Dilarang boom Like xxx
Area ***
Haraf bijak dalam memilih bacaan
Kisah ini Tentang seorang gadis belia yang baru saja lulus SMA berusia 18 tahun, terpaksa harus melakukan Pernikahan Mendadak dengan seorang pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.
Apa yang akan terjadi dalam rumah tangganya? Mari ikuti kisahnya di sini. Selamat Membaca... By Tina Rifky. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina rifky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Hari hampir menjelang sore, Angga dan Mutiara hendak pamit pulang meninggalkan Papi Dahlan di rumah sakit.
"Pih, Angga pamit pulang yah. Nanti, Mami pasti temani Papi." Ucap Angga, saat akan mencium punggung tangan Papi Dahlan. Lalu Mutiarapun melakukan hal yang sama seperti Angga.
"Iya sayang, terima kasih yah. Kalian hati-hati di jalan. Jangan sampai kayak pagi tadi." Ucap Papi Dahlan memperingati, karena tadi mereka menceritakan insident yang hampir menimpah mereka.
"Okay Pih, Angga akan lebih berhati-hati." Janji Angga seraya mengacungkan jari jempolnya kearah Papinya.
"Assalamu'alaikum, Pih... by.."
"Wa'alaikumussalam, dasar anak Papi yang satu itu, bikin resah saja orang tua." Papi Dahlan tidak habis pikir, bisa-bisanya anak bungsunya menyukai Kakak iparnya sendiri.
*******
Di halaman parkir Rumah Sakit, Andi memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dia melihat ada mobil milik adiknya Angga.
"Adik belum pulang? Betah banget dia sama Papi?" Andi bergumam pelan.
"Ayo sayang, ngapain masih disitu?" Ajak Mami Safira, saat melihat anaknya masih berdiri di depan mobilnya.
"Eeh.. iya Mih." Sahut Andi singkat, diapun berjalan mendekati Maminya.
Disaat mereka melewati koridor Rumah Sakit, mereka berpapasan dengan Angga dan Mutiara.
"Hei.. anak Mami baru mau pulang? Menantu cantik Mami juga ikut ternyata?" Sapa Mami Safira.
"Iya.. Mami." Mutiara langsung menghampiri Mami Safira untuk mencium punggung tangannya takzim dan juga mencium punggung tangan suaminya.
"Eeeh.." Andi terkejut saat istri bocilnya itu meraih puggung tangan kanannya, lalu menciumnya dengan lembut.
Tanpa ada kata, Andi hanya menatap sinis wajah istrinya yang sudah mencium tangannya tanpa permisi.
"Iya Mih, kita baru mau pulang. Kata Papi jantungnya sudah lebih baik, mungkin sebentar lagi Papi sudah boleh pulang Mih. Kita tinggal tunggu perkembangan kesehatan Papi saja, Mih." Angga mengatakan dengan wajah senang.
Mami Safira hanya mengangguk kecil, tanda mengerti dengan ucapan anaknya Angga. Dirinya ingin rasanya tertawa dalam hatinya, dengan akting suaminya yang bagus.
"Menantu Mami yang cantik, kamu mau pulang juga?" Tanya Mami Safira seraya menyentuh pundak menantunya dengan lembut.
"Iya, Mih." Ucap Mutiara singkat, seraya melirik ke arah suaminya yang ternyata sedang menatapnya tidak suka.
"Sayang, kamu lebih baik antar istrimu pulang saja. Biarkan Mami yang akan menemani Papimu." Pinta Mami Safira kepada anak sulungnya.
"Tapi Mih, Andi mau melihat kondisi Papi."
"Istrimu lebih penting sayang, kalau Papi ada Mami yang menjaganya." Sarkas Mami Safira tanpa penawaran.
"Engga apa Mih, biar Mutiara pulang sama adik Angga saja." Ucap Mutiara, seakan tahu jika suaminya tidak ingin pulang bersamanya.
"Iya Mih, tenang saja ada Angga yang akan mengantar Kakak ipar. Bukan begitu Kak Andi?" Angga ikut menimpali, dia tersenyum penuh kemenangan menatap Kakaknya.
"Iya sudah kalau begitu, terserah kalian. Angga hati-hati bawa mobilnya." Ucap Mami Safira pasrah.
"Mih, Andi engga jadi jenguk Papi. Salam saja buat Papi dari Andi, Mih. Loe pulang bareng gue, jangan keganjenan jadi cewek." Ucap Andi, seraya menarik kasar tangan istrinya menuju parkiran mobilnya.
Mami Safira dan Angga dibuat shock melihat sikap kasar Andi kepada istrinya.
