NovelToon NovelToon
Thornless Red Rose

Thornless Red Rose

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Balik Jendela

Hujan deras yang mengguyur Jogja sejak sore hari menyisakan aroma tanah basah dan udara dingin yang menusuk tulang. Di salah satu sudut teras gedung teater yang sudah sepi, Melanie berdiri termangu menatap rintik air yang jatuh menghantam paving blok. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Diandra sudah pulang lebih dulu karena dijemput oleh kakaknya, meninggalkan Melanie sendirian yang sengaja menunda kepulangan demi menghindari makan malam bersama keluarganya, makan malam yang kini terasa begitu menyesakkan setelah ia mengetahui rahasia kelam dua belas tahun lalu.

Melanie mengeratkan jaket rajutnya, mencoba mengusir rasa menggigil yang mulai menyerang kulitnya. Namun, keheningan malam itu mendadak terusik oleh langkah kaki yang beritme konstan di atas lantai koridor yang basah.

Dari kegelapan malam, sosok Glen muncul membelah rintik hujan. Ia tidak menggunakan payung. Rambut hitamnya sedikit basah, menempel di keningnya, sementara kemeja flannel gelap yang dipakainya tampak lembap di bagian bahu. Ia berjalan dengan tenang, seolah-olah badai di sekelilingnya tidak memiliki kekuatan untuk mengusik ketenangannya.

Glen menghentikan langkahnya tepat dua meter dari tempat Melanie berdiri. Ia tidak menatap Melanie, melainkan melemparkan pandangannya lurus-lurus ke arah halaman kampus yang gelap gulita.

"Seorang putri yang malang," suara Glen terdengar pelan, namun bergaung jelas di antara suara gemercik air hujan. Gaya bicaranya kembali menggunakan intonasi teatrikal yang biasa ia pakai saat mendalami tokoh dongeng klasik. "Berdiri sendirian di tengah badai, berharap kastilnya yang megah tidak akan tersapu oleh banjir bandang yang sedang menuju ke arahnya."

Melanie menghela napas panjang, rasa lelah yang amat sangat membuat pertahanan emosinya perlahan terkikis. Ia menoleh, menatap profil samping wajah Glen yang tampak tegas dan dingin di bawah temaramnya lampu teras. "Glen, bisakah sehari saja kamu tidak berbicara seolah-olah kita sedang berada di dalam buku fiksi?"

Glen perlahan memutar kepalanya. Sepasang mata elangnya yang tajam kini mengunci manik mata Melanie. Senyuman tipis, hampir tak kentara, muncul di sudut bibirnya. "Dunia ini adalah fiksi yang berjalan, Melanie. Kita semua hanya aktor yang dipaksa memainkan peran yang sudah ditulis oleh nasib. Bedanya, aku memilih untuk menulis akhir ceritaku sendiri."

"Termasuk menghancurkanku?" tanya Melanie, suaranya sedikit bergetar, menahan kombinasi antara rasa dingin dan sesak yang kian membuncah di dadanya. "Kamu tahu, aku menghabiskan sepanjang malam kemarin untuk mencari tahu tentang perusahaan tekstil itu. Aku melihat nama keluargamu. Dan demi Tuhan, Glen... jika aku bisa memutar balik waktu dan mengubah apa yang dilakukan kakek atau orang tuaku, aku akan melakukannya. Tapi aku tidak bisa."

Glen melangkah maju satu langkah, memotong jarak di antara mereka hingga Melanie bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari pakaian lembap pria itu. Tatapan Glen yang semula sinis perlahan meredup, digantikan oleh intensitas yang sangat dalam, yang membuat Melanie justru semakin ketakutan karena tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepala pria itu.

"Penyesalan adalah bunga yang tumbuh terlalu lambat di atas makam yang sudah mengering, Melanie," bisik Glen dengan nada suara yang teramat tenang namun menusuk. "Keluargamu menghancurkan segalanya yang kupunya. Ayahku kehilangan kewarasannya, ibuku pergi karena tidak tahan dengan kemiskinan, dan aku... aku harus tumbuh besar di antara puing-puing ingatan yang berdarah. Menurutmu, apakah adil jika aku membiarkanmu tersenyum bahagia di atas semua penderitaan itu?"

Melanie menatap Glen dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, bercampur dengan bias cahaya lampu teras yang temaram. "Lalu apa yang kamu inginkan dariku, Glen? Katakan! Jika kematianku bisa mengembalikan semua yang hilang dari hidupmu, apakah itu akan membuatmu puas?"

