"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 (Peran yang sempurna)
Enam bulan pertama pernikahan berjalan seperti simfoni yang dimainkan dengan sangat rapi. Bagi publik, pernikahan kilat antara Mike Raharja, sang CEO muda yang sedang naik daun, dengan Anita, wanita mandiri yang anggun, adalah sebuah dongeng modern. Media bisnis maupun majalah gaya hidup tidak henti-hentinya memuji betapa serasinya pasangan ini. Anita selalu tahu bagaimana cara menyeimbangkan ketegangan Mike di depan kamera, sementara Mike selalu memperlakukan Anita dengan kesopanan yang membuat banyak wanita iri.
Malam ini, kediaman mewah mereka di kawasan Jakarta Selatan tampak tenang. Pelayan baru saja membersihkan meja makan, meninggalkan Mike dan Anita yang kini duduk bersisian di sofa ruang santai. Di atas meja kopi, dua cangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap tipis menjadi teman setia mereka setelah seharian berurusan dengan penatnya dunia luar.
Anita menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa, melepaskan penat sembari memandangi Mike yang masih fokus menatap layar tabletnya.
"Kakek meneleponku lagi siang tadi," ujar Anita membuka obrolan, suaranya terdengar santai tanpa beban.
Mike menurunkan tabletnya sedikit, menatap Anita dengan sebelah alis terangkat. "Apa yang beliau katakan? Memintamu segera berhenti bekerja?"
Anita terkekeh pelan, sebuah tawa yang hanya ia tunjukkan saat mereka sedang berdua di dalam rumah—saat topeng formalitas mereka dilepaskan. "Lebih dari itu. Beliau menanyakan kapan kamar bayi harus mulai didekorasi. Beliau bahkan merekomendasikan seorang desainer interior dari Italia."
Mike mengembuskan napas panjang, meletakkan tabletnya di atas meja. "Kakek selalu bergerak terlalu cepat. Maaf ya, Anita. Kamu jadi harus menghadapi tekanan ini."
"Hei, tidak perlu minta maaf. Ini kan sudah ada di dalam paket kontrak kita," sahut Anita seraya meraih cangkir tehnya. Ia menyesapnya perlahan, membiarkan kehangatan cairan itu menenangkan tenggorokannya. "Lagipula, aku cukup menikmati akting kita. Kakek terlihat sangat bahagia setiap kali kita berkunjung. Setidaknya, kita memberikan apa yang beliau inginkan untuk saat ini."
Mike tersenyum tipis. Sorot matanya yang biasanya sedingin es melembut, memancarkan rasa terima kasih yang mendalam. "Aku beruntung memilikimu sebagai partner, Anita. Jika bukan kamu, aku tidak yakin pernikahan kontrak ini bisa berjalan sebersih ini."
"Tentu saja. Kamu tidak akan bisa menemukan wanita lain yang se-profesional aku, Mike," canda Anita, menyenggol pelan lengan Mike dengan sikunya. Namun, senyum di wajah Anita perlahan berubah menjadi ekspresi yang lebih serius, lebih intim—bukan keintiman sepasang kekasih, melainkan keintiman dua orang sahabat yang berbagi rahasia terdalam.
Anita menatap lurus ke dalam manik mata Mike. "Bagaimana kabarnya? Kamu sudah mengeceknya minggu ini?"
Pertanyaan itu seketika mengubah atmosfer di sekitar Mike. Bahunya yang tegap tampak sedikit rileks, dan ada kilat hangat—sebuah binar yang sangat asing dan tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia bisnis—muncul di kedua matanya.
"Dia baik-baik saja," jawab Mike pelan, ada nada protektif yang kental dalam suaranya. "Kemarin dia memenangkan lomba esai tingkat nasional. Baskara mengirimkan fotonya saat menerima piala. Dia... terlihat sangat bahagia."
Anita tersenyum tulus, ikut merasakan kehangatan yang terpancar dari pria di sebelahnya. Anita tahu persis siapa "dia" yang dimaksud. Sejak malam sebelum kontrak pernikahan ditandatangani, Mike sudah jujur sepenuhnya kepada Anita. Mike menceritakan tentang seorang gadis belia yang menempati seluruh ruang di hatinya, gadis yang umurnya masih terlalu belia untuk diikat dalam komitmen dewasa, gadis yang sedang dijaga Mike dari balik bayangan sembari menanti waktu yang tepat.
Bagi Anita, fakta bahwa Mike mencintai orang lain bukanlah masalah. Justru, kejujuran Mike membuat Anita merasa aman. Tidak akan ada drama kecemburuan, tidak akan ada batasan yang dilanggar. Mereka berdua hanyalah dua orang dewasa yang sedang bertransaksi demi masa depan masing-masing.
