas samar di pipinya yang tirus.
Cklek.
Pintu kayu berat itu terbuka tanpa suara. Devran melangkah masuk dengan sangat perlahan, seolah-olah langkah kakinya bisa mengusik istirahat kedua orang di dalam ruangan itu.
Di tangan kanannya, ia masih mencengkeram erat map biru berisi hasil laboratorium yang mengonfirmasi angka 99,99% kecocokan genetik antara dirinya dan Leo.
Devran berdiri tegak di ujung ranjang, menatap Alana yang terlelap. Tatapan mata elangnya berganti-ganti dengan sangat cepat.
Ada kilat amarah yang membakar, kemarahan karena menyadari wanita ini telah menyembunyikan putra kandungnya, darah dagingnya sendiri, selama lima tahun penuh di belahan bumi yang jauh.
Namun, di saat yang sama, ada cinta dan rasa protektif yang teramat dalam yang tidak bisa ia pungkiri saat melihat wajah lelah Alana.
Devran melangkah mendekat, bayangannya yang besar menutupi tubuh Alana. Ia meletakkan map biru itu di atas meja nakas dengan suara ketukan pelan.
"Mengapa, Alana?" bisik Devran, suaranya begitu rendah hingga nyaris menyatu dengan udara malam.
"Mengapa kamu menyembunyikan dia dariku? Apa yang membuatmu begitu takut padaku?"
Mendengar bisikan samar tersebut, Alana bergerak sedikit. Kelopak matanya yang bengkak perlahan terbuka.
Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih berkabut sebelum mendongak dan mendapati Devran sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang sangat pekat.
"Devran...?" Alana membetulkan posisi duduknya yang kaku, mengusap wajahnya yang terasa sembap.
"Jam berapa sekarang? Mengapa kamu tidak istirahat di kamar sebelah? Kamu baru saja mendonorkan banyak darah."
"Aku tidak butuh istirahat," jawab Devran dingin, suaranya datar tanpa ekspresi, menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya.
Ia sengaja menggeser posisi berdirinya agar map biru di atas nakas tidak langsung terlihat oleh Alana.
Alana berdiri, melirik ke arah Leo dan membetulkan letak selimut anaknya dengan gerakan penuh kasih sayang.
"Suhu tubuhnya sudah turun banyak. Dokter Adrian bilang proses pemulihannya akan sangat cepat karena darahmu cocok, sangat cocok." Alana menjeda kalimatnya, ada nada ragu yang terselip sebelum ia mendongak menatap Devran.
"Sekali lagi, terima kasih, Devran. Jika bukan karena kamu..."
"Kecocokan darah itu memang di luar dugaan, bukan?" potong Devran, matanya mengunci pandangan Alana dengan intens yang membuat wanita itu mendadak merasa sesak.
"Adrian bahkan mengatakan struktur antibodinya menolak semua donor lain kecuali darahku. Tidakkah kamu merasa itu sebuah kebetulan yang terlalu... sempurna, Alana?"
Jantung Alana berdegup kencang secara mendadak. Ia mengepalkan jemarinya di balik saku gaun satinnya, mencoba mempertahankan wajah tenangnya.
"Ya... dunia ini penuh kebetulan. Aku... aku hanya bersyukur karena takdir masih berpihak pada anakku malam ini."
"Takdir, atau sebuah kebenaran yang sengaja dikubur?" desis Devran, melangkah satu tapak lebih dekat hingga jarak mereka terkikis habis.
Alana refleks mundur setengah langkah hingga punggungnya membentur pinggiran ranjang Leo.
"Apa... apa maksudmu, Devran? Mengapa kamu menatapku seperti itu?"
Devran menatap lurus ke dalam sepasang mata Alana yang memancarkan kilat ketakutan yang samar.
Detik itu juga, Devran tahu. Alana tahu siapa ayah kandung Leo. Wanita ini sadar sepenuhnya bahwa pria yang berdiri di depannya adalah pria dari malam lima tahun yang lalu.