Mendengar kata kematian keluar dari bibir Melanie, kilat mata Glen sempat bergetar hebat selama satu detik. Ada retakan emosi yang ganjil yang melintas di wajah marmernya, sebuah reaksi spontan dari sisi kemanusiaannya yang selama ini ia kunci rapat-rapat di balik dinding dendam. Jemari tangan kanannya bergerak sedikit, seolah memiliki dorongan bawah sadar untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis itu, namun dengan cepat Glen mengepalkan tangannya kembali di dalam saku.

Glen memalingkan wajahnya kembali ke arah hujan, menyembunyikan retakan emosinya yang nyaris terbongkar.

"Kematian terlalu instan dan membosankan untuk sebuah akhir dongeng, Melanie," ujar Glen, suaranya kini kembali sedingin es, bebas dari getaran emosi yang tadi sempat lewat. "Aku ingin kamu tetap hidup. Aku ingin kamu menyaksikan bagaimana satu per satu orang yang kamu cintai kehilangan pijakannya. Aku ingin melihat mawar merah tanpa duri ini perlahan-lahan layu dan hancur oleh tangannya sendiri."

Setelah mengatakan kalimat kejam itu, Glen melangkah mundur, membiarkan tubuhnya kembali diterpa rintik hujan yang dingin. Ia berbalik dan berjalan menjauh menembus kegelapan malam, meninggalkan Melanie yang jatuh terduduk di atas lantai teras yang dingin, menangis tersedu-sedu diiringi suara guntur yang menggelegar di langit Jogja. Di balik jendela-jendela kaca gedung teater yang gelap, jaring balas dendam itu kini tidak hanya mengurung Melanie, melainkan mulai menarik Glen masuk ke dalam lingkaran setan yang sama-sama akan menghancurkan mereka berdua.

1
Miu.Nuha
aku khawatir glen jadi skizo 😭
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...
Miu.Nuha
melanie udh tau usut punya usut kenapa kamu dendam kali 😑😑,, udh gk usah pake naskah2 segala...
Sarifah_Aini97: udh tau kak
total 3 replies
Filan
kayaknya yang kamu butuhkan psikiater deh
Filan
sebutir kerikil pala lu! 😅
Filan
ya ampun seolah semua orang melihat adegan itu /Chuckle/
Filan
berbagi aja sih, Mel
Xlyzy
Glen si melani dia ga tau menau loh masak mau sapu rata sih
Xlyzy
sekarang udah tau kan Mel apa sebab nya
ginevra
semoga kalian baik2 aja, jangan saling menghancurkan gitulah. baikan aja baikan
ginevra
setidaknya kamu masih punya hati nurani Glen. Yah... memang serba salah sih.... aku nggak nyalahin kamu karena punya dendam mengingat apa yang terjadi sama keluarga kamu. tapi Melanie juga kasian. dia nggak tau apa2
Sarifah_Aini97: Makasih ya udah paham dilema yang dihadapi Glen, pantengin terus kelanjutannya buat tahu nasib Melanie!

🙏🙏
total 1 replies
ginevra
apaan sih Glen? lama2 lu ngeselin sumpah.
MULIANA💦
kayaknya hancur banget ya keluarga si glen. makanya dia sampai segitunya
Sarifah_Aini97: Bener banget, masa lalu keluarganya emang sekelam dan sehancur itu sampai bikin dia nekat...
total 1 replies
MULIANA💦
melani memang ikut menikmati. tapi disini yang salah bukan melani-nya dudul
Rain Aricia
Ah, sok kali kau Glen. Nanti pas mau balas dendam kau malah terpikat😌
Sarifah_Aini97: Wah, jangan-jangan tebakanmu bener nih, kita lihat aja nanti Glen bakal luluh atau enggak 😄
total 1 replies
Rain Aricia
Lah, aneh kali perkataanmu ah
Rain Aricia
Ga bisa si Glen ini berpikir lebih jauh. Dia kira 12 tahun yg lalu si Mela udah besar apa? Masa kau mau balas dendam sama org yg ga tau apa2
Rain Aricia
Iya benar Mel, makanya kamu mulai sekarang jaga jarak aja
Aquarius97 🕊️
Glen... benci sama cinta itu beda tipis lohh...
Aquarius97 🕊️
bukan sekedar hantu sih, kalau hantu masih ada yg lucu.. iblis keknya lebih tepatnya eheheh
Cimol krispy
awas saja jika mata itu berhasil membuatmu jatuh Glen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!