"Empat tahun adalah waktu yang lama untuk sekadar memperhatikan dari jauh, Mike," kata Anita, menopang dagunya dengan tangan, menatap Mike dengan pandangan menyelidik yang suportif. "Kamu tidak takut dia akan menyukai cowok lain di sekolahnya? Dia sudah berumur tujuh belas tahun sekarang, kan? Fase di mana cinta monyet sedang lucu-lucunya."
Mendengar ucapan Anita, rahang Mike mengeras sesaat. Ada kilat posesif yang lewat begitu cepat di matanya, membuat Anita harus menahan senyum agar tidak menertawakan sisi kekanak-kanakan sang CEO muda.
"Aku sudah memastikan tidak ada lalat yang berani mendekatinya," jawab Mike dengan nada datar, namun penuh penekanan. "Baskara mengawasinya dengan ketat. Lagipula, dia gadis yang pintar. Dia fokus pada pendidikannya."
"Ya, ya, terserah apa katamu, Tuan Posesif," goda Anita sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi serius, Mike. Terkadang aku merasa bersalah. Pernikahan kontrak kita ini... apa tidak akan menyakiti perasaannya jika nanti dia tahu? Bagaimana kalau dia mengira kamu benar-benar mencintaiku?"
Mike terdiam. Pertanyaan Anita menghantam bagian terdalam dari benteng pertahanan yang sudah ia bangun selama ini. Ia memandangi jemarinya sendiri, membayangkan masa depan yang masih abu-abu namun sangat ia dambakan.
"Dia tidak akan tahu sampai waktunya tiba," ucap Mike, suaranya mendalam dan penuh keyakinan. "Saat kontrak kita selesai, dia akan berusia dua puluh satu tahun. Sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa dunia orang dewasa terkadang membutuhkan strategi. Aku melakukan semua ini justru untuk melindunginya. Jika Kakek tahu tentang dia sekarang, Kakek pasti akan mengintervensi hidupnya, mengacaukan sekolahnya, dan menekan keluarganya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Anita mengangguk paham. Dia sangat menghormati dedikasi Mike. Di tengah dunia korporat yang penuh dengan kepalsuan dan keserakahan, melihat seorang Mike Raharja menjaga kesetiaannya pada seorang gadis dengan cara yang begitu ekstrem adalah hal yang langka.
"Aku menghargai opinimu, Anita. Dan terima kasih karena sudah menjaga rahasia ini dengan sangat baik," lanjut Mike, menatap Anita dengan tulus.
"Sama-sama. Lagipula, modal untuk firma konsultanku di masa depan bergantung pada kesuksesan rencana ini," kelakar Anita, berusaha mencairkan kembali suasana yang sempat menegang. "Jadi, pastikan kamu menjaga kesehatanmu. Jangan sampai stres karena merindukannya, lalu membuat proyek merger kita berantakan."
Mike terkekeh, suara tawa yang renyah dan jarang terdengar. "Aku profesional, Anita. Kamu tahu itu."
"Baguslah. Kalau begitu, aku masuk ke kamar duluan ya. Besok jam tujuh pagi kita harus sudah ada di hotel untuk sarapan bisnis dengan investor dari Singapura," Anita bangkit dari sofa, merapikan pakaian rumahannya yang longgar.
"Selamat istirahat, Anita."
"Selamat istirahat, Mike."
Anita melangkah menuju kamarnya yang berada di koridor sebelah kanan, sementara Mike tetap tinggal di ruang santai. Setelah pintu kamar Anita tertutup, Mike kembali meraih ponsel pribadinya yang tersimpan di dalam saku jas yang ia letakkan di sandaran kursi.
Ia membuka sebuah folder tersembunyi yang terkunci rapat. Di dalamnya, hanya ada beberapa foto. Foto seorang gadis dengan seragam putih-abu-abu yang sedang tertawa lebar ke arah kamera sambil memegang piala, dengan latar belakang aula sekolah yang ramai.
Gadis itu memiliki sepasang mata yang jernih dan senyum yang mampu meruntuhkan seluruh kepenatan Mike dalam sekejap.
Mike mengusap layar ponselnya, tepat di bagian wajah gadis itu.
"Tinggal tiga setengah tahun lagi, Alisha," bisik Mike pada keheningan malam. Suaranya sarat akan kerinduan yang teramat sangat, sebuah perasaan yang ia penjarakan sendiri di dalam dadanya demi hari esok yang sempurna. "Tunggu aku."