NovelToon NovelToon
Tirai Hitam Para Pewaris

Tirai Hitam Para Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.

Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.

Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

“Hari ini terasa sangat melelahkan, sayang,” ucap Risma sambil bersandar.

“Tapi kau menikmatinya, bukan?” tanya Henri sambil tersenyum.

“Tentu saja, aku selalu menyukai caramu. Tak pernah berubah sedikit pun,” jawab Risma dengan suara mendesah.

“Hahaha… Aku akan selalu membuatmu terbang melayang, sayang. Ngomong-ngomong, hari ini kita akan pergi ke mana lagi?” tanya Henri kemudian.

“Kita harus pulang sekarang juga. Aku takut Mas Anton mulai curiga. Jika sampai ketahuan, semuanya bisa berantakan,” jawab Risma sambil merapikan rambut, merias wajah, dan memulaskan kembali gincunya.

“Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang.”

Mobil itu pun melaju meninggalkan kawasan hotel menuju arah Jakarta.

“Apakah kau ingin singgah sebentar di suatu tempat, Risma?” tanya Henri lagi.

“Tidak usah, lebih baik kita langsung pulang saja. Tidak apa-apa jika kita sampai larut malam. Nanti aku bisa beralasan kepada Mas Anton bahwa mobilku sempat ditahan dan diderek petugas,” jawab Risma tenang.

“Baiklah.”

Kendaraan itu pun melesat membelah jalan raya, meninggalkan jejak roda yang perlahan menghilang di atas aspal.

.

.

.

Kiara baru saja tiba kembali di kediaman keluarga Anton. Ia melangkah masuk tanpa menyadari bahwa Anton sudah menunggu kedatangannya. Saat ia terus berjalan, tiba-tiba suara Anton menghentikan langkahnya.

“Dari mana saja kau, hah?!” tanya Anton dengan nada dingin dan tajam.

Kiara tidak menoleh sedikit pun, namun tetap menjawab dengan suara datar. “Bukan urusan Papa dari mana aku berasal.”

“Jangan kurang ajar begitu! Ingat, akulah yang merawatmu sejak kau masih bayi. Sekarang sudah besar, berani sekali kau melawan bicara!” seru Anton dengan nada kesal.

Kiara pun memutar tubuhnya, berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia mencondongkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Anton.

“Ketahuilah, Papa Anton… Jika aku boleh meminta, aku tidak ingin dilahirkan dan dibesarkan olehmu. Seandainya sejak awal aku mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya, mungkin sejak lama aku sudah pergi sejauh mungkin meninggalkan tempat ini.”

Setelah berkata demikian, Kiara mundur selangkah dan berbalik hendak pergi. Anton terdiam mematung, bingung dan tidak mengerti maksud ucapan gadis itu.

“Apa maksudmu sebenarnya?” desis Anton pelan.

“Suatu saat nanti, jika aku mengetahui sesuatu yang selama ini tak ingin aku ketahui… Semoga saat itu aku masih diberi kesempatan untuk tetap hidup,” jawab Kiara singkat, lalu melangkah pergi meninggalkan Anton yang masih terpaku di tempatnya.

“Apa maksud gadis itu? Jangan-jangan…” gumam Anton sendiri, lalu ingatannya melayang kembali ke masa lalu, saat ia melakukan tindakan kejam yang merenggut nyawa Yuda.

Di dalam kamar, Kiara duduk bersandar di balik pintu. Air matanya mengalir tanpa suara, hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar memenuhi ruangan itu.

“Papa… Mama… Kiara sangat rindu pada kalian. Tapi jika aku menyerah sekarang, mereka akan terus bersenang-senang menikmati harta peninggalan Papa dan Kakek…” isaknya tertahan.

“Aku harus kuat… Aku harus menghancurkan mereka semua,” tekad Kiara dengan hati yang bulat dan tak tergoyahkan.

.

.

.

Di dapur, Nenek Amira duduk mengawasi Mbok Asih yang sedang sibuk memasak. Pikirannya melayang jauh, mengingat kembali percakapan terakhirnya dengan Yuda sebelum putranya itu tiada.

Kilas Balik

“Bu, ini adalah surat-surat penting mengenai hak kepemilikan seluruh asetku. Nantinya, semua ini akan jatuh ke tangan anakku. Sebagai langkah pengamanan, Yuda akan menitipkan semuanya kepada Seno. Supaya jika suatu saat nanti Yuda tiada, seluruh harta peninggalan Ayah dan Yuda tidak jatuh ke tangan orang yang salah,” jelas Yuda dengan nada serius.

“Ibu mengerti, Nak. Tapi Ibu tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Kasihan Linda jika sampai kehilanganmu,” sahut Bu Amira dengan suara cemas.

“Yuda paham, Bu. Yuda juga tidak menginginkan hal buruk terjadi. Namun Yuda sudah mengetahui siapa saja musuh yang sedang mengincar kami. Karena itulah, Yuda memutuskan untuk menyimpan semua dokumen penting itu di rumah Seno,” jawab Yuda mantap.

“Apakah kau benar-benar percaya padanya, Nak?” tanya Bu Amira lagi.

Yuda mengangguk tegas. “Yuda sangat percaya pada Seno. Hanya dia satu-satunya orang yang Yuda yakini mampu menjaga Ibu dan Linda di masa yang akan datang.”

“Baiklah… Hati-hatilah selalu, Nak. Jangan sampai mereka berhasil mengambil apa yang bukan menjadi hak mereka,” pesan Bu Amira lirih. Yuda pun tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan ibunya.