Amarah di dalam dada Devran mendesak untuk meledak. Ia ingin mencengkeram bahu wanita ini dan berteriak, menuntut penjelasan mengapa ia harus melewatkan lima tahun pertama kehidupan putranya.
Namun, akal sehat penguasa bisnisnya segera mengambil alih. Jika ia membongkar kebenaran ini sekarang, Alana yang keras kepala pasti akan langsung membangun dinding pertahanan yang lebih tinggi.
Wanita ini bisa saja nekat melarikan Leo kembali ke Swiss dan menghilang selamanya dari hidupnya.
'Tidak. Aku harus bermain cantik,' pikir Devran, menyusun taktik di dalam benaknya.
'Aku akan pura-pura tidak tahu dulu. Aku harus mencari tahu apa motifnya, siapa yang membantunya bersembunyi, dan ketakutan apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku.'
Devran mengembuskan napas perlahan, memaksa rahangnya yang menegang untuk melunak.
Kilat kemarahan di matanya seketika digantikan oleh topeng ketenangan yang dingin.
"Maksudku, ini adalah kebetulan yang menguntungkan bagi proyek kita," ucap Devran, nadanya berubah menjadi santai namun tetap berwibawa.
"Jika kondisi Leo membaik, kamu bisa kembali fokus menyelesaikan sisa desain resort Bali tanpa gangguan pikiran."
Alana mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya di tenggorokan. Ia merasa sangat lega, mengira Devran tidak mencurigai apa pun lebih jauh dari sekadar masalah medis.
"Tentu saja. Aku adalah seorang profesional, Tuan Adhitama. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku sesuai kontrak."
"Bagus," sahut Devran tipis, sebuah senyuman misterius yang sarat akan makna terselubung terukir di sudut bibirnya.
"Karena kontrak kita... mungkin akan berjalan jauh lebih lama dari yang kamu perkirakan, Alana."
"Apa maksudmu? Kontrak itu hanya sampai proyek Bali selesai," ujar Alana, alisnya bertaut heran.
Devran tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru berbalik, mengambil map biru dari atas nakas dengan gerakan cepat sebelum Alana sempat membaca label namanya.
"Pulanglah ke mansion bersama Reno. Mandi dan ganti pakaianmu. Aku yang akan menjaga Leo di sini sampai pagi."
"Tapi, Devran, aku bisa menjaga..."
"Ini perintah, Nona Kirana, bukan tawaran," potong Devran mutlak, mengantongi map biru itu ke balik jasnya.
"Aku tidak ingin kepala desainerku jatuh sakit dan menghambat pekerjaan bernilai miliaran karena kelelahan. Pergilah sekarang."
Alana menggigit bibir bawahnya, menatap Devran dengan perasaan campur aduk, ada rasa kesal karena sifat pria itu kembali, namun ada juga rasa hangat yang aneh karena tahu Leo berada di tangan yang aman.
"Baiklah. Aku akan kembali siang nanti," ucap Alana mengalah.
Ia menunduk, mencium kening Leo sekali lagi sebelum melangkah menuju pintu.
"Tolong panggil dokter jika dia terbangun dan mencari es krimnya."
"Aku tahu apa yang harus kulakukan pada anakku," jawab Devran pendek.
Begitu pintu ruang rawat tertutup rapat dan langkah kaki Alana menjauh, Devran kembali mengeluarkan map biru tersebut.
Ia menatap lembar kertas itu, lalu mengalihkan pandangannya pada Leo yang masih mendengkur halus.
Devran duduk di kursi yang tadinya diduduki Alana, mengusap rambut lembut putranya dengan jemari yang kokoh.
"Mommymu menyimpan rahasia yang sangat besar dari kita, Leo. Tapi jangan khawatir, Ayah akan membongkar semuanya, sepotong demi sepotong."
"Dan setelah semuanya jelas, tidak akan ada satu pun dari kalian yang boleh pergi lagi dari sisi Adhitama."