Bertubi-tubi, Aiza dihantam masalah yang mengaitkannya dengan sosok Akhmar, dia adalah pentolan preman. Rasanya gedeg sekali saat Aiza harus berada di kamar yang sama dengan preman itu hingga membuat kedua orang tuanya salah paham.
Bagaimana bisa Akhmar berada di kamarnya? Tapi di balik kebengisan Akhmar, dia selalu menjadi malaikat bagi Aiza.
Aiza dan Akhmar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Di Masjid
"Terima kasih kepada Bapak Adam yang telah menjadi donatur dan penyusun acara ini hingga terlaksana dengan baik," ucap Ismail. "Pak Adam adalah teman, sahabat, juga rekan yang baik."
Ismail lalu menyudahi tausiahnya. Dilanjutkan dengan bacaan ayat suci Al Quran yang dibacakan oleh Aiza Hulya. Ya, nama Aiza disebut melalui mikrophone.
Eh nama itu? Akhmar menoleh dan menatap ke depan, dimana seorang gadis berhijab panjang warna putih melangkah mendekati sebuah meja dan kursi yang sudah disediakan. Di sana, gadis itu duduk, menghadap sebuah Al Quran, lalu jemari lentiknya membuka lembaran Al Quran. Tak lain gadis itu adalah gadis yang pernah ditolong oleh Akhmar. Ya, Aiza.
Sungguh cantik rupawan paras gadis muda yang fokus menatap kitab suci. Sejurus pandangan tertuju kepada kecantikan gadis itu, banyak yang mengagumi Maha Karya keindahan ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna.
"Bismillahi Rahmani Rahim..."
Suara merdu membaca basmalah setelah mengucap salam dan taawuz yang tadi digaungkan.
Suaranya sangat merdu, bikin merinding dan hati tergugah.
"al-ḥamdu lillāhillażī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāba wa lam yaj’al lahụ ‘iwajā..."
Sungguh suara yang sangat nyaring. Lantunannya indah, menyejukkan kalbu.
Beberapa orang ibu- ibu yang duduk di bagian barisan perempuan, menangis dan mengusap mata mereka.
Kriuk kriuk... Akhmar kembali mengunyah potato.
"Le, apa ndak nyimak mbak cantik itu mengaji ya?" Seorang laki- laki paruh baya menegur Akhmar dengan senyum.
Akhmar berpaling. Tak mau menanggapi. Ia lalu bangkit berdiri dan meninggalkan tempat duduk, melewati para bapak- bapak lainnya yang duduk di sekitarnya.
Ia membuang sisa potato yang masih ada di dalam bungkusannya ke tong sampah. Lalu duduk di kursi tak jauh dari teras masjid.
Beberapa orang gadis yang duduk di teras tampak tersenyum menatap Akhmar. Tersipu. Sambil merapikan jilbab yang ada di kepala.
Mereka berbisik, membicarakan ketampanan Akhmar yang posisi duduknya dapat dilihat dengan jelas melalui pandangan mata mereka.
"Pak, ada minum nggak? Haus!" ucap Akhmar pada sosok bapak yang melintasinya.
Bapak itu tersenyum kemudian berkata, "Nanti panitia akan bagikan minum, Mas. Sabar ya!" Bapak itu lalu melangkah masuk ke masjid, mengikuti pengajian.
Sialan! Makan potato bikin haus! Akhmar menggaruk caruknya yang tak gatal.
"Mas! Ini ada minum!" Seorang gadis menghampiri Akhmar, menyerahkan satu buah minuman gelas, air mineral.
Akhmar menatap gelas yang disodorkan, lalu mengangkat wajah dan menatap wajah si gadis yang menjulurkan minuman itu. Tak lain gadis yang sejak tadi mengawasinya dan terlihat salah tingkah.
"Thanks." Akhmar meraih gelas itu.
"Aku Meta." Gadis itu memperkenalkan diri.
"Oh." Akhmar mencolokkan pipet ke minumannya. Lalu menyedot sampai habis. Begini jadinya kalau kehausan. Begitu teguk, langsung habis.
"Nama Mas siapa?" tanya Meta, gadis beralis tipis itu duduk di kursi sisi Akhmar dengan menjarak agak jauh. Tepatnya ia duduk di ujung kursi.
"Akhmar Mumtadz."
Meta tersenyum mendengar nama itu.
Klung.
Sebuah pesan masuk, membuat Akhmar langsung membaca chat yang bersumber dari Aldan, kakaknya.
'Tetap stay di masjid ya! Mas mengantar papa ke luar kota. Ada kerjaan papa yg gk bisa dipending.'
Ya ampun, jadi mereka mengantarkan ku kemari dan ternyata mereka pergi? Kalau tau begitu, aku mendingan nggak ada di sini.
Bersambung
Jangan lupa follow ig @emmashu90