Namun kenyataan yang terjadi sungguh menyakitkan. Memang benar, Yuda berhasil membawa semua dokumen asli dan aset berharga untuk dititipkan kepada Seno. Hanya berselang tiga hari setelah ia menitipkan harta warisan bagi anaknya, serta menitipkan istri dan ibunya untuk dijaga oleh Seno, Yuda mengalami kecelakaan maut.

Segalanya berjalan jauh dari harapan. Linda dikurung dan disembunyikan, Bu Amira tetap tinggal di rumah namun selalu dihantui ancaman demi ancaman dari Anton—anak kandungnya sendiri. Sedangkan cucunya, Kiara, dirawat oleh Anton dan Risma namun diperlakukan dengan sangat kejam, tanpa setetes pun kasih sayang.

Akhir Kilas Balik

Lamunan Bu Amira terputus saat Mbok Asih mendekatinya.

“Nyonya, kenapa tampak melamun begitu?” tanya Mbok Asih lembut.

“Tidak apa-apa, Mbok. Aku hanya teringat dan rindu pada Yuda serta Linda,” jawab Bu Amira dengan nada sedih.

“Nyonya yang sabar ya. Saya pun kadang ikut merindukan mereka. Namun apa daya, mereka sudah tiada. Kerinduan ini hanya bisa kami luapkan saat berziarah ke makam mereka, tanpa bisa melihat wujud mereka lagi,” sahut Mbok Asih ikut merasakan kesedihan majikannya.

“Baiklah, tak perlu terlalu larut dalam kesedihan. Aku ingin pergi sebentar ke kamar Kiara dulu, Mbok.”

Bu Amira pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Mbok Asih sendirian. Wanita tua itu memandang punggung Bu Amira yang perlahan menghilang, lalu menghela napas panjang.

“Kasihan sekali nasib Bu Amira… Semoga suatu saat nanti keadilan benar-benar ditegakkan untuk keluarga ini,” gumam Mbok Asih pelan. Ucapannya seolah menyiratkan bahwa ia sudah memahami segala rahasia dan masalah yang membelit keluarga itu.

Tak lama kemudian, Bu Amira sudah berdiri di depan pintu kamar Kiara. Ia mengetuk pelan, namun tidak ada jawaban sama sekali. Dua kali ia mengetuk lagi, tetap tak ada sahutan. Mungkin Kiara sudah terlelap, pikirnya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya sendiri ganti pakaian.

Setelah selesai berganti busana, Bu Amira berjalan keluar hendak meninggalkan rumah itu. Namun saat hendak melangkah melewati pintu utama, suara Anton menghentikannya.

“Ibu mau pergi ke mana? Kenapa berpenampilan rapi seperti itu?” tanya Anton penasaran.

“Bukan urusanmu, Anton. Ke mana pun Ibu pergi, itu bukan hakmu untuk mengatur,” jawab Bu Amira singkat sambil melirik sekilas ke arah putranya.

“Ibu hanya ditanya baik-baik, kenapa jawabannya begitu ketus?” geram Anton kesal.

“Cara bertanya mu itu seolah-olah Ibu hendak kabur atau menyembunyikan sesuatu. Sudah cukup Ibu merasa jengah dengan sikapmu selama ini,” ucap Bu Amira datar.

Anton hanya bisa terdiam, lalu membuang muka dan pergi meninggalkan tempat itu. Bu Amira pun melanjutkan langkahnya menuju mobil pribadinya yang sudah lama tidak ia gunakan.

“Apakah perlu saya antar, Bu?” tanya Baron, salah satu anak buah Anton.

“Tidak usah, Baron. Kau tetap di sini dan jaga rumah ini. Biarkan Anas saja yang menjadi sopirku hari ini,” jawab Bu Amira tegas, lalu masuk ke dalam mobil.

Anas adalah sopir pribadi setia Bu Amira. Ia sudah bekerja jauh sebelum Baron masuk ke lingkungan keluarga itu.

“Kita akan menuju ke mana, Nyonya Amira?” tanya Anas setelah duduk di balik kemudi.

“Bawa aku ke kediaman Seno,” perintah Bu Amira singkat.

Anas hanya mengangguk paham, menyalakan mesin, mengeluarkan mobil dari garasi, lalu melaju melewati gerbang yang terbuka lebar hingga kendaraan itu menghilang di kejauhan.

Dalam perjalanan menuju alamat tujuan, Anas sempat mengganti kendaraan agar tidak dikenali dan diikuti oleh anak buah Baron. Mobil mewah jenis Lamborghini itu diganti dengan mobil biasa berwarna hitam dengan pelat nomor palsu.

Tak lama kemudian, mobil itu memasuki halaman rumah Pak Seno. Rumah itu tampak megah dengan gaya bangunan menyerupai rumah panggung.

Bu Amira turun dari kendaraan, menatap bangunan di hadapannya. “Kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki di sini? Sepertinya sudah sangat lama sekali aku tidak berkunjung ke rumah ayah Seno, Mas Rio Dewanto,” gumamnya dalam hati.

Ia pun menaiki anak tangga menuju beranda, lalu mengetuk pintu rumah itu. Dari dalam terdengar suara yang meminta mereka menunggu sebentar.

Saat pintu itu terbuka, kedua orang yang berhadapan saling bertatapan. Orang yang membuka pintu tampak terkejut bukan main melihat siapa yang datang berkunjung.

“Bu Amira…”

Bersambung

1
Noviyanti
satu bunga untuk kiara
Noviyanti
semangat Thor, salam kenal
Abyyasdemons: oke KK , salam kenal kembali 😍💪👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!