"Mih, lihat tidak? Sepertinya, Kak Andi cemburu sama Angga? Memangnya Angga salah yah Mih, mengajak bareng pulang Kakak ipar? Lagi pula tadi 'kan perginya sama Angga kesini."
"Biarkan saja, bagus 'kan kalau Kakakmu itu cemburu. Berarti dia sudah mulai menyukai istrinya sekarang."
"Iya Mih." Ucapnya singkat.
"Seharusnya aku bahagia saat Kak Andi cemburu. Namun, kenapa aku merasa sedih saat Mami mengatakan, jika Kak Andi mulai menyukai Kakak ipar. Perasaan gila ini selalu muncul dan semakin membawaku hanyut kedalamnya." Bathin Angga bermonolog.
"Hei.. kamu mau pulang atau mau menemani Mami saja?"
"Pulang saja, Mih." Ucapnya seraya berjalan meninggalkan Maminya yang masih menatapnya.
"Kenapa dengan anak itu? Kenapa tiba-tiba wajahnya murung? Apa dia sedang sakit?" Mami Safira bergumam pelan dengan banyak pertanyaan.
Andi membuka pintu mobilnya, lalu meminta Mutiara duduk di kursi penumpang dengan ucapan ketus dan tatapan dinginnya. Setelah itu Mutiara masuk kedalam mobil, lalu memakai seatbeltnya dengan cepat.
Tanpa basa-basi Andi mengemudikan Mobilnya, dengan kecepatan cukup kencang. Mobil itu membelah jalanan, dengan laju mobilnya yang semakin mengerikan.
Angga yang mengikuti mobil mereka dari belakang, seakan tidak tenang dengan keadaan seperti itu. Membawa mobil ugal-ugalan di jalan, bisa membahayakan nyawa mereka dan nyawa orang lain sesama pengguna jalan.
"STOP... STOP Mas!" Teriak Mutiara membahana, hingga Andipun menghentikan laju jalan kendaraannya dibahu jalan.
"Mas Andi, saya mau turun saja dari mobil ini. Saya masih sayang nyawa Mas, saya masih punya Ibu di kampung. Saya tidak ingin beliau bersedih, jika kehilangan saya nanti."
"Ha.. ha.. ha.. loe mau turun disini? Memangnya loe tahu jalan pulang kerumah, hah... ?" Andi tertawa kencang, lalu meremehkan istri bocilnya itu.
"Terserah apa kata Mas Andi! Saya sudah besar, saya bisa bertanya pada orang ataupun menelpon adik Angga. Sekarang cepat buka pintu mobilnya, saya tidak ingin mati sia-sia." Sarkas Mutiara monohok.
Andi bergeming, betapa beraninya istri bocilnya itu membentak dirinya. Andi mulai penasaran, dengan sifat istri bocilnya yang sedikit berbeda.
"Dug.. dug.. dug.." Bunyi pintu mobil diketuk.
Andi menurunkan kaca mobilnya sedikit, hingga terlihat dari luar mobilnya.
"Kak Andi kenapa mobilnya berhenti disini? Lalu, kenapa tadi Kak Andi membawa mobilnya ugal-ugalan? Itu sangat membahayakan orang lain, Kak!" Angga mengomel kesal kepada Kakaknya itu.
Andi hanya tersenyum kecut, lalu menaik-turunkan bahunya pelan. Seakan dirinya tidak merasa bersalah, dengan semua tindakkannya.
"Mas Andi, saya mau turun disini. Saya ikut adik Angga saja." Pinta Mutiara dengan wajah sudah memerah, kesal dan marah ingin rasanya dia maki suaminya itu. Namun, dirinya memilih menahannya dalam dada, hingga air matanya dengan lancang meluncur dipipi mulusnya begitu saja.
Andipun membukakan kunci otomatis pintu mobilnya, dengan menekannya kasar. Seakan dia ingin menunjukkan kepada istrinya, bahwa dirinya tidak menyukainya.
Mutiara langsung membuka pintu mobilnya, kemudian dia turun tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Ayo Dik Angga, saya ikut mobil kamu." Ucapnya, lantas berjalan menuju mobil adik iparnya. Anggapun mengikuti kemauan Kakak iparnya berjalan mengekorinya.
Andi memukul bundaran stir mobilnya dengan kasar, dia marah dengan istrinya yang sudah mulai berani melawannya.
"Dasar bocil tidak tahu etika, bocil songong, bocil penakut. Bisa-bisanya pergi dengan adikku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Awas saja nanti kalau sudah dirumah, akan aku hukum kamu bocil." Andi mengumpat kesal dan mengancam istrinya ketika nanti sampai di rumahnya.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....